
Sementara itu, di kekaisaran Zing.
''Benar yang mulia, Nyonya Yun bertemu dengan Murongxu dan ia baru kembali kekediamannya, saat sudah tengah malam.'' jawab sang penjaga bayangan( Wuhan).
Mendengar hal tersebut, tangan Jiang jingwei mengepal kuat.
''Apakah kau akan menghianatiku, sehari sebelum hari pernikahan kita Yun?.'' gumam lirih kaisar Jing.
Kaisar tersebut berdiri dari duduknya, ia berjalan keluar, dengan perasaan yang penuh dengan kemarahan.
''Wuhan ikut denganku, kita akan mengunjungi pavilliun putih.'' ucap pria itu kembali, disela langkah kaki lebarnya.
''Apakah kau meremehkanku Ziaruo?, bahkan aku belum pernah merasa diremehkan seperti ini.'' ucap Kaisar Jing dalam hati.
Pria tersebut, pikiran dan hatinya dipenuhi dengan kemarahan dan kecemburuan, ia seolah telah dihianati dan diremehkan oleh wanita yang sangat ia cintai.
Bahkan, selama dalam perjalanan menuju kepavilliun putih, perasaan itu tidak juga mereda.
''Yang mulia, anda harus menenangkan diri dulu sebelum masuk kesana, dan...dan belum tentu ada sesuatu yang terjadi diantara mereka semalam yang Mulia.'' ucap Wuhan dengan suara ragu, ia berusaha menenangkan sang penguasa tersebut.
''Wuhan, pria mana yang bisa tahan satu ruangan dengannya, tanpa melakukan apapun?, bahkan seorang petapapun akan goyah.'' jawab Jiang Jing wei sembari melangkah turun dari kereta kuda, diikuti oleh sang penjaga.
''Tapi anda kemarin juga tidak melakukan apapun'' gumam Wuhan dalam hati, sembari berjalan mengikuti tuannya dari belakang.
Wuhan tak berani mengatakan pemikirannya itu, ia tahu dengan jelas sikap dan emosi, yang tak dapat ditahan pria tersebut, ketika sedang marah.
''Semoga anda tak melakukan apapun yang akan anda sesali selamanya.'' gumam Wuhan dalam hatinya kembali.
''Silahkan masuk Yang Mulia Kaisar, Nyonya Yun sedang berada di ruang tengah bersama tuan muda Yong.'' sapa penjaga kediaman Yun, dengan penuh penghormatan.
Mendengar hal itu, keduanya berjalan masuk menuju kesebuah ruangan, yang berada di tengah bangunan.
''Aku tak boleh melemah, ayolah Jing kau pasti bisa, jangan tunjukan kelemahn hatimu kepadanya, atau dia akan mengalahkan serta tak menghargaimu.....dan ujung ujungnya dia akan membuangmu.'' gumam hatinya.
Kaisar Zing hampir saja meleleh, saat melihat senyum Nyonya Yun yang kini berdiri, untuk menyambut kedatangannya.
Ziaruo mengetahui, pikiran pria yang sebentar lagi, akan menjadi suaminya tersebut, ia merasa Kaisar itu, imut dan menggemaskan saat ini, sehingga tanpa sadar bibir mungilnya mengukir sebuah senyuman.
''Selamat datang Yang Mulia, apakah yang membawa anda datang sepagi ini?.'' tanya Ziaruo dengan lembut serta tenang.
__ADS_1
Sementara itu, Yongyu yang berada disana, hanya diam saja, ia mengabaikan kehadiran pria itu.
Mendengar pertanyaan Ziaruo, Kaisar Jing gugup sesaat, sebelum mendudukan tubuh gagah miliknya, pada sebuah kursi disamping tempat duduk Ziaruo.
''Ruoer....mungkin dia datang, ingin membatalkan pernikahannya denganMu.'' jawab Yongyu, tanpa menoleh kearah kaisar Jing, dan kembali menyesap teh miliknya.
'Ti..tidak, ma..mana mungkin aku akan membatalkan pernikahan, tidak...hehe..'' jawab reflek Jing dengan terbata.
''Ooohhh...lalu?.'' sahut Ziaruo menimpali pernyataan Yongyu.
Ziaruo meletakan cangkir tehnya, dan menatap pria itu.
Manik mata keduanya bertemu dan '' degub...degub...degub....'' debaran jantung kaisar Jing berdetak tak menentu.
Hari ini, dengan sangat jelas, ia melihat wajah cantik calon mempelainya, wajah yang selalu tertutup cadar saat bersama orang lain.
Bahkan saat wanita itu, berbaring disisinya dua hari yang lalu, ia hanya sempat membuka penutup wajah itu sekilas saja.
Karena ia takut, tak dapat menahan luapan hasrat dalam dirinya, yang telah berusaha ia tahan malam itu.
Kaisar Jing, juga pernah melihat wajah Ziaruo sebelumnya, di kekaisaran Xili pada saat pesta ulang tahun Murongxu.
Bahkan, ia dapat mencium aroma wewangian dari tubuh Ziaruo, hingga tanpa sadar gelora hati liarnya mulai unjuk gigi, dan bibirnya berguman lirih.
''Cantik....''
Mendengar hal itu, Ziaruo tersenyum sesaat dan berkata ''Terimakasih Yang Mulia, tapi...apakah anda datang sepagi ini, hanya untuk mengatakan hal itu?.''
''Eeheeemmm...eheemmmm...''Kaisar Jing berdehem beberapa kali.
Ia merasa malu dan tersipu.
''Mengapa aku justru memujinya, bukankah aku sedang marah, dan ingin penjelasan darinya.'' gumam dalam hati pria tersebut.
Akan tetapi, sebelum ia mulai menanyakan keraguan itu, sebuah tangan lembut menyentuh punggung tangannya.
''Jangan gelisah, percayalah tidak ada hal buruk yang terjadi diantara kami, aku hanya ingin secara langsung meminta maaf kepadanya.'' ucap Ziaruo lirih.
''Mungkin, akulah orang yang paling mengerti perasaannya saat ini, seberapa beratnya kekecewaan, saat orang yang kita cintai, menikah dengan orang lain.'' lanjut Ziaruo, sembari menundukan wajahnya. Dan tampak jelas kesedihan pada wajah cantik itu.
__ADS_1
Menyaksikan kesedihan itu, hati Kaisar Jing melemah, ia menggenggam tangan Nyonya Yun lembut, seolah memberikan kekuatan dan dukungan untuk wanita itu.
''Maafkan aku, percayalah bahwa kau bukan penyebab penderitaannya, dan aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama kepadamu.'' bujuk Kaisar itu, sembari meraih tangan Ziaruo.
Jiang jingwei masih menggenggam tangan Ziaruo, serta berusaha meyakinkan calon mempelainya, bahwa ia akan memberikan kebahagiaan, ia lupa bahwa disana masih ada satu orang lagi, yang ikut mendengar serta menikmati adegan keduanya.
''Cih....kalian berdua sudah lupa bahwa aku masih disini?.'' ucap pelan Yongyu, sebelum beranjak meninggalkan meja tersebut. Dan sontak saja ucapan Yongyu yang sepontan itu, membuat sepasang calon mempelai menjadi canggung.
Sementara itu di sebuah penginapan di tengah keramaian kota, seorang pria tua sedang kebingungan.
Pria tua tersebut yang tak lain adalah Kasim Di, tengah mencari keberadaan Murongxu, yang tiba tiba menghilang dari kamar penginapan.
Murongxu, hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengatakan, bahwa dirinya baik baik saja, dan sementara waktu ingin menenangkan diri.
''Yang Mulia...anda harus baik baik saja, atau anda akan melihat pria tua ini, melakukan sesuatu yang diluar pemikiran anda.'' ucap kasim tersebut dalam hati.
''Nyonya...mengapa anda begitu kejam kepada yang mulia, hati anda begitu buta, jika tak melihat ketulusan serta kasih sayangnya.'' ucap kasim Di dengan raut wajah penuh kecemasan dan kecewa.
Berbeda dengan Kasim Di yang tengah kebingungan, didalam sebuah gerbong kereta yang berjalan menyusuri keramaian, seorang pria tengah tersenyum dengan penuh kebahagiaan.
Wajah tampannya semakin memancarkan aura yang menawan.
''Eheemmmzz...maaf yang mulia, sepertinya anda telah kalah telak dari nona Ziaruo.'' ucap Wuhan memecah khayalan, serta imajinasi pria didalam gerbong kereta.
''Apa maksudmu?, apa kau ingin merusak kebahagiaanku?.'' jawab pria yang tak lain adalah Kaisar Jing tersebut, dengan dengusan kekesalan.
''Aku kalah?, dengan mata yang mana kau melihat kekalahanku?.'' tanya pria itu kembali, dan kali ini tampak serius, mengharapkan jawaban dari Wuhan.
Mendengar itu, Wuhan tertawa keras, ditengah gerakannya mengontrol laju kereta.
''Haha ..haha..haha..., bahkan anda sampai tidak dapat membedakan, antara meminta penjelasan atau membujuknya...haha..haha..haha...'' ucap Wuhan kembali dengan tanpa ragu ragu.
''Si*lan kamu, sudah berani memperolokku.'' jawab Kaisar Jing, ia memberikan tendangang kearah punggung sang kusir kesayangan.
''Tapi.....kau memang benar, aku menjadi bodoh disampingnya Wuhan.''
''Haha...haha...haha..'' lanjut Jing kembali, dengan tawa yang diikuti oleh Wuhan.
''Bahkan, setiap orang didunia, mungkin akan bersedia menjadi bodoh dihadapan cintanya.'' ucap Wuhan Lirih, dan tak ada yang mendengarnya.
__ADS_1