
''Apakah anda ingin menyelidiki pria ini permaisuri?.'' Tanya balik Canzuo.
Sebuah pertanyaan sebagai ungkapan, atas keingin tahuan dari wanita di dekatnya.
''Aku hanya tak ingin merasa malu, atas pemikiran dasar yang pria ini miliki.'' Tambahnya lagi.
Suasana menjadi canggung, setelah Canzuo mengatakan separuh kebenaran, yang ia rasakan.
Seolah ia tengah mengakui setiap keinginan, serta harapan lebih, yang kini bersarang dihati untuk wanita itu.
Ziaruo menunduk sejenak, sebelum kembali mengangkat kepala, dan menatap pria tersebut, tepat pada manik matanya.
Ada sebuah kegetiran dalam hati Ziaruo.
Bahkan, didalam kebungkaman mata coklat miliknya, masih terlihat jelas sebuah kesenduan untuk sang pria.
Melihat tatapan Ziaruo, Canzuo merasa tidak nyaman.
Dengan segera, ia memalingkan wajah sembari berkata. ''Jangan menatapku dengan cara seperti itu, sudah kukatakan berulang kali, pria ini tidak menyukainya.''
Canzuo menegaskan, bahwa ia selalu merasa canggung, ketika melihat Ziaruo menatapnya dengan rasa bersalah.
Seolah, wanita itu menatapnya sebagai sosok lain dari dirinya, dengan rasa kasihan. Dan itu membuatnya merasa risih dan tidak nyaman.
''Apakah anda bahagia sekarang?.'' Tanya Canzuo pelan.
''Jika maksud anda di dunia kita sekarang, maka aku hanya dapat memastikan bahwa aku bahagia.'' Jawab wanita itu dengan suara pelan.
Sesungguhnya banyak yang ingin di tanyakan Canzuo. Namun, entah mengapa justru hanya pertanyaan tersebut, yang mengalir normal dari bibirnya.
Terlebih lagi, dengan ekspresi malas dari Ziaruo, yang menjawab beberapa pertanyaan sebelumnya ,Canzuo mengurungkan keinginan itu.
Baginya, wanita di depannya tersebut, menjawab setiap pertanyaan yang ia berikan, hanya sebatas etika kesopan.
Tidak menampilkan Ekspresi, ataupun makna lain tentang antusias, keceriaan, atau bahkan ketika melakukan perbincangan dengan orang lain.
Mendengar jawaban yang meluncur datar serta santai tersebut, ia menoleh dan menatapnya lekat.
''Bahkan jika harus kesakitan, dan menjalani kehilangan kultivasi, serta ketidak berdayaan di masa mendatang?.'' Tanya Canzuo lagi.
Kali ini tampak keseriusan, serta antusias pada wajah itu.
Ziaruo melihat hal tersebut, dan masih tetap tenang.
''Bukankah anda sangat mengetahui apa yang wanita inginkan selama ini?.'' Jawab Ziaruo lagi.
Sebuah jawaban tegas, dengan intonasi tenang, meluncur tajam dari bibir wanita tersebut.
Akan tetapi, dengan penyampaian sebagai pertanyaan, yang tak lagi membutuhkan jawaban.
Dan bagi Canzuo pribadi, ia sangat memahaminya.
Bagaimana mungkin ia tidak faham.
Canzuo yang kini berada di hadapan Ziaruo adalah salah satu, dari ke enam saudara seperguruan Permaisuri Ziaruo, yang ikut menanggung hukuman.
__ADS_1
Wanita Permaisuri Zing tersebut, menghela nafas panjang sesaat, dengan raut wajah, masih terlihat tenang.
Akan tetapi, dari sorot matanya yang sendu, dapat di pastikan bahwa wanita dari Kaisar Zing tersebut, tengah berusaha keras menutup kesedihan hatinya.
''Anda benar, bahkan aku juga terlibat.'' Canzuo menyahut secara reflek, ucapan dari Ziaruo.
Mata Canzuo menerawang, menatap langit langit Gazebo.
Dirinya juga sedang menyimpan rapat-rapat, pemikiran yang kini bergejolak di relung hati terdalam.
''Sudahlah...jangan mengingat kembali, apa yang telah terlewat. Lihatlah aku telah menyiapkan manisan buah kesukaanmu.'' Ucap Canzuo, mengalihkan pembicaraan di antara keduanya.
Dengan perlahan pria itu membuka kotak kayu diatas meja, dan berkata. ''Aku membelinya beberapa hari yang lalu, dan pasti kau akan menyukainya, cobalah...''
Ziaruo melihat kearah manisan didalam kotak sejenak, setelah itu ia beralih menatap sang pria.
Ada sedikit keraguan didalam hati Ziaruo, ketika melihat ketenangan pria di depannya.
Terlebih lagi, sekarang ini pria dengan tampilan wajah, gelar, serta pakaian layaknya seorang Kaisar.
Seorang Pria, yang tengah berusaha keras, membentengi diri sendiri dengan tabir pelindung, agar pikirannya tidak di ketahui oleh orang lain.
''Apa yang anda inginkan?, dan apa tujuan dari semua ini sekarang?.'' Pikir Ziaruo dalam diamnya.
Melihat wanita itu hanya diam dan menatapnya lekat, Canzuo sedikit kikuk dan berkata. '' Mengapa anda menatap pria ini, dengan sedemikian rupa?."
''Apakah wajah ini begitu menarik bagi anda?.'' Sambung pria tersebut, dengan bermaksud candaan.
Yang sesungguhnya ia tengah berusaha keras untuk memusatkan pikiran, serta tengah mempertahankan tabir penghalang, agar tidak tertembus oleh Ziaruo.
''Tidak...Aku hanya penasaran dengan pemikiran anda saja.'' Jawab Ziaruo apa adanya.
Ziaruo mengerahkan sedikit tenaga, untuk menerobos tabir pelindung milik Canzuo.
Namun, ketika ia melihat Canzuo berusaha keras mempertahankannya, ia kembali mengurungkan niat.
''Ternyata...Anda mengetahui, bahwa wanita ini dapat mengetahui pemikiran orang lain.'' Ucap Ziaruo lagi.
''Hahaha...hahaha...'' Canzuo kembali tertawa.
''Sebelumnya, saya hanya menebak saja, namun hari ini anda sendiri mengakui.'' Ucap Canzuo, setelah menghentikan tawanya
Pria itu, menunduk sejenak setelah menghentikan tawa miliknya.
Dengan suara sendu ia kembali berkata. ''Bahkan, setelah perjuangan saya ratusan ribu tahun lamanya, tidak dapat dibandikan dengan anda.''
Ziaruo kembali merasakan kecamuk di dalam hati, ia menyadari kemana arah pembicaraan pria tersebut, dan bergumam pelan. '' Saudara ke-4.''
Wanita itu menyeruakan ucapan, yang bahkan dia sendiri merasakan kesedihan yang dalam.
''Kau akan selalu jadi yang terpenting, dan sebesar apapun perjuangan yang kulakukan, baginya akan tetap tak berharga.'' Lanjut Canzuo lagi.
Ziaruo menatap Canzuo dengan pandangan yang tak terbaca, entah apa yang kini tengah ia rasakan di dalam hati.
Kemarahan, kekecewaan, serta kesedihan bercampur aduk menjadi satu, hingga tak dapat di diskripsikan lagi.
__ADS_1
''Sudahlah.... itu adalah masa lalu, dan sekarang aku telah memiliki apa yang di inginkan semua orang.'' Canzuo berusaha mengatakan apapun yang ingin ia katakan.
''Ayo makanlah, bukankah kau menyukainya. Atau kau mencurigai manisan ini, telah aku campur dengan sesuatu?.'' Tambah Canzuo lagi.
Pria itu menampilkan senyum tulus pada wajahnya, seakan ia memang mengatakan bahwa segalanya baik baik saja, tak pernah ada kecurangan, ataupun maksud lain selain dari manisan itu sendiri.
Sementara didalam keraguan Ziaruo, ia merasa tidak nyaman menolak kebaikan Canzuo, sekarang ini.
Dengan perlahan ia menggerakan tangan menggapai isi kotak kayu.
Mengambil sebutir manisan buah yang mulai mengering.
''Apakah Anda senang sekarang?.'' Tanya wanita itu, setelah memasukan sebutir manisan kedalam mulutnya.
''Ia...aku senang, bahkan kebahagiaan ini melebihi apa yang telah lama aku bayangkan.'' Jawab Canzuo, dengan senyum tergambar jelas pada wajahnya.
''Bawalah manisan ini bersamamu, mungkin suatu hari Anda akan mengingat kebaikan yang telah pria ini harapkan.'' Sambung Canzuo lagi.
Mendengar ucapan dengan nada pelan tersebut, Ziaruo menyadari ada kesalahan dalam situasi sekarang.
Akan tetapi, ia tidak mengetahui apa itu.
Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, dan berkata. ''Sampai kapan anda akan mengelabuinya?.''
Canzuo menghindari tatapan Ziaruo kearahnya, dengan pertanyaan yang frontal tersebut, ia tak ingin memberikan jawaban sekarang.
''Siapa yang kini ngelabui, dan siapa yang di kelabuhi tidaklah dapat di tentukan dari penglihatan orang lain.'' Jawabnya datar.
Pria tersebut mengetahui dengan jelas apa yang ia ucapkan, dan ia mengatakan apapun yang ia pahami didalam pikirannya.
''Dapat dikatakan kami saling memanfaatkan, jadi tidak ada tipu daya di dalam kesepakatan yang kami lakukan.'' Lanjutnya lagi.
''Lalu, apakah puluhan, bahkan ratusan ribu prajurit yang akan mati di masa mendatang, telah anda perhitungkan?.'' Tanya Ziaruo tegas. Namun, terdengar memojokan di telinga Canzuo.
Mendengar hal itu, Canzuo mengernyitkan kening, dan tersenyum menyeringai.
''Lalu, jika itu anda apakah akan dianggap biasa?, dan jika saya di posisi yang sama, akan dijadikan sebuah bencana?.'' Jawabnya, dengan tatapan tajam kearah Ziaruo.
Canzuo meluapkan kekesalan yang tengah ia rasakan.
Dirinya berpikir, bahwa wanita itu, tengah menghakimi atas tindakannya.
Mendengar hal itu, Ziaruo tertegun, ia tahu arah pembicaraan dari pria di depannya.
Suasana menjadi hening sejenak.
Baik dirinya, ataupun semua orang di kerajaan negri awan, mengetahui bencana besar yang terjadi, antara tiga kekaisaran di saat itu.
Ziaruo menghela nafas, dan kembali menatap kearah sang pria, yang tak lain adalah saudara seperguruannya di negri atas Awan.
''Aku tahu, dan masih mengingatnya dengan jelas kejadian disaat itu. Anda boleh menganggap wanita ini sebagai penyebab segalanya.''
Ziaruo mengatakan semuanya dengan kejujuran.
Dan dari setiap kalimat yang terlontar, Canzuo dapat merasakan kepedihan yang mendalam.
__ADS_1
Pria tersebut menyesali ucapannya, dengan suara yang berat dan pelan ia berkata. ''Maaf....''
Mendengar pria di depannya sedikit menunduk, dan meminta maaf, Ziaruo tersenyum dan menjawab. ''Itu, tidak perlu...Karena aku tak pernah merasa bersalah.''