Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 251


__ADS_3

"Bagiamana jika darah yang mengalir di tubuhnya, tidak terpaut darah imperial kekaisaran secara langsung?." Wanita itu telah kehilangan akal sama sekali.


Sehingga ia merapal perkataan, yang sangat tabu untuk di dengar keluar dalam pendengaran orang lain.


Yongyu mengernyitkan dahi, ada beberapa spekulasi yang pernah di tepisnya dulu, kini kembali muncul di pikiran.


Namun dengan keberadaan pelayan tua di sana, ia tak ingin meluncurkan pertanyaan yang kian kuat itu.


"Keluarlah!." Perintah Lexue kepada sosok wanita paruh baya yang berada tak jauh darinya. Hal itu ia lakukan, ketika menyadari bahwa sang putra merasa tidak nyaman dengan kehadiran sosok tersebut.


''Baik Yang mulia."


Pada akhirnya, pelayan tua itu hanya bisa membungkuk memberi hormat, dan berlalu dari ruangan setelah merasa ragu beberapa saat.


Pasalnya, keselamatan dirinya tergantung pada keselamatan janda tua Lexue.


Namun bukan itu poin terpenting saat ini, ia memiliki suatu keharusan untuk tetap berada di dekat majikannya tersebut, bukan hanya untuk menjaganya.


Terlebih lagi, ketika pembicaraan mereka mengacu pada titik, dimana sebuah info penting yang harus di jaga.


Wanita pelayan tua yang tak lain adalah, orang yang sengaja di tempatkan oleh Jiang Jing wei tersebut, tak bisa berbuat apapun ketika harus meninggalkan pembicaraan di antara keduanya.


Atau penyamaran dirinya selama ini akan terbongkar, dan itu berarti ia akan di pindahkan oleh sang kaisar untuk tugas lain. Dan tentu saja, ia tidak tahu itu akan menjadi lebih baik atau lebih buruk.


Baginya, berada di samping janda tua lexue memang tak semenantang, ketika dirinya bergabung bersama rekan sepelatihannya dulu.

__ADS_1


Namun, sebagai abdi negri Zing yang Agung, menjaga keselamatan mantan ratu dan ibu dari penerus kekaisaran, bukanlah hal yang menyedihkan.


Di tambah lagi, tugas ganda yang di berikan oleh tuannya untuk mengawasi pergerakan sang ibu, yang notabene bukan sosok yang akan berdiam diri dan hanya membaca kitab suci di sana.


.......................


Sepeninggal pelayan tua tersebut, Yongyu mulai kembali membuka suara. "Apa maksud ibunda dengan perkataan tersebut?."


Suara pemuda itu tidak pelan, namun juga tak akan di dengar oleh orang lain selama jarak di antara mereka lebih dari 7 langkah.


"Seperti yang kau dengar, ini adalah salah dari wanita ini di masa mudanya, dan hingga sekarang aku masih sering menyesali apa yang terjadi."


Janda Lexue mencoba mengatakan sesuatu yang telah lama di sembunyikannya. Berinisiatif menyalahkan diri sendiri terlebih dahulu, untuk menerima keringanan di akhirnya.


Bagaimanapun, Yongyu adalah pemberat emas di hatinya, dan ia taka akan membiarkan pemuda itu membenci serta beranggapan buruk untuk diri sendiri.


"Jing Wei mungkin masih termasuk saudara imperial untukmu, namun dia bukan keturunan langsung dari ayahandamu." Lexue melanjutkan perkataannya, setelah menimbang dengan baik, untung dan ruginya permasalahan tersebut.


Namun, dengan pemahaman yang dimiliki tentang sang putra, serta cara penyampaian yang di buat ringan di tubuhnya, wanita itu berharap Jing Yun akan memahami arti serta memicingkan kedua mata, terhadap tindakan buruknya terhadap sang kakak.


Dan lebih baik lagi, jika putra tercintanya itu bersedia untuk berbagi beban di pundak, untuk mengambil tahta yang seharusnya memang menjadi miliknya.


Mendengar penuturan wanita yang telah melahirkannya tersebut, Yongyu tak percaya.


Meskipun, ada sedikit ragu di dalam hati dulu, namun apa yang di beberkan sang ibunda, sungguh seperti opera receh yang di tampilkan di rumah-rumah penjual teh.

__ADS_1


"Jadi maksud ibunda, kami saudara sekandung, namun berbeda ayah?."


Janda Lexue mengangguk pelan, ia mengiyakan pertanyaan sang putra dengan tegas.


"Dan karena hal ini ibu memberinya ramuan, agar tak bisa memiliki keturunan?."


Sekarang giliran janda Lexue yang membulatkan mata tak percaya?.


"Bagaimana kau bisa mengatakan itu?." Nada suara janda Lexue jelas tampak bergetar.


a


Akan tetapi, dengan keegoisan yang kental, serta ketakutan yang entah tentang apa, ia masih enggan mengakui perkataan yang di utarakan Yongyu.


"Apakah Wei'er yang memberitahumu?, jangan mempercayainya, jangan sekalipun." Lanjut janda Lexue lagi.


Kali ini ia berusaha dengan baik, tampil layaknya pihak yang di persalahkan.


Wajah janda Lexue tampak berubah dalam waktu sekejap, tangannya yang memegang untaian manik-manik semakin mengencang.


"Mengapa harus takut, jika ibu katakan secara langsung kepadanya dulu, dan dengan pribadinya yang masih menghormati, serta peduli kepadaku, kurasa kakak tidak akan melawan kehendak ibunda" Jing yun merasa kecewa dengan pilihan, dan sikap sang ibu dalam menghadapi Jiang Jing wei.


Dan mungkin dirinya akan berbuat yang sama seperti saudaranya tersebut, jika di tempatkan di posisi itu.


Akan tetapi, pemahaman dan ambisi sang ibu di depannya ternyata tak pernah mengerti, bahkan hingga segalanya sampai di titik seperti sekarang.

__ADS_1


"Lalu siapa ayahnya?, jangan katakan bahwa itu adalah paman Feng, karena hanya dirinya saja kerabat kekaisaran yang masih hidup, dan setahuku paman kekaisaran jugalah satu-satunya orang yang bebas keluar masuk istana ibunda."


__ADS_2