Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 78 Sangat.


__ADS_3

Cahaya mentari keemasan perlahan mulai memudar, meninggalkan singgasana terang, bergulir merambat menyapa sang gelap.


Layaknya hari yang kian petang, seperti itu pula keadaan seorang wanita cantik di balik peraduannya.


Sebuah hamparan pemandangan menyayat akan nasib dan takdir, dalam guratan tangan yang telah menemani semenjak ia terlahir kedunia.


Selir Feng merengkuh kedua lututnya sendiri, meratap sedih, dengan penuh kecewa.


Beberapa kali, ia meminta sang pelayan menyampaikan pesan kepada kaisar tercintanya.


Ia ingin bertemu.


Ia ingin bersamanya.


Bahkan ia menyampaikan sebuah permintaan maaf dengan kelembutan bahasa cinta tulus.


Akan tetapi, sejak kejadian di pavilliun balai pengobatan, wanita itu tak pernah mendapatkan perhatian dan kunjungan dari sang Kaisar.


Dalam hati ia bergumam.'' Mungkin kaisar sedang sibuk, mungkin Yang Mulia tengah menangani urusan yang sangat penting.


Namun satu yang pasti dan selir Feng tahu dengan jelas, bahwa saat ini kaisar memang tengah sibuk dengan upacara pernikahannya.


Sebuah pernikahan yang sangat selir Feng dambakan.


''Yang Mulia, mengapa bukan aku yang anda pilih, bukankah selama ini hanya aku wanita paling istimewa bagi anda?, namun mengapa justru dia yang bahkan tak lagi suci, menjadi permaisuri?.'' ucapnya lirih, disela isak tangis yang terus menghiasi wajah cantiknya.


Selir Feng merasa ia menerima ketidak adilan, baik dalam perasaan maupun status.


Wanita itu mengganggap bahwa dirinya, jauh lebih pantas menyandang status tersebut, ketimbang seseorang yang ia anggap sudah tak lagi bersih( janda Yun).


Ada perasaan terhina, didalam hati, Seolah Kaisar merendahkan dirinya, dan lebih memilih Janda Yun seorang pengusaha ketimbang dirinya, wanita dengan status jelas dan dari keturunan bangsawan.


Mengingat hal tersebut, Selir Feng semakin mengeratkan rengkuhan tangan, mendekap erat kedua lututnya sendiri dengan erat.


Ia berharap hal itu, mampu meringankan segala gejolak dan gemuruh dalam hati serta pikirannya saat ini.

__ADS_1


Ruangan tampak sunyi, hanya sesekali terdengar sesenggukan yang terlepas dari wanita itu. Sekuat apapun seorang istri, tetap akan runtuh juga, ketika melihat suami tercinta meresmikan pernikahan, dan memberikan status lebih tinggi dari dirinya yang datang lebih dulu.


Air mata terus bergulir, namun tanpa suara terdengar dari bibir merahnya yang kini bergetar, mengikuti ritme pilu luapan kepedihan hatinya.


Beberapa pelayan pribadi pavilliun tersebut, hanya mampu berdiri dibalik pintu luar ruangan, mereka tak dapat melakukan apapun, hanya ikut melelehkan air mata untuk sang majikan.


Waktu terus bergulir, meninggalkan waktu waktu yang telah berlalu, menuai guliran lembaran baru bagi mereka yang tercipta dan berada pada masa yang sama.


Seorang Pria tengah berjalan terhuyung, menuju sebuah ruangan, berhiaskan ornamen ornamen indah dengan nuansa warna merah yang lekat.


Dibelakangnya 2 kasim, dan beberapa penjaga khusus mengikuti dengan sabar.


''Ayo...ayo..minum, kita minum lagi...ayo kita berpesta...hahaha...aku bahagia ...hari ini ...aku bahagia.'' ucap pria tersebut, atau lebih tepatnya, bercelotehan yang tak karuan.


Kaisar Jing, terbawa dalam pengaruh minuman dari perjamuan pesta pernikahannya (sedang mab*k ).


Pria itu, mengucapkan banyak hal sepanjang perjalanan menuju ruangan itu.


Melihat hal tersebut, Wuhan yang berjaga didepan pintu, segera menyambut tubuh sang majikan yang terhuyung dan berkata.'' Kalian pergilah, biar aku yang mengatar Yang mulia masuk keruangannya.''


Setelah kepergian kasim dan beberapa penjaga tersebut, Wuhan berbisik dan mengucapkan sebuah perkataan lirih.'' Yang Mulia semua orang telah pergi, anda sudah bisa berdiri tegap sekarang.''


Mendengar ucapan tersebut, Kaisar Jing tersenyum, dia berdiri dan merapikan pakaian yang ia kenakan, serta menebah nebahkan tanganya beberapa kali.


''Mereka semua sungguh membuatku jengkel, jika aku tidak berpura pura mab*k, semua orang tidak akan pergi dan mengakhiri pestanya.'' ucap Jing disela tindakannya merapikan diri.


''Semua baik baik saja bukan?, tidak ada apapun yang terjadi saat aku pergi tadi?.'' tanyanya lagi kepada Wuhan.


Wuhan tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, ia menunduk dan berkata.'' Tidak ada tuan dan.... selamat atas pernikahan anda, semoga dewa segera menganugerahkan, penerus kekaisar Zing yang hebat.''


''Haha...haha..kau memang orang terbaikku Wuhan. Baiklah aku akan menemui kekasih...eehhh istri tercintaku sekarang.'' jawab Kaisar Jing, dengan rona kebahagiaan pada wajahnya, sebelum ia masuk kedalam ruangan.


Wuhan menutup kembali pintu ruangan, yang tadi ia buka, saat mengetahui sang majikan hendak masuk kesana.


''Akhirnya sang phonix menentukan tahtanya,

__ADS_1


Raja kamilah yang memperoleh anugrah atas tahta itu, dewa takdir kami sekarang terpaut dengan sang phonix.'' gumam dalan hati Wuhan.


Sementara itu, dibalik pintu yang tertutup rapat, seorang wanita tersenyum, melihat Kaisar Jing memasuki ruangan tersebut.


Ziaruo menurunkan kakinya dari posisi lotus yang ia lakulan beberapa saat yang lalu.


Melihat hal itu, Kaisar Jing buru buru menghampiri dan menggandeng tangan sang permaisuri.


'' Kau sedang melakukan apa?, jangan katakan kau sedang bermeditasi saat aku tidak ada tadi?.'' tanya Jing, sembari menuntun wanita itu, menuju meja serta mendudukan dengan lembut tubuh Ziaruo.


Mendengar keingintahuan suaminya, Ziaruo menatapnya sesaat, ia kembali tersenyum dan beralih meraih kue cantik, dengan warna merah yang tersaji diatas meja.


''Apa kau ingin mencoba kue ini?.'' tanya Jing sembari dengan sigap, mengangkat nampan keramik tempat kue.


Ziaruo lagi lagi tersenyum, tangannya bergerak mengambil satu kue cantik dari sana, ia mencermati sesaat kue tersebut dan berkata.'' Apakah anda sekarang bahagia Yang Mulia?.''


Ucapan pelan NyonyaYun sebelum memasukan kue kedalam mulutnya itu, membuat Jiang jingwei tersenyum, wajahnya merona dengan penuh kebahagiaan, bibirnya perlahan bergerak dan mengucapkan satu kata singkat, padat serta jelas.


''Saangat.''


Pria paling berkuasa di Kekaisaran Zing tersebut, terlihat beberapa kali tersenyum, tampak jelas dari mata dan senyumannya, bahwa ia berkata jujur saat ini.


Melihat kebahagiaan pria yang telah menjadi suaminya itu, Ziaruo merasakan ketenangan dalam hati.


''Terimakasih... karena telah berbahagia atas diri saya Yang Mulia, setidaknya anda adalah salah satu dari orang yang berbahagia atas kehadiran saya.'' Jawab Nyonya Yun pelan, wanita itu menunduk, seolah tengah memiliki suatu pemikiran yang menyedihkan.


Kaisar Jing, meraih tangan Ziaruo dan mendekat, berdiri disamping wanita tersebut, ia meraih kepala Ziaruo dan membawa pada dada bidang yang kekar miliknya.


''Ternyata kau adalah wanita cantik yang bodoh, siapa yang tidak akan bahagia mendapatkan permaisuri sebaik dirimu?.'' ucap Kaisar dengan lembut, ia memeluk wanita itu sesaat, dan mencium pucuk kepala Ziaruo beberapa kali, sebelum kembali duduk pada kursi tepat disamping sang Permaisuri.


''Pernahkan ada pria yang mengatakan tidak bahagia saat bersamamu?.'' tanya Jing kembali, sebagai upaya meredakan kesedihan wanita didepannya tersebut.


Ziaruo hanya menatap dan tersenyum mendengar pertanyaan sang Kaisar, ia terdiam dan menerima kelembutan, serta perhatian Kaisar tampan, yang telah menjadi suaminya itu.


''Mereka tidak pernah mengatakan apapun, namun aku tahu, selalu ada penderitaan dan kesedihan bagi mereka karena diriku.'' gumam Ziaruo dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2