
''Tidak Yun....'' Sahutnya reflek, dengan tangan dan suara yang bergetar. Jing semakin mengeratkan pelukan, dan hanya mampu mengucapkan bait pendek tersebut.
Sebab, Ziaruo masih melanjutkan perkataannya, seakan ia tak mendengar perkataan Jiang Jing wei barusan.
''Hanya saja, untuk menenangkan hati ini sedikit membutuhkan waktu agak lama. Jadi bisakah paduka memaafkan, karena wanita ini telah menutup cermin air bulan?.''
Ziaruo memang tak lagi membuka cermin air bulan, untuk dua bulan berikutnya, setelah kejadian hari itu.
Namun, pada bulan ketiga ia ingin pria di sana menjelaskan, tentang kehadiran selir baru di istana dalam kekaisaran Zing.
Dalam hati ia masih mengingat, serta meyakini tentang janji diantara mereka.
Bahwa Jiang Jing wei tak akan menyentuh wanita manapun di istana dalam, dan tak akan lagi menambah jumlah mereka kedepannya.
Akan tetapi, di saat itu Jing masih mengunci rapat Cermin air bulan dalam sebuah peti.
Sehingga yang terpampang dalam tampilan cermin air di Yincang, hanya kegelapan tanpa kehadiran tampilan sosok yang ingin ia temui.
Ziaruo kecewa dan mengambil kesimpulan sendiri.
Dan ia memutuskan, untuk tak lagi membuka cermin miliknya, hingga di hari kelahiran Weiyun.
Berbanding balik dengan apa yang di pikirkan oleh Ziaruo.
Jing beranggapan, bahwa perkataan Ziaruo adalah sebuah sindiran kamuflase, atas kemarahan wanita itu untuk dirinya.
Karena telah menutup Cermin air bulan selama 3 hari, padahal ia menyadari selama 3 hari tersebut, bukanlah waktu yang singkat untuk wanita itu di Yincang.
Di tambah lagi pada hari berikutnya, ia juga telah menerima banyak selir yang memasuki istana. Setelah pengumuman di buat dan di sebarkan, di hari yang sama ketika dirinya menutup cermin air bulan.
Hati Jing seolah bergemuruh dengan penyesalan, untuk 3 hari kekonyolan di waktu itu.
Sikap impulsif sesaat yang ia miliki, ternyata berdampak besar untuk sosok terpenting dalam hidupnya tersebut.
Jiang Jing wei memejamkan mata sejenak, menghela nafas panjang dan mulai membuka baris kata. ''Tidak Yun...tidak...'' Suara itu terdengar penuh penyesalan.
''Itu bukan salahmu, dan hal itu juga tak seperti yang kau pikirkan.''
Jiang Jing wei membalik tubuh Ziaruo.
Ia membawa wajah sang istri untuk menatap tepat kearahnya.
''Lihat aku Yun...Semua tidak seperti yang kau pikirkan.'' Ucapnya lagi, masih dengan inti perkataan yang sama.
Jing ingin mengatakan bahwa segalanya salah faham.
Banyak hal yang ingin ia katakan, namun melihat wajah itu, kesenduan disana, serta sorot mata kecewa Ziaruo, Jing tak berdaya untuk meruntuki diri sendiri.
Yun-nya kecewa kepada dirinya.
Jing mendudukkan tubuh gagahnya, di samping tubuh Ziaruo yang masih berbaring.
Manik mata Jing terfokus pada bening mata Ziaruo.
__ADS_1
Ia ingin menemukan setitik kepercayaan disana, dan menggunakan itu sebagai kekuatan untuk melanjutkan perkataan selanjutnya.
Namun Yun-nya telah berubah, mata itu seakan tak lagi memiliki kecerahan, untuk tatapan kepadanya seperti dulu.
Hati Jing kembali di remas dengan kecemasan, Ia berpikir bahwa Ziaruo akan pergi kapanpun dan menghilang.
Dengan cepat bibir Jing Bergerak untuk merangkai kata. ''Yun...Mereka..''
Suara Jing masih bergetar, bahkan dengan posisinya yang duduk, raut wajah di bawah pandangannya, tampak lebih menakutkan untuk menangkap ekspresi di sana.
Jing takut, di detik berikutnya ia menyelesaikan ucapan, wajah itu akan menampilkan kekecewaan dan kehilangan kepercayaan untuk dirinya.
''Aku tak pernah menyentuh mereka.''
''Pria ini tidak mengkhianatimu sekalipun. Apa kau percaya Yun?.''
Ucapan, demi ucapan akhirnya meluncur lancar dari bibir Jing.
Ibarat sebuah gulungan benang yang telah di temukan pangkal ujungnya, dan jatuh menggelinding cepat untuk membentangkan uluran benang panjang, hingga ke pangkal ujung lain.
Ziaruo tak menghentikan perkataan Jing suaminya.
Ia diam patuh mendengarkan, mengamati ekspresi, serta menatap lekat pada sosok tubuh, dengan reaksi tak menentu di atas wajahnya.
Wajah Jing sungguh memiliki banyak ekspresi saat ini, terkadang cemas, yakin, serius, takut, dan bahkan antusias mewarnai silih berganti.
Setelah beberapa saat, dan di rasa sudah cukup untuk pria itu menjelaskan.
''Anda sangat indah sekarang Baginda.''
Mendengar itu lagi-lagi Jing membeku.
Perkataan yang telah mengalir lancar, tiba-tiba saja terhenti seperti aliran air sungai, yang bertemu dinding bendungan tinggi.
''Seharusnya mereka tak memberi sebutan dingin untuk Anda. Itu tidak cocok sama sekali.'' Ziaruo.
Mendengar perkataan tersebut Jing menyadari apa yang ia lakukan.
Namun, pentingkah hal itu?.
Tentu saja tidak sama sekali, ia tidak peduli tentang identitas, ataupun reputasi dirinya saat ini.
Ia hanya ingin meyakinkan wanita disana, tentang apa yang tengah membentangkan jarak diantara keduanya.
Dan mungkin saja, bisa menjadi lautan pemisah untuk selamanya.
Jiang Jing wei ingin tersenyum miris untuk diri sendiri.
Dengan upaya yang ia lakukan, nyatanya wanita itu hanya terfokus pada pandangan orang lain tentang dirinya, bukan pada poin penting inti dari apa yang ia ucapkan.
''Yun...Dengarkan aku dulu...bisakah?.''
Nada sura itu, tampak memohon dengan ketulusan.
__ADS_1
Perlahan ia meletakan telapak tangan miliknya di atas punggung tangan Ziaruo, yang masih melekat di kedua pipinya.
Jiang Jing wei membawa tangan itu turun dari sana, dan menangkupnya bersama.
''Setelah pergolakan hari itu, ada sedikit celah dalam pemerintahan yang membuat para bangsawan merasa berkesempatan. Dan aku menerima mereka, hanya untuk mengikat langkah keluarga bangsawan itu Yun.''
Ziaruo memperhatikan setiap detil ucapan Jing suaminya.
Dan benar adanya bahwa posisi Jiang Jing wei, juga bukanlah sesuatu hal yang mudah akhir-akhir ini.
Di tambah lagi dengan statusnya sebagai seorang permaisuri yang berlatar belakang rendah, masih banyak pihak oposisi yang kurang puas terhadap dirinya.
Dalam batas-batas tertentu, kaisar Jing memang harus lebih bersabar untuk memberi muka, kepada para bangsawan di kekaisaran.
Dan salah satu cara paling efektif adalah menerima pemberian selir dari keluarga-keluarga terkait, yang menjadi bumerang untuk pergolakan statusnya.
Ziaruo menghela nafas panjang sejenak, ia baru menyadari ada ketidak berdayaan untuk kelahirannya di dunia, pada reinkarnasi kali ini.
Semakin tinggi posisi yang di pegang, semakin besar tuntutan untuk memuaskan.
Sosoknya yang tak pernah peduli dengan status, kini berimbas dan menjadi titik kritik untuknya setelah berdiri di ketinggian.
Sesungguhnya, hal ini telah berlangsung sejak wanita itu mulai menyetujui pernikahan dengan Jiang Jing wei.
Namun, di saat itu Jing masih tak tergoyahkan sebagai seorang kaisar dan satu-satunya pewaris.
Ia juga menyandang sebagai seorang kaisar hebat, dan kejam dengan tentara bayangan yang tersembunyi.
Jangankan untuk hal sepele yang menentang keputusannya, musuh yang datang dengan ribuan penyerang dari kekaisaran lain ia tidak takut sama sekali.
Akan tetapi, untuk saat sekarang setelah pasukan rahasia yang ia miliki hanya tinggal sepertiganya saja, ia harus memikirkan kesejahteraan rakyat dan perlindungan kekaisaran dari serangan pihak lain.
Dan salah satunya, Jing harus terus mempertahankan persatuan dari setiap bangsawan kerajaan, terutama mereka pemilik basis militer serta kekuatan prajurit pribadi.
Sehingga prajurit kekaisaran lain akan berpikir dua kali untuk datang, dan membuat masalah di kekaisaran Zing.
Jika bukan untuk hal tersebut, ia bisa langsung membuang ataupun membereskan, para bangsawan yang merepotkan di sekelilingnya.
Namun, dengan pemikiran jangka panjang yang ia miliki, serta mengingat kehadiran Weiyun putra mereka, Jiang Jing wei memiliki pemikiran serta rencana baru di benaknya.
Akan tetapi, tak ada sebuah rencana yang tanpa celah. Sebaik apapun itu di susun, selalu akan ada sisi buruk yang mengikuti.
Seperti sekarang ini karena Ziaruo yang tak lagi mampu membaca pikiran orang lain, ia tidak memahami persiapan Jing, untuk kebaikan masa depan mereka.
Ziaruo menoleh kesamping, dengan posisi tubuh yang masih rebahan di tempat tidur.
Wajah itu, masih belum menunjukan sebuah tampilan percaya untuknya.
Akan tetapi, disana juga tak lagi terlihat kesenduan beberapa saat yang lalu.
Melihat ekspresi Ziaruo yang sedikit lebih baik, Jing kembali membuka bibir dan berkata. ''Kebanyakan dari mereka adalah tawanan sangkar emas, untuk mengontrol keluarga para bangsawan, tak ada yang benar-benar berperan sebagai selir.''
''Yun...Bisakah kau mengerti?''
__ADS_1