Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 206 Pinjam tangan.


__ADS_3

Dalam kesakitan yang tengah ia rasakan, sebuah nama meluncur dari bibir miliknya, dengan nada penuh kemarahan. ''Caannnzuuooo...''


Ia menyalahkan Canzuo, atas rasa sakit itu.


Baginya pria tersebut, adalah sumber dari setiap keburukan dalam hidup ini.


Dan setelah beberapa saat, Selir Gu mulai membuka mata.


Rasa sakit itu, telah menghilang dan nafas di tubuhnya kembali tenang.


Menyaksikan kegigihan dari Gu, Ziaruo merasa takjub.


''Dan ramuan ini akan mengubah paras wajah anda.''


Ziaruo kembali merogoh lengan baju miliknya.


Mengeluarkan sebuah botol kecil dari keramik, serta meletakkannya diatas meja.


''Anda harus mengenakan cadar setelah meminum ramuan ini. Dan hanya dalam keadaan tertentu saja, atau di hadapan Canzuo anda boleh membukanya.''


''Bagi dunia anda bukanlah Ziaruo. Dan meski wajah kita nantinya sama, Anda tetaplah bukan wanita ini.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Nada suara itu menegaskan, bahwa permaisuri Yun, sesungguhnya tidak rela dengan kemiripan mereka.


Meski mendengar ucapan yang demikian, wanita Gu tetap merasa berterimakasih atas bantuan dari Ziaruo.


''Wanita ini mengerti Permaisuri, dan akan mengingatnya dengan baik.'' Gu.


''Baiklah, beristirahatlah dan berlatih bersikap seperti apa semestinya, di hadapan kaisar Tang dalam beberapa hari mendatang.''


''Aku pergi dulu.'' Sambung Ziaruo.


''Wanita ini, mengantar kepergian Yang mulia.'' Jawab selir Gu, sembari sedikit membungkukkan tubuh.


Ziaruo melangkah keluar ruangan, setelah membersihkan tangan menggunakan air disana.


Dan mengusap tangan itu dengan kain lap cuci muka.


Wanita Gu, mengantar Ziaruo hingga sampai di depan pintu ruang yang ia tinggali.


Dari posisi berdirinya saat ini, ia melihat kaisar Jing tak jauh dari sana.


Pria tersebut tersenyum dan berjalan menghampiri permaisuri Yun, yang berjalan kian menjauh dari wanita Gu.


Setelah pelayan dan kasim menjauh mengikuti permaisuri Yun, wanita Gu masih berdiri diam di tempat semula.


Ada kecemburuan, dan kekaguman untuk Ziaruo di dalam hati wanita Gu.


Mereka sama-sama wanita kekaisaran.


Namun, nasib dan kehidupan memilah-milah keberuntungan, dan kebahagiaan diantara mereka.


Dirinya yang memiliki kasih sayang tulus dan pengabdian murni, nyatanya di pertemuan dengan sosok pria buruk dan keji.


Tak pernah menghargai dirinya seperti Jing terhadap Ziaruo.

__ADS_1


Bahkan saudaranya (Gutingye) hingga meninggal, masih melukis nama permaisuri Yun dalam hati.


Sungguh sesuatu yang patut menjadikan wanita itu iri.


''Anda sangat beruntung Yang mulia, siapapun akan merelakan segalanya untuk berada di posisi itu.'' Gumam wanita Gu lirih.


.............................


Di kekaisaran Tang.


Tampak terlihat kesibukan yang sangat mencolok dari biasanya.


Kaisar Canzuo yang telah menerima kabar tentang kemenangan Jiang jing wei, menyibukkan diri dengan mengunjungi paviliun utama di istana dalam.


Setelah menerima laporan bahwa perintahnya telah di laksanakan, Canzuo ingin memeriksa sendiri paviliun tersebut.


''Semoga paduka kaisar selalu panjang umur.'' Sapa kasim dan para pelayan di sana.


''Bangunlah...''


Jawab Canzuo, dengan senyum yang senantiasa terpasang akhir-akhir ini.


Hatinya seolah di penuhi dengan bunga yang bermekaran.


Bibir Cantiknya juga seakan telah terlapisi dengan manisnya madu.


Pria tersebut, tidak mengerutkan mulut kantong pundi-pundi kekayaannya, untuk mengapresiasikan kepuasan atas kinerja para pelayan disana.


Sebuah ruangan besar yang dulunya elegan serta indah, kini telah tertata ulang jauh lebih dari sebelumnya.


''Ruoer kamu akan menyukainya.'' Gumamnya lirih.


''Apakah ranjang bayinya belum siap?.'' Tanya Canzuo.


Mendengar hal itu, seorang kasim segera maju ke depan, memberi hormat, dan menjawab. ''Ampuni hamba Yang mulia, sepertinya nanti menjelang senja, rajang yang di pesan akan tiba di istana.''


''Baguuss..''


Canzuo puas dengan jawaban tersebut.


''Aku ingin dia melihat ketulusanku untuk puteranya.'' Canzuo.


Mata kaisar Muda tersebut berkilat cerah, dengan kebahagiaan.


Baginya putra Ziaruo akan menjadi jembatan untuknya, meraih hati wanita itu.


Ia sangat optimis, bahwa wanita manapun, terlebih dengan status sebagai seorang ibu. Akan luluh dengan pria, yang memberikan ketulusan hati serta kasih sayang untuk putranya.


Menurut pemikiran Canzuo, wanita dengan seorang putra dari pria lain, selalu menjaga hati, dan takut pria baru dalam hidupnya, akan menyia-nyiakan sang putra.


Dan Canzuo benar dalam hal ini, hanya saja ada satu kesalahan dalam langkah besarnya sekarang.


Wanita yang akan datang kepadanya beberapa hari mendatang, bukanlah Ziaruo yang sebenarnya.


Dan putra dalam rahim wanita tersebut, juga bukan putra orang lain.

__ADS_1


Melainkan putranya sendiri, dari selir yang pernah ia monopoli sebagai bidak catur, untuk mengontrol pasukan militer keluarganya.


Sesosok bayi yang bahkan tidak ia harapkan kehadirannya di dunia ini.


Sosok bayi yang akan membuatnya memainkan peran, sebagai seorang ayah sambung, dengan kasih sayang tulus, serta kebajikan.


Akan tetapi, dengan alasan yang demikian, bagaimana mungkin kebencian dari selir Gu, tidak akan semakin berkembang untuknya.


Seorang pria yang rela merendah, dan mengalah untuk menyayangi putra orang lain demi menenangkan hati sang ibu.


Seorang pria kejam yang terbelenggu, atas tipu muslihat dari wanita yang ia harapkan, nyatanya akan menjadi hiburan tersendiri bagi selir Gu.


Canzuo akan berusaha dengan sebaik mungkin untuk menenangkan hati, yang telah ia hina dan buang dulu(selir Gu dalam tampilkan Ziaruo).


Ia juga mempersiapkan diri, untuk menyambut kelahiran putranya sendiri, yang dulu ia anggap ancaman, dalam kamuflase bayi Jing dan Ziaruo.


Segalanya menjadi sebuah tampilan kebodohan, dan bahan lelucon, di balik wajah selir Gu yang akan datang kepadanya.


Sungguh, kolaborasi tipu muslihat yang hebat.


Meninggalkan Canzuo, dengan segala angan-angan dan persiapannya di kekaisaran Tang, dan beralih di hutan barat misteri.


Murongxu yang baru saja sampai disana, berdiri di ujung tebing dengan mimik wajah yang gelap.


Tak ada raut lain yang menghiasi wajah itu. Muram, marah, kesal dan geram yang kini ia rasakan.


''Aku tak dapat mendeteksi keberadaan mu Ruoer.'' Gumamnya.


''Kau sungguh melakukannya tanpa menghiraukan apapun.''


Murongxu kehilangan pengendalian atas tubuh Ziaruo.


Kekuatan Murongxu juga menghilang setengah, akibat tindakan Ziaruo di dimensi Yincang.


Bahkan, untuk datang kembali ke hutan barat, Murong memerlukan waktu 5 kali jauh lebih lama dari waktu biasanya.


Murongxu mengepalkan tangan kuat-kuat, dan kembali berucap. '' Kau sungguh berani Ruoer, aku selalu membenci ketidak patuhanmu ini.''


''Salam tuan'' Sapa sesosok bayangan dari balik gelapnya hutan.


Murongxu menoleh kearah sumber suara itu.


Ia menudukkan wajah, karena sang sosok yang kini berada di kaki tebing jurang.


Sosok Murong yang berdiri di ujung tebing, serta pantulan sinar bulan di balik punggung, mampu menciptakan keagungan serta aura mendominasi, dari tubuh diatas tebing tersebut.


''Paduka, pelayan menunggu perintah.'' Ucap sang sosok di kaki tebing.


Mendengar perkataan itu, Murongxu hanya diam.


Tubuh gagahnya semakin menampilkan aura majestik yang kental, serta menekan keberanian hati bagi setiap mahkluk disana.


''Aku akan melakukannya sendiri.''


''Kalian tidak di izinkan untuk membuat kericuhan, hingga 7 hari mendatang.'' Murong.

__ADS_1


__ADS_2