
Di Istana kekaisaran Tang.
Ziaruo seolah telah mengenal baik, setiap tempat disana.
Bahkan, ia tak perlu menanyakan arah, atau suatu tempat, yang kini tengah di tuju kepada siapapun.
Hingga, langkahnya sampai pada sebuah pintu utama.
Di mana, dua penjaga dan seorang dayang berdiri di depan pintu tertutup.
Ziaruo menghentikan langkah sejenak, mengusap perut ratanya lembut, sembari berucap lirih. ''Putraku, ingatlah ini adalah darma ibundamu, atas tahta dan kemuliaan yang ia emban. Dan bukan suatu kehinaan, atas perjumpaan seorang lawan jenis, tanpa kehadiran ayahandamu.''
Wanita itu mengucapkan sebuah pernyataan, kepada sang buah hati.
Sosok kecil, yang mungkin masih berbentuk sebuah titik gumpalan saja, sebelum akhirnya kembali berjalan, lebih mendekat ke arah pintu ruangan.
Wanita tersebut sempat menghela nafas pelan, sebelum akhirnya masuk kedalam.
Baginya, tak perlu untuk terlihat di depan para penjaga dan dayang.
Bahkan, Ziaruo juga tak perlu membuka pintu untuk sampai di balik ruangan tersebut(masuk kedalam ruangan).
''Wanita dari kekaisaran Zing, memberi hormat kepada putra langit, kaisar Tang.''
Ziaruo sedikit menambah volume suara, ketika ia menunduk serta memberi hormat kepada seorang pria, dibalik meja kerja dengan tumpukan gulungan laporan.
Mendengar suara itu, serta penyebutan diri, dengan nama wanita dari kekaisaran Zing. Pria disana yang tak lain, adalah Canzuo mengangkat kepala.
Tampak jelas, seorang wanita dengan identitas diri yang sangat ia kenal, nyatanya kini tepat berdiri di depannya.
Kaisar Canzuo membulatkan mata tak percaya, dan bergumam pelan.''Benarkah ini dia?.''
Dengan gerakan cepat, kaisar Canzuo berdiri dari duduknya, ia hendak menyapa, serta memastikan apa yang ia pikirkan.
Dan tentu saja, ia ingin memberikan sambutan untuk wanita itu, jika ia memang wanita yang selama ini ia harapkan.''
Dengan kehadiran Ziaruo disana, bagi Canzuo hal tersebut ibarat sebuah mimpi.
Bahkan, langkah kaki miliknya seolah tanpa perintah dari sang pusat pemikir.
Kaki itu seakan telah bergerak dengan sendiri, membawa tubuh Canzuo secara reflek mendekat kearah wanita Zing.
Namun, ketika jaraknya tinggal dua langkah saja, kaisar Canzuo menghentikan itu.
Secara keseluruhan hati, serta tubuhnya menyetujui tindakan tersebut.
Akan tetapi, ketika pikirannya kembali bekerja dengan sedikit kesadaran, Canzuo menghentikan langkah.
Dengan hati yang penuh penolakan, ia mengingat bahwa wanita di depannya saat ini, tak akan semudah itu didekati.
Canzuo tak ingin membuatnya tersinggung, atau merasa tidak dihargai. Dan tentu saja, hal ini akan berakhir dengan kepergian sosok di depannya tersebut.
''Anda datang?, sejak kapan?, mengapa kaisar ini, tidak mendengar kedatangan anda?.'' Tanya Canzuo beruntun, dengan wajah kegembiraan yang tak dapat ia tutupi lagi.
Baginya tidak menjadi masalah, sekarang ia bersikap kurang rasional.
Dan entah mengapa, ia juga tidak merasa canggung ataupun malu, dengan sikap impulsifnya tersebut.
''Aaah...Sudahlah, silakan Anda duduk.'' Sambung pria itu lagi.
Canzuo menunjukan arah serta membawa Ziaruo, menuju sebuah ruangan yang terletak di samping meja kerjanya.
Sebuah tempat yang lebih menyerupai serambi, dengan Gazebo yang tersambung langsung pada ruang utama.
Ruangan tersebut, hanya terpisah tirai ukiran dengan tiga helaian pintu tergabung dari rotan yang terbanyak indah.
__ADS_1
Disana juga terdapat meja bulat dari batu pualam hitam, serta 3 kursi tertata melingkari.
Dengan sepanjang pinggiran yang berhiaskan bunga persik perdu, kian menambah keindahan tempat itu.
''Sungguh tempat yang sangat indah, serta memanjakan mata.'' Pikir Ziaruo, dalam diam.
Wanita tersebut, mengikuti langkah kaki kaisar Canzuo tanpa mengucapkan apapun.
Dan di belakangnya 2 peniaga dan 3 pelayan wanita, juga mengikuti dengan kebisuan.
Seakan, mereka adalah patung yang bergerak semilir, mengikuti angin sang majikan, diam, bergerak, dan tak berucap apa-apa.
Ziaruo tak memperhatikan ke-5 orang itu.
Ia hanya diam, dan berjalan mengikuti arahan serta langkah Canzuo di depannya.
Bahkan, hingga telah mendudukkan tubuhnya dengan sempurna di sana.
Ziaruo masih diam.
''Bawakan kami hidangan kecil, dan teh yang baru datang kemarin.'' Perintah Canzuo.
''Baik Yang mulia.'' Jawab seorang pelayan wanita, yang berdiri tak jauh dari tempat keduanya.
''Apakah ada sesuatu yang ingin Anda makan?.'' Tanya Canzuo lagi.
Namun, kali ini ia menoleh kearah Ziaruo, yang telah duduk dan menatap kearahnya.
Canzuo menjadi sedikit gugup. Di tengah rasa bahagia yang ia rasakan, ia merasa takut membuat Ziaruo kecewa, atau tidak nyaman dengan sikapnya.
Jujur, Canzuo merasa grogi di hadapan wanita tersebut.
Oleh karena itu, sebaik mungkin ia berusaha membuatnya merasa nyaman.
''Jangan berlaku demikian Yang mulia. Wanita ini tidak datang untuk menikmati teh, dan camilan di negri Tang.'' Ucap Ziaruo tenang.
Dan benar, ia merasa sikap Canzuo berlebihan kepadanya.
Bagaimanapun, pria di depannya adalah seorang kaisar.
Meski dengan statusnya yang seorang permaisuri, Canzuo tak mungkin merendahkan diri tanpa alasan.
''Apa maksud Anda?, Permaisuri adalah tamu kaisar ini.'' Jawab Canzuo, dengan wajah sedikit terselip tawa kecil.
Sebuah tawa, yang bahkan terasa janggal, serta terkesan dipaksakan, dimata siapapun yang melihatnya.
Pria itu berusaha menenangkan hati yang tengah kecewa, atas perkataan dingin wanita tersebut.
Baginya kedatangan Ziaruo, adalah sebuah kejayaan.
Oleh sebab itu, ia ingin menjamunya dengan baik.
Namun, pada kenyataannya Canzuo telah lupa sejenak, bahwa Ziaruo datang kesana untuk meminta bantuan (berunding) kepadanya.
Seharusnya ia tetap memasang wajah arogan, serta bermain tarik-ulur, untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar dari kekaisaran Zing.
Akan tetapi, status hati hamba pemuja miliknya, telah membuat Canzuo bertindak sebagai seorang pujangga, yang tengah berjumpa sang pujaan.
Mengingat hal itu, Canzuo menjadi tak tenang dengan duduknya beberapa saat.
''Wanita ini datang untuk apa, Yang mulia sudah barang tentu dapat menembaknya bukan?.'' Ucap Ziaruo lagi.
Ziaruo mengatakan apapun tanpa basa-basi, ia tak ingin membuat sang suami menunggu terlalu lama, serta mencemaskan dirinya.
Semakin panjang dan banyak bersopan santun, serta berbasa-basi, semakin banyak pula waktu berharganya, terbuang disana.
__ADS_1
Canzuo terdiam, ada raut kecewa pada wajah tampan miliknya, meski sekilas.
Ia masih diam, dan hanya menatap Ziaruo saja.
Bahkan, hingga empat pelayan datang dengan teko teh, dan beraneka macam hidangan, Canzuo masih diam.
''Permaisuri....Saya harap, jangan berpikir buruk tentang kaisar ini.
Anggap saja, sebagai sebuah kesopanan menjamu tamu.'' Ucap Canzuo, masih dengan tampilkan wajah tenang, serta sebuah senyum tersembul di bibirnya.
Mendapat perlakuan yang tak berubah. Ziaruo sedikit merasa bersalah, untuk kekasaran, dan nada bicara dinginnya.
Namun mengingat, serta mengetahui tentang pemikiran pria di depannya, Ziaruo kembali mengukuhkan hati, bahwa segalanya sudah tepat.
Canzuo pantas di perlakukan demikian.
Ziaruo menghela nafas sejenak, dan kembali berkata. ''Anda tak harus menahan kekesalan.
Jika ingin marah, silakan anda lakukan.
Wanita ini, memang telah melakukan kelancangan, dan kurang pantas berkata kasar kepada Anda.''
Ucapan Ziaruo terhenti sejenak, ia memperhatikan raut wajah Canzuo dengan seksama.
''Namun, setelah semuanya bisakah Anda mengabulkan permintaan wanita ini?.'' Lanjut Ziaruo lagi.
Mendengar ucapan Ziaruo, Canzuo kembali tersenyum.
Pria itu melambaikan tangan pelan.
Dan tak menunggu waktu lama. Melihat gerakan tangan sang kaisar muda tersebut, semua pelayan dan penjaga, yang berdiri tak jauh dari keduanya, berjalan menjauh.
''Apakah dia yang menyuruh Anda datang?,'' Tanya Canzuo pelan.
Mendengar pertanyaan itu, Ziaruo mengangkat kepala, dan kembali menatap pria di depannya.
''Tidak...Semuanya atas kemauan wanita ini.'' Jawab Ziaruo.
Ia berpaling, menatap kearah bunga perisik yang tengah mereka indah, setelah mengatakan hal tersebut.
Seolah, ia tengah menghindari tatapan Canzuo, dan ingin menyembunyikan sesuatu.
Yang pada kenyataanya, Ziaruo memang enggan, dan malas menatap pria di depannya.
Akan tetapi, hal itu murni karena ia memang tak ingin melihat Canzuo, dan bukan untuk menutupi sesuatu.
''Namun, ia mengetahui apapun yang Wanita ini lakukan.'' Sambung Ziaruo lagi.
''Bagiku sama saja, ia tetaplah dibalik dari tindakan Anda sekarang.'' Sahut Canzuo, ketika Ziaruo baru saja menyelesaikan ucapan.
''Baiklah, katakan apa yang di inginkan oleh permaisuri dari Zing, hingga jauh-jauh datang kekaisaran Tang milikku.''
Canzuo berdiri dari duduknya. Ia meraih teko, dan menuangkan teh dalam cangkir Ziaruo.
Ia sengaja, memerintahkan semua pelayan menjauh dari sana, setelah meletakkan hidangan.
''Silahkan...'' Ucap tenang Canzuo, sembari menyodorkan cangkir teh, yang telah terisi untuk wanita itu.
''Terimakasih.'' Ziaruo.
''Saya akan menghukum diri dengan teh ini, karena telah kurang sopan.'' Sambung Ziaruo lagi.
Wanita itu, mencium aroma teh sejenak, sebelum meminumnya dalam satu tegukan saja.
''Anda katakan, apa imbalan yang dapat di berikan oleh kekaisaran kami, Yang mulia?.'' Tanya Ziaruo, setelah menghabiskan teh, dan meletakan cangkir diatas meja.
__ADS_1