Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 42 Sarang serigala


__ADS_3

"Wajah kalian, ia aku sepertinya pernah melihat kalian....aaakkhhh...sakit ..kepalaku sakit.'' ucap Ziaruo lirih, sambil kembali memegangi kepalanya.


"Sudahlah, jangan di paksa untuk mengingat kembali, apapun adanya dirimu, baik kau mengingat atau tidak tentang kami, namun kau tetaplah wanita yang aku cintai.'' ucap pria itu dengan lembut, dan tampak tatapan kejujuran disana.


"Yanyan temani kakak sebentar, ayah akan mengambil obat ke rumah tabib, dan ada yang ingin kukatakan kepada anda nona Xioyu, tolong ikuti saya.'' Ucap pria tersebut, dengan suara tegas.


Sementara itu, Xioyu dengan penuh kebingungan mengikuti langkah kaki tuan Gutingye (ayah Yanyan /Gutingyan)


Banyak hal yang menurutnya jangggal.


Namun, dia juga tidak mengetahui apapun tentang nona yang telah menyelamatkannya tersebut.


Lagi pula nona itu juga mengatakan bahwa ia familiar dengan mereka.


Langkah kakinya terhenti, didepan sebuah kamar pribadi milik tuan Gutingye, ia menunggu di luar pintu, ada rasa canggung baginya memasuki kamar tersebut.


"Mengapa, nona hanya berhenti disana silahkan anda masuk, saya tidak akan melakukan apapun kepadamu.'' ucap Gutingye dengan nada tenang.


''Tidak tuan, saya disini saja tidak pantas memasuki kamar tunangan majikan saya.''


Jawab xioyu dengan pelan, namun masih dapat di dengar oleh Gutingye.


"Kau bilang tadi bahwa dia penyelamatmu, dan sekarang kau bilang dia majikanmu?.'' Ucap Gutingye dengan sedikit mengernyitkan keningnya, ada raut kecurigaan, diwajah tegasnya.


Mendengar hal tersebut, Xioyu mendadak gugup, ia takut rahasianya dimalam itu di ketahui oleh orang lain, mungkin hal itu memalukan dan bahkan merusak nama baiknya.


Akan tetapi bukan itu yang berusaha untuk dijaganya, ia tak ingin pria didepannya itu membatalkan pertunangan, dengan wanita penolongnya yang kini kehilangan ingatan dan tak berdaya, bahkan saat ini berbaring lemah di bilik tak jauh dari sana.


Xioyu juga ingat betul, bagaimana kejamnya wanita penolongnya tersebut, saat membunuh orang orang jahat yang telah menganiaya dirinya.


Jujur sebenarnya, ia juga terkejut saat itu, bahkan dapat dikatakan, ia bergidik ngeri.


Namun, dalam hati rasa kepuasan yang besar lebih dominan.


Karena hal itu, ia menganggap mereka semua pantas menerimanya.


"Bagaimana jika laki-laki ini benar-benar tunangannya nona, apa yang harus kukatakan?'' Gumam Xioyu dalam hati.


''Mengapa anda diam saja nona? dan seingatku Ziaruo, dia hanya memiliki seorang kakak saja, dan mereka tinggal di pondok tengah hutan ini, lagi pula aku juga tak pernah melihatmu? katakan siapa kamu sebenarnya?.'' Tanya Gutingye, dengan tatapan menyelidiki.

__ADS_1


Gutingye pernah memerintahkan orang, untuk menyelidiki Ziaruo, setelah wanita itu menyelamatkan putranya.


Lebih-lebih, karena Ziaruo telah menarik perhatian dan menghidupkan kembali, perasaannya yang ia kubur setelah kepergian, sang istri dengan pria lain yang lebih kaya dari dirinya.''


''Jika kau memang pelayannya, sejak kapan kau berkerja untuknya?.'' Tanya Gutingye lagi. Namun, kali ini ia benar benar yakin, bahwa gadis tersebut Xioyu, tak ada hubungan apapun dengan Ziaruo.


Akan tetapi, ia juga masih belum menemukan, apa alasan dari Xioyu yang begitu memberikan perhatian untuk Ziaruo.


Serta siapakah yang melukai Ziaruo, dengan begitu kejam dan brutal, hingga wanita yang ia kagumi, sejak pertemuan pertama tersebut, tergolek dengan luka luka yang cukup parah.


"Bagaimana ini, ternyata tuan Gutingye benar benar mengenal nona?.'' Pikir Xioyu mulai kebingungan.


"Katakan siapa kamu sebenarnya, dan siapa yang melukainya?.'' Tanya Gutingye dengan aura penuh penekanan, sambil menarik tangan Xioyu dan hendak, membawanya masuk keruangan miliknya.


Gutingye hanya ingin mengetahui lebih detil, asal usul luka di tubuh dan pelipis kepala sang gadis.


Mendapati dirinya di perlakukan demikian, Xioyu kembali ketakutan, ia mengingat kejadian malam kelamnya, dimana dirinya, ditarik dan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


"Tidak tuan, saya tidak mau, jangan tuan saya mohon.''pintanya, sambil memegangi bibir pintu kamar, ia benar benar ketakutan.


"Apa yang yang kau lakukan, aku hanya ingin bertanya kepadamu, apa yang terjadi, mengapa kau ketakutan seperti itu?.'' Tanya Gutingye kembali, ia merasa aneh dengan sikap wanita di depanya tersebut, seolah ia seseorang yang memiliki gangguan kejiwaan.


"Tuan beberapa saudara yang kita cari, sudah di temukan.'' Ucap laki laki tersebut, namun terlihat jelas bahwa wajah itu, tampak agak pucat.


"Benarkah, dimana mereka, katakan untuk menemuiku, mereka selalu saja melanggar peraturan peraturan kita dan..'' Ucapan Gutingye terhenti saat melihat kearah Xioyu.


Pria itu diam sejenis dan berkata sambil menara ke arah Xioyu "Kau boleh pergi dulu, nanti kita bicara lagi.''


Tanpa menunggu waktu lama, Xioyu segera berdiri dan melangkah pergi.


Namun, ia mulai melambatkan langkah kakinya, setelah laki-laki yang baru datang tersebut, mengikuti langkah Gutingye masuk kedalam kamar itu.


"Suruh mereka menemuiku, aku akan memberi mereka pelajaran agar lain kali tidak bertindak semau mereka.'' Ucap Tingye dengan nada kesal.


"Sayangnya, sepertinya tuan tak akan lagi bisa menghukum mereka tuan.'' Jawab laki laki tersebut.


"Mereka ditemukan meninggal, digubuk sebelah timur perkampungan kita tuan, gubuk di tepi sungai itu.'' Lanjutnya lagi, bermaksud menjelaskan.


''Semuanya?, siapa yang berani membunuh mereka?.'' Tanya Tingye lagi dengan nada keterkejutan.

__ADS_1


"Ia tuan, semuanya meninggal dengan kondisi yang mengenaskan, ada orang yang telah meny*yat pemb*luh darah mereka. Sehingga semuanya meninggal karena kehabisan darah.'' Sambung sang pria yang baru datang tadi.


''Kami, baru saja menemukan tubuh mereka beberapa saat yang lalu, itupun karena angin yang telah membawa aroma tubuh mereka, yang sudah membusuk dan di penuhi belatung.'' Tambah pria tersebut.


"Antar aku kesana.'' Pinta Gutingye, sembari berdiri dari duduk, dan melangkah keluar.


Mendengar ucapan itu, sebuah bayangan di luar buru-buru melangkah cepat, dan pergi dari sana sesegera mungkin masuk kedalam bilik.


"Nona bagaimana ini, ternyata mereka adalah teman teman para bajing*n itu, dan kita memasuki sarang serigala hutan nona ?.'' Gumamnya, sambil menatap sedih sekaligus cemas, kearah seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang.


"Mereka pasti berbohong, bahwa anda adalah tunangan tuannya,( Gutingye ) karena aku ingat malam itu, melihat wajah nona mereka begitu bernaf* untuk mendapatkan nona, jika nona tunangan tuanya, mereka tentu tidak akan berani terang-terangan.


Ia..benar mereka semua penjahat, dan ingin mendapatkan anda nona, tapi ...'' *U*capnya dalam hati, sembari mondar-mandir, kesana kemari.


Gadis itu bingung harus berbuat apa. Jika ia hendak kabur, bagaimana dengan nonanya.


Jika ia membawanya, ia takut dengan kondisi seperti itu, justru akan mencelakainya.


"Apa yang harus aku lakukan?, aku harus menjauhkan nonaku dari pria itu, dia adalah tuan mereka, berarti tuan Gutingye adalah pimpinannya. Mungkin sementara kita akan aman disini, aku harus menunggu saat kondisi anda sudah membaik .'' Gumamnya kembali, sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Ziaruo.


Sementara itu di pondok tepi sungai, yang agak jauh dari perkampungan merah milik King.


 


Dari jarak 10 meter, sudah tercium bau tidak sedap dari tubuh orang-orang yang meninggal malam itu.


Bahkan, beberapa orang memuntahkan makanan dari dalam perut mereka kembali.


"Apakah tidak ada yang mengetahui kejadiannya?.'' tanya Tingye kepada semua orang yang disana.


"Maaf tuan..tidak ada.


Lagi pula, mereka memang sering bertindak semau mereka, dan sering menghilang dari perkampungan Merah untuk ke kota. Jadi kami tidak begitu perhatian ketika mereka menghilang.'' Ucap penduduk 1 menjelaskan


"Ia benar,.. ia benar.'' Sahut beberapa orang membenarkan penjelasan penduduk 1.


"Baiklah, semua orang harus membantu menguburkan mereka, saya akan memberikan 2 keping perak untuk masing-masing orang, setelah itu bakar gubuk itu, untuk menghilangkan bau dan balatung belatungnya.'' Perintah Gutingye tegas.


"Baik tuan.'' Jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Siapa yang mampu membunuh mereka seperti itu?, dan itupun tanpa kami sadari sama sekali?. Seolah ia melakukannya tanpa ada perlawanan dari mereka semuanya, apakah ada orang sehebat itu?.'' Pikir Gutingye, dalam kepalanya yang mulai terasa berat, efek dari aroma-aroma di sana yang menyengat pada hidung.


__ADS_2