Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 202 Putra kita sangat kuat.


__ADS_3

Namun, dengan kecemasan untuk kondisinya saat ini, Ziaruo tak mampu mendengar dan memahami dengan baik, apa yang disampaikan oleh Yaksa.


Yang ia dengar hanya 7 hari, 7hari itu saja.


''Tidak..selamatkan putraku, selamatkan putraku.'' Panggil Ziaruo lagi, sembari memeluk perutnya sendiri.


Ia terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang kali, hingga sebuah panggilan menyadarkan.


''Yun...Yun...bangunlah, bangunlah Yun...tidak akan ada yang terjadi kepada putra kita.''


''Yun...Yun...bangunlah.''


Panggilan itu menghentakan tubuh Ziaruo, yang nyatanya telah berada di dalam dekapan Jiang jing wei.


Tubuh itu bergerak reflek, mata Ziaruo terbuka dan membelalak lebar.


Melihat hal tersebut, Jing merasa sedikit lega, dan berkata. ''Baguslah...baguslah akhirnya kau sadar.''


Ziaruo yang masih kebingungan, perlahan menenangkan hati, melihat sekeliling, serta menyelami situasi yang tengah di alaminya.


''Ak..aku masih di sini?.'' Ucapnya lirih.


Meski perkataan itu hanya sebagai gumaman saja, dengan posisi tubuhnya yang tengah berada dalam pelukan Jiang jing wei, pria tersebut mendengar dengan jelas.


Jing menggerakan tangan, sedikit memberi dorongan, dan membawa tubuh Ziaruo kehadapan pandangannya, sembari berkata. ''Tentu saja kau di sini, di istana kita, bersamaku Yun.''


Jing kembali memeluk tubuh Ziaruo erat, seakan tak ingin lagi melepaskan wanitanya itu.


Ziaruo masih belum sepenuhnya mengerti.


Ia reflek meraba perut ratanya dengan kedua tangan.


Jing yang melihat hal tersebut, tersenyum dengan mata yang masih sembab, dan berucap.


''Jangan khawatir, putra kita sangat kuat, ia hebat.''


Jing menggerakan tangan, dan kembali memeluk tubuh Ziaruo lagi.


''Aku hampir kehilanganmu, dan itu menakutkan.''


''Jangan lakukan itu lagi, kau bisa membunuhku, kau tahu itu.'' Lanjut Jing lagi.


Kali ini, nada suaranya sedikit tinggi. Namun entah mengapa, perkataan tersebut terasa lebih lembut di telinga Ziaruo.


Wanita itu, perlahan mulai bisa mengerti dan memahami kondisinya.


''Aku sepertimu sekarang, wanita ini hanya hamba fana biasa.'' Ucapnya dalam diam.


Biarlah segalanya menjadi seperti sekarang, Ziaruo tidak menyesal dengan tubuh manusia biasanya kini.


Bagi Ziaruo tak banyak perubahan yang ia rasakan, hanya tak akan lagi menjadi hebat dalam hal magis dan kanuragan yang dulu ia miliki.


Ziaruo, permaisuri dari Jiang jing wei, hanyalah wanita dengan status itu saja.


Bukan seorang dewi ataupun pesilat tangguh, beberapa waktu lalu.


Dan mulai detik ini juga, ia harus behati-hati menjaga tubuh dan putranya, dengan kemampuan sebagai manusia pada umumnya.


Tak ada lagi kelebihan istimewa lain, yang menjadikannya lebih unggul.

__ADS_1


Bahkan sekarang, ia harus banyak mengandalkan kecerdikan akal, serta membutuhkan perlindungan.


Bukan hanya untuk sang calon bayi, namun juga untuk keselamatan tubuh manusia yang kini ia tempati.


''Jing...'' Panggilnya lembut.


Memdengar namanya di sebut dengan panggilan kedekatan, Jing mulai melonggarkan pelukan.


''Heemmmzzz...'' Jawabnya singkat.


Pria tersebut hanya sedikit melonggarkan kedua tangannya.


Namun tanpa melepas tautan kedua jemari tangan, yang kini berada di balik punggung Ziaruo.


''Maafkan saya, karena telah ceroboh.'' Ziaruo.


Dan pernyataan maaf itu, memang tulus dari hati serta pikiran wanita tersebut.


Ziaruo merasa bersalah, karena telah membahayakan putra mereka.


Jing mendengar hal itu, namun ia masih diam, dan tak melepas pelukannya.


''Wanita ini hampir saja, mencelakai putra kita.'' Lanjut Ziaruo lagi.


Jing memajamkan mata, mendengar ucapan sang permaisuri.


Ia tak bisa menemukan ucapan yang tepat, untuk menyahuti pengakuan sang permaisuri.


Jing hanya semakin mengeratkan pelukan, demi meredakan kecemasan besar di hati, yang hingga kini masih belum sepenuhnya hilang.


''Tidak, itu bukan niatmu.''


Jing wei tahu dngan benar, bahwa Yun istrinya, sangat menginginkan sang putra.


Dan ia juga menyadari bahwa tanpa bantuan dari Ziaruo, mungkin kekaisaran sekarang telah jatuh ketangan mahkluk jelmaan mengerikan.


Tentu saja, jika itu terjadi seluruh rakyat kekaisaran Zing, tak ubahnya seperti domba- domba persiapan makan bagi mahkluk tersebut.


Sungguh gambaran yang tak dapat di terima oleh fisinya, sebagai seorang kaisar.


Namun, di balik keberhasilan mereka saat ini. Jiang jing wei juga hampir kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidup ini.


Dan jika sosok Ziaruo menghilang, ia juga akan membawa pergi nafas kebahagiaan dari cinta mereka, yang kini baru mulai terbentuk.


Jing ketakutan hingga batas, yang hampir tak bisa ia terima.


Oleh karena hal tersebut, ketika Ziaruo menyatakan pengakuan itu, ia tak dapat menemukan perkagaan untuk mewakili isi perasaan hatinya sendiri.


Jing tak ingin kehilangan istri, putra dan rakyat kekaisaran yang ia jaga selama ini.


Dalam diam, ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri, atas ketidak mampuannya menjaga mereka, yang ia anggap penting.


Tidak akan mungkin, ia akan menyetujui perkataan Ziaruo, untuk mengambil beban kesalahan di pundak wanita tersebut.


Jing, tak dapat menghindar dari ketidak mampuannya sekarang.


''Bagaimana itu bisa menjadi kesalahanmu, bahkan kau tidak memilirkan diri sendiri.''


Jing mengatakan semuanya dengan wajah pias, serta penuh penyesalan.

__ADS_1


''Pria inilah yang seharusnya melindungi kalian, melindungimu dan putra kita.''


Jiang jing wei perlahan melepas pelukan tangannya, dari tubuh Ziaruo.


Kedua tangan besar serta kuat itu, perlahan menangkup pipi putih Giok Ziaruo.


''Jangan membahayakan diri untuk pria ini lagi, jangan melakukan apapun jika itu melukaimu Yun.''


Jing meluncurkan kalimat-kalimat itu, dengan suara yang sedikit bergetar.


Ada kilasan ingatan, saat wanita Yun memuntahkan darah segar, serta jatuh terkulai tak sadarkan diri.


Hati Jing kembali bergetar dengan rasa takut yang hebat, hanya dengan membayangkan itu.


Jiang jing wei kembali memeluk wanita itu dengan erat, mencium pucuk kepala dengan lembut dan sedikit lama.


''Jika sesuatu terjadi kepadamu, apa yang harus kulakukan?.''


''Aku harus bagaimana Yun?.'' Jing.


Mendengar deretan perkataan pria disana, Ziaruo melupakan kegelisahan pikiran tentang dirinya sendiri.


Wanita itu beralih memahami pemikiran, serta ketakutan sang suami.


''Anda benar, mengapa aku selalu bertindak sendiri, dan tak memikirkan hati serta kepedihan anda.'' Ziaruo.


"Jing...." Panggilnya lirih.


Kaisar Jing yang tenggelam dengan kemelut hati saat ini, tak mendengar ataupun menjawab panggilan dari Ziaruo.


Wanita itu mengernyitkan kening sejenak, dan kembali memanggil sang suami.


''Suamiku....''


Ketika panggilan kedua ia ucapkan, pria tersebut baru menyahuti.


''Jangan katakan apapun lagi, beristirahatlah lebih lama, aku akan menemanimu.''


Jiang jing wei membatu Ziaruo merebahkan diri, dengan gerakan lembut serta penuh kehati-hatian.


Seolah tubuh itu, akan hancur ataupun menghilang, hanya dengan satu hentakan kasar saja.


''Apa yang anda pikirkan?.'' Tanya Ziaruo tiba-tiba.


''Tebak saja seperti biasanya.'' Sahut Jing pelan.


''Wanita ini telah kehilangan itu.'' Ziaruo.


Dengan kata lain, Ziaruo telah kehilangan kemampuannya, untuk mengetahui pikiran orang lain.


Dan Jing hanya menanggapinya dengan biasa, ia tak mengambil serius perkataan Ziaruo.


Pria tersebut, ikut membaringkan tubuh, dan mulai melingkarkan tangan di atas perut sang istri.


''Aku kehilangan semua kemampuan yang kumiliki.


Jadi, kedepannya anda harus melindungi wanita ini dengan baik.'' Tambah Ziaruo lagi.


''Heeeemmmzzz....Aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu.''

__ADS_1


__ADS_2