Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 77 Mungkin kematian jauh lebih baik.


__ADS_3

Flash back on.


Didalam sebuah penginapan, ditengah keramain kota, sehari sebelum pernikahan.


''Apakah kau benar benar akan menikah dengannya Ruoer? aku juga bukan pria biasa sebelumnya?, tapi...kau tetap menolakku saat itu.'' ucap Murongxu dengan menahan rasa kekecewaan yang ia rasakan.


Hatinya sakit, pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan.


Akan tetapi, ia justru tak dapat mengutarakannya, karena ia berfikir, mengatakan apapun akan percuma baginya saat ini.


''Bukankah Jing juga memiliki banyak selir?, dia sama sepertiku, lalu mengapa kau memilih dirinya dan bukan aku?.'' tanyanya lagi, ia menatap kearah wanita itu lekat.


Murongxu benar benar hancur perasaannya saat ini.


Entah mengapa disela usaha dan upaya yang ia lakukan, wanita itu tak menunjukan perubahan. Bahkan kukuh pada keputusan untuk menikah, dengan Rival cintanya Jiang jing wei.


Raut wajah tampannya berubah menjadi lebih gelap, dengan menahan perasaan yang berkecamuk didalam hatinya.


Terlebih lagi, ketika melihat Ziaruo berdiri, dan hendak meninggalkan ruangan yang ia tempati sekarang.


Murongxu bergegas berdiri juga, menarik tangan Ziaruo dan membawa kedalam pelukannya, tak ada pemikiran kotor dan tak ada nafsu saat itu. ia melakukan hal tersebut, hanya ingin menahannya pergi dari ruangan.


Meninggalkannya dengan banyak hal yang ia anggap masih belum terselesaikan.


Murongxu tahu, bahwa jika hari ini wanita itu, pergi dari sana, maka hari itu pula, terakhir bagi dirinya dapat sedekat ini, hanya dengan membayangkan hal tersebut, perasaannya kembali tak dapat ia kontrol, dengan suara yang putus asa ia berkata.'' Jangan pergi, bisakah kau lakukan itu?, kumohon tetaplah disini....aku mohon Ruoer.''


Ucapan yang memilukan itu, menampakan sisi kejam untuk Ziaruo, yang tetap berdiri dan hanya diam saja.


''Berikan aku alasan, mengapa kau bisa begitu kejam seperti ini?, berikan aku sesuatu untuk bisa melepaskan tanganmu sekarang, Ruoer....pernahkah ...pernahkah kau sekali saja memikirkan perasaanku?.'' lanjut Murong kembali, dengan masih memeluk erat tubuh Ziaruo.


''Apakah jika terlihat hancur dan terluka, itu cukup untuk melepaskanku saat ini?, dan apakah anda lebih memilih meratapi kebahagianku, yang bahkan belum nyata bagi wanita ini Yang mulia?.'' jawab Ziaruo lembut, ia hanya diam tak bergerak, membiarkan tubuhnya dalam dekapan Murongxu.


Ada rasa pilu dan sedih dalam hatinya, melihat luka dan kepedihan pria itu, namun apa yang dapat ia lakukan, pada kenyataannya Pria didepannya tersebut, bukanlah suami, ataupun kekasih tercintanya di kehidupan ini,


Murongxu adalah sebuah penjelmaan penghalang bagi kebahagiaannya kelak, sebuah tampilan ujian dengan wajah, hati, ingatan serta perasaan sang suami yang ia kasihi.


Meskipun demikian, hati dan pikirannya tetaplah terpaut, dan tak dapat menganggapnya tidak ada.


Mungkin, kematian akan jauh lebih mudah, dari pada harus saling menyakiti dengan seseorang yang kita cintai.

__ADS_1


Setidaknya, ia bukan orang yang menyebabkan penderitaan bagi Murongxu kekasih hatinya.


''Dewa...apakah ada yang jauh lebih menyakitkan, dari pada ini?, melihatnya seperti sekarang, bahkan jikapun nyawaku masih bersarang, namun kehancuran dan sakitnya sungguh tak tertahankan, masihkan ini belum cukup?.'' gumam Ziaruo dalam diamnya.


Tangan wanita itu, bergerak hendak membalas pelukan sang suami, dengan perasaan yang kalut, ia ingin menenangkan pria itu dan berkata.'' tenanglah, aku akan selalu bersamu.''


Akan tetapi, pikirannya kembali mengingat setiap perjuangan dan penderitaan yang telah mereka lalui, sepanjang perjalanan hukuman mereka di dunia.


Ziaruo mengurungkan niatnya, ia merubah gerakan tangannya, beralih mendorong tubuh Murong menjauh dari dirinya.


Mendapati penolakan dan dorongan pada tubuhnya, pria itu semakin mengeratkan pelukannya sembari berucap.'' Jangan..jangan Ruoer..aku tidak mau, aku tak ingin melepaskanmu.''


Mata Murongxu kembali berkaca kaca, ia menolak melepas tubuh wanita itu.


Pria yang pernah berjaya di kekaisaran Xili tersebut, tak memperdulikan lagi tata krama dan pandangan orang lain tentang dirinya.


''Ini hanya tinggal setahun saja...hanya setahun, tidakah akan sia sia waktu puluhan tahun kita selama ini?, apakah anda ingin melihatku semakin kesulitan setelah semuanya?, apakah kepedihan anda bukan sebuah luka untukku Yang mulia?, Apakah hatiku benar benar dari batu seperti yang anda katakan?.'' jawab Ziaruo lirih.


Ucapan wanita tersebut, sontak saja menghenyakkan hati Murongxu, ia mulai mengendurkan pelukannya, disela setiap ingatan yang ia miliki.


Baik itu di kehidupan sekarang, dikehidupan pertama setelah menerima hukuman, bahkan di kehidupan sebelumnya di Negri Awan, wanita didepanya itulah, yang telah banyak menderita.


Lalu, mengapa seolah kini dirinya adalah yang paling terluka serta tersiksa.


Menangisi kemalangan, serta mentertawakan kebodohan dan keegoisannya saat ini.


''Lalu.....'' terdiam sejenak.


''Apakah kau akan jauh lebih kuat dan bahagia, jika aku melepaskanmu dengan senang hati dan tersenyum?.''


Kembali terdiam sejenak.


"Dan apakah, kau akan tenang jika aku berpura pura seolah aku baik baik saja?.'' tanya Murongxu dengan suara yang bergetar.


Mendengar pertanyaan pertanyaan itu, ada yang bergemuruh hebat didalam hati Ziaruo, sudut mata coklat itu, mulai berkaca kaca. Akan tetapi, sebisa mungkin ia tepis perasaan emosi hatinya tersebut, dan berkata.'' Anda tak harus tersenyum dan berpura pura Yang mulia.''


''Cukup menjaga diri anda dengan baik, serta jangan biarkan sebuah berita buruk sampai kepada saya.'' lanjut wanita cantik itu, sebelum beranjak keluar dari ruangan penginapan.


Meninggalkan sesosok tubuh diam mematung tak berdaya.

__ADS_1


Seolah hanya dengan satu sentuhan jari saja, ia akan goyah, bahkan mungkin akan terjatuh.


''Aku berjanji akan hidup dengan baik untukmu..setidaknya setahun kedepan.'' ucapnya lirih, dengan terus menatap punggung Ziaruo, yang semakin lama semakin menghilang.


Flash back off.


Didalam istana kekaisar Zing, sebuah acara pernikahan tengah berlangsung dengan penuh kesakralan, seakan langit, bumi angin dan awan ikut menjadi saksi atas bersatunya sepasang insan dalam jalinan keutuhan suatu ikatan.


Wajah cerah jelas terlihat padanya, seorang pria berpakaian indah dan mewah, yang tengah bersanding dengan seorang mempelai wanita, dengan wajah yang masih mengenakan penutup pada kepalanya.


Dengan berakhirnya sederetan ritual, pengantin diarak menuju kamar mereka oleh para kerabat serta sahabat terdekat.


Keduanya tampak malu malu serta sesekali terlihat senyum cerah, khususnya Jing yang merasakan, kebahagiaan pada sore ini.


Ia dia bahagia atas pernikahan ini, bahagia atas keberhasilannya menikahi wanita yang sangat ia cintai, bahkan ia juga bahagia atas hal hal kecil diacara pernikahannya sekarang.


Dengan langkah ringan dan riang, kaisar Zing membopong tubuh Ziaruo menuju kamar pengantin mereka.


Sebuah ruangan besar dan indah, serta banyak hidangan tertata diatas meja disana.


''Apakah kau lapar, atau kau ingin beristirahat dahulu?.'' tanya Jing dengan lembut, sambil mendudukan tubuh Ziaruo siatas ranjang.


''Aku akan keluar sebentar untuk menemui tamu dan kerabat, kau tunggu disini ya.'' lanjut Jing kembali, dengan suara yang masih lembut, namun kali ini ia menggerakan tangannya membuka penutup kepala Ziaruo.


Mata Pria tersebut menampakan, sebuah binar kebahagiaan, ia memang selalu takjub saat menatap langsung wajah cantik itu.


Wajah milik wanita, yang kini telah resmi menjadi miliknya.


''Mengapa semua orang tidak segera pulang saja?, mengapa ia harus menemani para tamu? mengapa dan mengapa, banyak guman dalam hati sang memepelai pria.


Kaisar Jiang Jingwei, jadi merasa kesal dengan semua orang yang membuatnya harus meninggalkan Ziaruo sendirian didalam kamar.


''Bukankah anda harus menyambut tamu Yang mulia?, atau anda ingin ada rumor besok pagi?'' ucap Ziaruo pelan, dengan senyum indah terpasang pada wajah cantik, yang semakin membuai mata pria itu.


''Aku tidak takut, apa kau pikir ada yang jauh lebih menakutkan dari berurusan denganmu saat ini?.'' jawab Jing dengan tangan menyentuh kilat pipi putih Ziaruo.


''Tapi...karena sebagai orang yang baik dan sopan, aku akan menemui mereka, apa kau senang Yun?.'' jawab Kaisar itu kembali, dan memperoleh anggukan kepala, serta senyum indah dari sang istri.


''Baiklah... tunggu sebentar ya..aku akan segera kembali.'' ucapnya lagi, sembari mencium kening Ziaruo dan melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


''Wuhan, tolong jaga dia untukku sebentar, pastikan tidak ada hal apapun yang terjadi padanya.'' perintahnya kepada Wuhan, saat sudah berada diluar.


Suara khasnya yang tenang, masih dapat terdengar dari dalam bilik, Ziaruo mendengarnya dengan jelas dan berkata lirih. ''Semoga keputusanku kali ini, menjadi yang terbaik untuk semuanya.''


__ADS_2