Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 220 Kerinduannya kesedihanku.


__ADS_3

Dan di sela isak tangisan tersebut, ia bergumam lirih. ''Wanita ini...sangat merindukan Anda baginda.''


Seolah seluruh langit tengah runtuh di dunia Jing, ketika mendengar perkataan sang wanita.


Bukan untuk deretan ucapan kerinduan itu. Namun, lebih mengacu pada ekspresi serta makna dibaliknya.


Jing memahami dengan betul, bahwa sang istri tengah mengeluh atas takdir dari kasih sayang mereka.


Mengkritik tentang ketidak hadirannya, disaat-saat yang sangat penting dalam sejarah kelahiran sang putra.


Sosok yang di kenal kejam serta angkuh oleh khalayak umum, kini tengah lusuh dengan ketidak berdayaan.


Perlahan, Jing mengusap permukaan cermin air bulan dengan penuh kelembutan.


Berharap, dirinya mampu menyentuh wajah cantik pucat di dalamnya, dan menyampaikan setiap kemelut hati, yang kini bergemuruh hebat serta bercampur aduk melalui sentuhan.


Akan tetapi, bahkan bayangan tampilan dari cermin itupun kian memudar, seiring perubahan serta kepergian Ziaruo beberapa hari yang lalu.


Seolah kekuatan magis dari benda langit itu, kian melemah dengan berkurangnya waktu kehidupan dari sang pemilik.


Ia sangat berharap dapat meraih wanitanya, dan membawanya kembali untuk bersama.


Namun, tangan itu tak dapat ia gerakan untuk menembus permukaan atas cermin.


Bukan dirinya tanpa kekuatan, ataupun tak lagi berkeinginan kuat.


Namun, otak rasionalnya memberikan peringatan serta kesadaran sebuah kenyataan di balik segalanya.


Ia tak ingin egois dengan keinginan, yang dapat mempercepat keburukan(kematian) untuk Ziaruo.


Setidaknya dengan cermin air bulan, Jing masih dapat melihat wanita itu menjalani hidup, meski tak dapat menyentuhnya selama lebih 17 tahunan kedepan.


Jing memahami betul, bahwa kebersamaan mereka di duanianya, akan mempersingkat waktu kehidupan sang istri.


Dan jika ia bersikeras membawa atau memintanya datang kepadanya, hari-hari kebersamaan mereka hanya berkisar tak lebih dari 6 bulan saja.


Mengingat dan memahami kenyataan pahit tersebut, Jing menyentuh dada kiri serta menekannya sedikit kuat.


Seakan tengah menahan sesuatu agar tak terungkap, pada wajah yang ia tampilkan setenang mungkin, dalam tatap muka bersama Ziaruo.


''Bahkan, jika tak kau ucapkanpun aku mengerti semua.'' Sahut Jing dengan ekspresi lembut, dengan tatapan pasrah khas yang baru-baru ini ia miliki.


''Mungkin aku adalah pendosa di masa lalu, dan membuatmu ikut membayar atas kebersamaan kita di kehidupan ini.''


''Maafkan aku Yun, bisakah kau bertahan untuk putra kita?.'' Sambungnya lagi, dengan sekilas menyapukan tatapan mata, pada meja di dalam ruang.


Dimana sebuah batang dupa yang kian mengecil dari ukuran semula, berdiri kokoh disana.


Hati Jing semakin sulit mengatur ketenangannya.


Namun, apa boleh dikata kenyataan dan waktu, masih mempersulit kebersamaan keduanya.


Jing semakin tak dapat menutupi kegelisahan, atas kepasrahan dan kembali berucap. ''Ingat jaga diri baik-baik, jangan...''

__ADS_1


Perkataan dari Jing belum sempat terselesaikan, dan cermin air bulan telah memudarkan tampilan wanita cantik di dalamnya.


Jiang jing wei mendongakan wajah keatas langit-langit ruangan.


''Ya dewa ...hukum saja aku.'' Ucapnya lirih.


Bahkan, hingga batang dupa diatas meja telah melebur dari keberadaannya, dan berubah menjadi sekumpulan abu, Jing masih dalam posisi yang sama.


''Apakah terlalu sulit bagi kami melewati ini?.'' Gumamnya dalam kebisuan.


''Mengapa semakin hari, terasa begitu berat, bahkan semakin menyakitkan?.''


''Ya Dewa...jangan berikan air mata lagi untuknya, berikan kepadaku setiap luka dan kepedihan. Biarkan dia bahagia tanpa pria ini, jika itu harus.''


Jing perlahan kembali menunduk, menatap cermin air bulan, yang ia pegang dengan kedua tangan erat di atas pangkuan.


''Apa aku harus menjauh darinya?.''


''Dan bahkan melihat dan menatapnya dalam jarak saja tak di ijinkan?.''


Ia mengusap cermin air bulan beberapa kali, dengan hati yang tak dapat di mengerti oleh siapapun.


Dalam sorot mata tajam yang kini layu, ia seolah tengah mencari sebuah kekuatan, untuk mengukuhkan keputusan yang tengah ia ambil.


Dan setelah beberapa saat, pria itu berdiri dari duduk dan berjalan menuju pojok ruangan.


Perlahan membuka sebuah kotak, dengan ukuran dua kali bentangan jari tangan orang dewasa.


Mata Jiang jing wei kembali tertuju pada benda di tangannya.


Menyebut kata Dia, tangan Jing mencekram kuat tepian kotak penyimpanan.


Menuangkan sebuah rasa sakit, kemarahan, dan ketidak realaan hati untuk sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


''Kau boleh membenciku, dan kuharap akan segera melupakan segalanya dengan keburukanku.''


Jing menghela nafas panjang sejenak, sebelum akhirnya menutup kotak dan berjalan keluar dari ruangan.


''Wuhan...'' Panggilnya dengan suara sedikit keras.


''Hormat yang mulia.'' Sahut sang penjaga bayangan, begitu ia hadir di depan kaisar Jing.


''Perintahkan orang untuk mengunci pavilliun ini, dan tempatkan penjaga.'' Sambung Jing lagi, sebelum menjauh dari tempat tersebut.


''Baik.'' Jawab Wuhan singkat.


Penjaga itu melirik sejenak kedalam ruang, menyaksikan kepergian sang Kaisar di depannya, bersama 2 prajurit penjaga, dan 3 penjaga bayangan rekannya.


Ada bayang kenangan kuat dalam hati Wuhan, tentang pavilliun di balik tubuhnya sekarang.


Ada juga gambar kilasan mendung tebal, di balik pungggung sang kaisar dengan turunnya perintah tersebut.


Wuhan mendesah perlahan, berbalik menatap pintu pavilliun yang masih terbuka lebar.

__ADS_1


Dalam hati pria tersebut, tersembul ketidak relaan untuk menggerakan tanganya menutup pintu.


Namun sebagai seorang abdi, ia tak dapat melawan perintah dari sang tuan.


Banyak hal tentang polemik, kenangan, harapan dan kebahagiaan rahasia terbesarnya disana.


Sejak kaisar menempati ruangan pavilliun ini, berdiam diri disana beberapa hari yang lalu, Wuhan berpikir bahwa selama Ziaruo belum kembali, setidaknya ia masih bisa melihat kilasan gambar wanita itu melalui pavilliun tersebut.


Akan tetapi, entah apa yang di pikirkan oleh sang tuan sekarang, sehingga harus menjadikan tempat itu sakral, dan melarang siapapun memasuki pavilliun tersebut.


Bahkan, kaisar juga tak mengijinkan seorang pelayanpun masuk, meskipun untuk membersihkannya.


.........................


Semenjak hari itu, tak pernah ada seorangpun yang melihat kaisar Jing datang kesana, ataupun melanjutkan kebiasaan menutup diri.


Ia melakukan apapun, seolah tak pernah ada apapun yang terjadi dalam kehidupannya beberapa saat yang lalu.


Ia kembali menjadi sosok dingin, acuh dan kejam yang seolah tak tersentuh.


Bahkan, dalam kurun waktu dua bulan saja, ia telah menerima hampir ratusan selir kekaisaran.


Baik dari seleksi yang di lakukan oleh janda permaisuri, ataupun upeti dari negri-negri kecil bawahan.


Bahkan, ia juga kembali menaikan setatus selir Fengjiu yang diasingkan beberapa waktu yang lalu.


Kaisar Jiang Jing wei seolah kembali menjadi pribadi terdahulu, sebelum mengenal Ziaruo.


Dan hal ini semakin memperkuat tentang keyakinan beberapa orang, tentang desas-desus anggapan mantra jahat yang di berikan kepadanya oleh Permaisuri.


Dan tentu saja, hal itu di bicarakan di balik punggung sang Kaisar.


Dalam kebisuan dan kekejaman Jing, hanya Wuhan dan Orang terdekat dari kaisar saja yang memahami, tentang kenyataan yang sebenarnya.


Bahwa kaisar mereka, tengah melampiaskan, mengalihkan, serta berusaha menyangkal segala kemelut dan kepedihan hati, dengan melakukan hal tersebut.


....................


''Yang mulia....sudah waktunya paduka untuk beristirahat, mohon rawat tubuh dragon paduka.'' Ucap seorang kasim tua di samping Jing, sembari menyodorkan sebuah nampan kayu, dengan list nama para selir diatasnya.


Mendengar perkataan yang menghamba di samping meja kerjanya, Jing menghentikan gerakan kuas yang ia pegang.


''Ternyata sudah larut, waktu sungguh berlalu dengan cepat.'' Ucapnya datar.


Tatapan mata Jing, belum beralih dari lembar laporan diatas meja.


Akan tetapi, dengan reflek tangan kokoh miliknya, meraih salah satu deretan list nama di atas nampan yang di pegang oleh sang kasim.


''Kita lihat, kecantikan mana malam ini yang memiliki nasibnya.'' Pikir kasim tua tersebut.


Dan tak lama setelah kaisar Jing menjatuhkan plakat list di atas meja, sang pria tua berseru.


''Selamat beristirahat Baginda.''

__ADS_1


Kasim tua tersebut, membungkuk sejenak, dan mundur beberapa langkah, sebelum berbalik dan berseru agak lantang.


''Berikan kabar, Paduka Yang mulia kaisar, akan bermalam di pavilliun Meili.'',


__ADS_2