
Siang itu mentari terik menatap bumi tajam. Dengan sinarnya yang panas menusuk apapun yang disapanya.
Akan tetapi, hal tersebut tidak berpengaruh bagi sepasang insan, yang kini tengah bergulat dibalik selimut, memadu kasih menggapai nirwana diatas peraduan mereka.
Sejak kembali dari pavilliun selir Feng, pintu pavilliun Ziaruo masih tertutup rapat hingga sekarang (matahari mulai lengser dari pugut pucuk kepala/ menuju sore hari).
Seorang Pria berdiri tegap didepan pintu pavilliun phonix milik sang Permaisuri. Tubuhnya tampak tenang dan tetap sigap berjaga.
Akan tetapi, dari raut wajahnya tampak jelas sebuah kegusaran serta kebingungan. Sesekali ia akan menoleh kearah pintu ruangan, dan berharap pintu tersebut terbuka.
Sementara itu, didalam ruangan Kaisar Jing menatap wajah cantik Ziaruo yang tengah terlelap didalam dekapannya, membelai rambut serta mengelus pipi sang Permaisuri.
Pria tersebut tersenyum, sesekali ia akan mengecup pelan bibir sang istri, meskipun dalam hasratnya tak pernah merasa cukup, ia tak akan melakukan sesuatu yang akan membuat wanita tercintanya itu menderita( kelelahan).
Berapa kalipun ia melakukan sesuatu bersama Ziaruo ( terhadap Ziaruo), ia selalu menginginkan lebih dan lebih, seolah segalanya sekarang hanya tentang bersamanya. Dengan suara lirih ia bergumam. ''Bagaimana aku dulu bisa hidup tanpamu?.'' Tangannya kembali mengusap lembut pipi Ziaruo.
''Kau adalah wanitaku, segalanya yang ada padamu adalah miliku Yun, tubuhmu, senyummu....heeeeh...''Jing menghela nafas sesaat, sebelum meringsekan tubuhnya, lebih dekat dengan sang istri, Kedua tangannya saling bertautan memeluk tubuh wanita tersebut.
Jing memejamkan mata dan bergumam dalam hati.''Dulu kupikir, meski ada dia dihatimu, selama kita dapat bersama aku sudah merasa bahagian. Namun, mengapa hati ini semakin takut kehilangan, bahkan sekarang aku juga ingin hatimuYun.''
''Eemmhhh'' Ziaruo menggerakan tubuh, mengerjabkan matanya beberapa kali, sebelum akhirnya, ia tersenyum dan menatap lekat kearah pria itu. Ia memperhatikan seksama wajah sang suami.
Dengan suara khas bangun tidur, serta tangan yang menggapai pipi Jing, mengusapnya perlahan dan berkata. ''Anda sudah bangun..aku masih ingin tidur lagi, masih lelah.''
Mendengar ucapan tersebut, Jing kembali mengeratkan pelukannya.
Pelukan yang sempat ia longgarkan ketika wanita itu, terbangun dan bergerak miring menghadap tubuhnya.
''Jika masih lelah tidurlah kembali, aku akan menyuruh Wuhan, mengirim burung pesan meminta rombongan berbalik.'' Jawab Jing lembut, sembari mengecup kening Ziaruo.
Pria itu mulai melepas tangan, mendudukan tubuhnya dan hendak memanggil Wuhan. Akan tetapi tiba tiba saja b*b*r Ziaruo menutup b*b*rnya. Ruangan menjadi hening, mata pria itu membulat.
__ADS_1
Ia merasa heran dan terkejut, tidak biasanya wanita itu bertindak demikian. Namun Jing hanya diam, menikmati sensasi inisiatif dari sang istri, jantungnya berpacu secepat deru hembusan nafas yang tak lagi teratur.
''Yuuun...'' Hanya itu yang bisa keluar dari bibir pria tersebut. Bahkan ketika sang istri telah melepas ci*am*ya, ia masih belum bisa meredakan deru debaran hati yang kembali bergelora.
Ziaruo tersenyum dan berkata dengan suara serta rona malu malu. ''Tidak perlu, biarkan aku istirahat sebentar, kita akan tetap melakukan perjalanan ke Negri Tang sore nanti.
Jing semakin kebingungan dengan ucapan sang Permaisuri, akan tetapi sejak pinangan pernikahannya disetujui Ziaruo, ia telah berjanji akan melakukan apapun, untuk wanita tersebut, meskipun hal sulit sekalipun.
"Paling paling ia akan kelelahan dan memaksa kudanya berlari tanpa henti, atau membuang kudanya, dan membeli kuda baru untuk mempercepat perjalan.'' Pikir Jing.
''Lakukan seperti yang kamu inginkan, apapun itu.'' Jawab Jing seraya merebahkan tubuhnya bersama Ziaruo kembali, berbaring berdampingan diatas tempat tidurnya.
Disela kebingungan atas sikap dan keputusan wanita itu, hati Jiang jingwei berbunga. dalam detak jantung dan helaan nafasnya ia bersumpah.
Akan berusaha keras menjaga kasih sayang, hingga menyemaikan benih ketulusan dihati sang pemaisuri untuknya.
Bahkan jika mungkin, demi kalangsungan penerus kekaisaran Zing di masa mendatang.
Bibir Ziaruo kembali menyunggingkan senyum lembut, ketika sang suami kembali berbaring.
Mendengar pertanyaan aneh dari sang istri, Jing hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa kepada wanita itu.
Ditatapnya lekat lekat wajah cantik dihadapannya, sesaat kemudian bibirnya mulai terbuka dan menjawab. ''Bagiku tidaklah penting, kita berangkat ataupun tidak, asalkan kau baik baik saja dan tetap bersamaku, itu cukup.''
Mendengar jawaban itu Ziaruo memicingkan sebelah matanya dan kembali bertanya. ''Apa yang anda lakukan jika kita tiba disana besok pagi Yang Mulia?.'' Masih dengan tangan, yang terus mengusap lembut bibir sang suami.
''Bagaimana mungkin perjalanan yang ditempuh dengan 4 hingga 5 hari perjalanan dapat ditempuh dalam satu malam saja'' Gumam dalam hati Jing.
''Mengapa pertanyaan anda begitu aneh Yun?, dan apakah mengusap bibirku dengan jari jari ini begitu menyenangkan?.'' Tanya Jing, sekaligus sebagai pengalih jawaban atas pertanyaan Ziaruo yang baginya sangat mengherankan.
Ziaruo mengerti, bahwa suaminya tersebut tidak menganggap serius perkataannya. namun dia juga memaklumi hal itu.
__ADS_1
Ziaruo menunduk dan kembali berucap. ''Jika kukatakan, bahwa bersama anda seperti ini, mencium serta menyentuhnya(Bibir) seperti sekarang, seolah pernah ku lakukan sebelumnya, apakah anda akan percaya?.''
Mendengar semua perkataan sang istri, Jing mengerutkan keningnya, ia mengingat sebuah mimpi yang telah hadir beberapa kali akhir akhir ini, lebih tepatnya setelah mereka menyempurnakan pernikahan mereka beberapa waktu yang lalu.
''Benarkah Yun?.'' Tanya Jing antusias, namun ia masih belum yakin akan menceritakan tentang mimpinya.
''Heeeem...'' Ziaruo mengangguk pelan, sebagai jawaban.
''Mungkinkah kami pernah menjadi sepasang kekasih, bahkan mungkin pasangan suami istri di kehidupan terdahulu, tapi bukankah dia istri dari Murongxu?, Dewa rahasia apakah ini?.'' Gumam Jing dalam diamnya.
Pria tersebut, meraih tubuh sang istri dan kembali mengeratkan pelukan, membawa dalam kehangatan, serta mengantarkannya menuju pulau kapuk di dunia mimpi tanpa batas, meninggalkan kebingungan serta kejenuhan pikiran untuk sesaat.
Sementara itu, di tempat yang sangat jauh di negri Awan.
Seorang Pria menghembuskan helaian nafas dalam, tampak sebuah gurat kecil kecemasan pada wajah yang selalu tenang miliknya.
Dengan menatap langit keemasan di senja itu, ia berucap lirih.
''Mencintai dan menunggu ratusan waktu, hanya untuk bersatu bersamamu.
Meski bukan raga kami disana, namun hati kami bersama.
Cukupkah hanya demikian?, jiwa kami tak saling menyapa, hati kami asing satu sama lainnya.
Meski bersatu dalam ikatan janji dan waktu, namun keabsahan kami asing satu sama lainnya.
Mungkin kehendak takdir dan kisah kami seharusnya memang tak pernah ada. *Pangeran malam dan dewi bulan*
Baixio kembali menghembuskan nafas dalam, matanya menerawang menembus langit keemasan yang abadi, sebuah Negri yang telah merampas kekasih tercintanya, sebuah negri yang mengikat janji antara dirinya dan sang dewi bulan.
Bahkan negri itu juga yang meramas kebebasannya, serta menguburnya diatas hamparan kebahagiaan yang semu.
__ADS_1
''Ziayun....segalanya akan segera berakhir, semuanya akan menjadi jelas untukmu, dan aku akan dengan senang hati menerima setiap kemarahan dan kebencianmu.''
Baixio.