Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 140


__ADS_3

Masih di hutan Barat kekaisaran Xili.


''Ada apa?, Apa kau menolak kesempatan ini?.'' Tanya Murongxu, dengan tatapan yang tampak merendahkan.


Sementara itu, mendapat intimidasi tatapan yang buruk kepadanya, Sang dominan menjadi geram.


Darahnya seolah, tengah di rebus diatas bara api.


Dengan suara yang penuh kemarahan, jilmaan tersebut menjawab. ''Bagaimanapun sebuah kejayaan, adalah patut di perjuangkan, dan aku akan memakanmu, tanpa menyisakan sepotong tulangpun.''


Entah apa yang dipikirkan oleh Murongxu. Mendengar perkataan itu, ia justru tersenyum, dan kembali berucap. ''Kau benar, apapun yang berharga, memang patut di perjuangkan.''


''Bahkan mahkluk seperti kalian, ternyata jauh lebih bijak dari pria ini.'' Sambung Murongxu lagi, lirih.


Murong tersenyum dengan miris, ia tengah mentertawakan kebodohan, serta kekurangannya sendiri.


Di sana, di depannya berdiri sesosok mahkluk besar, yang bahkan tak pernah ia anggap keberadaannya.


Dengan bagian leher hingga kepala, masih berbentuk serigala, sementara tubuh bagian bawahnya, menyerupai wujud manusia.


Sebuah perwujudan tak sempurna bagi penglihatannya sekarang.


Bahkan, rasa enggan melihat mereka, akan jauh lebih baik untuk mendeskripsikan pikiran Murong.


Akan tetapi, dari sosok itu nyatanya, ia memperoleh sebuah motivasi yang mendalam.


Bahkan jika memang itu mustahil, selama masih ada keyakinan, serta perjuangan, segalanya akan jauh lebih baik.


Setidaknya, ia telah berusaha dan tidak menyerah begitu saja.


Memang benar, dengan tubuh manusia biasa, dirinya memiliki keterbatasan.


Namun, bukankah masih ada sang Pencipta?.


Murongxu terdiam sejenak, ia memahami apa yang tengah dipikirkan oleh sang jelmaan.


Bahwa, jika dewa yang di percayanya berkehendak, maka apapun yang di inginkan, akan hadir dengan cara-cara yang tak terduga.


Murongxu memejamkan matanya sejenak. Pria tersebut tidak mengindahkan apa yang disekitarnya.


Bahkan, meski di depannya jelas ada seekor serigala, dengan ukuran hampir 3 kali lipat ukuran pada umumnya, yang siap menerkam kapan saja.


''Kau memang pantas untuk di jadikan dominan.


Kau boleh mencoba, tapi aku juga tidak akan membiarkan tubuhku, menjadi santapan dengan mudah.'' Ucap Murong lagi.


Pria itu menghadirkan sebilah pedang panjang, dari kehampaan udara di genggaman tangan kanannya.


''Kita lihat, apakah keyakinan, usaha, dan bahkan dewamu akan datang memberikan bantuannya atas usahamu sekarang.'' Murongxu.


Bersamaan dengan itu, aura immortal dari tubuh Murong menyeruak disana.


Meskipun, pancaran aura itu tidak sebesar biasanya, namun itu juga sudah cukup, membuat para jelmaan merasakan penekan yang kuat.


Dengan senyum menyeringai, Murongxu mulai bergerak sembari berucap. ''Maka kau harus berterimakasih, karena telah bertemu denganku.''


Tak menunggu reaksi dari semua yang disana, ia melewati tubuh sang serigala dominan dengan cepat.


Murongxu bergerak tak terdeteksi, menerjang, serta mengayunkan pedangnya.


''Bang ..bang ...bang...''


Dengan mudahnya, ia menjatuhkan puluhan serigala jilmaan.


Sang serigala Dominan tak dapat melihat jelas.


Bahkan, ia belum sempat memberikan reaksi atas gerakan Murong.


Tubuh serigala dominan hanya sempat berbalik, serta menghindar, ketika pria itu bergerak secepat kilat kearahnya.

__ADS_1


Yang pada kenyataan, Murongxu hanya melewati dirinya, dan bergerak menyerang para kawanan, yang berdiam dibalik pepohonan.


Mahkluk itu, menatap sosok pria Murong dengan penuh kengerian.


Sementara, di saat serigala Dominan, membulatkan mata lebar dan diam mematung.


Tak jauh dari tubuhnya, banyak terdengar lengkingan panjang, serta suara tubuh jatuh ketanah dari balik pepohonan.


Sang serigala Dominan lagi-lagi membulatkan mata.


Bahkan, kini tanpa sadar mulutnya, juga terbuka penuh keterkejutan.


Ia merasa kebingungan dengan apa yang tengah terjadi.


Belum sempat, keterkejutan itu berakhir, ia kembali dibuat kaget. Tepat di depannya, telah berdiri kembali sosok Murongxu.


Sesosok pria dengan aura yang tampak menakutkan, dengan bilah pedang berlum*ran d*rah.


''Mereka yang hanya berdiam diri dan mundur, tidaklah berguna.'' Ucap Murongxu pelan, dengan tatapan mematikan, kearah sang serigala.


Memperoleh tatapan dengan aura yang kuat, serigala Dominan terduduk ditanah.


Tangan dan kakinya, bahkan hampir seluruh tubuhnya, tak dapat ia gerakan.


''Aku akan mengampunimu kali ini, bahkan jika kau berhasil melakukan sesuatu untukku, maka impianmu akan terwujud.''


Tambah Murongxu lagi.


........................................


Sementara itu, di kekaisaran Tang.


Kaisar Canzuo tampak kurang bersemangat, pada acara pembukaan pesta tahunan kali ini.


Dengan banyaknya tamu undangan, Canzuo tetap merasa tak memiliki antusias ketertarikan.


Entah siapa yang ia tunggu. Sejak awal pesta pembukaan digelar, mata kaisar muda tersebut selalu terfokus pada pintu ruangan aula pertemuan.


Bahkan, beberapa selir kekaisaran sempat juga ikut menatap pintu itu. Di saat sang kaisar lekat memfokuskan pandangan kesana.


Keheranan tersebut, bukan hanya dirasakan oleh para selir saja.


Namun, hampir seluruh tamu yang hadir, juga merasa penasaran.


''Siapa yang tengah di tunggu oleh Yang Mulia?.'' Gumam dalam hati selir Gu, yang tak jauh beda dengan pertanyaan, hampir semua yang disana.


Selir Gu duduk di sebelah kanan kaisar Canzuo, menempati kursi tambahan, dengan tatanan satu anak tangga lebih rendah, dari kedudukan kaisar Canzuo.


Namun, tetap jauh lebih tinggi dari deretan para selir kaisar yang lain.


Akan tetapi, setinggi apapun kedudukannya sekarang, selir Gu tetaplah bukan seorang permaisuri.


Sebuah kedudukan, yang menempati tempat, tepat di samping sang kaisar.


Dirinya masihlah jauh dengan kesetaraan kemulyaan, serta tinggi yang sama, dengan kedudukan permaisuri yang masih kosong.


Sejak awal, Canzuo memang hanya ingin memanfaatkan wanita Gu tersebut, untuk mengontrol kekuatan keluarganya.


Dan tidak sedikitpun, ingin menjadikan ia wanita utama (Permaisuri) untuknya.


Bahkan, dengan kehamilannya kini, kaisar Canzuo justru menjadi lebih mudah menghindari wanita tersebut.


Ia sering memakai alasan, untuk kesehatan, dan kebaikan bayi di dalam kandungan sang selir, Canzuo sering menghindari jatah bermalam di istana pavilliun selir Gu.


Back to story.


Pesta pembukaan terus berlanjut, tarian, nyanyian, bahkan unjuk kebolehan diantara para putra-putri pejabat, pelajar, cendekiawan, persembahan utusan negri lain, putri dan pangeran(Keluarga total kekaisaran) tang.


Mereka semua berusaha menarik perhatian para tamu yang hadir, khususnya perhatian dari kaisar Muda tersebut.

__ADS_1


Akan tetapi, seolah disana hanya tubuh kosong tanpa jiwa.


Kaisar Canzuo memang menatap setiap deretan acara di depannya.


Namun, entah kemana pikiran serta fokusnya berada sekarang.


Dari awal pertunjukan, hingga akhir acara pembukaan, pria no satu di kekaisaran Tang tersebut, tampak tidak peka dengan situasi di sekitarnya.


Bahkan, hingga ketika acara hari itu dinyatakan usai, ia buru-buru beranjak dari singgahsana kemegahan miliknya.


''Bruak...''


Suara pintu ruangan di buka dengan kasar.


Mendapati kekasaran yang demikian, dua penjaga pintu ruang kerja, dan dua kasim disana, menjatuhkan tubuhnya dengan spontan.


Mereka ketakutan, seolah nyawa mereka tengah berada pada pangkal tenggorokan saja.


''Ini pasti akal busuk kaisar si**l*n itu, harusnya ia sudah tiba.'' Gerutu Canzuo dengan nada agak keras.


Ia merasa kesal kepada seseorang, yang kini tengah ia kutuk, dengan ucapan-ucapan yang buruk.


''Tenanglah, aku percaya bahwa besok mereka akan hadir.'' Sahut sebuah suara, dari balik remang sudut ruangan.


Mendengar jawaban demikian, Canzuo sedikit meredakan kemarahan di dalam hatinya.


Canzuo berjalan, menuju kursi di balik meja kerja yang selama ini, ia gunakan untuk membaca laporan dari para pejabat, serta abdi.


''Semua persiapan yang kita lakukan menjadi sia-sia.'' Gerutunya kembali, dengan wajah yang tak jauh berbeda dari sebelumnya.


Sesosok tubuh di balik remang-remang menyeringai sejenak, mendengar perkataan dari Kaisar muda tersebut.


Dengan langkah pelan ia mendekat kearah Canzuo, sembari berkata. ''Justru hal ini lebih baik.''


''Apa maksudmu?.'' Sahut Canzuo, sembari mengernyitkan keningnya.


''Jika pada saat pembukaan acara sudah terjadi keributan, bukankah pestaku akan kacau.'' Jawab sang pria, yang kini sudah berdiri tepat, di depan kaisar Canzuo.


''Tapi...'' Canzuo lagi.


''Diamlah, aku tak ingin bantahan apapun.'' Jawab pria itu kembali.


Kaisar Canzuo terdiam mendengar ucapan pria tersebut.


Seorang pria dengan wajah tampan, serta usia yang masih sangat muda, layaknya pemuda pada umumnya, dengan kisaran usia antara 16 hingga 18 tahun saja.


Akan tetapi, pemuda tersebut memiliki sisi yang misterius di balik setiap tatapan mata, serta ucapannya.


Sebuah sosok yang tak dapat di prediksi oleh orang lain, bahkan kaisar Canzuo sendiri.


''Baiklah, semuanya kuserahkan kepada anda, Kaisar ini akan melakukannya sesuai dengan rencana.'' Lanjut Canzuo kembali.


Dan jawaban itu di tanggapi hanya dengan tatapan, serta senyuman tipis oleh pemuda itu.


''Jelas saja kau harus menurutiku, atau aku akan menggantikanmu.'' Pikir dalam diam sang pemuda.


....................................


Sementara itu di kediaman Yun, masih di tengah kota Diwei.


Kaisar Jing tampak tengah menyuapi Ziaruo, dengan semangkuk bubur yang sengaja di siapkan oleh juru masak, atas perintah dari Yongyu.


Beberapa kali terlihat senyuman, mengembang dari bibir sang Kaisar.


''Sudah...saya sudah kenyang yang mulia.'' Ucap Ziaruo, sembari mendorong pelan, mangkuk ditangan Jing, menjauh dari hadapannya.


''Jangan seperti itu, ini baru sebagian saja, kau harus memakannya hingga habis, untuk kesahatanmu dan anak kita Yun.'' Jawab Jing lembut.


Mendengar hal itu, Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, dan mengangguk sembari berkata. '' Baiklah....''

__ADS_1


Wanita itu mengerti, bahwa berdebat dengan pria di depannya saat ini, tidak akan pernah membuahkan hasil apapun.


Sementara itu, mendengar jawaban dari sang Permaisuri, yang menuruti perkataannya, Jing kembali tersenyum dan berucap. ''Bagus...''


__ADS_2