Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 147.


__ADS_3

Tanpa mengindahkan semua orang yang disana, Ziaruo mengusap lembut wajah Jing, seraya berkata. ''Jangan lagi menjadi seperti hewan buas Yang mulia. Meskipun, nantinya kita tak lagi bersama.''


Wanita menghela nafas sejenak, ia merasa ada sebuah gejolak yang tak dapat difahami didalam hati.


Dan dengan helaan itu, Ziaruo ingin menghilangkan perasaan tersebut.


''Ingatlah, pertemuan, perpisahan, hidup, dan kematian, adalah bagian dari seni sebuah takdir.'' Lanjut Wanita itu kembali.


Sebuah ucapan yang sesungguhnya ia tujukan untuk menguatkan hati kecilnya sendiri.


Di sela kecemasan, atas kehamilan, dan sisa waktunya yang terbatas.


''Jikapun kita harus terpisah, setidaknya akan ada dia bersama anda.'' Sambung Ziaruo lagi, dalam diamnya. Dengan mengacu kepada, calon bayi didalam kandungannya.


Wanita itu, mengetahui bahwa jarak, dan batas keberadaannya di dunia ini, telah di ketahui oleh sang suami.


Akan tetapi, ia tetap berpura pura seolah tidak menyadari semuanya, dan tetap bersikap seperti biasa.


Wanita itu bertindak seakan, dirinya tengah menyebunyikan, tentang batas waktu kehidupannya yang semakin menipis.


Hal ini, bertujuan untuk memberikan sedikit harapan kepada Jing, akan sebuah sangkalan kenyataan, tentang keadaannya saat ini.


Terlebih lagi, Ziaruo mengerti bahwa sekarang, pria tersebut masih bimbang dengan apa yang ia inginkan, menyangkut keingin tahuannya tentang dirinya.


Sementara itu, mendengar ucapan tersebut, hati Jing seakan hendak luruh dan seperti di cabik-cabik.


Dengan suara pelan, ia bergumam. ''Tapi, tidakkah dewa melihat dan ikut berbahagia, atas kebersamaan kita?, aku lebih memilih untuk mati lebih dulu Yun...Atau bahkan jika mungkin, kita pergi kenirwana secara bersama-sama.''


''Hatiku sakit, bahkan duniaku seolah akan hancur, ketika aku mengetahui darinya(Murongxu), dan sekiranya tidak akan lagi ada keburukan yang akan kulakukan, seperti nanti ketika kau pergi.'' Sambungnya lagi dalam pikiran.


Ia tak ingin Ziaruo mengetahui, apa yang telah ia ketahui. Meskipun, pernah terucap sekali, ketika mereka berada di Nancang.


Jing ingin mengatakan segala pnyangkalannya melalui tindakan, bahwa ia tidak mempercayai kenyataan tersebut.


Akan tetapi, sebuah kenyataan pada hakikatnya, adalah sebuah kebenaran yang tak dapat di tutupi, ataupun di manipulasi.


Sebuah kebenaran akan jauh lebih sulit disembunyikan. Dan hanya dapat berusaha menutupinya rapat-rapat. Namun, yakinkah bahwa itu akan bertahan lama?.


Kaisar Jing menghela nafas panjang sejenak, ia berusaha menutupi keinginannya yang besar, untuk mendengar secara langsung, tetang kebenaran tersebut.


Akan tetapi di sisi lain, ia juga takut dengan jawaban, yang akan keluar dari bibir sang Permaisuri.


Sementara itu, Menyadari atas dilema yang tengah di alami oleh suaminya, Ziaruo berusaha mengalihkan perhatian.

__ADS_1


''Yang Mulia, bersediakah anda menemani wanita ini untuk sejenak berkunjung ke kediaman Gu?.'' Tanya wanita itu, dengan tatapan penuh harap.


Senyuman serta tatapan itu bagi Jing, ibarat tetesan embun di pagi hari, yang menyejukan diantara hijau dedaunan.


Kaisar tersebut, benar-benar tak dapat berkutik, ia tak memiliki kekuatan serta keteguhan hati, untuk mematahkan harapan sang Permaisuri.


Oleh karena hal itu, dengan menggerakan tangannya perlahan, ia menyentuh jari-jari lantik sang Permaisuri, dan berkata. ''Baiklah, pria ini, akan mengantarmu ke kediaman Gu.''


Sebuah jawaban singkat meluncur lembut, serta tenang dari bibir Jing. Ada ketidak berdayaan terlukis jelas di wajah tersebut.


Sebuah ketidak mampuan untuk melukai, mengecewakan, dan juga mematahkan harapan sang kekasih hati.


''Tapi tidak hari ini Yun, itu akan di lakukan dua hari mendatang, setelah acara perburuan, yang di adakan besok pagi.'' Sambung sang kaisar lagi.


Pada akhirnya, Ziaruo memperoleh kerelean, serta izin dari pria tersebut, bahkan kaisar Jing bersedia menemaninya datang berkunjung.


''Terimakasih, aku tahu anda memiliki pemikiran yang terbuka, dan wanita ini merasa beruntung bisa menjadi pendamping hidup anda Yang Mulia.'' Jawab Ziaruo dengan tatapan lembut, serta berhiaskan senyuman, di ujung bibirnya.


''Sudahlah, kau paling tahu, bahwa kau tidak akan mungkin bisa menolakmu.'' Lanjut Jing lagi.


Pria tersebut, meraih cangkir teh yang tersaji di depannya.


Menyesap perlahan teh panas yang telah menghangat tersebut.


Mendengar ucapan itu, Jing reflek menoleh kearah tengah aula.


''Yang mana?.'' Sahutnya penasaran.


'' Wanita dengan tusuk Giok hijau muda, bukankah tampak aneh?.'' Ucapnya lagi.


''Heeem...biasa saja....'' Jawab Jing lagi.


Pria itu menjawab apa adanya, sesuai dengan apa yang ia pikiran.


Akan tetapi, tiba tiba saja ia mengingat sebuah ucapan, bahwa Wanita hamil terkadang, suka menginginkan sesuatu yang aneh-aneh.


Dengan tatapan antusias kearah Ziaruo, Jing balik bertanya. ''Apa Permaisuri menginginkan Giok itu?.''


''Haaah...'' Ziaruo membulatkan matanya lebar, ia tidak menduga, bahwa suaminya mengambil kesimpulan, yang jauh melenceng dari apa yang ia gambarkan.


''Bukan....Coba perhatikan dengan baik, bukankah aneh seorang penari biasa, mampu memiliki perhiasan dengan kualitas sebaik itu?.'' Tambah Ziaruo lagi, menjelaskan.


Mendengar sang Permaisuri memuji perhiasan, salah satu penari di sana, Jing mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Dengan pikiran yang merasa aneh, ia kembali melihat wanita itu.


Selang beberapa saat, ia kembali berkata lirih. ''Setelah kuperhatikan, sepertinya wajah itu tidak asing, aku pernah melihatnya, tapi... Dimana?.''


''Apakah dia salah satu wanita anda yang mulia?.'' Goda Ziaruo kepada Jing.


''Bukan.'' Pekik Jing reflek.


Ia takut sang permaisuri salah faham kepadanya.


Baginya, meskipun wanita itu adalah miliknya dulu, sebisa mungkin ia akan mengabaikan.


Akan tetapi, pada kenyataannya ia memang tak mengenal baik wanita tersebut, namun entah mengapa wajah itu, terasa familiar baginya.


Seolah ada perasaan, ia pernah melihatnya entah dimana di suatu tempat.


Ziaruo mampu mengetahui pemikiran tersebut, wanita itu terkekeh kecil.


''Mengapa kau tertawa?, apa kau menyangsikan ucapan pria ini?.'' Tanya Jing lagi.


Kali ini ada sorot kecemasan pada mata tersebut dari dalam hatinya, dan itu jelas terpancar disana.


Melihat gelagat sang suami, Ziaruo tersenyum, dan menjawab. '' Tidak Yang Mulia...Anda jangan khawatir, Permaisuri tak akan melakukan hal itu kepada anda.''


Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, sbelum akhirnya melanjutkan ucapannya. ''Jikapun dimasa lalu, dia memang wanita anda, itu bukanlah suatu masalah besar.''


''Tapi, dia memang bukan salah satu wanitaku Yun, aku hanya merasa pernah melihatnya saja.'' Sahut Jing lagi.


Pria tersebut merasa frustasi, seolah ia tengah tertangkap, sedang melakukan tindakan yang memalukan.


Menyaksikan hal itu, Ziaruo kembali terkekeh kecil, ia merasa bahwa pria yang terkenal dingin, dan kejam tersebut sungguh menggemaskan.


''Sudahlah...saya hanya bercanda, sampai kapanpun, wanita ini akan selalu mepercayai ucapan anda.'' Jawab Ziaruo, berusaha menenangkan pikiran Jing.


''Sebentar lagi, perjamuan akan usai, wanita ini berharap anda tidak memakan, ataupun meminum, sesuatu dengan aroma bunga, yang akan di sajikan.'' Sambung Ziaruo lagi. Namun kali ini, hanya ia bisikan di dekat sang suami.


Seakan, ia tengah menghindari pendengaran orang lain, dari pembicaraan yang tengah mereka lakukan.


''Mengapa?.'' Tanya Jing keheranan.


''Anda akan tahu nanti.'' Jawab wanita itu lagi, dengan penuh percaya diri.


''Akan ada kejadian apalagi sekarang?.'' Gumam Jing dalam diamnya.

__ADS_1


__ADS_2