
''Yang mulia, anda jangan langsung memutuskan, mohon dengarkan penjelasan permaisuri dulu.'' Lanjutnya lagi
Ziaruo buru-buru menyambung perkataan.
Ketika melihat Jing mengernyitkan dahi, serta hendak menharakan sesuatu.
Dan itu jelas, adalah sebuah bantahan, atau penolakan halus atas usulan yang bahkan belum ia katakan.
Mendengar antusias dari sang istri, kaisar Jiang jing wei terdiam sejenak, ia tidak sanggup, jika harus mengatakan kata tidak untuk Ziaruo-nya.
Dan pada akhirnya, Jing hanya bisa menghela nafas panjang.
''Baiklah....katakan apa itu?.'' Jawab Jing, dengan suara yang pasrah.
Ada banyak kecemasan di benak kaisar Jing saat ini.
Ditambah lagi dengan kekhawatiran, atas usul yang akan disampaikan oleh sang permaisuri.
Tentu saja, ia berusaha agar kecemasan tersebut tak terlihat, dan membuat tampilkan luarnya, setenang mungkin.
Namun, tatapan serta sorot matanya sungguh tak bisa di percaya.
Tanpa ia setujui, tatapan lembut miliknya berkhianat, dan tetap menampilkan kecemasan, untuk wanita itu.
Meski, Jing memahami betul, bahwa wanita di depannya adalah Ziaruo, wanita dengan kemampuan luar biasa, serta memiliki keajaiban, yang tak dapat di jabarkan oleh nalar manusia.
Akan tetapi, sebagai seorang suami yang sangat mencintai istrinya, serta sebagai seorang pria, dengan keinginan memiliki keturunan sejak lama.
Bagaimana mungkin, dirinya, seorang Jiang jing wei, akan membuat sang istri tercinta, dengan kehamilan yang masih rentan, ikut memikul kecemasan, atas kemelut, dan pergolakan kekuasaan dalam pemerintahannya.
Jing hanya berharap, Ziaruo duduk menikmati kejayaan, atas apa yang ia perjuangkan.
Dan membiarkan dirinya, mengupayakan kebaikan, serta kemulyaan itu, untuknya.
Definisi kebaikan, bahagia dan kasih sayang, memang tak selalu sama takaran, di mata setiap orang.
Seperti sekarang ini, kebaikan serta tujuan baik Jing, untuk membahagiakan, dan menjaga kenyamanan Ziaruo adalah salaha satu pembuktian cintanya kepada wanita tersebut.
Namun, nyatanya bagi ziaruo, sebagai seorang pendamping(istri), ia bersedia melewati tinggi dan rendah bersamanya.
Wanita itu akan merasa bahagia, jika Jing juga membagi segala kesenangan, dan kecemasan yang dihadapi.
Hal itu telah ia putuskan, sejak dirinya menerima, serta menyempurnakan pernikahan di antara mereka.
Mendengar jawanan dari Jing suaminya, Ziaruo berdiri dari pangkuan, dan mendudukan tubuh tepat di samping pria tersebut.
Sementara, Jing masih menautkan jemari tangan kokoh miliknya, diantara jari tangan sang permaisuri.
Atau lebih tepatnya, Jing tak ingin melepas tangan Ziaruo, meskipun mereka duduk berdampingan.
Bahkan, kaisar Jing sempat sedikit memutar tubuhnya, dan tubuh Ziaruo sesaat. Sehingga membuat tubuh keduanya, saling berhadapan.
Lagi-lagi, Ziaruo terkekeh kecil. Wanita itu merasa lucu, sekaligus bahagia, dengan perlakuan Jing suaminya.
''Yang Mulia...saya melihat para prajurit yang berkemah, di sekitar kota kekaisaran.''
Ziaruo memulai ucapan, setelah ia menghentikan tawa kecil, yang sejenak lalu menghiasi bibirnya.
Ia juga menjelaskan kepada sang suami, apa yang ia lihat dari cermin air bulan, tentang kondisi kekaisaran saat ini.
Dan, Jing mendengar semuanya dengan wajah tetap tenang.
Bahkan, ia masih sempat menyibakkan rambut sang istri, yang kebetulan sedikit terurai kearah wajah.
__ADS_1
Karena, bagi Jing itu bukanlah kabar baru yang bisa membuatnya terkejut.
Namun, ketika Ziaruo mengatakan, bahwa banyak tentara dari negri lain, yang akan memasuki kota kekaisaran dari empat penjuru arah, Jing menghentikan gerakan tangan itu.
Dengan tatapan tak percaya, ia menatap lekat kearah Ziaruo.
''Apa?, apa maksudmu Yun?, mengapa mereka mengirimkan pasukan juga?.'' Ucapanya dengan reflek.
Melihat wajah terkejut, dan tak percaya sang suami, Ziaruo menghela nafas pelan.
Ia telah menduga, bahwa suaminya belum mengetahui mengenai hal itu.
''Yang mulia, pergerakan mereka tidak dapat kita anggap remeh.'' Ziaruo.
''Dan sepertinya, ini bukan murni pemberontakan saja. Sepertinya mereka tidak benar-benar menginginkan kekaisaran Zing.'' Ziaruo.
''Tidak untuk tahta Zing?, lalu?.''
Tanya Jiang Jing wei.
''Jangan katakan, itu adalah orang-orang yang belum menyerah tentang dirimu?.''
Jing ingin mengatakan hal itu.
Namun, ucapan tersebut tercekat di tenggorokan.
Ia tak ingin Ziaruo berpikir, dirinya menyalahkan atau menyebut wanita tersebut, sebagai penyebab dari pemberontakan sekarang.
Bahkan jika itu adalah benar, Pria Jing, tidak akan menyesal ataupun mundur, sama sekali.
Ziaruo adalah miliknya, Permaisurinya, serta calon ibu dari putranya, yang sebentar lagi terlahir.
Ia tidak akan pernah melepas, ataupun merelakannya untuk orang lain.
Dihadapan permaisuri Yun, Jing berusaha menekan kecemasan, serta amarah di dalam hati.
Sehingga wanita tercintanya tersebut, tidak memiliki kekhawatiran, serta mencemaskan sesuatu yang tidak seharusnya, mengusik ketentramannya.
Akan tetapi, serapat apapun kecemasan itu tertutup.
Pada kenyataannya, sorot mata Jing menceritakan kekhawatiran hatinya.
Ziaruo menatap sendu kearah Jing dan berkata. ''Tidak yang Mulia, bukan untuk wanita ini.''
Ziaruo meletakan telapak tangan, diatas punggung tangan sang suami.
Tetap saja, Ziaruo mampu membaca pikiran dari Jing, dan itu terbukti dengan perkataan yang baru saja ia ucapkan.
Jing menatap lekat Ziaruo, ia ingin membantah pemikiran yang telah di ketahui oleh wanita itu.
''Namun, meski demikian, semuanya juga masih terpaut atas diri Permaisuri.'' Sambung wanita itu lagi, sebelum Jing sempat memberikan penyangkalan.
Kaisar Jiang jing wei kembali mengernyitkan kening, ia merasa bingung dengan perkataan sang istri, yang baru saja di dengarnya.
''Yun...kau bilang bukan untuk mengambilmu, tapi juga karena dirimu. Jangan berteka-teki lagi, aku tidak mengerti.'' Jing.
''Heeeehhhh...''
Ziaruo menghela nafas panjang, ketika mendengar ucapan Jing.
Bagi Ziaruo, baik itu untuk dirinya ataupun tidak. Namun pada kenyataan, dirinyalah pemicu dari semua pemberontakan sekarang.
''Dia....'' Ziaruo, menyebut seseorang sebagai topik pembicaraannya.
__ADS_1
Akan tetapi, sesaat kemudian ia memggelengkan kepala pelan, dan meralat perkataan.
''Bukan hanya dia, tapi mereka.( Murongxu, Canzuo, dan Biyi) Mereka, ingin mengambil kehidupan anda, dan hal itu terjadi, karena wanita ini Yang mulia.'' Ziaruo melanjutkan ucapannya.
Meskipun ia ragu dengan apa tujuan, serta keinginan dari kakak perguruannya (Batangyi atau yang di panggil Biyi).
Namun, karena pria tersebut juga bergabung disana, maka tidak salah jika Ziaruo juga berfikir demikian.
Wanita itu menggabungkan Baitangyi, kedalam salah satu dari mereka, yang menjadi otak pergolakan kali ini.
Mendengar penuturan dari permaisuri Yun, Jing terdiam sejenak.
''Lalu...apakah mereka telah sampai di kekaisaran?.'' Tanya Jing pelan.
Ia mempercayai apapun yang di katakan oleh sang istri, adalah benar.
''Belum Yang mulia.'' Jawabnya singkat.
Ziaruo menundukkan wajah, dan kembali melanjutkan perkataannya.
''Tapi nanti menjelang senja, dari keseluruhan prajurit akan tiba di perbatasan.''
Seolah, wanita itu tengah memiliki kepedihan, atas gambaran pertempuran yang akan terjadi nantinya.
Jing masih diam.
Diantara lima kekaisaran disana, Negri Zing-lah yang terkuat.
Karena hanya kekaisaran Zing, yang memiliki banyak pasukan dengan kemampuan, pengalaman, serta taktik pertempuran paling hebat, dan belum pernah terkalahkan.
Namun, dengan keempat kekaisaran yang tergabung, dan di tambah para pemberontak dari dalam kekaisaran Zing.
Pria itu menjadi ragu, dan mulai berfikir dalam.
''Mengapa mereka menyerang kekaisaran Zing?, hubungan kami terjalin dengan baik, dan sejak kapan mereka berunding dengan plot-plot besar, tanpa ia ketahui?.''
Pikiran Jing berkecamuk, ia merasa seolah guntur dan badai, akan menyambar, serta meluluh lantakan kekaisaran Zing miliknya, tanpa pertanda apapun.
Sebagai kaisar terkuat di lima kekaisaran, ia telah banyak menyelipkan orang-orang hebat, serta terpercaya miliknya di keempat kekaisaran lain.
Dan selama ini ia memperoleh kabar yang akurat, bahkan untuk hal-hal kecil, kegiatan setiap negara tetangga tersebut.
Namun, mengapa justru sekarang ia tidak mengetahui hal besar, tentang kerja sama ini.
Bahkan, dirinya tak mendapat kabar, ataupun mencium gelagat mencurigakan, dari kinerja keempat kekaisaran yang telah tergabung dalam satu aliansi besar.
Tanpa sadar, Jing memijit kepalanya perlahan, tangan itu tampak sedikit bergetar.
Aura hening, menyelimuti keduanya beberapa saat, entah itu karena mereka terlarut dalam pikiran masing-masing, atau karena semua yang disana, tak ada yang berani mengusik.
Yang jelas, suasana berubah menjadi hening.
Hingga, Jing kembali mengangkat wajah, serta menatap sang permaisuri.
''Yun jika.........'' Jing.
''Aku bilang jika..'' Jing lagi.
Ucapan Jing terpotong, ia ingin menanyakan kepada wanita itu, jika dirinya bukan lagi kaisar atau penguasa, apakah ia masih bersedia di sisinya.
Namun, ucapan tersebut terhenti, dan tidak dapat ia lanjutkan lagi, ia terkejut karena Ziaruo memeluknya dengan erat secara tiba-tiba.
Baginya, wanita itu jarang melakukan hal yang dianggap tabu di depan umum.
__ADS_1
Sedangkan, kali ini Permaisurinya tersebut mengambil inisiatif, memeluk lebih dulu, di depan banyaknya prajurit yang tak jauh dari keberadaan mereka.
''Hari ini, mengapa anda sangat konyol.'' Ucap Ziaruo lirih, sembari memeluk Jing.