Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 131 Kemarahan jendral Feng


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan istana.


''Apa yang ingin anda lakukan Yang Mulia?, jangan gegabah, segalanya mungkin adalah sebuah kesalahfahaman.'' Ucap seorang pria dengan wajah kebingungan.


Namun, wanita yang dipanggilnya sebagai Yang Mulia tersebut, seolah tak mengindahkan pendapatnya.


Dengan cepat ia berdiri, dan beranjak menuju sebuah ruangan tak jauh dari tempatnya berada.


''Aku harus melakukannya Jendral Feng, atau segalanya akan di luar kendali kita.'' Jawab wanita itu dengan yakin.


Wanita yang tak lain adalah, Janda permaisuri atau ibu dari kaisar Jing tersebut, tampak yakin dengan setiap keputusan yang ia ambil.


Bahkan, meski sang Jendral setianya berusaha mencegah, ia tak merespon sama sekali.


Dengan langkah pasti, Wanita itu memasuki ruang kerja sang putra.


Ia menuju sebuah kotak tersembunyi di balik laci besar, yang berada tepat di belakang meja kerja kaisar Jing.


''Aku terpaksa melakukan ini untukmu, segalanya akan baik baik saja jika kau tidak melawanku Jing.'' Gumam sang ibu ratu lirih.


Melihat hal tersebut, Jendral Feng segera menghampirinya, serta berusaha mencegah perbuatan sang Janda permaisuri.


''Apa yang kau lakukan?, kau ingin menggoyahkan tahta putra kita?.'' Ucap sang pria dengan tangan yang menarik wanita itu, serta membawanya didalam dekapan.


Mendapat perlakuan tersebut, Janda permaisuri memukul jendral Feng tepat di wajahnya.


Wanita itu merasa geram, kepada pria yang selama ini setia kepadanya. ''Beraninya kau, lepaskan..lepaskan kataku.'' Ucapnya dengan suara agak keras.


Sesungguhnya, disana ada banyak pasang mata yang mengetahui segalanya.


Akan tetapi, siapakah mereka yang akan berani menahan, mencegah, ataupun bergunjing tentang keduanya.


Hubungan mereka adalah rahasia umun di istana, khususnya istana dalam kekaisaran Zing.


Mungkin hanya kaisar Jing saja, yang tidak mengetahui tentang kebenaran diantara keduanya.


''Pukulah...lakukan apapun kepadaku, tapi jangan kepadanya, dia adalah putraku, putra kita.'' Sahut sang pria dengan suara yang tak di tahan lagi.


Jendral Feng memegang kedua pundak janda permaisuri, dan membawanya tepat di hadapan wajahnya.


Kedua wajah itu bersitatap sejenak, sebelum akhirnya Feng kembali berkata. ''Kau boleh menyakitiku untuk kemulyaanmu, kau boleh membuangku untuk singgahsana itu.''


Pria tersebut tampak begitu serius menatap wanita itu, ia menghela nafas dalam sejenak, sebelum melanjutkan ucapannya. ''Tapi, jangan lakukan itu kepadanya, atau aku akan...''


Ucapan Feng tidak terselesaikan, ia menatap nanar wajah janda permaisuri, ada perasaan bercampur aduk di dalam hatinya.


Akan tetapi, mendengar ucapan sang Jendral, Janda permaisuri menjadi geram dan menjawab. ''Atau apa? apa hah?, apa yang ingin kau lakukan kepadaku?.''


Janda permaisuri seolah kehilangan akal, ia merasa terkejut dengan sikap jendral Feng, yang tiba tiba saja berani mengancamnya.


''Katakan, apa yang akan kau lakukan kepadaku?.'' Lanjut Wanita itu kembali, sembari memukul lagi, dada sang Jendral.


''Jika kau melukainya lagi, aku akan mati dan membawamu bersamaku, aku akan membunuhmu terlebih dahulu dan menemanimu di neraka bersama.'' Jawab Feng dengan suara pelan, namun penuh dengan penegasan.

__ADS_1


Akan tetapi, sepelan apapun suaranya, masih dapat di dengar jelas oleh sang Janda permaisuri.


''Kau telah menghancurkanku, menghancurkan wanita itu( istri dan jendral Feng), putriku, bahkan kau juga menyebabkan kematian untuk putra keduamu, apakah kau masih ingin menghancurkan putra kita Lexue?.'' Lanjut Feng dengan tatapan sendu.


''Biarkan dia mengurus tahtahnya, dia raja yang hebat Lexue...jangan menggangunya lagi, ayo kita pergi ketempat terpencil, dan bermeditasi untuk pengampunan dosa dosa kita.''


Jendral Feng berusaha membujuk Wanita tersebut, agar mengurungkan niatnya, mengambil segel kekaisaran milik Jiang jing wei.


Ia merasa Janda permaisuri saat ini, tengah dibutakan oleh kecemburuan, atas kedekatan sang putra dengan Permaisuri Yun.


Oleh karena itu, ia bermaksud mengambil segel kekaisaran, untuk di gunakan mengancam kaisar Jing, agar tetap patuh kepadanya.


Akan tetapi, ia tidak memahami sesungguhnya, sang putra telah banyak menyimpan kekecewaan terhadap dirinya, sejak peristiwa racun yang ia berikan kepada pria tersebut.


Ditambah lagi, kaisar Jing kecewa, atas setiap tindakan buruk yang telah ia lakukan untuk sang permaisuri (Ziaruo).


Namun, janda permaisuri berfikir kaisar Jing tengah terpengaruh oleh bujuk dan rayu sang istri, sehingga pria tersebut berani melawan dirinya.


Oleh karenanya ia berinisiatif untuk membatasi gerak gerik sang kaisar, menggunakan segel kekaisaran.


''Apa maksudmu?, apa yang kulakukan untuk menyakitinya?.'' Kilah wanita itu dengan tangan, yang kembali memukul dada jendral Feng.


''Aku tidak melakukannya untuk diriku, aku tidak melakukannya dengan niat menyakitinya, aku ibunya...aku yang melahirkannya.'' Ucap wanita itu lagi, kali ini wanita itu mulai terisak dengan penuh kesedihan.


Melihat hal tersebut, Jendral Feng merasakan sakit didalam hatinya, dengan kedua tangan kekarnya ia merengkuh tubuh wanita tersebut.


''Ia ...kau tidak sengaja melakukannya, kau tidak akan berniat buruk kepadanya dengan sengaja, maafkan aku..maafkan aku.''


Pria tersebut mengecup pucuk kepala janda permaisuri beberapa kali, ia ingin menenangkan wanita tercintanya.


Mungkin ia adalah pria yang di khususkan oleh takdir, sebagai pembuktian atas sebuah peribahasa, bahwa cinta itu buta.


''Jendral Feng memiliki mata lengkap dan sempurna dalam penglihatan, namun karena cintanya yang besar, ia tak dapat melihat kekejaman sang wanita terhadap orang lain, bahkan kepada putranya sendiri.


Jendral Feng menutup mata, atas setiap kesalahan, serta memaafkan perbuatan buruk Lexue, dimasa lalu terhadap dirinya.


Bahkan, ia adalah pendukung serta satu satunya anggota dewan kekaisaran, yang kesetiaannya tak patut untuk di sangsikan.


Dengan mimik wajah yang berusaha setenang mungkin, Feng membantu Lexue berjalan menjauh, dari tempat segel kekaisaran tersimpan.


''Ayo aku akan mengantarmu kembali kepavilliun milikmu.'' Ajak sang Jendral, kepada janda permaisuri.


''Kalian, jangan ada yang membuka suara untuk kejadian hari ini, atau aku akan membunuh kalian semua.'' Ucap sang Jendral, ketika berada di depan pintu kerja kaisar Jing.


Ia mengatakan ucapan tersebut, untuk semua kasim, dan para prajurit yang berjaga di sana.


''Baik Jendral...'' Jawab semua orang disana, hampir bersamaan.


Akan tetapi, Jendral Feng lupa bahwa disana masih ada sepasang mata yang mengawasi semuanya, dan pemilik sepasang mata itu, tidak akan patuh kepadanya ataupun janda permaisuri.


''Ternyata seperti yang di perkirakan oleh Yang Mulia kaisar.'' Gumam pemilik sepasang mata tersebut, dengan seringaian tipis pada wajahnya.


.............................

__ADS_1


Sementara itu, setelah menempuh 2 hari perjalanan, akhirnya kedua rombongan, sampai di kekaisaran Tang.


''Selamat datang rombongan dari kekaisaran Zing, selamat datang rombongan kekaisaran Xili.'' Sambut sebarisan pasukan elit kekaisaran Tang, dengan penuh penghormatan.


Bahkan dari sambutan tersebut, telah di sediakan iringan-iringan pengawalan yang lengkap dengan persenjataan pengawalan.


Mendengar sambutan tersebut, baik kaisar Jing, dan kaisar Morongyu tidak menjawabnya secara langsung.


Mereka hanya diwakili oleh penasihat/ pejabat kekaisaran yang lain, untuk menjawab para utusan kaisar Tang tersebut.


Dan setelah, ramah tamah serta basa basi sambutan usai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju istana kekaisaran Tang, yang berjarak setengah hari perjalanan.


''Istirahatlah, kita masih akan menempuh perjalanan setengah hari lagi.'' Ucap Jiang jing wei, sembari mengusap lembut kepala Ziaruo, yang kini tengah meletakkan kepala diatas pangkuannya.


Mendengar ucapan tersebut, mata permaisuri tampak berbinar, dan menjawab. ''Baiklah..tapi jika memasuki tengah kota nanti, tolong bangunkan saya Yang Mulia.''


Dalam agenda rencana Ziaruo dan kaisar Jing, mereka akan menginap di pusat kota kekaisaran Tang, tepatnya di kota Diwei.


Dimana, disana Ziaruo memiliki sebuah toko perhiasan yang besar, serta sebuah kediaman yang cukup nyaman, dibalik toko tersebut.


Sedangkan bagi kaisar Jing, dengan menginap di sana, pada akhinya Pria itu akan dapat menyingkirkan kaisar Murongyu, dari pandangan matanya.


''Jangan khawatir, aku mengerti.'' Ucap jing kembali, dengan tangan yang masih mengusap lembut, pucuk kepala sang Permaisuri.


Dan selama di dalam kereta, Ziaruo banyak menghabiskan waktunya untuk tidur.


Banyak keramaian di luar kereta mereka, para penduduk yang berjajar menawarkan barang dagangan, berlalu lalang melintasi jalanan dari aktifitasnya, ataupun yang sekedar berdiri melihat iringan rombongan tamu kekaisaran.


Akan tetapi, semuanya tak dapat menarik minat Ziaruo untuk melihat.


Bagi wanita tersebut, segalanya adalah hal lumrah serta wajar, atas kesibukan sebuah kota yang sedang berkembang.


Hingga, sebuah suara yang keras menarik perhatian dari semua orang. ''Dewi..dewi tolong berikan belas kasihmu, berikan kami keadilan.''


Sebuah suara yang begitu keras, hingga menarik perhatian semua orang yang disana, bahkan seluruh rombongan terpaksa di hentikan.


Seorang wanita tengah bersujud di tengah jalan, berteriak keras, mengharap sebuah pertolongan dari seorang wanita di dalam kereta.


Melihat hal tersebut, 2 orang dari barisan depan pengawal kekaisaran Tang, maju dan berusaha mengusir wanita tersebut.


''Apa yang kau lakukan, kau menghambat perjalanan para tamu terhormat kekaisaran.'' Hardik sang pengawal, dengan suara agak keras.


Mendapati keluhan, serta pemohonannya tidak memperoleh hasil, bahkan tubuhnya mendapat dorongan dari para pengawal.


Wanita itu kembali bersujud di tepi jalan, sembari berkata. ''Dewi...Dewi...berikan keadilan untukku, kami telah di aniaya.''


Wanita itu, terus berteriak menyuarakan permohonannya, kepada wanita yang bahkan belum pernah ia lihat sama sekali.


Meskipun rombongan tersebut, telah berlalu menjauh, dari tempatnya sekarang bersujud, wanita itu terus berucap berulang kali.


Hingga, seorang pria gagah datang dan membantunya berdiri, sembari berkata. ''Sepertinya kita tidak dapat menarik perhatiannya kali ini, bangunlah.''


''Kau benar, mungkin usaha kita akan jauh lebih sulit dari yang kita perhitungkan.'' Jawab sang wanita.

__ADS_1


Keduanya berjalan masuk kesalah satu bangunan disana, dengan sesekali mereka akan kembali melihat rombongan, yang berjalan menjauh dari tempatnya.


''Mungkinkah, kebaikannya adalah sebuah rumor saja?.'' Gumam dalam hati wanita tersebut.


__ADS_2