
Wanita tua Gu, menyebut nama lain dari permaisuri secara langsung. Dan hal itu di dengar dengan baik, oleh seluruh orang yang berada di sana.
''Lancang..'' Pekik jendral Gu, menyadarkan sang istri.
Mendengar suara bariton yang sangat ia kenal Nyonya Gu tersadar. Dalam sekilas, ia merasakan lututnya menjadi lemas, dan tak mampu menopang tubuh tuanya lagi. ''Hixs..hixs..Tingye..putraku.''
Gumam lirih nyonya Gu. Ia menangis ketika melihat permaisuri Ziaruo.
Wanita yang baru pertama kali ia lihat hari ini, ternyata adalah seseorang yang sangat di cintai oleh putranya, bahkan mereka juga sempat melangsungkan pernikahan, sebelum akhirnya sang putra meninggal.
Karena pada kenyataannya ia telah mengenal nama itu, jauh-jauh hari dari sang putra(Gutingye), sebelum pertemuannya hari ini.
Nyonya Gu semakin terisak, serta tidak lagi menghiraukan keheranan, serta wajah puzel kebingungan orang di sekitarnya.
Dengan posisi terduduk di tanah, wanita itu mengulurkan tangannya kearah Ziaruo.
Seakan ia ingin meraih tangan seseorang, yang ia kenal serta sangat di rindukan.
Wajah tua itu, menampilkan ekpresi kepedihan yang mendalam. Di hadapan permaisuri Yun, ia tak lagi mengindahkan tatapan mata suaminya, yang seolah ingin membekapnya saat itu juga.
Dan hal itu benar adanya. Melihat sang istri melakukan tindakan tersebut, Jendral tua Gu menjadi geram, sekaligus takut secara bersamaan.
Ia geram karena istrinya melakukan kelancangan, terhadap permaisuri negri Zing. Namun, ia lebih terfokus pada ketakutannya.
Karena jendral tua tersebut mengetahui dengan jelas sifat, serta karekter dari kaisar negri tetangga(Zing), yang terkenal kejam.
Ia berpikir, menghentikan sang istri dari tindakannya sekarang.
Namun, semuanya sudah terlambat di lakukan.
Karena, ketika ia melihat sekilas kearah kaisar Jing, pria penguasa yang terkenal bengis serta arogan tersebut, telah menampilkan wajah datar, serta aura menakutkan.
''Ampun Yang Mulia...ampuni kebodohan, serta kelancangan istri hamba, Mohon izinkan pria tua ini unt....''
Jendral Gu bersujud meminta pengampunan untuk sang istri, dengan suara yang agak ia keraskan.
Ia berharap dengan apa yang di lakukannya, baik kaisar Zing, maupun permaisuri Yun, akan memberi kemurahan hati untuk wanita yang ia cintai.
Terlebih lagi jendral Gu menyadari, bahwa sang istri melakukan semua itu, adalah karena kepedihan hatinya, atas kehilangan seseorang yang ia cintai.
Dan melihat permaisuri Zing sekarang, ia kembali mengingat kepedihan atas kematian sang putra.
Namun tetap saja, Ziaruo bukanlah orang dengan status biasa sekarang, dan adalah suatu kesalahan besar, bagi siapapun memanggilnya dengan namanya.
Jendral Gu hendak menarik tubuh sang istri, dan meminta pelayan membawanya masuk kedalam kediaman.
__ADS_1
Akan tetapi, belum sempat ia melakukan apapun, Ziaruo mengibaskan tangannya pelan, dan berkata. ''Jangan berlebihan Jendral, aku mengerti apa yang di pikiran oleh Ibu Gu.''
''Jeblaaaar''
Mendengar ucapan tersebut, baik itu jendral Gu, Nyonya Gu, para pelayan kediaman, prajurit penjaga kekaisaran Zing, dan Jiang Jing wei menatap kearah Permaisuri Yun dengan ekspresi berbeda.
Ziaruo mengerti apa yang di pikirkan oleh semua orang untuk dirinya, dan ia telah mengira akan hal itu.
Dengan tatapan penuh harap, Ziaruo melihat kearah Jing, seolah meminta sebuah persetujuan. ''Bisakah, wanita ini menjadi putrinya sejenak Yang mulia?''
Dengan kemampuan membaca pikiran orang lain, bagaimana mungkin Permaisuri Yun, tidak mengerti kepedihan istri jendral Gu. Yang bahkan, bagi orang biasa pun dapat melihatnya dengan jelas.
Dan entah mengapa, seakan Jing mengetahui apa makna tatapan tersebut. Dengan gerak pelan, kaisar Jiang jing wei mengangguk.
''Bahkan kau telah memanggilnya sebagai ibu, Yun.. lalu apa hakku memisahkan seorang putri dari ibunya?.'' Gumam dalam pikiran Jing.
Melihat persetujuan dari suaminya, dengan cepat Ziaruo menyambut uluran tangan wanita tua Gu.
Ziaruo memeluk wanita itu beberapa saat. Dengan tangisan yang pilu dari Nyonya Gu, ia memahami bahwa wanita itu, memiliki kesulitan serta penderitaan tersendiri.
Sebuah kepedihan yang tak jauh lebih besar dari kemampuannya untuk bersabar.
''Bahkan jikapun itu menyakitkan, tetap saja dewa telah mengatur setiap detil jalan takdir masing-masing, dan manusia hanya dapat menjalani, berusaha sekuat tenaga, serta tidak hilang harapan.'' Pikir Ziaruo dalam diam.
Setelah beberapa saat kemudian, perlahan Ziaruo membantu nyonya Gu berdiri. Dan dengan izin dari jendral tua Gu, ia berjalan memasuki kediaman, sembari memapah nyonya Gu.
Menyaksikan hal tersebut, jendral Gu, Jiang jing wei dan beberapa orang pelayan utama, mengikuti langkah keduanya, masuk menuju ruang tengah kediaman keluarga Gu.
Sementara beberapa penjaga bayangan milik Jiang jing wei, menyebar ke berbagai titik di sekitar kediaman sang jendral.
Memasang barel perlindungan, melungkupi kediaman keluarga tersebut.
Mereka sengaja memeperketat penjagaan, serta pengawasan dengan kewaspadaan tinggi, untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.
Maklum saja, dengan berkurangnya jumlah pengawal, serta absennya Wuhan, keselamatan kaisar Jing dan sang permaisuri, menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya.
Wuhan, Yongyu dan jendral besar telah di kirim pulang lebih dulu, beberapa hari sebelum acara berakhir.
Sementara para cendekiawan dan guru besar Mengshuo, telah berangkat kembali kekekaisaran Zing, sejak siang.
Sesungguhnya rombongan keluar dari istana secara bersama- sama. Namun mereka terbagi, ketika Kaisar Zing dan permaisuri Yun, memutuskan singgah sejenak ke kediaman Gu.
Dan bukan hanya rombongan kekaisaran Zing saja, yang memutuskan untuk kembali lebih awal.
Dengan banyaknya peristiwa di kekaisaran Tang, banyak tamu yang hadir, kembali ke negri mereka, jauh sebelum rangkaian acara usia.
__ADS_1
......................
Sementara itu, di kekaisaran Tang, setelah melakukan upacara pelepasan tamu kekaisaran (mengatara tamu pulang), Canzuo tak mengindahkan pertanyaan, dari setiap pejabat kekaisaran tentang selir Gu.
Bahkan, ia mengurung diri di ruang kerja, serta menolak menemui siapapun.
Hingga, sebuah siluet bayangan hadir di depannya.
''Apa yang kau lakukan disini, aku sedang tidak membutuhkanmu.'' Ucap datar Canzuo, kepada siluet tersebut.
Mendengar perkataan kasar itu, bayangan yang tak lain adalah sosok dari Biyi, tersenyum menyeringai.
Dengan langkah tegas, ia berjalan semakin mendekat. ''Sejak kapan aku memerlukan izin darimu?.'' Jawab Biyi dengan penuh keyakinan.
Sorot matanya terlihat menakutkan, Canzuo terhenyak sejenak.
Meskipun ia mengatakan apa yang kini berada di dalam pikirannya, akan tetapi dengan segera Canzuo menyesali segalanya.
''Apa kau pikir aku akan peduli dengan aturan konyol, serta tata krama disini.'' Lanjut Biyi lagi.
Pria itu memutar kuas ditangan kaisar Canzuo, memainkannya sejenak, sebelum akhirnya mencabutnya dari genggaman tangan kaisar Tang.
''Membunuhmu, atau mengambil apapun yang kau miliki, semudah menarik kuas ini dari tanganmu.''
Mendengar setiap ucapan, yang meluncur dari pria dengan wajah identik dirinya, Canzuo menggigil ketakutan.
''Apakah kau ingin aku membuktikannya?.'' Tanya Biyi, dengan tatapan tajam kearah kaisar Canzuo.
'' Tidak tuan, ampuni pria bodoh ini?.'' Jawab Canzuo, sembari meringsekkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki.
''Bagus.'' Jawab Biyi singkat.
''Bagaimana dengan persiapan rencana kita?.'' Lanjut Biyi lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Canzuo berangsur memulihkan auranya, dan dengan suara yang di buat setenang mungkin, ia menjawab. ''Meskipun ada sedikit gangguan, namun semuanya masih tetap pada rencana semula.''
Canzuo menjelaskan segalanya kepada Biyi, apa yang ia ketahui.
''Meskipun, mereka pulang lebih awal dari perkiraan, namun dengan jarak tempuh yang jauh, tetap saja semuanya akan berakhir sebelum mereka sampai.'' Lanjut Canzuo lagi.
''Hahaha.....Baguus.'' Jawab Biyi singkat.
Pria itu melangkah meninggalkan ruangan, dengan di iringi tawa memenuhi ruang kerja canzuo.
Namun, ketika langkah kakinya tinggal sejengkal saja, ia berhenti dan kembali berucap. '' Pelayan ini berharap, paduka tidak melakukan apapun kepada keluarga Gu, atau aku akan melakukan kecerobohan besar.''
__ADS_1