Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 119 Tiga pria berbeda dalam satu rumpun yang sama.


__ADS_3

Di kekaisaran Xili.


''Semoga Yang Mulia selalu sejahtera.'' Ucap seorang pria dengan tubuh membungkuk, serta kepala menunduk penuh penghormatan.


Melihat kedatangan pria tersebut, Murongyu berdiri dari duduknya. Kaisar Xili itu, mendekat dan berkata. ''Apakah mereka sudah berangkat?''


Dengan wajah penuh antusias, ia bertanya kepada sang utusan.


Sementara tak jauh darinya berdiri sekarang, Hanwen dan Shengyu memperhatikan setiap tindakannya.


Ada pemahaman, atas sikap sang Kaisar di dalam hati, serta pikiran kedua orang tersebut.


Bagaimanapun Murongyu berusaha tenang, akan tetapi jika menyangkut tentang wanita tercintanya, pria nomor satu di kekaisaran Xili itu, tetap sulit mengontrol emosinya.


Bahkan mungkin, tanpa disadari ia akan menunjukan ketertarikan yang berlebihan.


Seperti hari ini, ia tengah menyusun sebuah rencana, agar bisa berangkat ke negri Tang, bersama dengan rombongan dari kekaisaran Zing.


Oleh karena itu, ia sengaja menyusun Jadwal keberangkatan mereka, agar terkesan secara kebetulan berpapasan.


Dan nanti, pada akhirnya ia akan mengusulkan bergabung, serta berangkat dalam satu rombongan.


Murongyu, sejak awal memang tak ingin memakai cara, atau metode memaksakan hatinya kepada Ziaruo.


Karena ia tahu, tak akan mampu untuk melakukannya.


Namun, ia juga tak mau menyerah dengan mudah, hatinya tak akan mengizinkan hal itu terjadi.


Jauh di lubuk hati, Murongyu belum bisa menerima kenyataan bahwa telah kalah dari Kaisar Jing, orang sama yang juga telah hampir membunuhnya di hutan barat dulu.


Mengingat begitu banyak kebencian diantara keduanya, sebenarnya baik itu Wangde ataupun Murongyu pribadi, meragukan keberhasilan rencana saat ini.


Namun, apa boleh dikata, segalanya telah diputuskan oleh sang Kaisar.


''Heeeh....'' Murongyu dan Hanwen menghela nafas panjang, hampir bersamaan.


Melihat kedua orang di depannya demikian, Shengyu terkekeh pelan, dan bergumam dalam hati. ''Anda berdua memang cocok menjadi saudara.''


''Benar yang mulia, sekitar setengah dari batang dupa lagi, rombongan mereka akan sampai di tempat yang telah kita tentukan.'' Jawab sang utusan, dengan posisi yang masih seperti semula.


''Bagus...Ayo, kita harus segera berangkat.'' Sahut Murongyu dengan rona wajah bahagia.


Kaisar Murong tak memperdulikan, tanggapan dari Shengyu ataupun Hanwen. Ia mengambil keputusan sesuai apa yang di pikirkan saat ini.


Dan bagi Hanwen yang mendengarnya, reflek mengerutkan kening sejenak dan bertanya. ''Lalu apakah pria itu, akan mengizinkan kita Yang mulia?, Menurutku dia bukan orang yang dengan mudah menerima orang lain di wilayahnya (rombongan).''


Wangde menatap tepat kearah Murongyu, ia ingin mendengar penjelasan dari sang tuan, yang sekaligus sahabat baiknya tersebut.


Sementara, orang yang diharapkan di depanya hanya tersenyum tipis, manakala pria tersebut mendengar ucapan sang sahabat.


Bahkan, ia balik menatap Hanwen dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Mendapat tanggapan yang demikian, Wangde mendengus pelan dan kembali berucap. ''Mengingat ia juga membenci anda, pasti akan sulit memperoleh izin darinya.''


Kali ini, seolah ucapan Hanwen memancing sesuatu, di dalam hati sang penguasa Xili tersebut.


Murongyu berjalan mendekati sahabatnya dan berkata. ''Aku tidak perlu izin dari siapapun. Asal kan dia(Ziaruo) tidak keberatan, siapapun tidaklah penting, tidak juga Jing.''


''Bahkan jika ia sedikit memberiku harapan, aku tak akan berpikir dua kali untuk membawanya pergi jauh.'' Lanjut Murongyu dalam hatinya.


Ada banyak hal di dunia ini, jika selalu merasa tak sempurna maka, dia akan mendapatkan apa yang ia pikirkan( ketidak sempurnaan).


Bagi Murongyu kekuasaan, kemegahan, tahta dan harta tidaklah penting, ia hanya menginginkan cinta dihatinya(Ziaruo).


Dan ada seseorang yang memiliki ketulusan hati, bahkan segalanya terpusat padanya.


Akan tetapi, ia memilih harta dan kekuasaan, meninggalkan seseorang yang ia cintai dan tulus menyayangi dirinya demi kekuasaan(salah satunya yaitu selir Kang).


Berbeda lagi, dengan seseorang yang memilih berdiam diri, diantara harta, cinta dan kekuasaan.


Pria tersebut layaknya raga tanpa nyawa, berjalan perlahan tanpa tujuan, hanya berpikir untuk apa yang akan di lalui hari ini, tidak kemarin ataupun di masa mendatang.(Hanwen)


Hanwen, pria dengan luka kekecewaan yang mendalam, membenci apapun tentang kepalsuan, ia memutuskan mencintai dirinya sendiri, serta bertekad membujang seumur hidupnya.


Ruangan menjadi hening dengan pemikiran masing masing.


Hingga suara dari sang Kaisar mengejutkan ketiga orang di sana. Hanwen, Shengyu dan juga sang penjaga bayangan.


" Sudahlah...Ayo kita harus berangkat, aku tidak ingin melewatkan sesuatu yang penting." Ucap Murongyu lagi, sembari melangkah menuju pintu keluar, dan di ikut oleh ketiga orang disana.


Sementara, tak jauh dari tempat mereka berbicara tadi, dua pasang mata, menatap lekat kearah mereka.


Dengan wajah yang masih pada satu titik fokus, kearah ketiga orang yang beranjak pergi, ia bergumam lirih. ''Ternyata, masih tetap wanita yang sama.''


Ada kegetiran dalam nada suaranya, ia menghela nafas dalam sebelum kembali berkata. ''kirim pesan untuk keluarga Kang, sampaikan bahwa mereka sudah berangkat.''


''Baik Yang Mulia, hamba laksanakan.'' Jawab sang bayangan, sebelum melesat pergi meninggalkan tuannya, yang masih diam mematung, menatap ketiga punggung yang kian menjauh.


Sementara itu, di kekaisaran Tang.


Seorang wanita kini tengah berdiri di tengah sebuah taman kekaisaran.


Menatap lekat kearah kupu-kupu berterbangan, diantara pucuk bunga yang mereka indah.


Sesekali ia akan tersenyum, dan mengusap perutnya lembut.


Ada binar bahagia ketika ia melakukan itu.


Dengan suara lembut ia bergumam. ''Baginda pasti akan bahagia mengetahui kehadiranmu, jadi bersabarlah hingga sidang pagi selesai.''


Wanita itu menampilkan kebahagiaan yang sempurna, saat ia mengusap usap perutnya yang masih rata. Banyak hal yang ia angankan sekarang, bahkan senyumannya, tak henti tercetak di bibir tipis itu.


''Dayang, apakah Yang Mulia telah kembali ke ruang kerjanya?.'' Tanyanya kepada sang pelayan wanita.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan selir keagungan (Gumemeng) sang pelayan menunduk sejenak dan menjawab. ''Benar yang Mulia, paduka Kaisar sedang berada di ruang kerjanya.''


''Baiklah, ayo kita temui ayahanda dulu anakku.'' Gumam selir keagungan, sembari mengusap lembut kembali perutnya.


Wanita itu seolah tengah berbicara dengan seseorang. Akan tetapi, pada kenyataannya ia tengah sendirian, bahkan sang pelayan wanita kebingungan mendengarnya.


Namun, dengan status rendahnya, wanita pelayan tersebut hanya diam dan mendengarkan, tak ada niatan untuknya menyahuti ataupun bertanya, baginya diam jauh lebih berharga.


Selama perjalanan dari taman menuju ketempat Kaisar berada, sang selir dipenuhi dengan aura kebahagiaan.


Di sela hiruk pikuk, persiapan pesta tahunan kekaisaran, ia akan membawakan sebuah kabar gembira untuk sang kaisar suaminya.


Bahkan bisa juga di artikan sebagai kabar gembira, untuk seluruh rakyat kekaisaran Tang yang agung, terlebih lagi jika kelak bayi yang di kandungnya, adalah seorang pangeran.


Ketika membayangkan hal tersebut, selir Keagungan semakin bersemangat dengan langkahnya.


Seolah ia tak sabar ingin segera sampai di ruang kerja sang Kaisar. Langkah kakinya yang anggun, serta gemulai seakan memperpanjang jarak tempuh yang harus ia lalui.


Wanita itu, ingin berjalan dengan cepat, agar dirinya segera sampai di tujuan, akan tetapi ketika mengingat bayi di dalam rahimnya, ia mengurungkan niatan tersebut.


''Tidak, aku harus menjaga tubuh dan bayiku, karena ia adalah kebahagiaan seluruh kekaisaran, dan juga keluarga besarku.'' Gumamnya dalam hati.


Langkah kaki itu, pada akhirnya membawa sang selir berdiri di depan sebuah ruangan, dengan pilar pilar ukiran besar di depannya.


''Hormat kami selir keagungan.'' Sapa dua penjaga pintu ruangan dan seorang kasim muda.


''Bangunlah...''


''Apakah Yang Mulia sedang di ruangannya.'' Ucap selir keagungan dengan lembut serta anggun.


Mendengar pertanyaan tersebut, sang kasim kembali menubduk dan menjawab. ''Benar Yang Mulia selir, izinkan pelayan ini mengabarkan kedatangan anda Yang Mulia.''


''Eeemmm..'' Selir menyahuti, dengan anggukan kepala, serta tenang menunggu di depan ruangan.


Setelah memperoleh izin dari sang selir, kasim muda tersebut berjalan memasuki ruangan, dengan tubuh yang sedikit membungkuk.


Selang beberapa saat kemudian sang kasim keluar, membungkuk sejenak, sebelum kembali membuka mulut dan berkata. ''Anda sedang di tunggu baginda Kaisar Yang Mulia.''


''Terimakasih kasim....'' Jawab sang selir, sebelum beranjak dari sana dan memasuki ruang kerja Kaisar.


Selir Keagungan Gu memeng, adalah Wanita dari Kaisar Canzuo, sekaligus calon terkuat Permaisuri saat ini.


Ia juga putri dari jendral perang kekaisaran Tang, yang di kenal sebagai jendral terkejam sepanjang sejarah kekaisaran.


Gu memeng juga merupakan adik dari Gutingye, suami pertama Ziaruo yang mengasingkan diri di hutan barat kekaisaran Xili.


Sejak kematian dari selir kemurnian Mengyulin, Kaisar Canzuo mengangkat status selir Gu, dan menjadikannya sebagai selir kesayangan.


Bahkan setelah desas desus tentang rasa amarah sang jendral, Canzuo memperlakukan selir keagungan, seolah ia adalah wanita tercitanya.


Ini bertujuan sebagai penebus rasa bersalahnya, kepada sang wakil jendral (Gutingye).

__ADS_1


Canzuo juga ingin meredakan kemarahan sang Jendral besar (ayah Gutingye dan Gu memeng), atas kejadian tragis yang menimpa sang putra dan cucunya (kematian Gutingye dan Gutingyan), agar tidak melakukan tindakan pemberontakan.


''Hormat hamba Yang Mulia kaisar, semoga anda selalu sejahtera.'' Ucap seorang wanita dengan suara lembut serta tenang.


__ADS_2