Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 164


__ADS_3

''Dia putraku....dan akan selalu menjadi kebahagiaan terbesar diantara kita Yun.'' Ucap Jing.


''Yakinlah, bahkan jikapun nanti kau telah....


Aku akan tetap menjaganya dengan baik'' Lanjut Jing dalam diamnya.


Berpikir tentang apa yang ia ketahui, wajah Jing tak dapat menutupi kesedihan.


Pria penguasa itu hanya dapat berharap, bahwa segalanya adalah salah.


Setelah apa yang ia dengar dari bibir Murongxu ketika berada di Nancang, Jing merasa seolah ada sebuah duri, yang terus bergerak semakin dalam menusuk relung hati.


Sementara itu, sebaik apapun pria tersebut berusaha menutupi, Ziaruo mengetahuinya dengan jelas. Wanita itu mendongak, dan menatap kearah Jiang jing wei.


Dengan posisi yang saling berhadapan, Jing tersenyum dan berkata. ''Ada apa?, apa kau menginginkan sesuatu?.''


Pria tersebut menyadari, bahwa saat ini masih ada yang ingin disampaikan, oleh sang permaisuri tercinta.


Akan tetapi, entah mengapa hatinya seolah enggan mendengar, apa yang hendak di ungkapan wanita tersebut.


Oleh karenanya, dengan sengaja kaisar Jiang jing wei menanyakan sesuatu sebagai pengalihan.


''Apa permaisuriku ini, merasa tidak nyaman tinggal di kediaman Gu?.'' Tanya Jing lagi, ketika melihat Ziaruo menggelengkan kepala.


''Lalu...?.'' Zing lagi.


Ziaruo menatap lekat, kearah mata sang suami.


Seakan ia tengah mencari sesuatu, didalam kepekatan matanya.


''Heeeeh....''


Ziaruo menghela nafas dalam, serta perlahan menundukan wajah.


Seakan ada sesuatu yang sangat berat, tengah mengganjal hati, serta pikiran wanita itu.


Namun, beberapa saat kemudian akhirnya kembali membuka suara. ''Satu hal yang belum aku katakan, dan...''


Ada ragu-ragu dalam baris singkat ucapannya. Dan hal tersebut, semakin membuat hati Jing tidak tenang.


Akan tetapi, mengingat ia telah memutuskan untuk mengetahui apapun tentang sang istri, Jing berusaha menanggapinya dengan setenang mungkin.


''Dan....?.''


Jing mengulang perkataan terakhir sang istri.


Jelas disana terlihat ketidak sabaran, untuk mengetahui apa yang hendak diucapkan oleh Ziaruo.


Namun, mata itu juga menampilkan rasa enggan, serta ketakutan secara bersamaan.


''Aku berharap, apapun itu nantinya. Anda harus ingat, bahwa di dunia ini tak pernah ada yang pasti.'' Sambung Ziaruo.


Mendengar ucapan itu, Jing mengernyitkan kening sejenak, dan menyahut, dengan suara yang masih tampak tenang.


''Baiklah...Jadi maksudmu, selama kita memiliki harapan, sekecil apapun itu, akan ada keajaiban?.''

__ADS_1


Ziaruo terdiam sejenak.


Wanita itu kembali menatap lekat kearah Jing.


Perlahan namun pasti, wanita itu mengiyakan ucapan pria tersebut, dengan anggukan kecil, serta ucapan singkat sebagai jawaban. ''Emm.''


''Jika kau memahami hal tersebut, lalu mengapa masih ragu?.'' Tanya Jing balik.


Ziaruo masih menatap Jing.


Namun, kini tangan lembutnya, perlahan bergerak, menyentuh pipi putih pria tersebut.


Ada pemikiran dalam sorot matanya. Dan hal yang samapun dilakukan oleh sang suami.


Keduanya saling tatap, serta terhanyut dalam pikiran masing-masing.


Hati Jing berdetak tak beraturan, cemas, gelisah, serta tidak sabar disana.


Akan tetapi, pria dengan kekuasaan no 1 di kekaisaran Zing itu, lebih memfokuskan menekan ketenangan hati, serta pikiran saat ini.


''Sebelum memutuskan menikah dengan anda...''


Ziaruo memulai perkataannya. Ia mengulang kisah, dimana dirinya diawal-awal memutuskan menikah dengan pria tersebut.


Apa alasannya memutuskan menikah, untuk sekedar menyandang gelar permaisuri Zing, serta tentang hatinya yang tergerak, akibat kebaikan dan ketulusan pria tersebut, setelah beberapa waktu menjalani hidup bersamanya.


Jing mendengarnya dengan seksama.


Meskipun, deretan kisah itu telah sebagian besar ia ketahui.


Ia sengaja melakukan hal itu, untuk mencari sebuah celah, diantara kisah yang di sampaikan, dan berharap menemukan titik pemecahan, suatu hal penting, yang telah ia ketahui tentang sang istri, dari Murongxu, Kaisar negri Awan.


Hingga...


''Dalam kurun waktu 7 bulan kedepan, mungkin...'' Ziaruo kembali menghentikan ucapan.


Tampak ada keraguan dalam ucapan Wanita Ziaruo.


Dan tentu saja, semakin ia merasa ragu, semakin intens pula ia menatap kearah Jing.


''Mungkin waktu kebersamaan kita, tak lebih dari 7 bulan kedepan, dan....''


'' Yun....'' Panggil Jing, seraya menghentikan ucapan Ziaruo, dengan jari tangan menutup bibir wanita itu.


Akan tetapi, secepat apa kaisar Jing melakukan hal tersebut, secepat itu pula Ziaruo melepas jari tangannya.


Dengan suara serta nada yang masih sama, wanita itu kembali melanjutkan ucapan. ''Dengarkan dulu...''


''Biarkan saya menyelesaikannya. Saya ingin semuanya menjadi jelas, dan tak ada yang tersembunyi diantara kita.'' Sambung Ziaruo lagi.


Mendengar hal itu, Jing menatap sendu kearah sang istri.


Perlahan namun pasti, pria tersebut membuka bibir dan berkata. ''Aku mengetahuinya....Aku sudah mengetahuinya dari Dia(Murongxu).''


Sebuah ungkapan lirih, dengan penuh kesenduan, sampai di telinga Ziaruo.

__ADS_1


Dan itu tak membuat wanita tersebut, terkejut sama sekali.


Dengan tatapan yang tak berubah, Permaisuri Yun mengangguk pelan.


''Aku tahu....''


''Bahkan, mengetahuinya sejak awal, ketika Anda mendengarnya dari kaisar Awan saat itu.'' Lanjut Ziaruo.


Mendengar perkataan dari wanita di depannya, Jing reflek mengernyitkan kening, dan bahkan sempat tertegun sejenak.


Selang beberapa detik, Jiang jing wei membelalakan mata, ia tidak menyangka bahwa kejadian dihari itu, di ketahui oleh sang istri.


''Kau mengetahuinya?. Yun...aku....... disaat itu...'' Ucap Jing dengan suara agak terbata, dan tampak kebingungan.


Namun, Ziaruo menghentikan ucapannya, dengan sentuhan lembut di pipi pria tersebut, sembari berkata. ''Tenanglah, itu bukan masalah, saya tidak pernah menyalahkan Anda.''


''Maaf...karena telah membuat anda marah.'' Sambung Ziaruo lagi.


Mendengar hal tersebut, Jing kembali terhenyak. Raut wajahnya berubah cemas.


''Tidak Yun...Jangan meminta maaf. Aku tidak pernah menyalahkan, ataupun marah kepadamu. Aku hanya...Hanya kesal melihat dia. Itu saja.'' Jawab Jing dengan cepat.


Ia tidak ingin membuat Ziaruo salah faham kepadanya.


Bahkan, beranggapan bahwa dirinya seseorang yang licik.


''Benar disaat itu, aku sedang kesal. Tapi aku tak pernah menyalahkanmu. Dan aku semakin membenci diriku sendiri, ketika mengetahui kenyataan itu dari bibirnya, itu saja.'' Sambung Jing lagi.


Kali ini Jing meraih tangan Ziaruo, dan memegangnya erat.


Ia berusaha menjelaskan, apa yang terjadi disana(penginapan Nancang) dari versinya.


Dan tentu saja, Ziaruo memahami semua hal itu.


Ziaruo menyadari kejadian tersebut, sedikit banyak tidak terlepas dari sikapnya, yang tidak berterus terang kepada sang suami.


Ziaruo kembali tersenyum kepada Jing.


Dengan suara yang masih pelan serta lembut, ia melanjutkan ucapan. ''Tubuh ini dengan kehamilan sekarang, dan untuk menjaganya (bayi mereka). Semua kekuatan, serta magis yang kumiliki tidak boleh di gunakan. Oleh karena itu, mungkin kedepannya, wanita ini akan sangat bergantung kepada anda Yang mulia.''


Ziaruo menuturkan apa yang ia ketahui.


Sejak perkelahiannya dengan hewan mistis beberapa saat yang lalu, ia menyadari bahwa tubuhnya mulai mengalami penurunan kekuatan.


Bahkan, ketika ia mengerahkan tenaga dalam, ada sesuatu yang berbalik menyerang tubuh manusia miliknya.


Sementara itu, mendengar penjelasan tersebut, Jiang jing wei terdiam sejenak.


Ia berpikir bahwa baik baginya, dapat menunjukan perhatian lebih untuk wanita itu, dengan perlindungan yang akan ia berikan.


Namun, ia juga merasa gugup dengan membayangkan, jika ada musuh yang jauh lebih hebat dari dirinya datang untuk menyakiti keduanya.


Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah takut, ataupun berfikir dua kali untuk melakukan tindakan, jika ada yang berani menyakiti keduanya.


Meskipun itu di batas kemampuan, serta kekuatan yang ia miliki.

__ADS_1


''Jangan khawatir, selama aku masih hidup, tak akan kubiarkan siapapun menyakiti kalian berdua.'' Jawab Jing dengan kesungguhan.


__ADS_2