
"Adik...ada sedikit kesenangan baru telah ku siapkan untukmu." Gumamnya pelan.
Wajah Biyi menyiratkan sorot yang terang ketika mengucapkan hal itu.
Seolah ia telah menemukan hal baru untuk di nikmati.
Bagaimanapun, ia percaya bahwa masalah yang akan di berikan oleh wanita Ruiyin bukanlah suatu hal besar bagi Ziaruo.
Akan tetapi, tetap saja itu suatu masalah yang cukup menyita waktu baginya di masa depan.
Mungkin jika di perlukan, ia akan sedikit memberikan bumbu penyedap, dalam masalah yang akan timbul nantinya.
Seperti saat ini, nyatanya Biyi telah dengan sengaja menciptakan bibit unggul kebencian, dalam hati Ruiyin.
Ia bukanlah orang yang bodoh, di tambah lagi dengan kemampuan yang di miliki untuk menebak masa depan, bagaimana seorang sepertinya tidak mengetahui isi hati, serta pengharapan yang di miliki oleh wanita itu.
Namun bukannya memberi suatu ketegasan sebuah keputusan, ia justru membuat wanita itu terpancing cemburu, dengan rasa kasih sayang yang ia tunjukan untuk sosok Ziaruo.
Biyi telah menduga, dengan melakukan tindakannya yang demikian, serta menimbang sisi pribadi Ruiyin, kedepannya ketika kedua wanita tersebut di pertemukan, akan ada suatu peristiwa yang menarik untuk di lihat.
Senyum di wajah Biyi tak bertahan lama, untuk merasa puas dengan keberhasilan rencana dan tebakan atas diri Ruiyin.
Di dalam hati pria tersebut, nyatanya juga terlintas raut wajah sedih dan lelah, ketika nanti kejadian tersebut benar-benar terjadi.
Meski Ruiyin bukan lawan bagi Ziaruo, akan tetapi wanita itu juga buka sosok hijau di dunia ini.
Ruiyin telah banyak mengalami hal pasang surut kehidupan, dan bukan hal aneh jika ia akan membuat Ziaruo, sedikit menguras tenaga dan pikiran.
Sepintas ada ketidak relaan besar dalam hati kecilnya. Akan tetapi, perasaan itu dengan cepat ia tepis jauh-jauh.
''Nanti aku akan menebusnya, bahkan berkali-kali lipat dengan apa yang terjadi sat ini.'' Gumamnya lagi.
................
Tak membutuhkan waktu lama untuk menunggu, Ruiyin yang membereskan beberapa barang keperluannya, akhirnya keluar dari dalam bilik samping.
''Pelayan telah berkemas tuan, mari kita berangkat.''
Wajah itu tampak biasa, bahkan itu bisa dikatakan terlihat jauh lebih tenang dari beberapa sat yang lalu.
__ADS_1
Melihat ketenangan di wajah tersebut, sebuah senyum tersungging di bibir Biyi.
''Aku senang dengan pengendalian emosimu. Tidak sia-sia kau di pertahankan dari kejadian hari itu."
''Setidaknya kau sedikit lebih baik dari dugaan ku di awal.'' Biyi.
"Tapi, tetap saja bukan lawan sepadan untuk menjatuhkannya, untuk menemui akhir perjalanan kehidupan ini." Sambungnya dalam hati.
Mata itu memang menatap lekat kearah Ruiyin, namun dengan jelas wanita tersebut memahami, bahwa sorot mata di sana bukan untuk kebaikan dirinya.
Ia tidak mempu menebak apa makna senyum tersebut, yang jelas Indra ke 6 miliknya berkata, bahwa itu bukan hal yang baik.
"Terimakasih atas pujiannya tuan, pelayan akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan harapan Anda." Ucapnya dengan sedikit membungkukkan tubuh, sebagai penghormatan.
Mendengar dan melihat reaksi dari wanita di depannya tersebut, sekilas perasaan jengah hinggap di hatinya.
Sehingga, tanpa sadar ia telah mengabaikan sosok yang tengah sedikit membungkuk itu, dan berjalan keluar dari pondok.
Ruiyin kembali menelan rasa pahit kegetiran dalam diamnya, ia semakin mengerti bahwa jarak diantara mereka kian mengabur di udara.
Tak menunggu untuk di minta, ia hendak berjalan mengikuti sosok yang telah beberapa langkah melewati pintu depan pondok.
"Tuan..." Panggilnya sengaja sedikit ia keraskan.
Maklum dengan langkah kaki yang ia miliki dan dengan jarak keberadaan mereka, ia harus sedikit menambah intonasi suara.
"Aku lupa mengatakan satu hal. Pewaris Xia mungkin juga akan berada di sana. Bahkan mungkin, akan tiba lebih dulu sebelum kita."
Biyi mengatakan itu dengan mudah, seolah seseorang yang ia sebut barusan adalah sosok asing yang tak memiliki sangkut paut dengan dirinya sama sekali.
Sementara, Ruiyin yang mendengar itu menjadi "Leng" sejenak.
Ada keragu-raguan dalam hati kecilnya untuk melangkah mengikuti jejak sang tuan.
Dan sosok di depannya masih acuh tak acuh, ia kembali melangkah bahkan sekedar menoleh untuk melihat ekspresi di wajah wanita tersebut ia enggan.
"Bagaimana anda semudah itu mengatakan semuanya, bahkan tanpa melihat kearah wanita ini." Protesnya dalam hati.
Namun sebesar apapun keberanian, dan rasa kecewa yang di miliki Ruiyin, ia tetap bungkam dan terus melangkah mengikuti langkah sang tuan.
__ADS_1
Karena sehebat apapun ikan mampu melompat, ia tak akan keluar dari air untuk berlari.
Seperti itu pula arti kehadiran Biyi bagi Ruiyin, pria tersebut ibarat air yang memompa udara pada paru-paru Ruiyin. Sehingga bagaimanapun ia merasa kecewa dan terluka atas perlakuannya, wanita itu tetap patuh mengikuti.
Sungguh ironis bagi hubungan diantara mereka dari sisi pandang Biyi.
Baginya, sosok Ruiyin tak lebih dari sekedar bidak catur, dalam permainan taktik istimewa, untuk memperoleh suatu tujuan yang telah ia rencanakan.
Biyi adalah sosok perwujudan dari penolakan perasan hati.
Di sana mungkin ada cinta kasih dan sayang untuk orang lain, akan tetapi jelas itu tidak mungkin untuk terealisasikan dalam tindakan nyata.
Tubuhnya memang sama dengan manusia pada umumnya. Namun jika seseorang benar-benar mengenal sosok dirinya, maka ia akan mampu melihat dengan jelas bahwa, setiap panel yang mengisi raga tersebut adalah sebuah ketentuan yang telah di haruskan.
Dengan kata lain, sosok Biyi dapat di ungkapkan sebagai sebuah skema berjalan, yang hanya mengikuti perintah otak pengkalkulasi, untuk sesuatu dan tujuan tertentu.
Lalu mengapa Ruiyin yang telah lama berada di dekatnya, dan menjadi salah satu dari tangan kanan Biyi tidak melihat hal itu?.
Terkadang cinta memang membuat orang menjadi buta dan bodoh.
Atau mungkin kebodohannya lah, yang telah menjatuhkan hatinya untuk mencintai sosok tak baik untuk diri sendiri, serta membutakan kedua mata untuk melihat dengan jelas.
Namun yang pasti, entah untuk alasan keduanya atau untuk yang lain, Ruiyin adalah wanita hebat dan jenius.
Dan tak mungkin baginya untuk tidak memahami serta mengerti makna di balik sikap sang tuan terhadap dirinya.
Hanya saja, keyakinan hati serta kepatuhan atas pilihannya, telah membuat suatu penyangkalan yang tak dapat di bantal oleh siapapun.
Ruiyin rela melakukan segalanya, untuk membantu Biyi.
Bahkan dengan hati yang mencintai pria tersebut, ia rela menjadi salah satu dari wanita pewaris Xia, meski tanpa status yang jelas.
Demi pria Biyi, ia juga menjadi sosok pelarian dari statusnya sebagai selir sang pewaris, dan bahkan menyebarkan sisi pelariannya untuk mengusik sang suami, demi untuk mendukung rencana Biyi.
Meski banyak hal yang telah ia lakukan, nyatanya itu tetap tak menggugah hati pria tersebut. Sosok itu tetap dingin dan acuh untuk hati dan perhatiannya.
Namun, lagi-lagi itu bukan hal besar untuk di sesali oleh sosok Ruiyin.
Karena ia telah memiliki sebuah maklumat ajaib dan ampuh. Yaitu sebuah kata "Rela", empat huruf satu makna, namun memiliki berjuta-juta guna dan keampuhan.
__ADS_1