
''Mengapa orang baik selalu menemui akhir yang tragis?, Dewa jika kau memang benar benar ada, maka selamatkanlah wanita baik itu, bahkan aku rela menukar nyawaku untuknya.'' Gumam Wuhan dalam hatinya penuh dengan pengharapan.
Beberapa saat yang lalu...
Wuhan menutup kembali pintu ruangan, yang tadi ia buka, saat mengetahui sang majikan hendak masuk kesana.
''Akhirnya sang phonix menentukan tahtanya,
Raja kamilah yang memperoleh anugrah atas tahta itu. Dewa.....takdir kami sekarang terpaut dengan sang phonix.'' gumam dalam hati Wuhan.
Banyak doa kebaikan ia panjatkan dalam hatinya, untuk kebahagiaan kedua orang dibalik ruangan.
Sesungguhnya, ia juga mengagumi sosok dari wanita, yang kini menjadi Permaisuri dari penguasa Zing tersebut.
Namun, ia tahu dengan jelas batasan batasan dirinya, garis antara majikan( Jiang jing wei) dan pelayan (dirinya), antara wanita takdir mulia serta istimewa( Ziaruo) dengan kaum sudra ( pelayan / orang rendahan/ Wuhan).
Baginya mengagumi dalam diam, dan menempatkan wanita itu disamping majikannya yang berstatus tinggi, adalah sebuah kebahagian dan keberhasilan kasih sayangnya.
Setidaknya, Wuhan akan lebih mudah melihat, dan bertemu dengan Ziaruo kedepannya.
Meskipun, dia bukan siapapun bagi wanita itu.
Bahkan, jika ia tidak terlihat, atau tak dianggap keberadaannya, tidak jadi masalah.
Asalkan ia dapat melihatnya setiap hari, segalanya sudah cukup bagi Pria kepercayaan sang Kaisar tersebut.
Seperti saat ini, ia berdiri diluar ruangan kamar pengantin, dari wanita yang ia kagumi dengan Kaisar Jing majikannya.
Berjaga dibalik diding, untuk keamanan mereka berdua, merekalah orang terpenting didalam hati, dan bahkan paling berharga untuknya dikehidupan ini.
Tak terdengar apapun dari dalam bilik kamar, entah karena mereka ( sepasang mempelai) sengaja memelankan suaranya, ataukah karena Wuhan enggan mendengar romantika, dari dalam balik dinding tempatnya berdiri sekarang.
Yang jelas, saat itu...hening bagi semua orangdisana.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar sebuah teriakan keras ''pelayan....Wuhan.....panggil tabib...cepat panggil tabib!.''
__ADS_1
Sontak saja hal tersebut, membuat Wuhan reflek bergerak dengan cepat, serta menerjang pintu ruangan dengan keras, ia berfikir telah terjadi penyerangan dari musuh kerajaan.
Tindakan refleknya di ikuti oleh 2 orang Kasim dan 4 penjaga lainnya, mereka langsung menghunus pedang masing masing, dan masuk keruangan bilik pengantin.
Mata tajam Wuhan langsung fokus kearah sang Kaisar dan sang Permaisuri.
Tampak disana seorang Pria masih lengkap dengan pakaian pengantinnya, tengah memeluk erat tubuh seorang wanita.
Wanita itu adalah Nyonya Yun, yang baru tadi siang resmi menjadi Permaisuri kekaisaran Zing tersebut, tampak lemah dan dari bibirnya, serta pada bajunya terlihat noda darah.
Wuhan membulatkan matanya, hatinya bergejolak dan kebingungan, atas apa yang telah terjadi, mengapa Ziaruo berdarah? matanya menelisik keseluruh ruangan, akan tetapi ia tak menemukan kejanggalan, ataupun orang yang mencurigakan.
Belum sempat kebingungannya teruraikan, didengarnya perintah sang kaisar dengan suara keras kembali. ''Panggil tabib... cepat panggil tabib...!.'' Dengan penuh kecemasan dan ketakutan.
Mendengar hal tersebut, salah satu penjaga segera melesat pergi, meninggalkan ruangan setelah memberi hormat, kepada Kaisar Jing yang tengah panik dan tampak ketakutan, sembari memeluk dan tak melepaskan tubuh Permaisuri Yun.
Gumaman dan ucapan ucapan permohonan, terdengar jelas dari bibir sang penguasa tersebut.
Dari getaran tangan serta intonasi suaranya sudah tampak jelas, bahwa Pria itu seolah hendak runtuh dan hancur, bahkan ia tak mengindahkan matanya yang mulai berkaca kaca.
Akan tetapi, ia takut hal itu akan menjadikan kesalah fahaman dan ketidaknyamanan, mengingat disana masih ada beberapa penjaga dan Kasim yang ikut masuk.
Namun tak lama kemudian, kembali di dengarnya suara Kaisar dengan nada yang agak keras ''Mengapa tabib lama sekali?, Wuhan.....kau pergi panggil tabib!.
Mendengar hal itu, Wuhan kebingungan, jika ia pergi dari sana, dan terjadi sesuatu kepada sang majikan, maka dia akan menyesalinya seumur hidup.
Oleh karena itu, Wuhan memutuskan untuk diam dan tak mengindahkan perintah Kaisar Jing, ia tahu hal ini mungkin akan berakibat buruk untuk dirinya.
"Ampuni pelayanmu kali saja Yang mulia, karena keselamatan anda sekarang adalah yang utama, lagi pula penjaga yang menjemput tabib adalah orang tercepat diantara kami.
Jadi mohon tenanglah, Nyonya Yun anda harus bertahan." pikir Wuhan dalam hatinya, namun tanpa sepatah kata yang terucap keluar, Pria itu hanya menunduk.
Jujur Wuhan juga sangat mencemaskan keadaan wanita yang kini terkulai lemah didalam pelukan Kaisar, akan tetapi pikiran jernihnya masih bekerja.
Jika hal buruk terjadi kepada Ziaruo atas keputusan yang diambilnya saat ini, dan ia tidak mampu menahannya, mungkin ikut kemanapun ia pergi( mati) akan menjadi pilihan terakhir bahkan terbaik bagi Wuhan.
__ADS_1
Berbeda jika ia meninggalkan Kaisar dan terjadi sesuatu kepada Pria itu, maka keselamatan seluruh negri akan menjadi konsekuensinya.
Dan tentu saja, Wuhan tak akan mampu membayangkan, bahkan menanggungnya, meskipun dengan nyawanya sendiri.
Namun dengan kecemasan, dan rasa takut Kaisar tuannya, pemikiran Wuhan semakin membuat Pri itu marah, dan menendangnya keras sembari berkata. "Wuhan...aku memerintahkanmu untuk menjemput tabib, apa kau T*li hah!.''
Memperoleh perlakuan tersebut, ia hanya segera bangkit dan kembali bersujud.
Tak ada kemarahan dalam hati penjaga itu, ia jelas dan bisa merasakan kegundahan, serta kecemasan sang tuan.
Bahkan dirinyapun, juga berkali kali menatap pintu masuk ruangan yang terbuka lebar, akibat tendangan paksanya ketika masuk beberapa saat yang lalu.
Oleh karena itu, ia hanya menghela nafas, ketika memperoleh kemarahan dari Kaisar Jing, yang telah ia anggap sebagai saudara sekaligus sahabat tersebut, Wuhan kembali berkata. ''Anda jangan khawatir, orang yang menjemput tabib, adalah penjaga tercepat diantara kami Yang Mulia.''
Bibir pria itu, merangkai kata sebaik mungkin untuk menenangkan Kaisar, menutupi kecemasan dan kepanikan hatinya sendiri, dengan sebuah kalimat yang bahkan ia tak dapat merealisasikannya dengan baik.
Penjabaran teori, jauh lebih mudah ketimbang penerapannya, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perbandingan antara ucapan dan hati Wuhan saat ini.
Kaisar menatapnya dengan tajam. Jelas terlihat amarah yang besar pada mata penguasa itu.
Dengan membopong tubuh Permaisuri, Kaisar Jing kembali berjalan kearah Wuhan dan berkata. "Baik...jika terjadi sesuatu kepadanya, kalian dan seluruh keluarga kalian, akan ikut menanggungnya.''
Ancaman itu tentu saja, tidak membuat takut Wuhan, bukankah ia sebatang kara?, oleh karena itu ia tersenyum masam sekilas, seolah menertawakan dirinya sendiri.
Namun gerakan sekilasnya itu, tertangkap mata Jing, dan semakin membuat pria yang sedang cemas tersebut geram.
Kaisar kembali menggerakan kakinya, hendak menendang Wuhan.
Namun, ia segera mengurungkannya, ketika melihat kedatangan tabib kekaisaran.
Dengan langkah cepat ia berjalan menyambut sang tabib. ''Tabib..cepat periksa Permaisuri...ia telah terkena racun.'' Ucapnya dengan buru buru.
''Yun... kau akan baik baik saja, tabib sudah datang, bertahanlah.'' lanjut Kaisar Jing, sembari membaringkan tubuh Nyonya Yun diatas ranjang dengan lembut.
''Nyonya Yun, bertahanlah...aku yakin anda bisa.'' Ucap Wuhan dalam hati.
__ADS_1