Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 161


__ADS_3

Pria itu melangkah menjauh, dengan di iringi tawa memenuhi ruang kerja canzuo.


Namun, ketika kakinya tinggal sejengkal mencapai pintu, ia berhenti dan kembali berucap. '' Saya berharap, paduka tidak melakukan apapun kepada keluarga Gu, atau akan ada kecerobohan besar di kekaisaran Tang.''


''Braaaak''


Suara hentakan pada pintu menggema dengan keras, seakan sebuah isyarat, atas ketidak puasan dari sang pria.


Menyaksikan kepergian pria menyerupai dirinya tersebut, Canzuo justru kebingungan, dan bergumam pelan. ''Bukankah seharusnya aku yang marah?.''


Kaisar Canzuo tidak menyadari apapun.


Bahkan, sempat terlintas di pikiran kaisar Muda tersebut, bahwa segalanya tentang wanita Gu bagi Biyi, tidaklah sesimpel apa yang diucapkan oleh pria itu.


Ada apa gerangan diantara keduanya, atau siapa selir Gu bagi Biyi, seorang penyelamat, sekaligus tangan kanan yang sangat ia akui, serta andalkan selama ini.


Bahkan, jika pria Biyi menginginkan selir Gu. Canzuo akan dengan senang hati memberikan wanita itu untuknya.


Karena bagi kaisar Muda tersebut, selir Gu bukanlah pewujudan kasih sayang miliknya. Melainkan, sebuah bidak catur untuk mengontrol kekuatan jendral Gu.


Dan tentu saja dengan kemampuan, serta keinginan Bayi yang ia pahami, melepas wanita Gu kepadanya, bukanlah keputusan yang buruk.


Akan tetapi, Pria itu (Biyi) tak pernah mengatakan apapun selama ini.


Bahkan, ia seolah acuh dan enggan berurusan dengan wanita manapun.


Dan mengapa sekarang, ketika kejadian selir Gu di istana dalam, ia tidak datang memberikan uluran tangan?. Dan lebih mengherankan lagi, ia Justru ingin melindungi keluarganga?


''Si*l aku yang dalam bahaya karena ketidak hadiranmu. Tapi, mengapa justru sekarang, aku terlihat sebagai pembuat masalah?.'' Gumam Canzuo lagi.


''Kali ini kau sudah kelewat batas, tunggu saja nanti.'' Sambung sang kaisar lagi, dengan tangan yang mengepal kuat, dibalik lengan baju kebesaran miliknya.


........................


Sementara itu, Pria pemilik wajah identik dengan sang kaisar, seolah mengetahui apa yang kini tengah di pikirkan oleh Canzuo.


Wajah solem miliknya, mendadak berubah menjadi dingin serta datar.


''Dengan tangan sejengkal, kau ingin memeluk bukit, sungguh konyol.'' Ucap Biyi lirih, di sela langkah kaki menjauh dari ruang kerja Canzuo.


Pria itu tak lagi menghiraukan kemarahan, serta ketidak puasan Canzuo terhadap dirinya.


Dengan cepat tubuh gagah miliknya, melesat kearah bangunan di istana dalam, ia menuju sebuah pavilliun dengan tata letak yang sedikit terpisah dari bangunan yang lain.


Bagi Biyi, berkepentingan dengan seseorang di balik ruangan, yang berada di depannya sekarang, jauh lebih penting.


''Sudah datang rupanya?.'' Ucap seseorang dari balik pintu ruangan.

__ADS_1


Hanya terdengar perkataan itu saja, dan tidak ada penyambutan lain untuk Biyi.


Bahkan, tidak juga pemilik suara mempersilahkannya masuk. Dan pintu itu tetap tertutup rapat.


Mendengar hal tersebut, Biyi hanya menggerakkan ujung bibir sejenak, sebelum akhirnya ia membuka mulut dan menjawab. ''Tentu saja, aku datang untuk berterimakasih atas bantuanmu semalam.''


Biyi mengatakan hal itu, tanpa bermaksud untuk membuka pintu. Bahkan, ia hanya diam di depan ruangan.


Seolah enggan, serta tak ingin bersitatap secara langsung, dengan sang empunya suara di balik dinding.


Biyi hanya menatap lurus pada ukiran mata phonix, yang terukir elegan, serta terkesan dingin pada daun pintu.


''Aku tidak sepenuhnya membantunya, ataupun membantu anda, jadi tidak perlu merasa sungkan.'' Jawab seseorang dari balik pintu.


Suara yang terkesan tenang, serta acuh itu, terdengar lagi.


Namun, kali ini seolah ia tidak memiliki ketertarikan sama sekali, atas sesuatu yang menjadi topik utama pembicaraan diantata keduanya.


''Anda benar, tidak hanya Anda memperoleh keuntungan dari pria ini, namun juga menghilangkan duri di jalan menuju singgahsana.'' Biyi.


Mendengar jawaban yang lugas serta terkesan kasar dari sang pria, dari balik ruangan terdengar gelak tawa.


''Hahaha....Anda memang sangat memahami wanita ini, dan saya memberikan apresiasi besar untuk hal itu.'' Ucapnya ringan, di sela tawa yang terdengar seakan penuh kesenangan.


Akan tetapi, apapun mimik wajah yang di tampilkan dari orang di balik pintu itu, Biyi mampu menebak segalanya. Ia hanya diam, serta masih memfokuskan pandangan, kearah mata phonix pada pintu.


Mendengar hal itu, Biyi terdiam sejenak, wajahnya kembali datar.


Ada keheningan diantara ruangan dibalik sana, dengan teras pavilliun tempat Biyi berdiri sekarang.


''Sudahlah, aku tak ingin mengusik hal ini lagi. Aku sudah melakukan tugasku, dan kuharap seseorang seperti anda tidak akan menarik ucapan kembali.'' Lanjutnya lagi.


''Aku tahu...'' Jawab Biyi singkat.


''Jikapun tak semuanya untuk kebaikan orang itu, tetap saja aku tidak akan melupakan kesepakatan kita.'' Biyi.


Pria tersebut berjalan dengan langkah ringan, meninggalkan teras pavilliun yang terkesan dingin, diantara deretan pavilliun lain di istana dalam.


Sementara itu, menyadari kepergian dari orang di luar ruangan sana.


Seorang wanita cantik, dengan hiasan sederhana diatas kepala, menghela nafas panjang.


Wanita itu, menatap kearah sudut ruang dengan tatapan kosong.


''Yang Mulia...apakah ia dapat di percaya?. Ampuni hamba... Hanya saja, pelayanan ini mencemaskan kebaikan untuk paduka.'' Ucap seorang wanita paruh baya, yang kebetulan juga berada disana.


Wanita cantik itu, mendengar apa yang di ucapkan oleh sang pelayan.

__ADS_1


Akan tetapi, wajahnya serta tatapan mata miliknya, tetap menampilkan hal yang sama.


Ia tak menunjukan ekspresi apapun, atas kekhawatiran sang pelayan.


''Lalu apa bedanya?, semua akan tetap sama pada akhirnya.


Baik dia menepati ucapannya, ataupun tidak, aku tetap akan menjadi seseorang yang kalah.'' Jawabnya pelan.


Ada gurat pasrah, serta kelelahan, pada wajah putih sang wanita. Namun, dengan aksen hiasan sederhana itu, ia tetap mampu menampilkan keindahan, wanita kalangan bangsawan.


Layaknya sebuah perhiasan berharga, yang di simpan rapat dalam sebuah peti kaca. Meskipun, tanpa penerangan yang memadai, ia akan tetap memancarkan kilauan kemewahan.


''Yang Mulia.....'' Seru sang pelayan dalam diam, diantara kedua kaki yang terduduk bersimpuh, di depan sang majikan.


Sang wanita pelayan, seakan mengerti apa yang tengah di pikiran oleh sang Tuan.


''Siapkan air hangat, aku ingin berendam sejenak.'' Pinta wanita cantik tersebut, kepada wanita pelayan.


Mendengar perintah itu, dengan bergegas wanita pelayan berdiri dari duduknya seraya berkata, ''Baik Yang mulia, hamba laksanakan.''


...................................


Sementara itu, di kediaman Gu.


Setelah perjamuan makan malam, Ziaruo dan Jiang Jing wei terpaksa menginap di kediaman sang jendral.


Hal ini, dikarenakan Nyonya Gu tua, yang tiba-tiba saja mengalami kondisi buruk.


Wanita yang kian menunjukan guratan usia pada wajahnya itu, jatuh pingsan setelah mendengar keadaan selir Gu, dari sang suami.


Melihat hal tersebut, hati Ziaruo seolah ikut merasakan kepedihan untuk nyonya Gu.


Entahlah, sejak ia dinyatakan hamil, emosinya mudah sekali terpancing, serta berubah-ubah.


Ziaruo mudah sekali menangis, marah, bahkan ia juga sering merasakan kesal di dalam hati.


Ziaruo memutuskan untuk menemani Nyonya Gu, hal ini ia lakukan karena sejak wanita itu pingsan, tangan Ziaruo terus saja di genggam olehnya.


Seakan ia tengah menggenggam seseorang yang sangat berarti, dan tak ingin kehilangan lagi.


Sementara menyaksikan hal itu, Jendral Gu tak dapat berbuat apapun.


Terlebih lagi, wanita yang sempat menikah dengan Gutingye putranya, dengan suka rela bersedia menemani.


''Istriku...apakah kau ingin memperpendek umur suamimu ini?.'' Gumam dalam pikiran jendral Gu, ketika melihat sang istri memegang erat tangan Ziaruo.


Jendral Gu paham betul, bahwa dibalik kerelaan permaisuri Yun, di sana masih ada satu orang lagi. Yang bahkan, kini ia telah memberikan tatapan dingin, serta ketidak sukaan dalam sorot mata tajam miliknya.

__ADS_1


__ADS_2