Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 59 Topeng indah.


__ADS_3

''Nyonya Yun.....sekarang sepertinya, takdir sedang berpihak kepada saya, dan ini hanya sebuah awal.'' Ucapnya lirih sembari berjalan keluar menuju aula pertemuan.


Dengan langkah tegap ia berjalan menuju kesebuah ruangan, yang terletak di tengah gedung dengan sebuah pintu besar dan kokoh.


"Salam hormat guru besar Meng, saya Wushu, ayah dari Wuling." Sapa hormat seorang pria paruh baya, dengan tegas dan tenang.


Pria tersebut berdiri membungkuk sesaat memberi salam, ketika melihat guru besar Mengshuo memasuki ruangan.


Sementara, nyonya Yun mengikuti gerakan sang wakil jendral, sedikit membungkukkan tubuhnya, serta menekuk satu kakinya agak sedikit rendah.


Akan tetapi, ia tak mengucapkan apapun.


Melihat hal tersebut, guru besar menatap sekilas kearah nyonya Yun.


"Dan anda...?" Ucapnya, seolah ia tak mengenal wanita yang kini berada didepannya.


Namun, ketika ia melihat kembali kearah wanita tersebut, Mengshuo mengingat sebuah kenangan yang menyedihkan.


"Kakak, ini semua karena wanita itu. Bahkan sejak ia muncul, kaisar tak pernah melihatku. Dan disinilah akhirnya tempatku berada, bahkan ayah dan ibu sekarang juga mengabaikanku, karena aku bukan lagi seorang selir. Dan itu membuat mereka malu memiliki aku sebagai putrinya." Ucap wanita muda dalam kenangan Mengshuo, dengan nada serta raut wajah menyedihkan.


Namun, tanpa di sadari oleh Mengshuo, bahwa disana ada orang lain yang ikut mengerti, serta memahami apa yang ia pikirkan.


Orang tersebut, hanya mampu menghela nafas panjang, seolah ia menyesalkan atas kejadian tersebut.


"Apakah anda nyonya Yun, orang tua dari Ruzuo, Yanzuo, dan Yunsang?" Tanya guru besar Meng dengan nada tenang.


" Benar guru besar, wanita ini adalah ibu dari ketiga pemuda tersebut tuan." Jawab nyonya Yun lembut dan masih dengan raut wajah tenang.


Mendengar nama nyonya Yun, wakil jendral Wushu membulatkan matanya sejenak.


"Oh..jadi anda adalah nyonya Yun, maafkan atas ketidak tahuan orang kasar ini nyonya, saya wakil jendral Wushu dari kamp militer selatan." Sapa pria tersebut antusias.


"Terimakasih tuan, maaf atas ketidak tahuan wanita ini, yang juga tidak mengenali anda dengan benar." Jawab nyonya Yun, berbasa-basi menimpali perkataan sang wakil jendral.


Nyonya Yun, hanya dapat tersenyum lembut ditengah kecanggungan dan sikap antusias pria didepannya tersebut.


Namun, disana ada juga sebuah tatapan dengan aura yang datar,


serta penuh dengan kata-kata buruk, dalam hati dan pikirannya untuk Ziaruo ( nyonya Yun).


Meskipun, wanita itu mampu mendengar dengan jelas, pikiran buruk serta tajam dari guru besar Meng, ia tidak dapat berbuat apapun.


Ziaruo hanya bersikap datar pada wajah, dan menutup rapat kecewa serta rasa sedihnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Baiklah, silahkan anda duduk terlebih dahulu nyonya Yun, tuan Wushu, anak-anak sedang dipanggil dan akan segera datang kemari." Ucap tenang guru besar Meng, sembari mempersilahkan kedua tamunya, yang sedari tadi masih berdiri.


"Terimakasih." Jawab keduanya hampir bersamaan.


Dan benar saja, hanya sesaat setelah mendudukan tubuh mereka, tampak 4 orang pemuda masuk kedalam ruangan tersebut.


"Hormat kami Guru." Sapa hormat mereka bersamaan, sembari menghadap dan menunduk kearah guru besar Mengshuo.


"Hormat kami Ibunda, hormat kami tuan." Lanjut ketiga pria muda, sembari menghadap kearah nyonya Yun sejenak dan membungkuk, sebelum akhirnya berbalik dan menghadap kearah wakil jendral Whusu.


Mendengar ketiga pemuda itu, menyebut wanita disana sebagai ibunda mereka, salah seorang pria disana reflek menoleh kearah wanita dengan cadar diwajahnya, yang tengah duduk pada sebuah kursi tepat di depan tempatnya berada sekarang.


"Jadi anda adalah nyonya Yun, mengapa aku tak mengenalinya ketika masuk tadi?." ucap dalam hati pria muda tersebut.


''Hormat saya ayahanda, hormat saya nyonya Yun, semoga anda selalu bahagia." Sapa pemuda tersebut, dengan nada yang berubah-ubah.


Ia menggunakan bahasa serta sikap tegas saat menyebut nama sang ayah, dan berubah lembut ketika menyebut nama nyonya Yun.


Menendengar ucapan sang putra, Wushu mengerutkan kening sesaat.


Namum buru-buru ia tepis perasaan herannya saat ini.


"Tuan Wu, nyonya Yun, mohon bantuannya. Karena mereka berempat, hanya diam saja saat kami menanyakan sebab, dan permasalahan diantara mereka." Ucap guru besar Meng, memulai sorak permasalahan diantara keempat siswanya.


"Oleh karena hal tersebut, terpaksa saya menggangu waktu penting anda berdua." Lanjut Mengshuo dengan nada tetap tenang, serta penuh wibawa.


Nyonya Yun tersenyum lembut, disela-sela ucapan sang pria pemilik wajah tegas , dan tampan tersebut.


Ziaruo juga memahami, bahwa pria itu memiliki banyak kebencian, serta pikiran buruk untuk dirinya.


"Anda sungguh bijak tuan, bagaimana kami akan berani berfikir, bahwa anda menggunakan hal seperti ini, hanya untuk membuang buang waktu berharga kami, bahkan tidak ada hal manfaat dari semuanya bukan?." Jawab nyonya Yun, dengan senyum dibalik cadarnya.


Mendengar jawaban tersebut, wajah tuan Mengshuo sekilas berubah. Seolah ia terkejut, namun segera ia dapat mengontrol emosinya kembali.


"Apakah ia menyalahkanku, karena memanggil mereka untuk hal ini, ataukah ia mengetahui bahwa, aku menggunakan bocah-bocah itu, untuk memanggilnya datang." Pikir dalam hati tuan Meng.


"Ia benar, mana mungkin kami menyalahkan tuan Mengshuo atas kenakalan putra kami." Tambah tuan Wushu, menimpali ucapan nyonya Yun.


Sementara itu, keempat pemuda didepan ketiga orang tersebut, kini mulai menunduk, mereka diam tanpa sepatah katapun.


"Jadi..Wuling, apa yang membuatmu berkelahi dengan mereka bertiga?." tanya tuan Wushu, mulai mencari tahu titik permasalahan yang membuat mereka berkelahi.


Namun pemuda berusia 18 tahun tersebut, hanya diam dan tak mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"Apakah aku harus mengulang pertanyaanku lagi Wuling?."tanya tuan Wushu lagi, namun kali ini, terdengar jelas bahwa pria tersebut, menggunakan nada intonasi suara, yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Dan pria muda yang dipanggil dengan Wuling tersebut, masih tetap diam.


Ia hanya mengeratkan cengkraman tangan pada pahanya, seolah ia tengah menutupi sesuatu yang akan mempermalukan, atau sesuatu yang patut ia jaga kerahasiannya.


Nyonya Yun yang melihat hal tersebut, menghela nafas dalam.


Mata cantinya menatap kearah pemuda itu, dengan pandangan yang sendu.


"Tuan Wushu, izinkan saya yang akan bertanya." Sela Nyonya Yun lirih dan lembut.


Seolah ia adalah, wanita yang hanya memiliki jutaan kasih sayang, didalam gumpalan hatinya.


Mendengar permintaan wanita, yang duduk tak jauh dari kursinya, tuan Wushu menghela nafas panjang, dan ia hamya dapat menahan kegeraman atas bungkamnya sang putra.


" Silahkan, nyonya." Jawabnya singkat, seraya mempersilahkan wanita tersebut, untuk menggantikan dirinya mencari tahu titip pokok permasalahan saat ini.


Melihat sikap tuan Wushu yang memberikannya lampu hijau, nyonya Yun berdiri, dan berjalan mendekat kearah keempat pemuda di sana, yang kini tengah duduk bertumpu pada kedua kaki mereka dilantai ruangan.


"Apapun tindakan kalian, sebagai seorang pria seharusnya, mampu menanggung segala akibatnya.


Memang benar adanya, diam dan tak mengatakan apapun adalah hak kalian.


Namun, jika dengan diam tersebut, mempengaruhi orang lain untuk menanggung hukuman atas kesalahannya, apakah ia bisa dikatakan sebagai seorang Pria?" Ucap nyonya Yun kepada keempat pemuda tersebut.


"Ruzuo..."


"Yanzuo..."


"Yunsang..." Panggil wanita tersebut, kepada ketiga putranya.


Akan tetapi, ketiga pemuda tersebut hanya diam saja. Mereka hanya menunduk, dan semakin tenggelam kedalam pikiran, serta rasa bersalah masing-masing.


"Ternyata, aku telah gagal mendidik dan menjadikan kalian seorang pria, sungguh menyedihkan...kenyataannya aku memang belum mampu serta pantas, menjadi orang tua kalian." Ucap lirih nyonya Yun, yang tampak jelas kekecewaan pada sorotnya.


Wanita itu menghela nafas kembali, sebelum ia melangkah hendak mendudukan tubuhnya, pada kursi tamu ruangan tersebut.


Namun, sebelum ia mencapai kursinya, sepasang tangan memeluk kaki wanita tersebut.


"Tidak ibunda, kau adalah orang tua terbaik untuk kami." Ucap pemilik sepasang tangan dari balik tubuhnya.


Mendengar ucapan tersebut, nyoya Yun menghentikan langkah kaki.

__ADS_1


Dan disaat itulah ada 2 pasang tangan lain, ikut memuluk kaki dan tubuhnya dari belakang dan samping.


"Maafkan kami ibunda, kami akan mengatakan semuanya." ucap pria muda lainnya, melanjutkan ucapan pemuda beberapa saat yang lalu.


__ADS_2