Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 182


__ADS_3

''Fengjiu?.''


Kaisar Jiang Jing wei tak lagi membutuhkan pertanyaan, ataupun jawaban apapun. Ia telah memahami semua.


''Wuhan....kirim berita!. Siapapun yang menerobos masuk, dan pihak mana saja yang terkait, harus ditangkap.


Dan jika mereka melakukan perlawanan, lakukan tindakan yang dianggap perlu.''


.........................................


Sementara itu di istana kekaisaran Zing.


Ziaruo yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, merebahkan diri diatas ranjang,


wajah cantik miliknya tampak muram.


Disela banyaknya peristiwa, serta beban pikiran yang ia tanggung, wanita itu bahkan tidak sadar telah beberapa kali menghembuskan nafas berat.


Hanrui dan Xiobai yang berada tak jauh dari sana, menjadi cemas, keduanya ingin mendekat dan bertanya.


Namun, melihat Ziaruo perlahan memejamkan mata, niat tersebut diurungkan.


''Apa yang membuat Anda gelisah Yang mulia?.


''Jangan cemas, Kaisar pasti akan baik-baik saja.''


Kurang lebih, itulah yang ingin mereka katakan kepada sang Permaisuri.


Ziaruo mamang memejamkan mata.


Namun, ia tidak bisa melupakan kecemasan, serta kebingungan yang kini di rasakan.


''Apa yang harus aku lakukan?.'' Gumamnya dalam diam.


Mengingat wajah dan antusias Jing, ketika dirinya hendak kembali ke istana sore tadi, Ziaruo menjadi semakin gelisah.


"Tunggu sebentar saja, Jing-mu ini akan segera menyusul, dan tak akan ada lagi yang dapat memisahkan kita.''


Perkataan serta raut wajah sang suami, jelas terbayang di benak Ziaruo.


Bahkan, seolah ia juga masih dapat merasakan, keengganan sang suami ketika melepas pelukan sesaat sebelum kembali keistana sore tadi.


''Apa yang harus kulakukan Jing?.


''Ternyata, aku memang akan selalu menyakiti, mereka yang menyayangiku.


''Bahkan juga dirimu.''


Wanita itu memiringkan tubuh, membelakangi kedua penjaga wanita disana.


Ia tak ingin, mereka melihat bulir bening, yang kini meluncur tak terbendung, dari ujung mata.


Hati Ziaruo seolah terhimpit dua batu besar, yang kian merapat, dan semakin menekan kuat.


Bahkan, di tengah kebingungan, serta kesedihan yang ia rasakan, Permaisuri dari kaisar Jiang Jing wei tersebut, tak dapat melelahkan air mata secara terbuka.


''Jing.....'' Sebutnya lirih.


Sebuah panggilan singkat, meluncur pelan dari bibir Ziaruo, tanpa ia sadari.


Dan sepelan apapun suara wanita itu, Hanrui dan Xiobai yang tetap berjaga disana, mendengarnya dengan jelas.


Mendengar hal itu, secara reflek keduanya saling tatap.


Seolah dari tatapan tersebut, keduanya membuat keputusan.


Tanpa menunggu perintah, ataupun aba-aba, Hanrui dan Xiobai bergegas mendekat kearah ranjang.


''Yang mulia...'' Panggil Xiobai lembut.

__ADS_1


Ia ingin memastikan bahwa sang tuan masih terjaga, atau sekedar mengigau didalam mimpi.


''Yang Mulia, jangan khawatir paduka Kaisar pasti baik-baik saja, dan akan segera kembali.'' Sambung Hanrui, masih dengan wajah agak cemas.


Mereka meluncurkan kalimat itu dengan tulus.


Meskipun, jelas menyadari bahwa perkataan itu tak akan berpengaruh apapun, untuk wanita diatas ranjang.


Keduanya kembali saling tatap, ketika tak ada jawaban, ataupun gerakan kecil sebagai reflek.


Mendapati hal demikian, Hanrui dan Xiobai sedikit merasa lega.


Setidaknya, sang Permaisuri telah dapat beristirahat.


Dalam hati dan pikiran, mereka juga merasa terharu.


Bagaimana tidak, dengan banyaknya pria pemuja, serta pinangan untuk sang permaisuri.


Nyatanya pemilik hati dari wanita tersebut, adalah Kaisar Jing tuannya, dan hal itu terbukti saat ini.


''Bahkan dalam tidurpun Anda masih memanggil nama beliau.''


Kurang lebih itulah yang mereka pikirkan.


Hanrui kembali melangkah, menuju tempatnya semula.


Sedangkan, Xiobai masih tetap berdiri disamping ranjang.


Ia ingin memastikan kenyamanan, serta keamanan permaisuri Yun, dari jarak yang ia ambil saat ini.


Keduanya semakin menegaskan, bahwa akan menjaga permaisuri Yun dengan baik, dan tak akan membiarkan hal buruk sekecil apapun, terjadi kepadanya.


.....................


Meninggalkan istana Permaisuri Yun, yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga bayangan.


Fengjiu dengan 26 orang pria berpakaian penjaga, berjalan menuju pavilliun Janda Permaisuri Lexue.


Namun, salah satu penjaga pavilliun yang telah mengenal, dan memastikan fengjiu sebagai kesayangan dari kaisar mereka, memberitahukan bahwa Janda permaisuri, tidak sedang berada di tempat.


Wanita yang telah melahirkan Kaisar Jiang Jing wei tersebut, sedang berada di aula Heven untuk berdoa kepada leluhur.


Setelah mendengar perkataan prajurit penjaga pavilliun. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Fengjiu bergegas pergi bersama para penjaga miliknya, menuju aula Heven.


Dan benar saja, ketika mantan selir Jing tersebut masuk kedalam aula.


Disana ia melihat seorang wanita yang telah berusia lebih dari setengah abad, dengan dua dayang paruh baya khusuk berdoa.


Fengjiu belum pernah pergi ketempat itu.


Bagaimanapun statusnya sebagai selir, tidak mengizinkan dirinya untuk datang ke sana.


Sebuah tempat yang disakralkan untuk pihak luar, bahkan bagi selirpun, tempat itu dianggap tabu bagi mereka.


Begitu Fengjiu mulai melangkah masuk, nuansa ruangan yang sedikit remang, dengan aroma dupa memberikan kesan tersendiri.


Di tambah lagi, kesunyian yang pekat, tercetak dalam benak wanita itu.


Keadaan yang demikian, seolah tengah memasuki wilayah dewa Yama, dengan catatan keburukan yang menumpuk di pundak.


Bagi Fengjiu takut, ngeri dan sedikit ragu, menusuk hingga ke ulu hati, sehingga membuatnya sedikit bergidik untuk masuk ke sana.


Terlebih lagi, ketika wanita yang memiliki nama Lexue tersebut, tidak menghiraukan, serta tidak ambil pusing, atas kedatangannya.


Karena, bagi Lexue siapapun yang datang, tidak akan dapat mengubah keadaannya saat ini.


''Hormat hamba Permaisuri.'' Sapa Fengjiu, dengan sedikit membungkukan tubuh.


Mendengar suara itu, Lexue membuka mata perlahan, dan sekilas terlihat kernyitan pada keningnya.

__ADS_1


Bagaimanapun dirinya adalah wanita utama di kekaisaran Zing.


Oleh karena itu, sudah barang tentu ia telah mengetahui, perihal kepulangan selir fengjiu kekampung halaman, akibat kehilangan anugrah dari sang putra.


''Apa yang dilakukan oleh wanita ini disini?.'' Ucap janda Lexue dengan nada sinis.


Bagi wanita tersebut, sosok dibalik punggung itu, tidak pernah ia anggap penting sejak dulu.


Terlebih lagi sekarang ini, Fengjiu telah kehilangan kasih sayang Kaisar Jiang jing wei.


Sehingga, Janda permaisuri semakin tidak memandangnya sama sekali.


Bahkan, ia mengatakan hal itu tanpa harus repot menoleh, ataupun melihat kearah sosok tersebut.


Mendapati perlakuan yang demikian, ada kekecewaan didalam hati wanita Fengjiu.


Akan tetapi, ia kembali menegaskan hati, bahwa segalanya adalah karena pengaruh siluman rubah disisi Kaisar (Ziaruo).


Setidaknya itulah versi, serta anggapan yang menjadikan pembenaran saat ini.


''Yang mulia, mohon dengarkan hamba terlebih dahulu.'' Pinta Fengjiu setelah melihat dua penjaga wanita disisi kanda permaisuri, mulai bergerak mendekatinya.


''Mohon Permaisuri membantu Kaisar.''


Sambung Fengjiu lagi dengan cepat, sembari menjatuhkan tubuhnya di lantai ruangan.


Hal ini sengaja ia lakukan, ketika merasa tidak mendapat respon seperti yang ia inginkan.


Janda Permaisuri meletakkan untaian butir kayu candana, yang ia gunakan untuk berdoa.


Dengan tubuh yang sedikit lemah, wanita itu bangkit dari duduk dan berbalik melihat kearah Fengjiu.


''Membantu kaisar?.''


''Ada apa dengan kaisar?.''


Janda permaisuri menampilkan ekspresi heran, dengan permintaan dari Fengjiu.


Dengan gerakan tangan singkat, Lexue meminta kedua pelayan setianya, untuk membiarkan wanita itu disana.


''Bicaralah!." Ucapnya datar.


''Yang mulia, paduka kaisar bukanlah seperti yang anda kira. Beliau tengah dalam kesadaran yang tidak pada mestinya.''


Fengjiu mulai menceritakan apa yang di ketahui, serta apa yang telah ia alami sebelum dirinya keluar dari istana.


Wanita tersebut, meyakini akan kebenaran dari setiap penggalan kalimat yang ia sampaikan.


Baginya, pria dengan kasih sayang yang besar sebelum ini (Kaisar Jing), telah diberikan mata jahat oleh seseorang.


Dan tentu saja, ia tidak melewatkan kejadian di bilik pavilliun lama miliknya, yang telah membuat ia tak dapat tidur sendirian lagi sekarang.


Fengjiu selalu ketakutan bahwa akan ada seseorang(permaisuri Yun), yang akan datang mengambil jantung serta hatinya.


Mendengar penuturan wanita di depannya, Lexue kembali mengernyitkan dahi.


Ia mengingat kemampuan menantu Yun, yang seolah mengetahui apapun dari setiap tindakannya.


Meskipun demikian, tidak serta-merta ia mempercayai bualan wanita Feng tersebut.


Akan tetapi, dengan rumor dan cerita keburukan ini untuk Permaisuri Yun. Bukanlah hal sia-sia untuk Janda lexue meluangkan waktu untuk Fengjiu.


Mungkin pedang dan pukulan tak mampu menyentuh tubuh permaisuri Yun, tapi rumor serta hujatan buruk, akan tepat pada sasaran.


Lexue menyembulkan senyum tipis sejenak dan bergumam dalam diam. ''Aku bahkan tidak perlu bersusah payah.''


''Yang mulia...Anda dapat mengingat, sebesar apa kasih sayang paduka kaisar untuk hamba bukan?, dan jikapun hal itu telah memudar, bukankah ini terlalu mendadak?.'' Sambung wanita itu lagi.


''Lalu... Apa bedanya jika kau mengetahuinya?, apa yang dapat kau lakukan?, bukankah ia terlalu hebat untuk kita manusia biasa?.'' Lexue.

__ADS_1


__ADS_2