
''Jika kau harus pergi, maka pergilah dengan tenang,
jangan menoleh kembali kebelakang.
Jika tak mampu melakukan hal itu, biarlah aku yang berjalan menjauh meninggalkanmu.''
Suara wanita itu, terhenti sejenak.
Ia menundukkan wajah, dan membenamkan kepala jauh lebih dalam, kedalam pangkuan sang suami.
''Maafkan aku suamiku, karena keegoisankulah semua ini terjadi.'' Ucapnya lagi, namun kali ini jauh lebih pelan dari sebelumnya.
Sementara itu, sang suami hanya diam dengan mata terpejam, serta wajah menengadah menghadap langit-langit ruangan disana.
Hatinya terasa sesak saat ini, tubuh gagahnya terasa lemas tanpa tenaga.
Perlahan, ia sandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
Namun, tidak menggerakkan dan mengganti posisi duduk ataupun menggerakan pahanya.
Pria itu tak ingin membangunkan sang istri, yang baru saja tertidur, dengan posisi bersimpuh di lantai, dan kepala yang di letakkan di atas pangkuan.
Ia, wanita tersebut adalah Ziaruo, permaisuri sekaligus istri satu-satunya kaisar Murongxu, pemimpin salah satu dari 4 kekaisaran kerajaan Awan yang termasyur.
Setelah tidak lagi terdengar, suara dari atas pangkuan, pria tersebut menegakkan punggung gagah miliknya, dari posisi bersandar.
Perlahan membuka mata hitam pekatnya, mengusap lembut pucuk kepala wanita yang sangat ia kasihi selama ini.
Mata pekatnya menatap lekat, wajah sang istri pada setiap jengkal.
Seolah setelah hari ini akan sulit baginya, untuk menikmati momen-momen seperti sekarang.
Sebenarnya, ia mendengarkan baik-baik setiap kalimat yang di ucapkan Ziaruo.
Namun, ia tetap diam dan hanya mendengarkan saja, tanpa berkomentar apapun.
Karena baginya, setiap ucapan istrinya saat ini, sangatlah berharga.
Jadi, ia ingin mendengar lebih banyak lagi meskipun, ada beberapa kata perpisahan dari sang istri, yang melukai hati dan jantung di tubuhnya, ibarat sebilah pisau yang meng*ris pelan pelan, serta meny*yat setiap inci.
Akan tetapi, meskipun demikian ia tetap diam dan hanya menahan perih, serta luka tak berdarahnya.
Perlahan Murongxu menggerakan tangan, menyelimuti sang istri dengan kabut tipis.
Dan di saat itulah, tampak dari tubuh wanita tersebut, sebuah cahaya emas melesat keluar.
Dengan sigap, cahaya keemasan tersebut di genggam oleh murongxu, dan menghilang di balik telapak tangan pria tersebut.
Di angkatnya, tubuh ramping sang istri yang tertidur, dengan kepala diatas pangkuannya dengan lembut, membawanya keatas pangkuan seolah tubuh sang istri, adalah bayi besar yang masih ingin ia manjakan.
Dengan penuh perasaan, Murongxu mencium kening wanita itu, sekali, ... dua kali dan ..... hingga beberapa kali.
__ADS_1
Murongxu tak dapat menggambarkan, tentang perasaannya saat ini.
Baginya, sekarang adalah saat terpuruk dalam sejarah hidupnya.
Tanpa terasa bulir bening mengucur dari ujung mata, bahkan ada beberapa tetes bersarang di atas wajah putih wanita yang kini tertidur lelap tersebut.
Tampak jelas wanita itu tertidur dengan nyaman disana, dan seolah tak terusik sama sekali. Tubuh itu masih tetap tenang, di atas pangkuan.
''Meskipun nanti kau melupakanku, aku tak ingin tubuhmu disentuh oleh pria lain, karena jika hal tersebut terjadi, aku pasti gila mengetahuinya.'' Ucapnya lirih, sembari mendaratkan kembali, beberapa ciuman lembut kesetiap bagian wajah sang istri.
Hatinya terasa lebih sakit, ketika ia membayangkan ucapannya sendiri.
Seolah, ia bisa melihat saat istrinya tengah bersama seorang pria, dan pria tersebut bukan dirinya.
Hatinya bergemuruh, nafasnya terasa pendek dan cepat. Di peluknya erat-erat tubuh itu, di ciumnya lagi seluruh bagian wajah cantik istri tercintanya.
Murongxu, tak lagi memperdulikan, tetesan bulir airmata yang mengucur dari mata tajam pekatnya.
Ia berpikir, saat ini dirinya adalah satu-satunya pria, yang paling menderita di seluruh jagat raya.
"Meskipun, kita akan berpisah hanya untuk 2 purnama saja, mengapa aku merasa akan sulit melewatinya?.'' Lanjut kaisar Murong, dengan bulir bening dipipi tegasnya.
''Jadi biarkan aku memelukmu malam ini, tidurlah dalam pangkuanku hingga besok.
Kau harus menungguku untuk membangunkanmu kembali, setelah 2 purnama mendatang. Aku mencintaimu....aku sangat mencintaimu...'' Ucapnya lagi, dan masih dengan nada lirih.
Kaisar Murong, kembali mencium kening, mata, serta beberapa kali ******* bibir sang istri, yang tengah tertidur lelap didalam dekapan hangat tubuh gagahnya. Seolah ia enggan melepas tubuh bisu sang istri.
**( 2 purnama di kerajaan awan \= 60 tahun di kerajaan bumi/dunia manusia* imajinasi )**
Mengetahui waktu sudah menjelang pagi,
ia mulai menggerakkan tubuhnya yang terasa mulai kaku.
Karena semalam memangku, serta memeluk tubuh sang istri, tanpa melepaskanya barang sedetikpun.
Perlahan, dibopongnya tubuh ramping yang diam membisu itu, yang eolah tengah dalam posisi tertidur.
Di baringkannya dengan lembut, di atas ranjang besar nan indah, di samping tempatnya duduk semalam.
Ditutupi tubuh tersebut dengan selimut hingga sebatas dada, ia kembali mencium kening, serta ke dua mata sang istri.
Dan entah itu, untuk yang ke berapa kali ia lakukan.
Ditutupnya kelambu sutra pada ranjang, sebelum akhirnya ia harus melangkahkan kaki menuju pintu keluar dari kamar.
Langkah panjang kakinya mulai berjalan pergi, namun sebelum membuka pintu kamar tersebut, kaisar Murongxu menghentikan langkah, menggerakan tangannya pelan, seolah sedang menghempas sesuatu.
Tiba-tiba saja, muncul sebuah cahaya keemasan sesaat.
Pelan namun pasti, cahaya tersebut berubah menjadi sosok cantik, sosok tersebut menyerupai permaisuri ziaruo, bukan hanya mirip namun bisa di bilang sama persis.
__ADS_1
Karena sosok tersebut adalah jiwa dari Ziaruo sendiri, yang akan menemani sang suami, menerima hukuman dari guru besar Xio, namun dengan tubuh baru yang tercipta dari kultivasi Murongxu.
"Apakah kau sudah siap permaisuri?.'' Tanya kaisar Murong lembut.
"Saya sudah siap yang mulia." Jawabnya lembut pula, namun dengan tatapan sendu.
Meskipun sosok itu hanya tiruan, akan tetapi tetap saja dia adalah permaisuri Ziaruo, karena jiwa yang mengisi tubuh ciptaan tersebut, asli milik sang permaisuri.
Hanya saja, dengan tubuh berbeda, yaitu tubuh yang di ciptakan oleh kaisar Murong. (Dari 30 tahun kultivasinya.)
''Aku harap, kau akan menjaga hatimu permaisuri.'' Ucap sang kaisar, dengan nada bergetar serta terasa berat.
Ucapan tersebut ibarat sebuah permintaan dengan nada perintah, dan hal itu di utarakan oleh sang pria, sebelum berjalan menuju tempat sang guru, untuk menerima hukuman atas kesalahannya, yang telah mengambil mutiara suci, di dalam gua penyegel.
Meskipun, kesalahan tersebut dilakukan oleh kaisar Murong, akan tetapi karena dirinyalah, penyebab atas tindakan sang kaisar, yang nekat mengambil sesuatu hal bukan (belum) menjadi miliknya.
''Aku akan menjaga hatiku dengan sebaik mungkin, hingga kita bersatu kembali suamiku.'' Gumamnya dalam hati, sambil mensejajarkan langkah kaki dengan kaisar Murong.
Namun....
''Ika ...ika...bangun sayang ...bangun, itu hanya mimpi, bangunlah!.'' Pinta nyonya Ranti dengan menggerak-gerakan tubuh putrinya, yang sedari tadi menangis dengan mata terpejam.
"Ibu ...aku bermimpi lagi bu, tapi kali ini aku bisa mengingat tentang mimpiku itu bu.'' Jawab Rahartika sambil memeluk sang ibu, ketika ia telah membuka matanya.
Nyonya Ranti membalas pelukan tersebut, karena hanya itulah yang dapat ia lakukan, saat putrinya mengalami mimpi yang selalu datang.
Seperti yang di ucapkan gadis itu, kali ini kilasan mimpinya tersebut lebih jelas,
meskipun wajah-wajah di sana masih sedikit kabur.
Dia memang selalu tidak akan bisa mengingat, wajah-wajah di dalam mimpinya.
Namun, dia dapat dengan pasti mengatakan bahwa mimpi-mimpinya selalu sama.
Sementara itu di kediaman keluarga Wijayadiningrat, tepatnya di dalam sebuah kamar.
Rasya tiba-tiba tersentak bangun dari tidur, ia mengucek mata beberapa kali, keningnya masih mengernyit, seolah tengah menemukan sesuatu yang menarik.
''Ziaruo, ternyata itu kamu ...'' Ucapnya pelan.
''Ternyata seperti itu ...mimpi-mimpiku selama ini, mungkin bukanlah sekedar mimpi, dan kau memang untukku.'' Lanjutnya kembali, masih dalam mode gumaman.
Rasya tersenyum bahagia.
"Dreeett...dreeettt..dreeett.
Suara phonsel bergetar
Mendengar suara getar tersebut, Rasya melirik jam diatas meja, terlihat disana pukul 1.47 dini hari, ia meraih benda kecil ajaib, dan melihat siapakah yang menelponya di tengah malam seperti itu. Matanya membelalak melihat nama Yolan tertera di sana.
"Dasar perempuan g*la, memangnya kamu itu mbak *KUNkunjanTI* apa?, tengah malam menelpon.'' Gerutu Rasya, ia kesal dan membalik telepon selulernya, sebelum kembali membaringkan tubuh, dan berharap melanjutkan mimpinya kembali.
__ADS_1