Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 212. Sura yang tampan.


__ADS_3

Hati dan pikiran Yaksa kini di liputi ketakutan.


''Tidak, ia belum ingin mati sekarang.'' Pikir Yaksa dalam kebisuan.


''Bagaimana rasanya, apakah menyenangkan melihat dengan jelas, kematian mendatangimu?.'' Murong.


Memang benar andanya, melihat dengan jelas sosok yang akan mengambil nyawanya, Yaksa semakin di liputi ketakutan.


''Tidak jangan bunuh saya?.'' Jeritnya dalam kebungkaman.


Sejak lama ia telah mengendalikan waktu di Yincang, namun baru kali ini ia merasakan tersiksanya atas kebekuan, karena tak dapat bergerak.


Akan tetapi, dengan isnting untuk bertahan hidup yang tinggi, Yaksa tak ingin menyerah.


Namun, bagaimana ia akan bernego dengan pria itu?. Jika berbicarapun ia tak bisa.


Murong yang sejak awal tak ingin mengambil nyawa Yaksa, menyadari gelagat tersebut.


Bahwa wanita itu sekarang sedang ketakutan, dan akan setuju untuk melakukan pertukaran demi nyawanya.


Dan ketika, Murong mengingat kekesalan yang di rasakan beberapa waktu yang lalu, ia masih ingin memberikan pelajaran.


''Kau ingin mati secara cepat, atau perlahan?.'' Tanya Murongxu dingin.


Ia tahu, wanita itu tak akan menjawab.


Meski demikian, itu bukanlah hal yang dapat menghentikannya, untuk kembali berkata.


''Jangan berpikir tinggi untuk dirimu. Aku memberikan pilihan, hanya untuk membalas kebaikanmu untuknya (Ziaruo)."


Murong tak menyebut apapun, tentang pertalian diantara dirinya dan ziaruo, dan hal itu bukan tanpa sebab.


Ia hanya tak ingin, menimbulkan masalah di kemudian hari untuk Ziaruo.


Dan meski tanpa ia sebutkan, siapapun akan mampu menebak hubungan diantara keduanya, hanya dengan melihat ekspresi yang berubah lembut, hanya dengan mengingatnya.


Jika harus milih, Murongxu akan selalu menginginkan sebagai orang terdekat dari Ziaruo.


...................


Yaksa mengernyitkan kening sejenak, ia menebak wanita mana yang di sebut oleh bibir pria itu.


''Aaaahhk...pasti wanita Yun.'' Pikir Yaksa dalam diam, ketika mampu memecahkan sosok dibalik wajah lembut, sura dihadapannya sekarang.


Yaksa ingin memberi respon untuk pria Murong, akan tetapi ia tak bisa melakukannya.


''Apa yang harus kulakukan?,masih banyak yang ingin kulakukan.''


Yaksa membayangkan wajah Ziaruo ketika memikirkan harapannya.


Dan entah itu sebuah keajaiban, atau kemurahan hati dari Murongxu, tubuhnya perlahan bisa di gerakan kembali.


Yaksa mengambil nafas dalam, setelah bisa menggerakan tubuh.


''Bodoh.''


Lagi-lagi, kalimat itu di dengar oleh Yaksa.


Namun, kali ini ia hanya menunduk dan bersimpuh di tepian telaga, dengan tubuh panjangnya yang sedikit menggulung.


''Benar wanita ini bodoh tuan.'' Jawab Yaksa, sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Ia tak rela dengan penyebutan bodoh, untuk diri sendiri.


Akan tetapi, itu harus dilakukan untuk menghindari kemarahan pria Sura di depannya saat ini.


Rasa ketidak relaan yaksa teramat besar, namun apa yang bisa ia lakukan.


Hanya dengan mnggigit bibir sendiri, untuk meredakan gelegar ketidak puasan di hatinya saat ini.


''Masih ada esok hari.'' Ucap Yaksa, untuk diri sendiri.


Murong berdiri tepat di depan wanita itu.


Tubuh tegap dan tingginya, seolah menaklukkan kebesaran bukit tertinggi di Yincang.


Yaksa menggerakan tangan pembawa manik mata sejenak, sebelum akhirnya membuka suara. ''Apakah anda yang memgatur waktu barusan?.''


Manik mata di telapak tangan berusaha terlihat memelas. Layaknya mata seorang bocah kecil yang meminta sesuatu, untuk pengganti sebuah kehilangan.


Namun, ekspresi apa yang dapat di tampilkan oleh manik bola mata tanpa selaput daging yang menutupi.


Murongxu justru jijik, dan enggan untuk menatap, manik di tangan yaksa tersebut.


Wanita itu berpikir keras, serta ingin memastikan, bahwa pesona waktu yang ia miliki, tidak jatuh di tangan pria misterius tersebut.


Ia masih mengharapkan sedikit kemungkinan, bahwa apa yang baru saja terjadi adalah bsebuah kebetulan.


Kebetulan saja, bahwa murong memiliki kekuatan yang hebat, sehingga mampu melawan serta membalikkan kekuatan pesona waktu miliknya.


Sehingga setelah ini berlalu segalanya akan kembali seperti semula.


Atau mungkin ada kebetulan-kebetulan yang lain lagi, dan entah itu apa.


Yang jelas Yaksa berharap, bahwa kekuatan tersebut masihlah miliknya.


Dengan kata lain, ia mengiyakan atas praduka dari pertanyaan yang di sampaikan oleh Yaksa.


Murong memang selalu menjawab singkat, apapun pertanyaan dari orang lain.


Seolah perkataan dari bibirnya, adalah intan dan berlian yang langka.


Namun, bukan itu pemikiran dari Murongxu.


Ia hanya malas berbicara dengan seseorang yang dianggapnya bodoh, ataupun tak berharga.


Dan untuk kasus Yaksa, itu sudah termasuk dalam kategori luar biasa.


Sosok yang dianggap bodoh itu, nyatanya mampu membuat Murongxu berbicara panjang kali lebar.


Dan jika saja Yaksa mengetahui, bahwa pria di sana sudah menganggapnya sedikit penting, mungkin ia akan muntah darah karena kekesalan.


Lalu, seberapa banyak ia berbicara dengan orang yang tak di pandangnya?, siapa yang tahu?, dan itu bukanlah suatu kepentingan baginya.


Yaksa masih menunggu penjelasan lain.


Akan tetapi, sepertinya jika ia tidak bertanya lagi, maka tak akan ada pembicaraan lainnya.


''Jadi....itu benar-benar anda tuan?.'' Tanyanya lagi.


Ia sekedar ingin memastikan, makna mengambang dari kata ''menurutmu'' yang baru di dengarnya.


Nada suara pelan dari bibir Yaksa, ternyata mampu membuat Murong tergerak, dan itu terbukti dengan langkah kakinya yang kian mendekat kearah Yaksa.

__ADS_1


''Kuharap kedepannya kau tidak akan sebodoh ini.'' Murong.


''Aku akan pastikan bahwa Yincang masih tetap berada di tanganmu, namun dengan satu pengecualian.'' Lanjut murong lagi.


Mendengar perkataan tesebut, reflek wanita itu mendongak, dan tentu saja tak ada perubahan dari gerakannya tersebut.


Nyatanya Yaksa memapu melihat, hanya dengan bantuan manik mata di tangan kiri saja.


Wajahnya yang menengadah tak dapat menikmati aura cerah dan menawan dari Murongxu.


Rongga mata kosong Yaksa tak berekspresi.


Namun, bibirnya mulai bergerak perlahan, dan menciptakan sebuah gumaman lirih yang di dengar oleh Murongxu. ''Tampan.''


Melalui manik mata di tangan, ia mampu melihat.


Di sana, tepat di hadapannya wajah tampan, dengan sorot matahari senja dibalik punggung, semakin membuat karisma sang pria, kian melambung di angan-angan Yaksa.


Sementara, Murong yang mendengar perkataan itu, tidak ambil pusing.


Baginya pemikiran serta pemujaan yang demikian, bukanlah hal baru.


''Aku akan datang beberapa hari setelah kedatangannya (Ziaruo), dan jangan mengatakan apapun yang tidak perlu.'' Murong.


''Berikan yang ia minta, dan prioritaskan dirinya, tidak yang lain (bayinya)." Lanjut Murong kembali.


Ia tak menunggu jawaban, ataupun bantahan dari wanita Yaksa.


Karena bagi Murong, siapapun itu, jika berhadapan dengan dirinya, ucapanya adalah suatu keharusan yang mesti dilakukan.


Murongxu berjalan pergi, meninggalkan wanita ular dalam posisi masih bersimpuh di tepi telaga.


Namun, setelah beberapa jengkal dari tempatnya semula, Murong berhenti.


''Tempat tinggal kami harus berdekatan, atau kau akan menyesali pertemuan kita kedepannya.'' Murong.


''Sungguh penampilan tak dapat mewakili isi hati dan pikiran didalamnya.'' Ucap lirih Yaksa, setelah kepergian Murongxu.


...................


Sementara itu, di kekaisaran Zing.


Hari ini adalah senja kelima, setelah kembalinya Ziaruo dari koma beberapa hari yang lalu.


Jiang jing wei masih menyibukan diri, dengan urusan pemerintahan.


Dan ketika senja seperti sekarang, ia akan mengurung diri di ruang kerjanya, serta tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


Dan Ziaruo juga melalukan, hal yang hampir serupa.


Namun, dengan karakter serta pemahamannya atas permasalahan diantara mereka, ia masih beberapa kali terlihat, di taman depan pavilliun miliknya.


Entah itu sekedar untuk berjalan-jalan kecil, atau mengagumi bunga yang khusus di pesan oleh Jing, beberapa bulan yang lalu.


Hati Ziaruo akan sedikit melembut, ketika melihat deretan bunga disana.


Dengan melihat bunga itu, Ia mengingat perhatian Jing yang besar.


Namun, ketika terlintas hitungan hari yang telah mencapai batas, wajah cantiknya meredup.


Ziaruo kembali gelisah.

__ADS_1


Wanita kekaisaran Zing, yang menempati posisi tertinggi di istana kekaisaran, nyatanya tidak bahagia dengan hidupnya.


Ia menemui jalan buntu, dan terbentur tembok batu kokoh yang tinggi, serta panjangnya liku-liku jalan takdir.


__ADS_2