Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 135 Siklus kisah.


__ADS_3

Di penginapan Nancang.


Bersandar pada pembatas ranjang, seorang pria dengan perasan gundahnya, kini tengah mencengkram dada bidang itu, secara kuat.


Hari ini lagi lagi siksaan hati, serta pikiran mendatangi pria tersebut.


Disaat Ziaruo memadu kasih dengan kaisar Jing suaminya, sang pujangga Murongxu bergulat dengan kemarahan, serta kepedihan hati.


Setiap apapun tindakan sang wanita tercinta, ia akan selalu ikut menikmatinya. Menyaksikan segalanya, layaknya tubuh sendiri yang bertindak.


''Apakah masih lama waktu yang tersisa untukku merasakan kepedihan ini?.'' Ucap pria yang tak lain, adalah kaisar awan Murongxu.


''Melihatnya bersama pria lain, bahkan ikut merasakan gelora yang sama dengannya saat ini, amatlah menyiksa.'' Lanjut Murongxu kembali.


Ia ingin menghancurkan segala apa yang ada di sana, namun hal itu ia urungkan.


''Mengapa harus seperti ini?, aku dengan luka, dan kepedihan akibat tindakan cerobohku sendiri.'' Ucapnya lagi.


Ruoer..Apa yang harus kulakukan?, aku tak membutuhkan putra, aku tak lagi menginginkannya, kembalilah...Aku menderita Ruoer...Aku tersiksa, jangan lakukan hal itu lagi..jangan lagi.'' Rintihnya pilu.


Selama apa pria itu meratap, selama itu pula ruangan itu berpendar merah, serta jingga secara berkala. Bergantian berubah-ubah mengikuti ekspresi suasana hati sang pria.


Ada kegetiran dalam setiap ucapan Murongxu, ada juga kemarahan yang hebat di dalamnya.


Hingga ia tanpa sadar memuntahkan darah segar dari mulutnya. Namun, seolah segalanya tidak berarti, pria tersebut hanya menyeka darah di bibirnya secara asal saja.


Baginya sekarang, kekecewaan serta gemuruh yang bercampur aduk di dalam dada, adalah segalanya.


''Aku bahkan hancur, sebelum tubuh ini kalah.'' Gumamnya lirih, dengan penuh kepasrahan.


Kaisar Muronxu tetaplah dirinya, selain helaian rambut pengganti, dalam wujud Murong yang lain(Kaisar Xili ke 3), ia tak pernah menyentuh tubuh wanita manapun, selain sang permaisuri (Ziaruo).


Akan tetapi, karena keegoisan serta kecurangannya, telah mengubah tubuh Ziaruo, ia mendapatkan balasan seperti sekarang.


Ziaruo sang permaisuri menikah dengan pria lain, atas takdir di reinkarnasinya yang ke dua, sebagai hukuman ekstra atas kecurangan yang telah ia(murongxu) lakukan.


Mungkin karena hal inilah, dewa juga menghukumnya, dengan sengaja menautkan rasa, serta penglihatan, atas tubuh pengganti milik sang permaisuri ketika melakukan apapun, termasuk memadu kasih bersama sang suami.


Terkadang, Murongxu merasa menyesal karena telah mengganti tubuh Ziaruo, akan tetapi, secepat mungkin pikiran itu ia tepis.


Mungkinkah, segalanya akan berbeda, jika ia menyerahkan semua pada garis takdir?. Apakah hukuman mereka akan jauh lebih ringan, dari yang sekarang?.


Pertanyaan demi pertanyaan, singgah di dalam pikiran, sang kaisar Awan.


Namun, segalanya adalah tentang penyesalan yang tak berarti.


Sejarah perjalanan takdir, adalah sebuah misteri dari sang pencipta, bagaimanapun dirinya berupaya mencegah yang akan terjadi, pada kenyataannya segalanya memang telah tergaris.

__ADS_1


Murongxu berpikir serta menyadari, baik itu tindakan, perasaan, bahkan juga setiap rencana yang ia tetapkan, adalah gambaran dari kreasi takdir itu sendiri.


Dan jika pria itu tak melakukan kesalahan, maka kapan karma buruknya di kehidupan terdahulu terbayarkan?, karma tentang Zhanglei yang membuang hatinya kedalam telaga kehidupan, akibat dari perbuatannya, merebut orang yang dikasihi oleh pria tersebut, dan menjelma dalam sosok Jiang jingwei.


Kapan Ziayun(Ziaruo) akan membayar atas ucapannya menyalahkan takdir, atas penderitaan yang tengah ia alami.


Ziayun berharap bahwa ia tak


ingin sebuah perasaan sentimental, tentang kasih sayang, yang membuatnya terluka, serta kehilangan seluruh anggota klannya.


Di dalam keinginan sang penerus klan bulan tersebut, ia hanya ingin mengikuti alur takdir saja, tanpa perasaan cinta yang akan melukai, dan menghancurkannya hingga tak bersisa.


Jika hukuman ini tak terjadi, maka segalanya akan tetap dalam kegelapan. Sebuah kebenaran atas kepedihan Baixio(zhanglei), selama ribuah tahun, serta menunggu sebuah maaf dari wanita tercintanya(ziayun).


Dan bahkan di ujian kali ini, takdir mengajarkan kepada kaisar Murongxu(reinkarnasi dari pangeran klan phoenix Haoyan), sebuah perasaan jatuh, kesakitan, serta pembalasan, atas karma hilangnya orang terkasih, yang di ambil oleh orang lain.


Seperti apa yang pernah ia lakukan di kehidupan terdahulunya, ketika ia mengambil Ziayun secara paksa dari tangan Zhanglei.


Sehingga menyebabkan peperangan, serta hancurnya sebuah kedamaian, diantara keempat kekaisaran di negri Awan, selama hampir 2 tahun.


Meskipun hal tersebut dapat kembali tenang, namun dengan sebuah kehilangan yang besar.


Kejatuhan atas suku klan Bulan, yang menjadi pusat dari ke empat kekaisaran, juga bermula dari kisah diantara mereka.


Bahkan, satu satunya keturunan yang tersisa( Ziaruo), juga tak di ketahui keberadaannya di saat itu.


Namun, sekeping kecil hati memanglah sesuatu yang ajaib, dan pemilik ambisi terbesar diantara anggota tubuh yang lainnya.


Ketika takdir, memberikan apa yang ia inginkan, baik Ziayun sebagai Ziaruo yang menikah dengan Jing, mengikuti alur takdir, tanpa adanya perasaan kasih sayang dalam hati di awal awalnya, ia kini berharap memiliki itu semua kembali.


Murongxu yang kini terluka atas kepedihan kehilangan diri Ziaruo, akibat ulahnya sendiri, kini berharap memutar waktu dan mengulang segalanya kembali.


Namun, disisi Baixio ia hanya pasrah atas kemesraan, serta keberhasilan sang hati yang telah ia buang, dan telah menjelma dalam sosok Jing wei, bersanding dengan wanita tercintanya(Ziaruo).


Apakah segalanya adalah permainan takdir, ataukah pemeran takdir yang kurang bersyukur, atas setiap apa yang dimilikinya, ataukan dewa memang sedang berlakon dalam narasi misteri yang masih sepenggal dipahami oleh semua para pemeran yang kehilangan kesabaran?, segalanya tetaplah misteri.


Murongyu menyadari apapun, segalanya berawal dari keegoisan hati yang ia miliki.


Dengan langkahnya yang gontai, serta noda darah yang masih tersisa diantara bibir, ia berjalan keluar, meninggalkan penginapan Nancang, menuju hutan barat kekaisaran Xili.


Sementara itu, di kediamanan Yun, tepatnya di tengah kota Diwei.


''Yun...apa yang terjadi padamu...Yun.''


Suara keras penuh kecemasan kaisar Jing, membuat hampir semua orang yang disana terkejut.


Baik itu pelayan, penjaga, dan juga Yongyu ikut menyeruak masuk, kedalam kamar milik kaisar dan permaisuri.

__ADS_1


''Ada denganmu Ruoer?.'' Ucap Yongyu penuh kecemasan.


Dengan cepat pria itu, mengambil alih tubuh Ziaruo, hingga tanpa sadar ia telah mendorong tubuh kaisar Jing.


Yongyu mengelapkan pandangannya kepada kaisar Jing, ia menduga segalanya pasti karena sang kaisar itu.


''Apa yang terjadi kepadanya?.'' Tanya Yongyu lagi, kali ini ia menatap lekat kearah Jing.


Mendapat perlakuan yang demikian, Jing membulatkan mata, ia mengingat ekspresi gusar itu, Jing merasa familiar dengan tatapan tersebut.


Akan tetapi, di tengah kecemasannya atas kondisi sang permaisuri, kaisar Jing tidak mengindahkan perasaan yang ia rasakan baru saja.


''Entahlah, ia baru saja terbangun dan sudah seperti ini.'' Jawab kaisar Jing dengan cepat.


''Kak...'' Panggil Ziaruo pelan.


Namun di tengah kepanikan sang kakak, dan sang suami.


Kedua orang itu tidak mendengar panggilannya.


''Yang Mulia, izinkan hamba memeriksa kondisi Yang Mulia Permaisuri.'' Ucap salah satu penjaga bayangan, yang sekaligus seorang tabib di dalam rombongan kali ini.


''Bagus.. cepat periksa...cepat..ayo cepat.'' Jawab Jing, dengan wajah yang tampak pias, ketika melihat Ziaruo memuntahkan darah kembali.


''Ruoer...ada apa?, apa yang terjadi kepadamu?.'' Tanya Yongyu kembali.


Namun, tetap saja ia tak mendapatkan jawaban apapun dari wanita itu, hanya tatapan lembut di tengah lemahnya kondisi tubuh Ziaruo.


''Tuan Yun, bisakah anda membaringkan Yang Mulia, biarkan hamba memeriksa sebentar.'' Pinta tabib itu, dengan sopan.


Karena pada kenyataannya, tubuh Ziaruo sekarang sedang berada di dalam pangkuan Yongyu sang kakak.


Pemuda itu, secara reflek mengangkat tubuh Ziaruo, serta kembali menjauhkan tubuh kaisar Jing, saat ia melihat wanita itu memuntahkan darah segar lagi dari mulutnya.


Mendengar permintaan sang tabib, Yongyu membaringkan tubuh Ziaruo dengan perlahan di atas ranjang.


Namun dengan pandangan penuh kecemasan, tak lepas dari sang adik.


''Apa yang terjadi kepadanya?.'' Tanya Yongyu lagi, kepada Jing.


''Aku tidak tahu!...Kita tunggu saja tabib menyelesaikan pemeriksaan.'' Jawab Jing, dengan nada agak tinggi, penuh kekesalan.


Ditengah kecemasannya atas sang istri, Jing merasa gerah dengan sikap Yongyu, kakak iparnya.


Ia merasa seolah dirinya kini, adalah tertuduh dalam kejadian yang tengah menimpa permaisuri.


''Bagaimana mungkin aku akan melukainya?, segila dan sekejam apapun, aku tak akan pernah mampu melukainya.'' Gerutu Jing, dalam hati.

__ADS_1


"Jika ini karenamu kak...maka aku akan membawaya, menjauh dari hidupmu selamanya.'' Pikir Yongyu.


__ADS_2