
Namun, seolah tak mendengar dan tak menganggap perkataan keduanya, pria dengan penutup kepala itu menjawab.
''Bahkan jika prajurit miliknya(Tuobajun) tidak tergabung, kita masih memiliki banyak prajurit lain, yang akan membantu.''
Sebuah keyakinan yang sangat jelas, terlihat pada setiap penekanan kata yang disampaikan.
Dan entah mengapa, hampir semua orang di sana, mempercayai akan hal tersebut.
''Lanjutkan sesuai rencana, besok kita akan mendapatkan yang kita inginkan.'' Lanjutnya lagi.
Dan secara bersamaan, semua orang yang hadir merasa puas, dan bersemangat atas ucapan pria itu.
Mereka bahkan membungkuk sejenak, sebelum melangkah pergi.
Sebuah bukti penghormatan, ketika meninggalkan pria bertutup kepala, yang mereka akui sebagai pemimpin diantara mereka, bersama sebujur tubuh, yang kini meringkuk tak bergerak di lantai.
Sesungguhnya, pria dengan penutup kepala sekarang, bukanlah orang yang sama dengan yang sebelumnya.
Dia adalah pengganti, dari seseorang yang mereka hormati, kenal, serta akui kemampuannya beberapa bulan terakhir.
Namun, dengan pakaian, suara serta aura yang hampir sama, mereka tidak menaruh curiga sama sekali.
Sepeninggal mereka dari sana, ruangan menjadi hening sejenak.
Namun, tak lama kemudian sesosok bayangan mendekat, dan berkata. ''Kau cepat sekali marah. Dengan tubuh itu seharusnya, jantung dan hatimu sudah menyerupai mereka.''
Sesosok bayangan, yang nyatanya dapat membuat pria bertutup kepala tersebut, meringsekan diri, dan menundukan kepala hormat.
''Maaf tuan, hanya saja mereka terlalu merepotkan.
Bahkan, dengan sedikit kemampuan pria ini terlalu arogan.'' Jawab Pria dengan penutup tersebut.
Ada ketakutan dalam suara, serta ekspresi gerak tubuhnya.
Namun, penghormatan untuk sosok itu, jauh lebih dominan dari perasaan yang lain.
Mendengar ucapan dari sang pria, sesosok bayangan yang tak lain adalah Murongxu tersebut, mendekat.
Dengan tatapan datar, ia membuka penutup kepala sang pria.
''Aku akan memberikan tampilan baru untukmu, jadi kau tak perlu memakainya lagi.'' Ucap Murongxu, sembari mengibaskan tangan pelan, tepat di depan wajah pria tersebut.
Dan di depannya kini, tak lagi ada sesosok makhluk yang menakutkan. Bertubuh manusia namun, dengan bagian leher hingga kepala, dalam wujud serigala.
Melainkan, seorang pria tampan, berkulit putih, dengan sorot mata berkarisma, layaknya seorang pria bangsawan.
Sebuah senyum tak terbaca, menyembul di ujung bibir murongxu.
''Mulai hari ini, kau akan menjadi pangeran kedua, dari negri Zing. Jiang jing yun.'' Sambungnya lagi.
Murongxu menatap lekat wajah itu. Dengan wajah datar miliknya, yang masih ia tampilkan.
Pria tampan itu, tak berani menatap langsung kearahnya.
Bahkan, dengan wajah yang kini saling berhadapan, pria dengan nama baru Jiang jing yun tersebut, tak berani bersitatap dengan manik mata Murong.
Sehingga, pemuda Jingyun baru itu, juga tak dapat melihat sebuah senyum sinis, pada wajah Murongxu.
Ia hanya berucap lirih, dengan penghormatan besar kepada Murong, yang ia anggap sebagai tuan. ''Terimakasih tuan, saya berjanji segalanya akan berjalan, seperti keinginan anda.''
Jiang jing yun mengatakan semuanya, sembari menundukkan kepala, serta sedikit membungkukan tubuh, memberi hormat kepada Murongxu.
''Heemm.'' Sahut Murongxu singkat, sebagai pernyataan bahwa, ia mendengar janji Jingyun.
__ADS_1
''Akan ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.'' Ucap Murong, sebelum melesat keluar dari ruangan.
Ia tidak mengindahkan Jingyun, yang masih dalam posisi membungkuk, serta berusaha memahami makna dari ucapan terakhirnya.
Karena bagi Murong pria disana, hanya salah satu bidak, dari sekian bagian rencana yang ia susun.
Sementara bagi Jingyun. Murongxu adalah seorang penolong, yang akan membawa sisi terang, dan keberhasilan atas impiannya.
Dan sepeninggal Murongxu, Jingyun atau pria yang tadi sebelumnya mengenakan penutup, meraba wajahnya dengan seksama.
Ada kepuasan dalam sorot mata, serta senyum yang tersembul, atas wajah baru miliknya.
''Aku tidak akan lagi, menjadi seseorang yang harus menyembunyikan diri dari dunia.'' Jingyun.
''Dengan kekuatan, dan wujud sempurna manusia ini.
Bahkan, kedudukan juga terpaut untukku sekarang, apa yang tidak dapat aku peroleh...hahaha...hahaha....''
Jingyun merasa puas, dengan keadaanya saat ini.
Baginya, dengan kehadiran Murongxu, keberuntungan mulai berpihak kepadanya.
Pria itu memerlukan waktu beberapa saat, untuk mengagumi wajah, serta menikmati kebahagiaannya.
Hingga, ia mengingat kembali, sosok yang kini tertelungkup di bawah sana.
Dengan perlahan, ia melangkah mendekati tubuh tak bergerak di lantai.
Dengan keadaannya sekarang, Jingyun semakin merasa, tak perlu untuk memberikan kesempatan, kepada Taobajun lagi.
''Aku tahu, kau masih bisa mendengar setiap pembicaraan kami. Dan karena hal itu, maka kau harus tetap diam, dan bungkam.'' Ucap Jingyun datar.
Setelah ia menyelesaikan kalimatnya, Jingyun menggunakan kaki kiri, untuk membalik tubuh Taobajun.
Bahkan, tatapan mata itu tampak berubah, menjadi tajam serta mengerikan.
Dan tak menunggu waktu lama.
Dengan tubuh tak berdayanya, mata Taobajun membulat, rahangnya mengeras, seolah ingin menyampaikan, rasa kesakitan hebat, dari dada bidang miliknya, yang tertembus kuku-kuku jari memanjang, milik Jingyun.
Taobajun tak dapat melakukan apapun, ia hanya bisa pasrah dengan kesakitannya kini.
Hingga, segumpal daging berdegup miliknya, tercabut dari tubuh itu, ia baru bisa merasakan ketenangan tanpa rasa sakit lagi.
Tuobajun menghembuskan nafas terakhir, ketika Jingyun mengambil jantung, serta hatinya.
Sungguh kebanggaan, kekuatan, kekuasaan, serta kekayaan melimpah yang ia miliki, saat ini tak dapat membantunya lagi.
Sementara itu, makhluk dengan kepala serigala yang kini telah berubah, menjadi pangeran tampan dari kekaisaran Zing, tampak biasa saja.
Bahkan, ia tengah menikmati kebahagiaan ganda, atas wajah baru, serta hidangan segar miliknya.
Membiarkan tubuh kosong, tanpa jiwa, jantung serta hati, teronggok disana, dan tak sedikitpun ia merasa risih.
Seakan hidangan segar, dengan warna merah terang di tangannya kini, adalah sebuah keindahan yang akan memuaskan hasrat, serta dahaga beberapa hari yang lalu.
..............................
Beberapa saat sebelumnya, di pinggiran hutan barat, perbatasan kekaisaran Jing.
Kaisar Jiang jing wei yang baru saja berhasil, melakukan perundingan dengan tentara khusus merah, berhenti di pinggiran hutan.
Rombongan yang pada awalnya hanya berÄ·isar beberapa puluh itu, kini menjadi sekelompok prajurit dengan persenjataan lengkap.
__ADS_1
Mereka kini, sudah dapat di sebut sebagai kesatria, yang akan pergi menuju medan perang.
Namun, karena Jiang jing wei tak ingin menarik perhatian dari orang lain (Para pemberontak).
Ia memerintahkan para pasukan itu, untuk berdiam sejenak di tepian hutan barat. Dan menyamarkan diri, di balik pepohonan.
Jing berencana, akan bergerak masuk ke kota kekaisaran, nanti ketika hari sudah gelap.
Namun, tanpa di duga oleh sang kaisar. Ziaruo yang meminta izin untuk pergi selama tujuh hari, tiba-tiba saja hadir di tepi hutan barat, hanya berselang 3 hari saja.
Jing merasa senang dengan hal itu.
Dan ia tak perlu menanyakan apapun, tentang kehadiran wanitanya disana, ataupun dari mana Permaisurinya tersebut, mengetahui dimana ia berada.
Karena bagi Jing, tak ada yang mustahil dan sulit, bagai sang istri untuk mengetahui keberadaannya.
Akan tetapi, dibalik rasa bahagianya.
Ada sebuah ketidak nyamanan(kecemasan) yang mengusik, dalam relung hati pria tersebut.
Tentang waktu kembali Ziaruo yang lebih singkat, dari permintaan, serta perkiraan kepergian sang istri kali ini.
Akan tetapi, seperti biasanya ia akan selalu menutup sisi tak nyaman hatinya, dan menampilkan hanya kebahagiaan dihadapan Ziaruo.
Dengan gerakan tangan lembut, ia membawa wanita itu diatas pangkuannya.
Sementara, ia hanya mendudukan tubuhnya, pada kursi sederhana, umpak kayu hutan bekas tebangan.
''Aku senang kau kembali lebih cepat.'' Tuturnya, dengan sorot mata penuh kebahagiaan.
Jing meletakan dagu diatas pundak Ziaruo, mengabaikan setiap tatapan yang datang kepada mereka, dari semua rombongan.
Dan Ziaruo hanya tersenyum, menerima perlakuan itu, meski ada sedikit canggung dalam hatinya.
Akan tetapi, Ziaruo juga merasa nyaman, serta tenang, dengan ketulusan yang diberikan oleh sang suami.
Sementara itu, Jing berharap, dengan perkataan, serta sikap baiknya saat ini.
Permasalahan, dan kecemasan yang di hadapinya, tidak akan di ketahui oleh permaisuri Yun.
Namun, sebaik apapun ia berusaha. Ziaruo tetap bisa memahami, dan mengerti akan kecemasan, serta polemiknya sekarang.
Bahkan, permaisurinya tersebut memiliki kabar yang belum di ungkapkan, dan akan jauh lebih mengagetkan, dari apa yang ia sembunyikan.
Oleh karenanya, wanita itu ingin memberikan bantuan, dan menyelesaikan semua, sebelum kepergiannya purnama mendatang.
Dengan ia mengetahui waktu terbatas yang di miliki, dan hal itu tepat terhitung sepuluh hari kedepan.
Ziaruo memutuskan tidak menunda waktu lagi, serta harus segera menyelesaikan permasalahan ini.
Bahkan, jika bisa ia ingin mencegah terjadinya peperangan saat itu juga.
Dengan keperluan, serta kondisinya yang mendesak, Ziaruo telah memutuskan, untuk memiliki ketenangan hati, ketika ia pergi nanti.
Baginya keamanan, serta ketenteraman kekaisaran Zing, serta keselamatan suaminya, adalah salah satu sumber ketenangan, tubuh, jiwa, dan pikirannya sekarang.
''Paduka...apakah di izinkan, jika permaisuri ingin sedikit memberikan bantuan?.'' Tanya Ziaruo pelan.
Ia sangat ingin membantu Jing suaminya.
Namun, keputusan serta izin darinya(Jing), juga termasuk yang ia perhitungkan.
Oleh karena itu, dengan bermanja, serta memasang wajah lembut khas miliknya, Ziaruo mengutarakan niat tersebut.
__ADS_1
''Yang mulia, anda jangan langsung memutuskan, mohon dengarkan penjelasan permaisuri dulu.'' Lanjutnya lagi.