Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
244 Mengikuti ke Yincang.


__ADS_3

Meski ia akan di benci dalam kehidupan ini, semua tetap harus dilakukan untuk dapat memenuhi tujuan bersama.


Biyi di dalam kehidupan ini harus menjadi sosok penjahat, yang paling beracun di antara saudara-saudaranya.


Bahkan, meski keburukan tindakan itu tidak ia kehendaki, ia harus tetap melakukannya.


Penjahat dengan kejahatan mulia, untuk kebaikan serta menyatukan mereka kembali.


..............


Sementara itu di penginapan.


Ziaruo telah bersiap untuk pergi dari sana.


Sesuai dengan apa yang mereka putusan bersama, wanita itu akan kembali ke Yincang untuk menjemput Weiyun.


Setiap kata yang mengarah pada suatu perpisahan, entah itu sebentar ataupun lama dalam hati Jing selalu ada keengganan.


Namun demi untuk kebersamaan mereka, ia menyadari bahwa semua harus di lakukan.


"Aku ikut bersamamu Yun."


Ada sedikit ragu serta rasa takut, bahwa wanita itu tidak akan kembali datang kepadanya.


Mendengar perkataan itu, Ziaruo merasa tak berdaya. Karena bagaimanapun, ia memahami pikiran Jiang Jing wei.


Ziaruo yang telah bersiap untuk pergi menghentikan langkah, dan kembali memutar tubuhnya. Ia perlahan mendekat kearah sang suami.


"Apa yang Anda pikirkan?, Yincang bukanlah tempat di mana orang akan mudah datang dan pergi.


Setiap orang yang datang, mereka akan meninggalkan sesuatu sebagai gantinya. Dan saya tak ingin yang mulia kehilangan hal berharga, untuk sesuatu yang tak di perlukan.''


Jing sudah menduga bahwa permintaannya akan ditolak, namun Ia tetap tidak menyesal untuk mencoba.


Bagaimanapun wanita itu adalah istri yang sangat ia cintai, dan Jika ada upaya memperkecil kemungkinan untuk kehilangannya, akan ia lakukan dengan baik.


Meski jawaban itu membuat hati Jing sedikit kecewa, perlahan ia menggerakkan tangan meraih tangan kecil wanita yang kini berdiri di dekatnya.


Tatapan mata itu tidak setajam di awal, dan berubah menjadi sendu.


Dengan banyak pikiran takut kehilangan, sosoknya terlihat lemah dan tak berdaya.


Ziaruo tertawa kecil, dan merasa saat ini kaisar Jing sangat konyol, sekaligus menggemaskan.


Bagaimana mungkin sosok kaisar yang terkenal arogan dan kejam, kini terlihat tak berdaya di hadapannya.


Seperti seekor kucing kecil, yang berharap untuk di belai sang pemilik.

__ADS_1


Sementara yang ditertawakan masih tetap melakukan hal yang sama, dan tidak peduli dengan ejekan wanita itu kepadanya.


Jiang Jing wei ingin berperan seperti teratai putih yang menyedihkan di depan Ziaruo, bukan lagi sosok yang memasang wajah dingin untuk terlihat kejam dan menakutkan di hadapan orang lain.


Juga bukan sosok yang terlihat sombong dan arogan, akibat rasa takut di remehkan serta menghindari ancaman kehidupannya.


Di depan wanita itu, Jing ingin menjadi sosok pria pada umumnya yang mencintai sang istri, serta memiliki rasa takut untuk sebuah perpisahan, dengan harapan berbahagia bersama putra mereka.


"Apa yang harus aku lakukan jika kamu tidak kembali Yun?.


Aku akan menunggumu disini dan tidak akan kembali ke Zing, selama kau belum datang".


Jing seperti seorang bocah kecil yang merajuk, untuk meminta mainan kepada sang ibu.


Dan itu tidak dapat disalahkan, dengan identitas diri yang di miliki oleh sang istri, yang kapan saja bisa menghilang dari hadapannya, pria manapun mungkin akan melakukan hal yang sama.


"Kemarilah dulu, mengapa kau begitu ingin buru-buru pergi dari sini Yun?." Tanya Jing, sembari menarik tubuh wanita tersebut, dan mendudukkannya di atas pangkuan.


Ziaruo menyerah atas keinginan Jing.


Ia mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan pria tersebut, dan membiarkannya memeluk tubuhnya dari belakang, serta meletakkan dagu di atas pundaknya.


"Berapa lama dibutuhkan waktu untuk datang dan pergi ke Yincang?." Tanyanya lirih.


''Dalam hitungan dunia ini, mungkin lusa sore, kita sudah akan tiba di sini kembali." Ziaruo.


''Mengapa itu memerlukan waktu yang begitu lama?." Jing.


"Bagaimana mungkin itu bisa menjadi lama?." Ziaruo menghela nafas sejenak, seolah ia sedang melepas sesuatu yang berat, untuk bisa memberi penjelasan untuk pria tersebut.


"Weiyun telah terbiasa dengan mereka, jadi ia akan memerlukan waktu untuk berpisah dengan orang-orang di sekitar Yincang."


''Bukankah itu berarti 2 bulan, mengapa untuk berkemas dan berpamitan saja, memerlukan waktu selama itu?."


Mendengar pertanyaan tersebut, wanita itu merasa semakin tak berdaya.


Ia mengingat bahwa Weiyun putranya jauh lebih dekat kepada orang-orang Yincang, ketimbang kepada dirinya.


Dan itu bukan tanpa alasan.


Ziaruo sengaja melakukan itu untuk mempersiapkan diri dan hati sang putra, atas kepergiannya.


Ziaruo menghela nafas pelan, iya berbalik dan menatap wajah Jing.


Wajah cantiknya menampilkan senyum kecil, sebelum ia membuka mulut dan menjawab sang suami. "Anda lupa, masih di perlukan sedikit waktu untuk sampai ke pintu gerbang Yincang. Dan itu juga sudah memakan waktu dua kali batang dupa dari sini."


"Tubuh ini tidak seperti sebelumnya, untuk datang ke pintu gerbang Yincang, masih harus memerlukan sedikit waktu yang mulia.''

__ADS_1


Tangan kecil Ziaruo perlahan menyentuh pipi Jiang Jing wei, mengusapnya lembut dan di bawah tatapan lekat sang suami, Ziaruo sedikit mencondongkan tubuh, membungkuk dan mendekatkan wajah ke arah wajah Jing.


"Jangan khawatirkan apapun, wanita ini akan dengan cepat kembali lagi bersama putra kita"


Ziaruo semakin mendekatkan wajahnya, perlahan mengecup bibir itu lembut, serta menikmati sentuhan hangat bibir sang suami.


Sejenak, ruangan menjadi hening.


Setelah beberapa saat, wanita itu menarik diri dan turun dari pangkuan Jing.


Wajah tenangnya beberapa saat yang lalu, kini terlihat memerah dengan senyum yang merekah.


"Aku akan mengantarmu dan menunggu di depan pintu gerbang Yincang."


Jing semakin tak dapat dibujuk, ia telah memutuskan untuk mengantar wanita itu, dan menunggunya di depan gerbang Yincang.


Dan dengan kata lain, Kaisar serta penjaga bayangan miliknya, akan melakukan perjalanan ke bukit Batu, di sisi selatan perbatasan kota.


Ziaruo sudah menduga akan seperti ini. Dengan pribadi serta kekerasan kepala Jing suaminya, ia benar-benar tak dapat melakukan apapun, hanya menuruti setiap keinginan dan perintahnya saja.


Ziaruo menghembuskan nafas menyerah, sebelum akhirnya mendudukkan tubuh pada kursi di sana.


Ia berpikir itu perlu, karena untuk berkemas Jing dan rombongan, pastilah memerlukan waktu.


Dan mengapa harus berdiri jika ada kursi yang siap di duduki.


Namun, belum sempat tubuhnya sempurna menyentuh bangku kayu di dalam ruangan, perkataan Jing kembali membuatnya tak percaya.


"Apa kita tidak jadi berangkat?, mengapa justru ingin duduk?."


Jing memahami apa yang dipikirkan oleh sang istri. Ia tidak ingin menjelaskan apapun kepadanya, bahwa sejak datang ke sana, dirinya telah memutuskan untuk mengikuti wanita itu kembali ke Yincang.


Bahkan, telah bersiap untuk memilah apa yang akan di tinggalkan untuk Yincang, sebagai ganti bertemu dengan sang putra.


Namun segala rencana telah berubah, mengingat Ziaruo telah setuju untuk kembali kepadanya.


Meski ia tidak di izinkan untuk masuk ke dalam Yincang, setidaknya Jing ingin menunggunya di pintu gerbang masuk kota ajaib tersebut.


Melihat wajah Ziaruo kebingungan wajah Jing justru merona dengan senyum bahagia.


"Ayolah jangan membuang waktu lagi, kita berangkat." Ucap Jing, sembari meraih tangan Ziaruo, menggandengnya dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.


Melihat dan memperoleh perlakuan seperti itu, Ziaruo hanya dapat tersenyum dan menoleh sejenak, sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki sang suami.


''Wuhan perintahkan beberapa orang untuk menunggu di sini, dan jaga Cangge sampai kami kembali."


Mendengar perintah barusan, sosok Wuhan yang langsung hadir dalam sekali panggil, menunduk kepada mereka berdua sebelum akhirnya menjawab. "Di mengerti."

__ADS_1


''Yun'er...kita akan bertemu." Gumam dalam hati Jiang Jing wei.


__ADS_2