
Suara sobekan baju memang tak seberapa keras, akan tetapi nyatanya itu mampu membuat jantung Canzuo semakin berdegub hebat.
Layaknya sebuah genderang perang, yang di tabuh berulang kali.
''Lub..dub...lub..dub..lub..dub..''
Terlebih lagi, ketika ia melihat kulit putih pundak Ziaruo.
Hati, pikiran, serta jantungnya, semakin berkolaborasi dengan baik.
''Aaahk..aku bisa gila.'' Pekiknya dalam kebisuan.
Canzuo sekilas juga melihat sebuah rajah kecil, menyerupai teratai putih pada pundak Ziaruo.
''Teratai...'' Gumam Canzuo lirih.
Matanya terpaku, menatap kearah ukiran teratai, dengan sebuah goresan pada beberapa elopaknya, akibat serangan sosok penyelinap tadi.
Canzuo tertegun sejenak, ia menatap, tato teratai itu dengan seksama.
Hingga, sebuah suara membangunkan lamunan. ''Yang mulia... Yang mulia.''
Ziaruo memanggil Canzuo dengan suara yang berulang.
''Oh...maaf..maaf, izinkan....''
Ucapan Canzuo tidak terselesaikan.
Ziaruo buru-buru menutup pakaiannya, dan berdiri dari ranjang.
''Sudahlah...wanita ini akan datang lagi, 7 hari mendatang.'' Ucap Ziaruo.
Ia mengatakan hal itu dengan nada kesal.
Seolah ia telah di perlakukan kurang sopan disana.
Canzuo merasa kebingungan mendengar hal tersebut, ia ingin meminta maaf, dan menjelaskan kepada Ziaruo, bahwa segalanya tidak ada unsur kesengajaan.
Terlebih lagi, berniat untuk memperlakukan dirinya, dengan tidak sopan.
Akan tetapi, sebelum ia mengatakan apapun, wanita itu telah menghilang dari hadapan sang pria.
Melesat pergi dari sana dengan cepat, menghilang dari pandangan Canzuo.
''Mengapa harus seperti ini?, bahkan kami baru saja menjadi dekat.'' Ucap lirih Canzuo.
Ia merasa kecewa pada diri sendiri.
Meski, telah berusaha sebaik mungkin, untuk menutupi rasa kagum, dan keinginannya untuk memiliki.
Akan tetapi, hati, mata, serta tubuh lain, seakan enggan patuh terhadap nalar, dan pikirannya.
''Heeeehhh....'' Canzuo menghembuskan nafas kasar, ia ingin membuang rasa tak nyaman, yang kini tengah dirasakan.
''Kirim pesan, bahwa rencana berjalan dengan baik!.'' Perintahnya, dengan nada agak tinggi.
Dan tak menunggu waktu yang lama, sesosok bayangan hadir di depan sang Kaisar.
''Baik Yang Mulia.'' Jawab bayangan, setelah menunduk sejenak memberi hormat, dan melesat pergi kembali.
......................................
Sementara itu, di tepi hutan barat misteri.
Ziaruo telah sampai di dalam tenda kembali, wajahnya tampak sedikit pucat, dan kelelahan.
__ADS_1
Ia hendak masuk kedalam cermin air bulan, untuk sekedar membersihkan diri, sebelum menemui Jing suaminya.
Bagaimanapun, ia juga merasa risih dengan aroma yang tertinggal, setelah bersentuhan dengan Canzuo, beberapa saat yang lalu.
Namun, belum sempat ia mengeluarkan cermin air bulan, sebuah suara dari arah pintu tenda, memanggilnya. ''Yun.....Kau sudah kembali?, kemarilah....Apa kau baik-baik saja?.''
Kaisar Jing hendak meraih tangan Ziaruo, dan membawanya menuju ranjang darurat di dalam tenda.
Namun, ketika ia melihat kondisi pakaian, dan sedikit noda darah di pundak Ziaruo, Jing membulatkan mata.
''Kau terluka?, bagaimana mungkin?, siapa yang melukaimu?.'' Tanyanya beruntun, penuh kecemasan.
Jing dengan cepat, meraih tubuh sang istri, memastikan sesuatu yang kini tengah menghimpit pikirannya.
''Apakah dia(Canzuo), yang melakukan ini, beraninya dia?, aku akan....'' Sambung Jing, dengan penuh amarah.
Akan tetapi, Ziaruo menghentikan kemarahan itu, dengan sebuah sentuhan di bibirnya.
''Ini hanya luka palsu Suamiku.''
Ziaruo sengaja menyebut Jing, dengan panggilan berbeda dari biasanya(suami).
Ia ingin meredakan kemarah, yang tengah menyala di hati kaisar tersebut.
''Palsu?.'' Sahut Jing, dengan wajah bingung, serta kerutan di kening secara bersamaan.
Ia menelisik pundak Ziaruo, dimana terdapat sebuah goresan luka, dengan sedikit robekan pada pakaiannya.
Jing kembali mengerutkan kening lagi. Ia merasa heran dengan tatto yang kini berada di sana.
''Apa ini Yun?, mengapa aku baru melihatnya?.'' Tanya Jing, sembari menyentuh, tatto teratai di pundak Ziaruo.
Bagaimanapun, ia telah melihat seluruh bagian tubuh Permaisurinya tersebut.
Dan selama ini, ia tak pernah sekalipun menemukan Gambar teratai di sana.
''Sudah saya katakan, ini palsu Yang mulia.''
Wanita itu membuka pakaian bagian atas di depan Jing.
Perlahan menarik sebuah lembaran kulit lain, yang menempel rapi, pada pundaknya.
''Lihatlah...ini hanya kulit yang sengaja aku ciptakan, untuk mendukung rencana kita.''
Ziaruo menjelaskan semua kepada Jing, tentang kulit palsu serta tatto buatannya.
Ia juga menceritakan, asal luka yang terdapat pada kulit palsu itu.
''Jadi penyerangan dan luka ini, kau sengaja membuatnya?.'' Tanya Jing, dengan raut wajah takjub sekaligus tak percaya.
Ziaruo hanya mengganggukan kepala pelan.
''Anda harus tahu, saudara seperguruan saya juga berada disana.''
Ziaruo berjalan kearah ranjang, dan Jiang jing wei ikut mendudukan tubuhnya, diatas ranjang tepat disamping sang istri.
''Saya harus membuat sesuatu, yang terkesan lebih mendekatkan diri, diantara kami (Ziaruo dan Canzuo).
Sehingga, ketika nanti Biyi menyangsikan keberadaan Ziaruo di kekaisaran Tang,
Canzuo akan memiliki cara untuk menyakinkan hatinya.''
Jing mendengar setiap penjelasan, yang di berikan oleh Ziaruo.
Meski segalanya adalah bagian dari rencana. Namun, dalam hati jing, tetap saja ada sebuah kekesalan, yang tak dapat ia tutupi.
__ADS_1
''Jadi dia tadi juga berhasil memelukmu?.'' Tanya pria itu, dengan brengusan pada wajahnya.
Pria tersebut, tampak kesal dengan pemikiran, serta imajinasinya yang tak beralasan.
''Mengapa anda terlihat menggemaskan sekali.'' Ucap Ziaruo, dengan kekehan kecil, ketika mendengar sang suami menggerutu disampingnya.
Sebuah ungkapan kasih sayang Jing, dengan cara berbeda dalam penyampaian.
Dan itulah yang membuat wanita tersebut, tertawa bahagia, serta merasa gemas kepada sang suami.
''Yakinlah...bahwa apapun yang terjadi, di kehidupan sekarang wanita ini hanya akan menjadi Yun Anda.''
Ziaruo tak ingin membuat kekesalan dihati Jing memebesar, dan mengambil sedikti waktunya yang berharga.
Ia ingin menikmati waktu bermanja dalam kebersamaan, yang mungkin akan menjadi kenangan untuknya, ketika berada di Yincang.
Atau mungkin, juga menjadi kebersamaan mereka untuk yang terakhir kalinya.
Namun, mungkin segalanya memang tak selalu sesuai dengan rencana dan harapan.
Nyatanya, ia harus merelakan beberapa waktu untuk pergi ke Tang, dan di tambah lagi sang suami, juga harus segera meredakan pergolakan di kekaisaran Zing.
Oleh karena hal inilah, mungkin perpaduan kecemburuan yang kental dari Jing, serta posesifnya, mampu ia terima dengan baik.
Bahkan, jika bisa ia akan menuangkan kekesalan sang suami di dalam guratan hatinya.
Mengabadikan momen penting saat ini, sebagai gambaran kehidupan bahagia miliknya, sebagai Permaisuri Yun, dari Zing.
''Jangan khawatir, setelah ini aku akan membersihkan diri dengan baik.'' Sahut Ziaruo, dengan kedua tangan yang ia lingkarkan, di leher sang suami.
''Bahkan, ia tak dapat melakukan apapun kepada permaisuri, Yang mulia. Hanya menyentuh tangan, dan baju ini saja.'' Sambungnya lagi.
''Maka kau tak harus menyimpan pakaian ini, bakar saja.'' Jawab Jing.
Pria tersebut, merasa lebih tenang setelah mendengar penjelasan dari Ziaruo.
Bahkan, kemarahan atas rasa cemburu yang ia miliki, meleleh dan menghilang, dengan tindakan sang istri, yang mengambil inisiatif bermanja kepadanya.
''Iya...iya...Nanti dibakar, sampai habis.'' Jawab Ziaruo dengan sikap bermanja, serta tampilan kepatuhan.
''Tak akan ada lain kali lagi untuk kejadian itu, Ziaruo adalah miliknya.'' Pikir Jing.
''Anda benar tak akan ada, dan tak alan pernah ada kesempatan yang lainnya lagi.'' Sahut Ziaruo dalam pikiran.
Sekilas, tampak kepedihan pada sorot mata, dan hati Ziaruo.
Namun, buru-buru ia tepis semua, dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
''Oh..ya Suamiku, bagaimana kondisi selir Gu, apakah ia sudah jauh lebih merasa tenang?.'' Ziaruo.
''Heemm, sudah jauh lebih baik.
Meski ia masih sedikit lemah, tapi dia sudah mulai tenang.'' Jing.
''Terimakasih, sisanya biar permaisuri yang urus. Anda cukup fokus dengan mereka saja(pemberontak).'' Ucap Ziaruo lagi.
Mendengar perkataan Ziaruo, Jing kembali geram.
Dan ia telah berencana, tak akan membuat mereka mati dengan mudah.
Baginya para pemberontak tersebut, telah berbuat kesalahan yang besar.
Karena merekalah, yang telah menyebabkan sang permaisuri, ikut kerepotan, serta membuatnya melakukan sesuatu, yang tak seharusnya.
Yaitu, menemui pria lain (kaisar Tang), dan sedikit banyak memaksa tubuh itu kelelahan.
__ADS_1
''Tenang saja, kita hanya tinggal menunggu kabar dari para mata-mata.
Jika semua prajurit itu telah mundur, maka perburuan akan segera di mulai.'' Zing.