
Masih di tengah hutan perbatasan negri Tang.
Mendengar hal itu, Jing merasakan kecemasan, ia tak ingin sesuatu terjadi kepada sang permaisuri.
''Yun... jangan lakukan apapun, lepaskan serigala itu.'' Pinta Jing dengan suara lantangnya.
Sebuah suara yang sengaja ia keraskan, mengingat sang istri yang kini berada agak jauh, dan di posisi ketinggian.
Melihat raut wajah cemas di wajah kaisar Jing, Ziaruo merasa bersalah, namun ia tetap pada pendiriannya, dan kembali berucap. ''Sebenarnya aku tak ingin melakukan apapun, namun karena kau telah membunuh beberapa orang dari kami, maka...''
Sebelum ucapan Ziaruo terselesaikan, gerakan tangannya kembali mencengkram kuat leher serigala di tangan kirinya.
Dan sontak saja suara teriakan dari bawah tebing, memecah keheningan malam itu.
''Aaahhhkkk....craak...craaak.''
Suara pekikan yang memilukan, terdengar keras dari bawah tebing, membuat semua orang yang di sana merasakan kengerian.
Sebuah tindakan tampak sadis tersebut, ternyata berasal dari wanita cantik, yang selama ini mereka kagumi karena kelembutannya.
Bahkan, tak sekalipun mereka semua mampu membayangkan, bahwa permaisuri dari kekaisaran Yun itu, dapat melakukan hal mengerikan seperti sekarang.
Sementara itu bagi Niang hari ini, adalah kemalangan kedua setelah terbangun, dari tapa secara paksa beberapa bulan yang lalu.
Ia tidak menyangka, bahwa dirinya akan merasakan kesakitan yang hebat seperti sekarang.
Dengan suara yang terbata, Niang menggerakan jari telunjuknya, dan mengarahkan ujung itu tepat kearah tubuh Ziaruo.
''Mes..meskipun, aku harus mati hari ini, kau...kau...juga akan pergi..ber..'' Ucapan Niang tak terselesaikan, ada bulir bening di sudut matanya.
Di sela antara sadar dan tidak, Niang bergumam lirih. ''Yang Mulia...aku telah berusaha semampuku, dewa sangat kejam, bahkan tapaku 100 tahun, tak dipandangnya sama sekali.''
Dan ketika Ziaruo, mengerti apa yang dipikirkan oleh wanita itu, tangannya mulai bergerak lembut, hatinya yang memanas, perlahan mulai menunjukan kehangatan.
Bahkan, ia juga menggunakan satu tangan lainnya, untuk mengusap lembut pucuk kepala serigala, yang berada di dalam cengkraman tangan kirinya.
Kini kemurahan hati wanita itu, menampakkan dominasi yang jauh lebih besar, atas setiap gerakannya.
Dengan lembut ia mengalirkan sebuah energi murni, kedalam tubuh serigala itu.
Ziaruo mnghela nafas panjang sejenak dan bergumam pelan. ''Bahkan setelah kau berhadapan denganku, masih belum bisa melihat dengan jelas, lalu mengapa harus bertapa ratusan tahun, untuk sesuatu yang tak dapat kau kenali.''
Niang, merasakan energi hangat menyelimuti tubuhnya. Bahkan, ia juga mendengar ucapan dari sang wanita, yang sejak awal pertemuan ia benci itu.
''Mengapa kau menolongku?, apakah semuanya akan baik untukku?, kau harusnya tetap pada tujuanmu untuk membunuh, dan jangan berbaik hati.'' Ucap pelan Niang, dengan kondisi tak berdayanya.
Ziaruo mengerti atas pemikiran itu, dengan gerakan lembut, ia membawa tubuh wanita di bawah tebing, menggunakan siluet cahaya keemasan miliknya.
__ADS_1
Wanita itu menyatukan tubuh sang jilmaan, dengan tubuh serigala di tangan kirinya.
Sebuah senyum terukir dari wajah cantik itu, sebelum ia kembali berkata. ''Maka, nikmatilah kebersamaan kita, hingga waktuku di dunia ini berakhir nanti, anggap ini hasil dari tapamu.''
Mendengar ucapan itu, Tubuh Niang bergetar, matanya membelalak lebar kearah wanita yang menggendongnya.
Akan tetapi, wanita itu tidak memperdulikan keterkejutan dari wanita Niang.
Ziaruo melayang turun dari ketinggian tebing, dengan seekor serigala betina di dalam pelukannya.
Di wajah itu, tidak menyisakan kekejaman yang baru saja ia lakukan.
Seakan di depan sana, adalah orang yang sama sekali berbeda, dengan yang sebelumnya.
Dan pada kenyataannya, dia yang berdiri di tengah kawanan serigala itu sekarang, dengan dia yang sebelumnya berada diatas tebing, adalah satu kesatuan yang sama.
Seorang Permaisuri dari negri Zing, yang juga sebagai Ziaruo, seorang wanita dari hutan barat kekaisaran Xili.
Kawanan serigala nampak menundukkan kepala mereka, entah itu untuk wanita disana, atau untuk serigala yang kini tengah berada di dalam dekapan tangan Ziaruo.
Yang jelas, di pikiran hampir semua orang adalah sebuah kebingungan. Dengan tubuh serigala yang besar tersebut, mengapa tidak menampakkan suatu beban yang berarti, untuk Permaisuri Yun.
Bahkan, wanita itu hanya memegangnya dengan satu tangan kiri saja, seolah hanya sebuah pakaian dari kulit binatang (pakaian kulit bulu serigala).
''Kembalilah ketempat kalian berasal, dan jangan melakukan sesuatu yang melewati batas ketentuan dari dewa.'' Ucap Ziaruo, kepada semua serigala di sana.
Akan tetapi, tak tersirat sedikit pun rasa takut pada wajah cantik yang kini, tengah di kerumuni ratusan kawanan serigala.
Ia justru berjalan semakin ketengah kelompok serigala tersebut.
Dengan tangan yang diangkat ke atas, Ziaruo berkata. ''Aku akan melakukan beberapa hal untuk kalian, namun dengan catatan tidak ada diantara kalian yang akan mengusik hidup dari penghuni lain, khususnya di sekitaran hutan.''
Sebuah ucapan dengan artian yang dalam, dan hal itu membuat semua serigala di sana melolong, dengan penuh kebingungan.
Hingga salah satu dari mereka maju, dan mengambil jarak lebih dekat dengan Ziaruo sembari berkata. ''Bagaimana jika mereka (manusia) yang melakukan pelanggaran terlebih dahulu.''
Mendengar pertanyaan tersebut, Ziaruo menurunkan tangannya sejenak, dan menjawab. ''Jika itu terjadi, aku meminta kalian untuk memaafkan mereka satu kali saja, demi sebuah kaharmonisan. Bukankah salah satu harus mengalah.''
''Lalu mengapa kami yang harus mengalah?.'' Sahut sang serigala kembali.
Ziaruo tersenyum mendengar hal itu, ada sebuah perasaan menggelitik di hati kecilnya.
Wanita itu berjalan lebih mendekat, kearah sang serigala yang tampak lebih dominan diantara semuanya, dan kembali berkata. ''Itu karena mereka(manusia), yang melakukan kesalahan.''
''Dan jika kalian yang melakukan kesalahan, maka sebagai keadilan kaum dari penghuni luar hutan (manusia), juga akan memberikan satu pengecualian bagi klan serigala.'' Lanjut Ziaruo kembali.
Setelah mendengar jawaban dari sang wanita, serigala yang tampak sebagai yang disegani diantara mereka itu, menatap ke berbagai arah sekitaran kawanan, seolah ia tengah mencari jawaban sebuah pernyataan diantara mereka.
__ADS_1
Dan sesaat kemudian. ''Auuwwuuu....aaauuuuwww...'' Sebuah lengkingan panjang, terdengar hampir bersamaan.
''Biarlah kami mempercayai kalian sekali ini lagi, akan tetapi jika kalian melanggar perjanjian ini, maka jangan salahkan kami jika harus kejam.'' Sahut sang serigala, sebelum melangkah lebih dekat lagi, kearah Ziaruo.
Serigala itu mengendus sejenak, pucuk kepala serigala betina didalam gendongan Ziaruo, dengan suara lirih ia berkata. ''Aku mempercayakannya kepadamu, namun bukan berarti aku tak bisa mengambilnya kembali darimu.''
Mendengar ucapan itu, Ziaruo tersenyum sejenak dan menjawab. ''Jika ia ingin kembali kepadamu, adakah alasan bagiku mencegahnya?.''
Mendengar sesuatu yang nyata, dari bibir Ziaruo, sang serigala tampak mengerti akan situasi yang tengah ia hadapi.
Pada kenyataannya, sang serigala jelmaan, nampak nyaman berada di dalam gendongan sang wanita.
Ia menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali berbalik, dan berjalan kearah kawanan.
Sang serigala melengkingkan suara panjangnya, dan membawa semua kawanan menghilang di balik gelapnya hutan.
Sementara itu, Ziaruo kembali berjalan kearah sang suami, dengan serigala di dalam dekapannya.
''Apakah kau akan membawanya Permaisuri?.'' Tanya Jing dengan wajah herannya.
Dan Ziaruo hanya menjawabnya singkat, dngan sedikit anggukan. ''Heem..''
''Jing mendengarnya jelas, sesungguhnya ada sedikit kecemasan, serta kurang setuju dalam hati.
Akan tetapi, melihat wajah Ziaruo yang begitu tenang menghadapi serigala itu, ia mengurungkan untuk mengutarakan keberatannya.
Di belainya sejenak pucuk kepala Ziaruo, sembari berucap dengan penuh kelembutan. ''Jika kau menginginkannya lakukanlah, selama tidak membahayakanmu.''
''Aku tahu, kaulah yang terbaik suamiku.'' Sahut Ziaruo dengan penuh kepuasan.
Wanita itu, menatap pria di depannya dengan rona bahagia.
Sesungguhnya ia tak memerlukan izin dari sang suami untuk membawa serigala itu, baginya banyak cara untuk menjaga binatang jelmaan tersebut, semisal ia akan melepaskannya di dalam cermin air bulan miliknya.
Namun, karena Jing suaminya telah memberikan izin, maka ia akan lebih leluasa memeliharanya di dalam lingkup istana.
''Ayo kita kembali kedalam kereta, biarkan yang lainnya mengurus luka luka mereka terlebih dahulu, aku ingin mengobatinya.'' Ajak wanita itu, kepada Kaisar Jiang jing wei, dengan merujuk pengobatan pada serigala betina di gendongannya.
''Yun...sekuat apa dirimu?, bahkan di kehidupan terdahulu kau tidaklah sekuat sekarang.'' Gumam Jing dalam hati, sembari melangkahkan kakinya, mengikuti wanita cantik tersebut.
Namun, tanpa ia sadari dua tubuh di depan, mampu memahami apa yang dipikirkannya.
Sebuah senyum tipis terlukis jelas di wajah cantik Ziaruo, ia tak menoleh kearah Kaisar Jing, dan hanya bergumam lirih, di sela langkah kaki menuju kereta.
''Niang...apa kau mendengarnya juga?.''
''Hamba yang Mulia.'' Jawab serigala Niang, dengan penuh kelembutan.
__ADS_1