
Pagi itu, mentari masih malu malu dibalik mendung yang menyapa, memulai hari dengan rintik rintik hujan yang tengah berjibaku, bersama alunan nyanyian katak di tepi kolam.
Ziaruo menggerakan tubuhnya perlahan, mengusik lembut, tubuh gagah yang memberikan kehangatan kepadanya semalaman. ''Apa yang akan anda pikirkan yang Mulia?, aku tidak sabar mendengar tanggapan anda nanti.''
Wanita tersebut memiringkan tubuhnya, menyanggah kepala dengan tangan kanan, yang bertumpu pada ranjang.
Telunjuk kecil nan runcingnya, bergerak lembut dari pangkal ujung atas hidung, hingga ketengah bibir sang suami, sembari berucap lirih. ''Anda sangat tampan, sebagai manusia biasa Yang Mulia.''
Ziaruo mengetahui bahwa Pria tersebut, telah terbangun dari tidurnya.
Entah dengan tujuan apa ia masih berpura pura tidur, wanita itu ingin menciptakan kesenangan dihati sang kaisar. Oleh karenanya, Ziaruo bertindak seakan dirinya tidak mengetahui hal itu.
Dengan melepas sanggahan tangan, ia mengangkat kepala dan meletakkannya di atas dada Kaisar Jing.
''Lub dup..lup dup..Lup dup.'' Debaran jantung Pria itu, terdengar sangat jelas.
Ziaruo kembali menyungingkan senyum dibibirnya.
Sembari memainkan jari tangannya diatas perut sang suami, ia kembali berkata. ''Bahkan meskipun kita telah bersatu, aku tahu anda masih takut dan ragu atas diri ini Yang Mulia.''
''Apakah bagi anda, saya adalah seseorang dengan kepribadian yang demikian?, sungguh hal itu membuat saya gelisah.'' Lanjut wanita itu dengan perkataan, yang seakan ia gumamkan sendirian.
Namun, pada kenyataannya ia tahu dengan pasti, bahwa sang suami jelas mendengarnya.
Tangan Ziaruo masih bergerak tak beraturan, kadang menusuk perut itu pelan, kadang melakukan gerakan melingkar, seolah tengah mengambar sebuah bulatan, diatas perut rata Kaisar Jing.
Bahkan adakalanya juga, ia akan mencubitnya pelan.
Tak ada yang spesifik dari apa yang tengah Ziaruo lakukan. Namun, ia tetap fokus pada perkataan, yang tengah ia gumamkan.
''Berhentilah khawatir, dan jangan lagi memikirkan sesuatu yang tak akan pernah terjadi.'' Lanjut Ziaruo kembali.
''Tapi, aku tak dapat mengatur hati dan pikiranku Yun, sekeras apapun aku berusaha membuang kecemasanku, secepat itu pula ia akan kembali.''
Sebuah sahutan lembut terdengar, Ziaruo mengangkat kepala, dan mendudukan tubuhnya.
Tatapan matanya lekat kearah sang pria, yang kini tengah berbaring dengan mata menatapnya juga.
Wajah tampan tersebut tetap mempesona, meskipun dengan rambut yang tampak tak rapi.
Entah apa yang membuat tangan Ziaruo bergerak kembali, mengusap lembut wajah itu sembari berkata. ''Apakah anda tidak percaya kepada Permaisuri ini Yang mulia?.''
Mendengar pertanyaan itu, Jing menggeser kepala, memindahkannya diatas pangkuan ziaruo. Ia meraih tangan Ziaruo, dan membawanya diatas dada bidang miliknya.
''Tidak Yun, bahkan sedikit pun tak pernah ada keraguan didalam hatiku tentang dirimu. Aku...aku hanya takut tak bisa menjagamu, dan aku takut mengecewakanmu seperti dia.'' Ucap Jing dengan jujur.
'' Kau tahu... hanya saat mengenalmulah, aku baru bisa merasa beruntung, telah dilahirkan dengan takdir sebagai seorang Kaisar, sebuah kedudukan yang membuatku hidup dalam kecemasan serta ketakutan.''
Jiang jing wei memiringkan tubuhnya, wajahnya tepat menghadap perut sang istri yang masih rata, mengeratkan tangannya, memeluk pinggang Ziaruo dengan erat.
Ada kepiluan dalam hati, hingga ia mulai mengucapkan sebuah perkataan dengan nada yang berat. '' Bahkan, karena kedudukan itu, aku menajamkan pendengaran, serta hatiku atas ibuku dan juga saudaraku sendiri.
Karena kedudukan itu aku ..aku juga mengirim adikku menuju kematiannya Yun.. aku orang yang kejam..aku saudara yang kejam.'' Pria itu semakin erat menempelkan wajahnya di perut Ziaruo.
__ADS_1
Ada banyak hal yang ingin ia utarakan pagi itu, akan tetapi ia enggan membuka mulutnya, manakala mata mulai berkaca kaca, ia tak ingin sebuah isakan terdengar dari bibirnya.
Ziaruo memahami apa yang menjadi pemikiran serta kecemasan, bahkan kesedihan pria tersebut. Akan tetapi ia tak bisa membuka kenyataan tentang rahasia kehidupan sang kakak(Yongyu).
Wanita itu menghela nafasnya dalam, ia menundukan wajahnya, mengecup pelan beberapa kali wajah sang pria, kening, pipi, hidung, bahkan sedikit lebih lama dibibirnya.
''Setidaknya sekarang anda menyesalinya, bukankah itu sesuatu yang baik Yang Mulia?.'' Ziaruo kembali membuka mulutnya.
''Bagaiman itu bisa menjadi baik Yun?, Jingyun Sudah meninggal, dia meninggal Yun.'' Jawab pria itu, sembari semakin mengeratkan tangannya.
''Ibu melakukannya kepadaku, melakukan ketidak adilan, dan aku membalasnya kepada bocah itu, aku...bahkan tega menyakitinya...menyakiti orang yang sangat mempercayaiku.'' Kaisar Jing mengatakan setiap kegelisahan, yang selama ini membebani pikirannya.
''Apakah sekarang kau membenciku Yun?, aku tak menyalahkanmu, tapi dengan kejujuranku sekarang, bisa kah kau tidak meninggalkanku?.'' Kaisar Jing menatap wajah cantik, yang kini lekat menatapnya juga, ada gelisah dihati pria itu.
Akan tetapi, saat dilihatnya sebuah senyum lembut dibibir cantik sang istri, hatinya kembali memeperoleh keberanian.
Dengan mengukuhkan hati, Jing kembali berkata secara lirih. ''Aku mengatakan segalanya, karena ingin menjadi suami yang kau pahami secara keseluruhan Yun.''
Jing kembali menyusupkan wajahnya didepan perut sang istri, tangannya semakin erat memeluk tubuh bawah Ziaruo.
Seolah ia akan memegangnya selamanya, agar wanita itu tak beranjak pergi, setelah apa yang ia katakan barusan.
Mendengar semua perkataan dari pria tersebut, Ziaruo menghirup nafas panjang, serta menghembuskannya kasar.
Wajah cantiknya menengadah keatas sesaat, sembari memejamkan mata.
Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan Ziaruo dengan tetap diam.
Diam tentang Yongyu( Jiang Jingyun) yang masih hidup, diam tentang kenyataan dirinya yang ditetapkan, tak lagi memiliki waktu yang lama, dan ada beberapa hal lainnya lagi.
Dengan suara yang masih pelan serta tenang, wanita itu kembali berkata. ''Bahkan sebelum kita menikah, saya telah mengetahuinya Yang mulia.''
Tangan lembut wanita itu, kembali mengusap wajah sang suami, ada kesedihan atas nasib dan ujian dari kakak tersayangnya.
Akan tetapi, dalam waktu yang bersamaan, kebahagiaan juga hadir dihati Ziaruo, atas kejujuran sang suami.
Jing membulatkan mata mendengar hal itu, bahkan dengan cepat ia mendudukan tubuhnya.
''Benarakah Yun?, meskipun begitu, kau masih bersedia menikah denganku?.''
Kaisar Jing, seolah tak percaya mendengar semua ucapan dari sang istri, ia kembali memeluk tubuh wanita yang telah ia nikahi beberapa bulan yang lalu. Sembari berucap dengan penuh kebahagiaan. ''Terimakasih Yun...Terimakasih, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.''
Kaisar jing, merasakan kebahagiaan yang mendalam, kekhawatirannya selama ini sedikit berkurang.
Setidaknya, dirinya tidak akan merasa gelisah, karena sang istri telah mengetahui tindakan kejamnya, kepada keluarga terdekat sendiri.
''Yun...'' Jing
''Heeem....'' Ziaruo.
''Apa?,.....Ada apa ?,...... Apakah masih tidak bisa mengatakannya secara langsung?.'' Tanya Ziaruo kembali, ketika sang suami tak melanjutkan ucapannya.
''Bukan...'' Jing.
__ADS_1
''Lalu..'' Ziaruo
''Aku hanya bingung saja, mengapa kau mengirim paman Feng bersama tabib, untuk menemani ibunda.'' Ucap Jing, masih dalam posisi memeluk tubuh sang istri, kepala pria tersebut ia letakan diatas pucuk kepala Ziaruo.
''Kalau tabib...aku maklum, mengingat kondisi ibunda saat itu memang sedang lemah, tapi paman Feng....mengapa kau juga memintanya menemani ibunda Yun?.'' Lanjut pria tersebut, masih dengan posisi yang sama. Sesekali ia akan mencium aroma lembut, keharuman rambut sang istri.
Kaisar Zing tak dapat menduga, kemana arah tujuan Ziaruo mengirim sang paman.
Sementara itu, Ziaruo masih tetap diam, entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu saat ini.
Namun, sesaat kemudian Ziaruo melepas pelukan dari Jing, ia tersenyum dan kembali berkata. ''Segalanya ada saatnya, dan aku harap nanti ketika semua terkuak, jangan mengambil keputusan tergesa gesa, tidak setiap hal dapat dilihat hanya dengan satu pemahaman.''
Wanita itu, ingin sang suami tidak akan memiliki penyesalan di kemudian hari, mengingat sifatnya yang mudah marah, serta keras kepalanya yang dapat di kategorikan dalam level akut.
''Ingat lah bahwa tak ada hal baik dengan janji yang terucap ketika berbahagia.
Dan akan ada penyesalan, atas ucapan disaat hati penuh dengan amarah.'' Lanjut Ziaruo kembali, sembari kembali m*ng*cup pelan bibir sang suami.
Dalam hatinya ada sesuatu yang tak dapat ia sampaikan saat ini, wanita itu masih memilih cara, serta ucapan apa yang akan ia gunakan untuk menyampaikan sebuah kebenaran, tentang kenyataan menyangkut jati diri pria tersebut.
''Yun, jangan berteka teki, katakan dengan jelas.'' Pinta Jing, dengan agak memaksa.
Melihat antusias sang suami, Ziaruo tersenyum dan berucap lirih. '' Eeemmmmmm....Baik, saya akan beri tahu, jika anda bisa menebak dimanakah kita sekarang Yang Mulia?.''
Mendengar pertanyaan itu, Jing reflek memperhatikan seluruh ruangan, dan sesaat setelah ia menelisik, matanya membulat kembali, ia kebingungan. ''Haaaah!...Bukankah kita kemarin di pavilliun phonix?.''
Pria tersebut menajamkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan dengan infra penglihatannya, dan beralih menatap lekat wajah cantik didepannya tak percaya.
Ada ketidak percayan, lebih tepatnya keterkaguman, serta perasaan terkejut yang besar dalam sorot mata itu.
Akan tetapi, melihat gelagat dari senyuman sang istri, Jing semakin yakin dengan apa yang tengah ia pikirkan.
''Tidak...ini tidak mungkin, kau pasti bercanda.'' Ucap Jing dengan penuh keheranan.
Dengan gerak cepat Pria tersebut membuka jendela ruangan. Matanya membulat, mulutnya menganga lebar.
Di sana di luar ruangan, tepatnya dibawah cendela tempatnya menatap keluar, sebuah atap atap berjajar.
Sebuah pembenaran atas pemikirannya, terpampang jelas di gerbang depan.
Di sana, pada gerbang depan sebuah papan besar tertulis jelas. ''Kedai dan penginapan Nancang''.
''Yuuuuuuunnn...'' Pekiknya keras, dengan penuh keterkejutan, banyak rasa dan pemikiran dalam hati, serta ot*knya.
''Aku...aku telah melakukan perjalan layaknya Dewa Dewa di khahyangan, permaisuriku adalah seorang Dewi, ya benar...kau adalah seorang Dewi Yun.'' Ucap pria itu dengan wajah bahagia, memeluk, serta mencium beberapa kali sang istri.
''Aku harus terus membawamu kemana pun sekarang, agar kau tidak meninggalkanku.'' Lanjut pria itu kembali, dengan tawa bahagianya.
Ada banyak ketidak masuk akalan, ada banyak keajaiban, namun segalanya terasa luar biasa.
''Aku mencintaimu Yun...sangat...sangat dan akulah pria paling beruntung didunia ini...haha..haha.'' Jing.
Memang, tak akan pernah ada kesempurnaan didalam dunia. Akan tetapi, segalanya akan terasa indah dan membahagiakan, selama rasa syukur hadir didalam hati, dan dari hati yang bahagia, akan tercipta sebuah kesempurnaan versi kita sendiri.
__ADS_1
Terimakasih telah mampir dan membaca.
Mohon bantuan like dan komennya, agar Author lebih SEMANGAT.