
Masih di kekaisaran Zing....
Wuhan mendengar permintaan sang Permaisuri dengan jelas, bahkan sebelum Kaisar Jing memerintahkannya.
Namun, ia masih belum beranjak dari sana. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Wuhan berkata.'' Yang Mulia..Izinkan hamba mengawal anda, hamba tidak akan berangkat bersama rombongan pengawal.''
Mendengar hal tersebut, Kaisar Jing menghela nafas sesaat, sebelum mengibaskan tangannya sembari berkata. ''Lakukan sesukamu.''
Setelah kepergian Wuhan, Kaisar Jing menggenggam tangan Ziaruo, ia mengerti bahwa wanita itu tengah berpikir tentang kejadian yang baru saja terjadi.
Pria tersebut juga memahami, bahwa Ziaruo atau wanita Yun miliknya itu, sangat membenci keculasan dan intrik tipu muslihat, terlebih lagi sekarang justru menyangkut pautkan dirinya.
''Jangan dipikirkan, nanti ketika kita sudah pulang dari Tang, akan aku bereskan semuanya.'' Bujuk Jing.
Namun, Ziaruo hanya diam dan menunduk, seolah ia tengah memikirkan sesuatu, dan hal itu membuat hati Jing merasa takut.
Ia takut Ziaruo akan meninggalkanya, dan ia takut tak bisa melihat ataupun bertemu kembali dengan sang Permaisuri.
''Ayo kita berangkat, mumpung rombongan masih belum jauh.'' Ucap Pria itu kembali, berusaha membujuk sang Istri, untuk berangkat ke negri Tang bersama rombongan.
Jing berpikir, jika mereka melakukan perjalanan sekarang, mungkin kekesalan dihati Permaisuri akan sedikit membaik. Melupakan tindakan serta keb*d*han selir Feng.
Melihat sang suami yang demikian, Ziaruo berdiri dari duduknya dan berkata.'' Yang Mulia...saya akan menyelesaikan semuanya, dengan selir Feng sekarang.''
Ucapan tiba tiba dari Ziaruo, membuat Kaisar Jing semakin heran, ia ikut berdiri dan mengikuti langkah kaki sang Permaisuri.
''Yun....'' Panggil Kaisar Jing, sembari mengikuti langkah kaki Ziaruo yang berjalan meninggalkan ruangan.
''Apa kita tidak jadi kenegri Tang?, baiklah...aku akan perintahkan Wuhan memanggil rombongan agar kembali, mumpung mereka belum jauh, tapi kau berhetilah dahulu.'' Ucap Kaisar Jing kembali, di sela langkah kakinya mengikuti Ziaruo, menuju pavilliun selir Feng.
Ziaruo tersenyum, mendengar pria No.1 tersebut tampak kebingungan. Ia sengaja melakukan hal itu kepadanya.
''Ini hukuman ...karena anda telah lalai mendisiplinkan wanita anda Yang Mulia.'' Ucap Ziaruo di dalam hati.
Tak membutuhkan waktu yang lama, langkah kaki keduanya akhirnya sampai didepan pintu pavilliun selir Feng.
Kasim penjaga di pavilliun tersebut, hendak mengumumkan kedatangan sang Kaisar bersama Permaisuri.
Akan tetapi, Kaisar Jing tak memberikannya waktu.
Jing segera membukakan pintu untuk Ziaruo, dan ikut masuk tanpa pemberitahuan.
Bahkan Pria tersebut, mendorong tubuh sang kasim, yang sebetulnya hendak membukakan pintu bagi mereka berdua.
''Braaaakkkk...'' Suara pintu dibuka dengan kasar. Sehingga yang didalam ruangan semuanya menoleh secara bersamaan.
__ADS_1
Mendapati kekasaran sang putra, Lexue yang kebetulan sedang menjenguk selir Feng, terkejut dan berkata dengan spontan.'' Yaa...Dewa...''
Janda permaisuri tak pernah berpikir bahwa akan ada hari, dimana seorang Kaisar seperti Jiang jing wei melakukan hal yang demikian.
Dengan mata yang masih setengah terbelalak, Janda Lexue berdiri dari duduknya, sembari berucap. ''Yang Mulia... Apakah anda sudah kehilangan akal?, bukankah anda memiliki etika?.''
Mendengar hal itu, Jing hanya menatap sang ibu sekilas, ia kembali mendekati sang Permaisuri yang telah berdiri didepan Janda Lexue.
Ziaruo memberi hormat kepada sang ibu. Akan tetapi, wanita tersebut dengan sengaja mengabaikannya.
Kekesalan Jing semakin membuncah, selir Feng membuat Ziaruonya kecewa, dan berimbas pada perjalanannya yang tertunda, bahkan terancam gagal. Sekarang sang Ibu menambahnya dengan sikap yang tidak seharusnya.
Dengan perasaan yang setengah ditahan, Pria tersebut mendekat, ia membantu tubuh Ziaruo berdiri, dari posisi membungkuk untuk memberi hormat.
Dengan wajah yang menunjukkan kekesalan tingkat dewa, Jing berkata. ''Bagaimana seorang anak akan memiliki etika baik, ketika sang ibu tak memilikinya, bahkan jikapun sang ibu memilikinya, namun ia tak ingin mengajari sang putra, sesuatu yang baik.''
Pria tersebut, meluapkan kekesalan yang terpendam didalam hatinya selama ini, dengan langkah tenang mendudukan sang istri, dan kembali berbalik menatap ibundanya.
Ia menghela napas sesaat, sebelum kembali berkata. ''Lalu...masihkan istri dari putra tersebut harus memberi hormat untuknya?, apakah itu diperlukan ibunda?.'' Sebuah ucapan yang terasa penuh dengan kebencian.
Mendengar ucapan kasar sang putra. Lexue semakin membulatkan matanya, ia merasa semuanya seolah tak nyata. Bahwa sang putra begitu berani serta kasar kepadanya.
Tak berbeda jauh, selir Feng yang kini berada diatas ranjang juga merasa terkejut dan berkutat dalam pikirannya.
"Bahkan ibunya saja tega diperlakukan demikian, lalu bagaimana dengan dirinya?.''
''Aku tak pernah memintanya menjadi menantuku, bahkan aku juga tak berharap dia ada didekatku. Lalu apa pengaruhnya wanita ini memberi hormat kepadaku atau tidak.'' Jawab Janda Lexue dengan suara yang penuh kebencian.
Akan tetapi, dengan tubuh yang hampir luruh, dan terjatuh tak berdaya.
Ziaruo tersenyum mendengarnya, bahkan ia sempat terkekeh kecil, ia berdiri dari duduknya, dan berjalan mendekati tubuh Janda Lexue.
''Anda salah paham Yang Mulia...wanita ini hanya memberi hormat, kepada raga yang telah membawa suaminya, 9 bulan didalam kandungan.
Dan bukan, memberi hormat Jiwa tak berbelas kasih, yang bahkan tega meletakkan Nila diatas air susunya(memberikan racun atas nama kasih sayang).''
Mendengar ucapan lembut Ziaruo, Janda permaisuri Lagi Lagi membulatkan matanya.
Dengan suara yang bergetar ia kembali berkata.'' Kau...kau..ap..apa maksudmu?, apa yang kau katakan?.''
Janda Lexue tak lagi dapat menahan tubuhnya, dengan bantuan pelayan setianya, ia mendudukan tubuhnya kembali.Tatapan matanya menelisik wajah cantik Ziaruo.
''Apakah ia tahu yang kulakukan, dan apakah Jing juga sudah mengetahuinya... Dewa..apa yang akan aku lakukan?.'' Sesal dalam hati Lexue.
Merujuk pada ingatan, tentang perbuatannya memberi racun sang putra.
__ADS_1
Bulir bening mengucur dari ujung kedua matanya, tubuhnya gemetar, Lexue merasakan sesak didalam dadanya.
Menyaksikan hal itu dengan jelas, Ziaruo merasa ragu melanjutkan ucapannya, akan tetapi tetap saja ini harus dilakukan.
Permaisuri itu menghela nafas panjang, dan lebih mendekat kearah Janda permaisuri, berjongkok didepannya serta mencengkram erat tangannya.
''Hentikan kepura puraan ini, Jing sudah mengetahui segalanya, bahkan Jiang jingyun pun dia juga sudah melihat seperti apa anda.'' Ucap Ziaruo lirih, bahkan mungkin hanya di dengar oleh Lexue saja.
Mendengar hal itu, Janda Lexue berdiri dengan tubuh yang bergetar hebat, ia berjalan meninggalkan ruangan selir Feng, dengan dipapah sang pelayan setianya. Tampak jelas kekosongan, dimata wanita yang kini telah hampir menginjak, usia setengah abad tersebut.
''Wuhan, apa kau di depan?.'' Panggil Ziaruo dengan suara agak lantang.
Mendengar namanya dipanggil, Wuhan menjawab dari luar ruangan.'' Hamba Permaisuri.''
''Kirim tabib kekaisaran dan jendral Feng untuk datang ke pavilliun ibunda, pastikan mereka tetap disana, hingga keadaan beliau membaik.'' Perintah Ziaruo kembali.
(Note: marga jendral Feng dan selir kaisar sama, namun dari keluarga yang berbeda, tak ada hubungan apapun, hanya kebetulan sama saja.)
''Baik Yang Mulia.'' Jawab Wuhan.
Mendengar perintah sang istri, Jing merasa ada sesuatu yang janggal. ''Mengapa harus memanggil paman Fengyi juga?.''
Akan tetapi, Pria tersebut saat ini sedang tidak fokus. Ia hanya diam dan tidak berkomentar atas tindakan dari permaisurinya.
Setelah kepergian sang ibu, Ziaruo berjalan mendekati ranjang dengan wajah penuh ketenangan.
''Bagaimana apakah racun pemberian saya masih menyakitkan Selir Feng?.'' Ucap Permaisuri dengan sebuah senyum serta lirikan mata yang diarahkan kepada sang suami.
Kaisar Jing, mengernyitkan keningya sesaat, seolah ia tak mengerti, karena sepengetahuannya selir Feng meracuni dirinya sendiri, dan ingin menimpalkan kesalahan ke pada Ziaruo, namun sekarang justru wanita itu seolah mengaku sebagai pelaku kejahatan.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia memahami maksud dari sang istri dan berdiri.
Pria tersebut berjalan mendekati Ziaruo, meraih pinggangnya dan beberapa kali mencium pipi wanita itu, tepat didepan selir Feng.
Jing tahu, tindakannya sekarang bukanlah yang dimaksudkan oleh Ziaruo, namun karena sang Permaisuri hanya diam dan menurutinya, ia semakin menjadi jadi.
''Satu lemparan batu dengan dua bidikan...hehe..hehe.'' Pikir Jing.
Menghukum selir Feng, sekaligus bermanja kepada sang Permaisuri.
Jing semakin mengeratkan pelukannya, sebelum berkata pelan, akan tetapi tentu saja masih dapat didengar oleh selir Feng.
''Sayang, mungkin kau memberikan racunnya terlalu sedikit, jadi kurang efektif mem*m*u*nya, kau sungguh ceroboh.'' Ucap Jing sebelum kembali menarik tubuh Ziaruo kedalam pelukannya.
Selir Feng tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya, Kaisar yang selama ini ia kenal, ternyata tidak ada disana lagi. Bahkan pria itu bersama wanita yang ia benci, kini tengah menunjukan kemesraan tepat didepannya.
__ADS_1
Dengan penuh kemarahan, wanita itu beranjak bangun dari ranjang dan mendekati keduanya, sembari berkata.'' Kau apa yang kau lakukan kepada yang mulia?, kau pasti siluman yang menjelma.''
''Yang Mulia...lihat hamba...hamba selir Feng baginda, lawan pengaruhnya... dan lihat hamba Yang Mulia.'' Lanjut wanita itu kembali, sembari menarik Ziaruo dengan kasar, serta berusaha memisahkannya dari tubuh Kaisar Jing. Selir itu berpikir bahwa, Kaisar Jing tengah dalam pengaruh guna guna dari Ziaruo.