Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 207 Perselisihan.


__ADS_3

Sosok Murong yang berdiri di ujung tebing, serta pantulan sinar bulan di balik punggung, mampu menciptakan keagungan, serta aura mendominasi dari atas tebing tersebut.


''Pelayan menunggu perintah.'' Ucap sang sosok di kaki tebing, dengan wajah yang sedikit menunduk.


Gerakan tersebut, di ikuti oleh beberapa barisan sosok lain yang juga hadir di sana.


Mendengar perkataan itu, Murongxu hanya diam.


Tubuh gagahnya semakin menampilkan aura majesti yang kental, serta menekan keberanian hati, bagi setiap mahkluk disana.


''Kali ini akan kulakukan sendiri.''


''Kalian tidak di izinkan untuk membuat kericuhan, hingga 7 hari mendatang.'' Murong.


Sesungguhnya, Ia tak ingin Ziaruo dan Jing memiliki waktu yang baik selama 6 hari kedepan.


Namun dengan kondisi wanita itu saat ini, Murongxu khawatir akan semakin memperburuknya, jika ikut turun tangan.


Murong tidak mempercayai kemampuan Jiang jing wei dalam menjaga Ziaruo.


Ia juga selalu berpikir bahwa pria penguasa kekaisaran Zing tersebut, adalah orang bodoh dan tak sepadan untuk Ziaruo.


Oleh karena hal itu, Murong tak ada keinginan untuk melibatkan mereka, dalam rencananya kedepan.


Dan meski dmikian, janji untuk membantu mahkluk disana ia harus tetap menepatinnya.


Murong adalah pria dalam perkataan.


Meski, terkadang akan dengan mudah membalik kenyataan, Murong masih bisa dipercaya.


Terlebih lagi, dengan pengetahuan sang jelmaan, bahwa Murongxu yang di pertuankan oleh mereka, sangat membenci kaisar Jiang jing wei.


Kedepannya untuk menarik perhatian, serta menyenangkan hatinya, mereka akan mengambil inisiatif sendiri, untuk membuat masalah di kekaisaran Zing.


Dan jika hal tersebut di bebankan kepada Murong, pria itu akan dengan mudah untuk berkelit, serta berpura-pura sebagai pihak yang tidak mengerti apapun.


Khususnya jika itu dihadapan Ziaruo, karena ia tidak pernah memperdulikan pendapat orang lain, selain dari wanita itu.


Meski Murong telah memperkirakan kejadian tersebut kedepan.


Akan tetapi, selama ia tidak memberikan perintah tak akan ada yang menghitung, serta menyangkut pautkan kepadanya.


Para mahkluk itu yang bertindak, serta di persalahkan. Sementara dirinyalah yang akan terpuaskan.


Dalam bahasa singkatnya, Murong memukul Jing, dengan meminjam tangan dari mahkluk Jelmaan hutan misteri.


Dalam keadaan tertentu ia tak ingin berurusan lagi dengan Jiang jing wei.


Selain untuk menepati janji yang telah ia ucapkan kepada Ziaruo, Murong juga akan jauh dari sana mengikuti kemanapun wanita itu berada.


Akan tetapi, ketika ia mengingat Jing, yang telah berdiri di antara mereka, hati Murongxu kembali terasa tergigit.


Dan baginya, meninggalkan sedikit kesibukan untuk Jing, akan jauh lebih memuaskan serta meringankan, perasaan hatinya.


Murongxu mengirimkan makhluk jelmaan hutan misteri, kepada Jing secara tidak langsung.


..........................

__ADS_1


Sementara itu di istana pavilliun milik permaisuri Yun.


Ziaruo duduk berhadapan dengan Jing, dan hanya terpisahkan satu meja kecil saja.


Disana, dua cangkir teh dan beberapa cemilan beraneka ragam, tertata diatas meja.


Wajah Ziaruo terlihat tidak nyaman, dan sedikit pucat.


Seakan tengah ada kepedihan yang kental, dari raut tersebut.


Dan sebaliknya, Jiang jing wei tampak diam mematung. Tak ada perkataan apapun, dari bibir pria itu.


Pada wajah Jing, juga tidak menunjukan pancaran kebahagiaan, seperti biasa ketika mereka bersama.


Wajah itu, seolah menggelap dan tengah menahan, sebuah amarah yang hebat.


Tangan Kaisar Jing mengepal di atas paha, raut wajah itu semakin menghitam, dengan seiring waktu yang terasa kian melambat.


Ziaruo masih menunduk, suaranya semakin melemah dan bahkan, menghilang di antara penyesalan dan dibumbui keraguan.


Ia takut, pria disana akan terluka, dan Ziaruo yakin itu pasti terjadi.


Keraguan itu bukan untun keputusan, ataupun tentang pilihan.


Ia ragu dengan kemampuannya menyikapi, atas kesedihan dari sang suami.


Ziaruo lagi-lagi menunduk bimbang.


''Tak ada jalan lain, dan ini juga tidak mudah untuk wanita ini, Yang mulia.'' Ziaruo mulai membuka suaranya lagi.


''Namun, hanya di sana saja, putra kita akan tumbuh hingga usia 7 tahun, nanti..''


Ia ingin menemukan ekspresi dari pria disana.


Tak ada ketakutan dalam hati wanita tersebut, ketika melihat wajah Sura milik sang suami, yang semakin menggelap.


Ia justru takut, jika pria itu menunjukan sisi terluka dan kepedihan.


''Nanti...ia akan datang kepada anda, dan bisakah paduka menjaganya untuk saya?.'' Lanjutnya lagi.


Wajah Jing masih tetap sama, tegas dengan tatapan tajam.


Akan tetapi, Ziaruo tak merasa aneh, ataupun takut sama sekali dengan itu.


Karena sekarang, dirinyalah yang di ibaratkan sebagai pemegang pisau, dan mengarahkan tepat kejantung Jing.


Jadi siapa yang harus takut dalam hal ini?, Jing-kah?, atau dirinya?.


Dan pada kenyataan keduanya sama-sama terluka, serta ketakutan.


Baginya, Jing adalah pria dengan kelemahan hati, dan kasih sayang yang besar.


Semarah apapun, pria tersebut tidak akan bisa melakukan hal buruk dan menyakitinya.


Jing masih menatap wanita di depannya dengan tajam.


Jika bisa, ia ingin mengetahui apa yang kini dilihat mata itu, atas wajah serta sosok dirinya.

__ADS_1


Jing juga ingin membuka kepala cantik tersebut, untuk mengetahui isi pikiran apa yang kini berputar disana.


Yang dengan mudah dan kejam, memutuskan suatu hal buruk untuk masa depan mereka.


Ziaruonya, adalah wanita terkejam di dunia saat ini, bagi Jing.


Hatinya hancur, bergemuruh, meledak-ledak, dan bahkan ia ingin menghancurkan apapun saat itu juga, ketika mendengar apa yang disampaikan.


Ia juga ingin menghukum wanita tersebut dengan berat, menguncinya, bahkan mengikatnya diatas ranjang, dan tak mengijinkan barang selangkah, ia menjauh dari sana.


Namun, hanya Ziaruo saja yang paling ia pedulikan, serta kasihi melebihi diri sendiri.


Apakah mungkin, ia melakukan kekejaman tersebut untuknya?.


Jing tak akan mampu untuk melakukan segalanya, dan tak akan pernah mampu sampai kapanpun.


Ia terlalu mencintai wanita tersebut.


Lalu bagaimana dengan kekecewaan dan kemarahan itu sendiri?. Jing tak bisa berfikir, ia memilih menjauh untuk menenangkan diri.


Jing ingin meredakan kemarahan, kesal, sedih, kecewa, bahkan juga rasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan, oleh bibir ranum wanitanya tersebut.


Jing ingin menghancurkan bibir mungil itu saat ini juga.


Ia juga ingin meledakan kemarahan dihatinya kepada wanita itu.


Bahkan, jikapun Ziaruo ketakutan kepadanya bukan hal yang menjadi masalah, asalkan wanita tersebut, tidak berfikir untuk pergi dari sisinya.


Namun Jing tahu, wanitanya bukan seorang penakut.


Ia juga bukan pria, yang akan mampu melakukan hal tersebut kepadanya.


Jing geram dan marah dengan apa yang ia dengar, ia juga enggan mencerna, serta sulit menerima cerita dan kondisi sang permaisuri saat ini.


''Mengapa?.'' Tanya Jing singkat.


Ziaruo mengarahkan manik mata, tepat bersitatap dengan manik Jing.


Namun, ia tak menemukan jawaban yang tepat untuk itu. Ziaruo masih diam.


Manik mata itu perlahan mulai berair.... tipis.


Seolah ingin mengatakan, bahwa sekarang tengah menahan sesuatu, yang sangat berat dalam hati.


Jing masih kekeh dengan pertanyaannya, dan mengulang kembali ucapan. ''Mengapa ini kau lakukan Yun?.''


''Apakah semuanya, memang telah kau rencanakan sejak awal?.''


Nada suara Jing, terdengar datar serta dalam.


Sangat berbeda dengan suara lembut, serta penuh pehatian beberapa saat yang lalu, sebelum Ziaruo berterus terang.


Yun, hanya dapat nggeleng pelan, dan belum menjawab.


Wanita itu dan kediamannya ini, membuat Jing semakin tak dapat menahan kegundahan, serta kecamuk yang bercampur aduk dalam dada.


Dengan agak kasar, ia menarik tangan Ziaruo dari atas meja, dan bertanya. ''Apakah dia (Murongxu) menunggumu disana?.''

__ADS_1


Jing sesungguhnya ingin mengetahui apakah Murongxu mengetahui perihal itu.


Akan tetapi, entah mengapa justru kalimat tersebutlah, yang mengalir keluar.


__ADS_2