
''Mulai sekarang panggil ibu jangan kakak cantik Yanyan.'' Ucap sang ayah, yang mengikutinya masuk kedalam bilik tersebut, dengan rona bahagia miliknya, pria itu ikut memeluk Ziaruo, seperti yang dilakukan oleh sang putra.
Yang membedakan adalah, Yanyan memeluk Ziaruo dari depan, sedangkan Gutingye memeluknya dari belakang, ia sengaja tidak meminta izin dulu ataupun menatap wanita itu, karena takut akan memperoleh, penolakan dari Ziaruo.
"*Setelah hari ini, kau adalah milikku, dan setelah beberapa hari, kita akan pergi dari kediaman (rumah ) ini, aku tak ingin mereka datang padamu.
Karena, semakin sedikit orang yang tahu tentang dirimu, semakin baik bagiku, serta semakin sempurna kebahagiaan kita*.
Dimanapun itu, selama aku bersamamu, disanalah desa dan rumahku." Pikir Gutingye, dengan penuh kebahagiaan, serta senyum lebar di wajahnya.
Pelukan Gutingye semakin dieratkan.
Bahkan, beberapa kali ia mencuri curi menci*m pucuk kepala Ziaruo.
Sementara itu, Yanyan juga tengah menikmati pelukan dari wanita, yang segera akan menjadi ibunya tersebut.
"Apakah ada yang kulewatkan, mengapa kalian berdua sepertinya sedang melakukan suatu kesenangan?.'' Tanya Ziaruo, dengan senyum lembut diwajahnya.
Sejujurnya ia masih merasa kurang nyaman, dengan pelukan Gutingye.
Namun, ia tepis jauh jauh perasaan tersebut.
Sebelum senja nanti, mereka akan disatukan dalam ikatan pernikahan, dan akan sah sebagai pasangan suami dan istri.
Maka wajar baginya, jika hanya sekedar berpelukan.
Oleh karena hal tersebutlah, Ziaruo mebiarkan kali ini Gutingye melakukan keinginannya.
"Ruoer..apakah kau tahu, saya sudah memiliki beberapa rencana, untuk keluarga kita nantinya?, apakah kau tidak ingin tahu rencana-rencanaku?.'' Tanya Gutingye dengan lembut, sambil melepas pelukannya, serta mengambil Yanyan dari pelukan Ziaruo.
Gutingye mendudukan, tubuh Yanyan disamping kursi yang ia duduki, setelah meletakan tubuh kecil putranya.
Mendengar pertanyaan sang calon suami, Ziaruo tersenyum, dan menjawab. "Apapun Rencana anda kedepannya, saya percaya, disana akan selalu ada kami ( Yanyan dan Ziaruo ) didalamnya.
Ziaruo menatap lekat wajah pria itu dengan lembut, didalam hatinya masih ada perasaan yang mengganjal, atas hilangnya kenangan mereka.
Akan tetapi, hal itu bukanlah halangan untuknya melanjutkan hidup, Ziaruo kembali tersenyum dan mengusap lembut wajah Gutingye, sebelum kembali berkata. "Karena kamilah orang orang yang paling berharga dalam kehidupan anda.''
Mendengar Jawaban tersebut dari wanita yang ia cintai, Gutingye tak lagi dapat menyembunyikan kebahagian hatinya.
Pria dengan wajah tenang itu, menjadi kikuk, dan salah tingkah.
Jika saja ia memiliki kulit yang putih, mungkin sekarang pipinya telah berubah dengan rona kemerahan.
__ADS_1
"Aaaaahkk..., seandainya hari ini bisa dipercepat, dan Yanyan tidak disini .., maka aku akan meng*rusmu Ruoer, bahkan hingga kamu hanya melihatku saja untuk beberapa hari.'' Gumamnya dalam hati, sambil menatap wanita didepannya secara intens.
"Kau ...kau mengg*daku Ruoer?.'' Tanya Gutingnye pelan, dengan nada suara agak gugub serta malu malu.
Pria tersebut, berusaha mengontrol detak jantung, yang seolah hendak melompat keluar dari dada bidangnya.
Tingkah Gutingye yang demikian, membuat hati Ziaruo merasakan gemas, pria itu tampak imut, serta lucu dalam waktu yang bersamaan bagi Ziaruo.
"Heeeemmzz ...mengg*da bagaimana?, apakah salah perkataan saya?,'' Jawab wanita tersebut lagi, dengan sedikit mengernyitkan dahinya. Seolah tidak memahami arah pembicaraan Gutingye.
Dan pada akhirnya, ia tersenyum dan tertawa kecil, saat melihat sikap sang calon suami, yang semakin menjadi salah tingkah.
"Aku tahu..... kau mengg*daku awasya, nanti aku akan membalasmu.'' Jawab Gutingye, sembari berdiri dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan, dengan rona malu bercampur bahagia.
Gutingye, tidak lagi menoleh kebelakang, meskipun mendengar Yanyan memanggilnya.
Bahkan, pria itu juga masih mendengar kekehan kecil dari bibir Ziaruo.
Dibalik rasa malunya, senyum tersungging di bibir tipis Gutingye, disela sela langkah kakinya.
"Aku mencintaimu Ziaruo, dan aku sangat bahagia bisa bersamamu.'' Ucapnya lirih, sembari berlalu dari sana dengan langkah lebar, serta pancaran rona kebahagiaan diwajahnya.
Waktu berlalu sangat lambat bagi mereka, terutama bagi pria tersebut, yang bahkan sejak semalam, Gutingye tidak dapat tidur dengan nyenyak, banyak hal yang ia pikirkan, banyak hal pula, yang ia rencanakan untuk kedepannya.
Senyum mengembang di bibir tipisnya, wajahnya memerah, dengan imajinasi imajinasinya sendiri.
Hingga tibalah, saat saat yang di nantikan, tepat ketika matahari condong ke arah barat (menjelang senja), hubungan mereka akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri, dengan disaksikan oleh seluruh orang perkampungan merah.
Karena kondisi tubuh, serta kesehatan Ziaruo, yang masih dalam masa pemulihan, ia di temani oleh Xioyu, dan Yanyan menuju biliknya, setelah menyapa tamu undangan beberapa kali.
Sementara itu, Gutingye menemani tamu dan berbincang bincang, sebagai bentuk kesopanan, dan ucapan terimakasih atas kedatangan mereka.
Namun, baru beberapa saat, seorang pria dengan terburu , buru memberi laporan.
"Tuan...tuan besar... para prajurit dari kekaisaran Xili telah mengepung kampung ini tuan.'' Ucap pria tesebut, yang tak lain adalah Luxifeng penjaga kediamannya, yang sekaligus sahabatnya.
Mendengar berita itu gutingye terkejut, ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Persiapkan persenjataan kita!, musuh sudah mengepung, bawa anak anak dan wanita ketempat persembunyian.'' Perintah spontan gutingye, dan langsung diangguki serta dilaksanakan oleh semua orang yang disana.
Dengan cepat, Gutingye bersama dua orang penjaganya, berlari kearah bilik, dimana istri dan anaknya berada.
"Brruuaak....'' Suara pintu di buka dengan kasar dari luar, dan sontak saja hal tersebut membuat Ziaruo, Xioyu serta Yanyan terkejut.
''Jangan bertanya apapun, mereka akan membawamu ketempat persembunyian.'' Ucap gutingye dengan cepat, serta mengangkat Yanyan, dan memberikannya ke dalam gendongan, salah satu penjaganya. Zelan penjaga terpercaya sekaligus sahabatnya, yang berasal dari tempat yang sama dengan Gutingye.
Gutingye menarik tangan Ziaruo, ia hendak membawanya pergi dari sana, namun tangannya justru yang ditarik oleh wanita itu, sembari berkata.''Xioyu, temani Yanyan, jaga dia sebaik mungkin, jika terjadi sesuatu padanya, aku ingin kau juga ikut menanggungnya.''
Mendengar ucapan tersebut, Xioyu bingung serta cemas dalam waktu bersamaan.
"Bagaimana ini, tugasku adalah membawa nona pergi dari sini, namun jika aku menolak sekarang, mereka pasti akan mencurigaiku.'' Ucap Xioyu dalam hatinya.
"Nona ...lalu bagaimana dengan nona?.''Tanya Xioyu denga wajah cemasnya.
"Jika Yanyan baik baik saja, kami juga akan baik baik saja, dan....aku ingin menemani suamiku disini.'' Jawab Ziaruo lagi, sembari mengusap kepala Yanyan sejenak.
"Pergilah, jaga putraku baik baik.'' Pinta Gutingye kepada Zelan.
Mendengar perintah tersebut, Zelan mengangguk, dan segera pergi dari sana. Sementara itu Xioyu dengan berat hati mengikuti penjaga yang menggendong Yanyan.''
"Kau tahu, ternyata kau juga memiliki sifat keras kepala.'' Ucap Gutingye, kepada Ziaruo dengan tatapan yang tak dapat diartikan, seolah banyak perasaan serta pemikiran, bercampur aduk didalam ot*k dan hati sang Pria.
Ziaruo hanya diam, ia tersenyum kearah suaminya. Senyum yang ia gunakan untuk menutupi kecemasan sekaligus ketakutan hatinya.
"Tuan, bagaimana sekarang, apa yang akan kita lakukan?.'' Tanya penjaga setianya,(penjaga 1 yanzuo), namun sebelum Gutingye menjawab pertanyaan penjaga tersebut, seorang penjaga lainnya datang melapor.
"Tuan besar, semua senjata perlengkapan kita sudah menghilang, dan kami menunggu perintah anda selanjutnya.'' Ucap penjaga 2(Lucifeng) menjelaskan situasinya saat ini.
"Apa?, bagaimana mungkin?.''
Gutingye mendudukan tubuhnya secara kasar, ia berfikir keras ada rasa khawatir didalam hatinya.
"Apakah kita dihianati Yanzuo?, bahkan mata mata, yang kita tempatkan di perbatasan hutan dan istana, tidak memberi kita imformasi apapun tentang penyerangan ini.''Ucap Gutingye lirih.
"Tuan ..., sebenarnya gudang senjata kita, juga tidak dibuka secara paksa, sepertinya orang orang dalam sendiri, yang mengambil semua persediaan senjata kita tuan.'' Lanjut Lusifeng.
"Apa katamu, bukankah yang berjaga membawa kunci gudang persenjataan adalah Zelan, tidak mungkin ia melakukan hal itu?.''bantah Gutingye mencoba, mengklarifikasi suatu jawaban, atas sebuah tuduhan yang serius untuk penjaga sekaligus sahabatnya.
Namun belum sempat, masalah tersebut terselesaikan, dari luar Zelan berlari sambil membopong tubuh Yanyan dengan sebuah luka di perutnya.
Melihat hal tersebut, Gutingye bergerak cepat, mengambil tubuh putranya.
__ADS_1
Ziaruo yang juga berada disana berjalan dengan cepat, mendekat dan meneriakan nama bocah kecil tersebut.
"Yanyan...!.''