
"Jangan pukuli dia lagi, ini buat kakak, saja." Ucapnya sambil menyerahkan sebuah phonsel, kearah ketiga pemuda yang tadi memukuli, dengan mata berkaca-kaca miliknya.
Tindakantersebut, membuat ketiga pria yang tadi menjadi tukang pukul dadakan, merasa ragu untuk mengambil phonsel gadis kecil di depan mereka.
Sontak ketiganya saling pandang mencari suatu jawaban, akan mengambil phonsel tersebut atau tidak.
"Tidak ..jangan kau berikan phonselmu, itu terlalu mahal untuk menggantikan phonsel jelek miliknya.'' Ucap pemuda yang tadi dipukuli, sembari menarik tas gadis kecil tersebut kebelakang, seolah ingin menjaga sang gadis dan phonselnya.
"Jangan lakukan apapun padanya, dia tidak ada hubunganya denganku, bahkan aku tidak mengenalnya.'' Tambahnya lagi.
Pemuda itu berusaha membangunkan tubuhnya, ia berdiri menghadang melindungi gadis kecil itu, dari ketiga orang yang marah kepadanya.
Melihat hal tersebut, salah satu dari ketiga pemuda tadi maju, ia berjongkok di depan gadis kecil, dan tentu saja dengan mendorong pemuda yang tadi dipukuli terlebih dahulu.
Karena memang tubuhnya(pemuda yang dipukuli ), menutupi tubuh mungil gadis kecil itu.
"Apakah kau tidak ingin kami memukulnya?.'' T.anyanya dengan nada pelan, dan hanya di jawab anggukan oleh gadis itu.
"Baiklah ...karena kakak juga bukan orang yang kaya, maka kakak akan menerima phonselmu, sebagai ganti phonsel yang di jual oleh kakakmu.'' Ucapnya, sembari mengambil phonsel milik Rahartika.
Dilihatnya telepon genggam itu, di bolak balik beberapa saat, sebelum kembali mendekat, ke arah pemuda yang tadi ia dorong hingga terjatuh.
"Jika adikmu memiliki barang yang mahal, mengapa kau harus mengambil dan menjual barang orang lain?.'' Ucapnya sinis, sambil menatap ke arah pemuda itu.
"Karena aku bukan seorang p*nc*ri sepertimu, ini ambil sebagai uang kembalian untuk phonsel adikmu itu.'' Ucapnya lagi kepada pemuda itu, sambil melemparkan 2 lembar uang 50.000an.
"Dia bukan adikku!.'' Teriaiknya keras.
''Dan aku, tidak mau uangmu, kembalikan phonsel itu b*d*h, dia bukan adikku.'' Pekik pemuda yang tadi di pukuli, sembari berusaha bangun serta melemparkan uang, kepada pemuda yang membawa telepon genggam milik Rahartika.
Dengan tubuh terhuyungnya, ia berusaha merebut phonsel milik Rahartika kembali.
Namun, dia bukanlah lawan bagi ketiga pemuda tersebut, dengan tubuh lemah hanya dengan satu dorongan saja, tubuhnya kembali roboh ketanah.
Geram dan marah pada dirinya sendiri, itulah perasanya sekarang, ia mengepalkan tangannya, serta memukul tanah beberapa kali.
"Kakak..ayo aku bantu berdiri." Ucap Rahartika, sambil berusaha menarik tangan pemuda, yang kini tengah bersimpuh di tanah itu.
Mendengar suara gadis tersebut, pemuda itu menoleh, menatapnya lekat di depanya, ada wajah cantik dengan pipi cuby, serta mata sembab habis menangis untuknya.
"Ciih, ternyata masih ada ya orang b*doh seperti dirimu.'' Ucapnya reflek.
__ADS_1
Sebenarnya, ia ingin memarahi gadis kecil itu, tapi melihat wajah imut menggemaskan, serta matanya yang berkaca kaca karena menangis untuknya, pemuda itu menjadi tidak tega, ada perasaan hangat di dalam relung hati kecilnya.
"Sebenarnya yang b*doh di sini adalah kakak, sudah tahu tidak ikut punya, tapi masih saja berani menjualnya.'' Jawabnya lugas tanpa rasa bersalah. Gadis kec itu sedikit memanyunkan bibirnya.
"Apa katamu..?.'' Pekik reflek pemuda tersebut, namun setelah beberapa saat memikirkan, ucapan gadis kecil di depannya, ia terdiam dab menatap lekat makhluk indah ( menurutnya )di hadapannya, sebelum akhirnya tertawa keras.
"Ha...ha..ha...ha... aakkhhggg.''
Dengan bibir yang biru, serta ada sedikit robekan kecil disana, pemuda itu merasakan sakit.
Melihat hal tersebut, Rahartika tersenyum dan berkata. "Tuh kan, kakak memang b*doh dan sepertinya, k* b*dohan kakak hampir tidak tertolong lagi, sudah tahu bibirnya sakit, tapi masih ingin tertawa lebar."
Mendengar setiap ucapan polos dari gadis kecil di depannya, ia reflek mengusapan kepalanya.
Pemuda tersebut merasakan kenyamanan dari perhatian, serta kepedulian sang gadis kecil, ia tersenyum dan berucap. ''Lain kali, jika ada kejadian seperti ini lagi, jangan pernah datang mendekat, panggil orang orang dewasa saja, ...apa kamu mengerti?.''
Pemuda itu, tidak bermaksud memarahi sang gadis, namun ia ingin gadis lucu serta imut itu, tidak membahayakan dirinya seperti tadi.
"Tapi sepertinya, jika Ayah dan ibu yang menolong, mungkin masih ada kemungkinan untuk menghilangkan kebodohanya Sayang.'' Terdengar suara tenang, serta teduh dari arah yang tak jauh dari tempat mereka berdua.
Mendengar suara tersebut, mereka berdua menoleh kearah sumber suara.
Begitulah, seberani apapun dirinya, Ayah dan ibunya adalah tempat berlindung terbaik baginya.
"Maafkan ibu terlambat menjemput, ibu harus menunggu ayah dulu, karena ingin ikut menjeput putri tercintanya.'' Ucap sang ibu penuh kelembutan.
Tapi kami bangga, ternyata putri kami sudah besar dan bisa berpikir serta bertindak secara bijak." Tambah sang ibu, sembari memeluk serta mencium pucuk kepala putrinya, menghilangkan kecemasan beberapa saat lalu.
Ketika gadis itu, dengan berani membantu pemuda tersebut yang di pukuli. karena sebenarnya mereka sudah sampai di sana, serta melihat semua kejadian, tentu saja dengan persiapan Av*nger full power , jika terjadi sesuatu yang akan membahayakan sang putri.
¤ flash back off ¤
Jam dinding menunjukan pukul 11.45 siang, pada sebuah acara perpisahan / wisuda di sebuah gedung sekolah.
Sederatan acara telah di tampilkan, untuk menghibur dan menyambut semua para tamu undangan acara tersebut.
Di sana, di antara deretan tamu undangan Rasya hadir, pemuda tersebut duduk pada bangku deretan keluarga Rartika, seperti yang sudah di ketahui, bahwa setelah perkenalanya dengan gadis itu. Rasya memaksimalkan pendekatanya, bahkan ia sudah meminta pertimbangan sang Ayah ( Wijaya ) untuk segera mempersunting Rahartika.
Tentu saja, hal itu di setujui tanpa pikir panjang lagi oleh ayahnya.
Oleh karena itu, Rasya selalu ada dimanapun sang pujaan hati berada, serta ikut menikmati atau menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa penting gadis tersebut.
__ADS_1
Jadi tentu saja, ia harus hadir pada saat ini, meskipun harus mengskip beberapa jadwal kerjanya.
Rasya juga sudah banyak mengenal teman teman dari Rahartika, bahkan dia juga sudah memiliki daftar hitam nama-nama teman pria gadis tersebut ( Nama-nama pengagum yang mengancam perjuangannya mendapatkan Rahartika. Tentu saja versi Rasa wijayadiningrat).
Entah sejak kapan, ia berubah menjadi seorang yang kurang rasional jika bersangkutan dengan pujaanya tersebut.
Namun, dengan ketampanan serta kekayaan yang ia miliki, dalam waktu singkat hampir semua teman teman wanita Rahartika sudah mengenalnya, tentu saja mereka yang mengenalnya, namun dirinya tidak mengenal mereka, terkecuali untuk teman teman dekat Rahartika saja.( vania dan nayla ).
Mata Rasya menatap ke atas podium, dengan tangan memegang ponsel canggih miliknya, ia ingin mengabadikan setiap penampilan gadis yang berdiri di atas sana.
¤ ""....kata kata .....""¤ (ucapan Rahartika sebagai sambutan pembuka, untuk menyapa, memberi salam, serta memberi hormat kepada anggota dewan sekolah, para guru, wali murid, siswa siswi ( kelas 12) atau teman teman nya, adik kelas11 dan kelas 10, serta untuk semua orang yang hadir disana)
Sahabat sahabat semua, apapun yang terjadi di masa muda kita, baik itu sebuah kebersamaan, sebuah kebaikan, sikap kek*nyolan kita, kekompakan, riak riak pertengkaran diantara kita, bahkan semua kesalahan kita selama belajar di sini, semoga hal tersebut memberikan pembelajaran, untuk menjadikan diri kita semua menjadi lebih baik lagi.
Bukankah pelangi terlihat indah karena perbedaan warnanya?, seperti itulah kita.
Ibarat sebuah lukisan lukisan berharga, dengan perbedaan warna guratan, untuk menciptakan keindahan dan sebuah hasil menakjubkan.
Sebuah perjalanan, sebagai jembatan panjang menyambut impian kita semua.
Terimakasih bapak guru, terimakasih ibu guru, Anda adalah orang tua kedua bagi kami, orang orang yang juga kami hormati dan cintai, anda juga pemilik peran penting dan besar dalam proses belajar serta pendewasaan kami.
Sebuah proses menentukan warna warna kami, dalam membentuk karakter dan kepribadian.
Layaknya pelangi yang terbentuk setelah hujan ataupun badai, begitupun kami siswa siswi anda, yang menjadi lebih pandai dan memahami tentang pengetahuan akan ilmu serta kehidupan.
Dengan pengajaran, pembelajaran, serta pendisiplinan(hukuman saat melakukan kesalahan) dari Anda, kami menjadi seseorang yang seperti sekarang.
"Ibu guru...bapak guru, selamanya kami adalah putra dan putri anda, kami adalah pelangi pelangi lukisan anda.''
''Maaf....maaf .... dan mohon selalu maafkan setiap kesalahan serta kekhilafan kami, baik kesalahan kami yang di sengaja, maupun kesalahan yang tidak kami sadari." Ucap Rahartika dengan suara lembut, namun jelas pula terdengar ada isak tangis lirih dari bibirnya.
Kami mencintai anda, kami menghormati anda semua.
Kami adalah pelangi guratan guratan kasih sayang serta bukti budi baik ketulusan anda.
Terimakasih atas setiap perhatian dan kesabaran anda, bapak ibu guru tercinta, selamanya budi baik serta ajaran anda akan kami simpan serta menjadikannya pedoman untuk menempuh masa depan kami...Terimakasih.'' Lanjut Rahartika, mewakili semua sahabat sahabatnya.
Entah karena perasaan haru, ataukah karena ucapan yang mewakili hatinya untuk semua guru di sana, airmata gadis cantik tersebut menetes, ia membungkuk sebentar kearah deretan bangku dimana semua dewan guru dan anggota perangkat sekolah duduk, gadis itu juga membungkuk kearah semua tamu undangan sejenak, sebelum turun dari atas panggung.
Dan ..prok..prok...prok....terdengar tepuk tangan dari semua orang yang berada di dalam gedung tersebut.
__ADS_1