
Masih di dalam perjalanan menuju kekaisaran Tang.
Dengan bulir bening di pipi, ia menengadah menatap langit langit kereta.
Ziaruo bergumam dalam hati. ''Mengapa begitu lama anda menyadarinya?.
Mengapa, harus menunggu hingga terbentang jarak panjang diantara kita?.''
Perasaan kesedihan di wajah sang permaisuri tampak jelas. Hingga, tanpa terasa bulir bening pada ujung matanya semakin deras, mengucur membasahi pipi putihnya.
Bahkan, ada beberapa tetesan yang kini bersarang di ujung mata sang suami.
Bulir bening tersebut meresap masuk kedalam, seolah menyatu dengan mata Jiang jing wei.
Hingga.....
''Lei....berhenti Lei, aku tak ingin mengejarmu lagi, aku lelah....'' Teriak seorang wanita, yang tengah duduk bersimpuh, seakan tanpa memperdulikan apapun, ia mendudukan tubuhnya pada hamparan rumput taman.
Pria yang tak lain adalah Zhanglei tersebut, tersenyum melihat sang kekasih tampak kelelahan.
Dengan langkah setengah berlari kecil, pemuda tersebut berbalik, dan mendekati wanita yang tak lain adalah Ziayun.
Dengan Langkah tegas serta lebarnya, Zhanglei tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di dekat wanita itu, sebelum akhirnya ia ikut duduk di sampingnya.
''Ternyata, calon ratu dari klan bulan sangat lemah ya...haha..haha.'' Goda Zhanglei, ketika mendudukan tubuhnya, disamping sang kekasih.
Mendengar ucapan tersebut, Ziayun mendengus kesal. Dengan tatapan yang ia tajamkan, wanita itu melihat kearah pria, yang telah resmi menjadi tunangannya itu.
Suara yang biasanya lembut serta penuh ketulusan, kini ia expresikan seolah tengah marah, dan berkata. ''Oh...jadi anda merasa lebih kuat dariku?, bagaimana kalau kali ini kita uji kemampuan?.''
Ziayun masih menampilkan wajah dengan kemarahan bahkan, ia sengaja tidak memberikan senyuman sama sekali.
Zhanglei menjadi kelabakan mendengarnya, dengan spontan pria itu menjawab. ''Wowowowo...tidak... itu tidak boleh terjadi, aku hanya bercanda permaisuri cantikku.''
Pemuda itu, dengan cepat berbalik dan menatap tepat kearah sang kekasih.
Dengan wajah yang di buat semanis mungkin, ia kembali bertanya. ''Ada apa?, mengapa beberapa hari ini cepat sekali marah, bahkan permaisuri cantik ini, mudah sekali terpancing dengan candaanku?.''
Ucapan lembut pangeran klan kegelapan sesungguhnya menggugah hati Ziayun, akan tetapi karena kejailan di sela perkataan sang pria, kembali membuat wanita itu, menjadi jengkel.
Sementara itu, Zhanglei memang merasakan perubahan pada diri Ziayun akhir akhir ini.
Ia sering mendapati wanita tersebut sering merenung, bahkan ia juga cepat marah dengan hal hal kecil diantara mereka.
__ADS_1
Zhanglei menatap fokus kearah Ziayun beberapa saat, dan hal yang sama dilakukan oleh sang kekasih.
''Heeeeeehh....''
Suara helaan nafas wanitanya tersebut, terdengar nyata dan terasa berat.
Seolah wanita itu tengah menyimpan, suatu beban berat di dalam hatinya.
''Yun..Ada apa?, katakan kepadaku.'' Tanya sang pemuda, dengan penuh kekhawatiran.
Akan tetapi Ziayun, tampak enggan berbicara, ia hanya menunduk perlahan dengan raut wajah sedih.
''Yun...apakah kau tidak merasa nyaman dengan bercerita kepadaku?, bahkan aku sebagai calon suamimupun, hingga sekarang tak berhak untuk kepercayaanmu?.'' Tanya lagi sang pemuda, namun kali ini tampak jelas sebuah pengharapan dimatanya.
Sebuah harapan atas kepercayaan, dari Ziayun sang calon permaisuri.
Mendengar ucapan tersebut, Ziayun mengangkat kepalanya perlahan, menatap lekat tepat kearah manik mata sang kekasih dan. ''Heeeh...''
Sebuah helaan nafas panjang kembali terdengar, dari bibir wanita cantik tersebut.
''Apakah anda akan percaya, jika kukatakan aku memiliki firasat buruk tentang kita?.'' Ucap wanita itu lirih, seolah ada sesuatu yang menahan setiap penggalan ucapannya.
''Firasat buruk?.'' Sahut pria tersebut reflek.
Terlebih lagi, wanita di depannya tersebut masih suci(virgin), dan ia juga keturunan dari keluarga kekaisaran(darah biru). Jadi visi penglihatan yang di peroleh akan jauh lebih akurat, dari semua wanita di klannya, Zhanglei mulai merasakan kekhawatiran di hatinya.
Benar, memang hubungan mereka berawal dari sebuah perjodohan, namun dengan kecocokan diantara keduanya, benih benih cinta telah tumbuh sempurna di dalam hati keduanya.
Bahkan bagi pemuda itu, ia telah memutuskan akan mengabdikan hati, serta raga hanya untuk Ziayun seorang.
Ia berjanji dan telah memutuskan dalam hati, bahwa hanya akan ada Ziayun saja selamanya.
Namun, seolah memperoleh guncangan keras untuk hati dan fikirannya mendengar ucapan tersebut, Zhanglei terdiam.
Ia berpikir keras, sembari menatap wajah sang kekasih dalam dalam, sebelum akhirnya berucap kembali. ''Apakah kau yakin Yun?.''
Tampak jelas, penekanan pada perkataan pemuda itu, sebuah amarah serta kebingungan tengah bergiat disana. Dan wanita itu menyadari akan hal tersebut.
Dengan menunduk serta mengangguk perlahan, Ziayun menjawab pelan. ''Sepertinya, segalanya akan sulit untuk kita.''
Sebuah suara dengan kelembutan yang nyata, namun kepedihan juga terasa disana.
Ziayun menunduk semakin dalam, ia tak mampu menatap wajah tampan sang kekasih.
__ADS_1
Ditengah hamparan taman, dengan berwarna warni bunga yang menghiasi sekelilinya, entah mengapa hati serta pikirannya, seolah tengah menggelap, dengan balutan kesuraman.
Ada kegelisahan pada wajah cantik itu, ada kegundahan yang kini menghiasi kelembutan pada wajah, di depan sang pria.
Zhanglei menekan perasaan yang kini bergemuruh, penuh kekhawatiran di dalam dadanya.
Dengan suara yang di buat setenang mungkin ia kembali berkata. '' Siapa?, siapa dia yang akan mempersulit hubungan kita?.''
Zhanglei berpikir, bawa akan ada pria lain diantara mereka.
Kebimbangannya kini mulai mengetuk masuk, ibarat racun yang mulai menyebar di atas permukaan air di dalam belanga.
''Klan mana yang ingin mengambilmu dariku?, atau dewa mana yang hendak mempersulit kita?.'' Tanya Zhanglei lagi, dengan nada suara yang mulai meninggi.
Ziayun terhenyak sejenak, ia menatap Zhanglei tak percaya. Seorang pria dengan kedudukan tinggi di klan kegelapan, seorang pemuda dengan kelebihan menakjubkan sejak ia terlahir di depannya itu, tengah menahan kemarahan.
Dan di tengah kemarahan itu, pria tersebut seolah kepribadian dinginnya telah kembali lagi.
Bahkan, Zhanglei menatap wajah Ziayun tajam, kedua tangannya memegang pundak sang kekasih dengan kuat.
Sementara itu, Ziayun hanya menatapnya dalam, dengan kedua pundak yang mulai merasakan sakit, tatapan wanita itu berubah menjadi sendu.
Ada ketidak percayakan di dalam sorot matanya.
Dengan tindakan yang demikian, seolah ialah yang bersalah.
Dengan suara lirih serta tatapan mata masih lekat kearah sang pria ia berucap. ''Anda menyakiti saya.''
Menyadari tindakannya tersebut, Zhanglei dengan cepat melepaskan kedua pegangan tangannya.
''Maafkan aku, aku tidak berniat melakukannya..dan...dan ..itu.''
Zhanglei kebingungan dengan sikap dan ucapnnya, entah apa yang telah membuat ia melakukan hal tersebut, kepada wanita yang paling berarti di dalam hidupnya.
Dengan penuh tatapan penyesalan, ia kembali mendekati Ziayun, dengan duduk diatas kedua kaki yang di tekuk kebelang sebagai bantahan tubuhnya, di depan wanita itu ia kembali berkata. ''Aku tidak sengaja Yun, aku tidak tahu apa yang kulakukan.''
Ziayun hanya diam mendengar ucapan pria tersebut, bahkan ketika Zhanglei menagkup kedua pipinya dengan sorot mata penyesalan, wanita itu tetap diam.
Terimakasih sudah mampir dan membaca.
Mohon tinggalkan like, saran, komentar serta vote ya...SEMANGAT.
Kami hanyalah perwujudan kehendak, sang pembawa takdir di kehidupan ini, layaknya pemeran sebuah cerita, tersusun indah nan rapi, sesuai alur yang telah di tetapkan oleh sang Author.
__ADS_1
''Gubraaaakkk.''