Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 233. Buka Cadar.


__ADS_3

Matahari yang kian meninggi, tak dapat membawa terpaan hangat pada tubuh Ziaruo dan Cangge, yang berada di punggung kuda.


Dengan rindangnya pepohonan hutan, di sepanjang pinggiran jalan setapak yang memayungi, bahkan dengan ke elegannya sang surya yang membulat di langit, tak dapat menyibak kesejukan angin di hutan tepian batas kota.


Baik Cangge dan Ziaruo masih dapat menikmati kesejukan angin sepoi yang menerpa, ketika kuda itu membelah jalanan kecil di hutan tersebut.


Ziaruo yang menyadari kehadiran pihak lain di sekitarnya, dengan reflek menghentikan langkah si hitam.


''iiiiikkkkhh.... heeerrrr''


Wanita itu bisa saja terus melajukan kudanya. Namun ketika dia menyadari dua pemanah, yang bersembunyi di atas pepohonan hutan, ia memutuskan untuk menarik tali kekang kuda yang ia tunggangi.


Bagaimanapun ia masih membawa tubuh lain di balik punggungnya, dan sudah barang tentu ketelitian serta keputusan yang diambil, harus di perhitungkan beberapa kali.


Dari intuisi tajam yang di milikinya, ia merasa situasi saat ini tak sesederhana yang terlihat.


''Mohon maaf..jika perjalanan anda sedikit terganggu, kami hanya ingin memastikan sesuatu kepada Nona.'' Sebuah suara berat dan dalam, terdengar dari dalam gerbong tak jauh dari ke-4 tubuh yang berdiri di tengah jalan.


Ziaruo masih diam di atas punggung kudanya. Ia tak ingin mengambil langkah apapun sebelum dapat memastikan secara jelas, apa yang di inginkan atau siapa mereka.


Sejenak hutan kecil di kaki bukit menjadi hening sejenak.


Baik dari pihak Ziaruo dan kelompok di depannya masih tetap tak bergeming.


Hingga beberapa saat kemudian, ketika seorang pria dan dua wanita turun dari dalam kereta dengan perlahan.


Tanpa sadar Ziaruo mengernyitkan kening sejenak, dan berusaha untuk melihat siapa ke-3 sosok yang telah sengaja menghentikan jalan mereka.


Akan tetapi, bagaimanapun ia mencermati, serta melihat mereka dari kejauhan hingga sosok itu perlahan mendekat kepadanya hingga berjarak beberapa jengkal, ia tetap tak mengenal siapa mereka.


Sesosok pria dengan usia 30 tahunan, dengan kulit kuning cerah, bertubuh tegap telah berdiri dengan jarak beberapa langkah saja di depannya.


Dari balik punggung pria tersebut, sepasang wanita cantik yang gemulai berjalan beriringan juga ikut mendekat.


Dalam tatapan kedua wanita disana, tidak menunjukan sikap bersahabat ataupun sekedar beramah tamah.


''Adik...jika ingin menarik perhatian tuan, jangan keterlaluan...lihatlah bahkan kau telah membawa masalah untuk kami.'' Ucap salah satu wanita disana, yang mengenakan pakaian ungu dengan motif Lily kecil di dadanya.


Wajahnya yang oval dan putih bak giok semakin terlihat memukau, saat terkena terpaan mentari siang itu.


''Ia....bahkan kami juga harus datang ke tempat kotor ini untuk mencari mu, apa kau tidak merasa bersalah?.'' Sambung wanita satunya bergaun senada, namun dengan motif yang berbeda.


Perkataan itu memang di ucapkan dalam tutur bahasa lembut.

__ADS_1


Akan tetapi, jelas di sana sebuah tudingan meluncur dengan alunan tersebut.


Sementara di sisi lain, Ziaruo yang di anggap sebagai lawan bicara tidak merasa sama sekali.


Ia hanya merasa lucu dengan tindakan merek.


''Kakak apa Anda mengenal mereka?.'' Tanya Cangge.


Bocah itu menyembulkan kepala dari samping tubuh Ziaruo, dan melihat kearah sumber suara.


''Tidak...Mungkin ada kesalahpahaman di sini.'' Jawab Ziaruo tenang.


Mendengar Jawaban yang di berikan Ziaruo, Cangge hanya mengangguk percaya, dan kembali menegakkan tubuhnya di balik punggung Ziaruo.


Berbeda dengan sang bocah yang mempercayai Ziaruo tanpa bantahan sama sekali, ketiga orang di depan sana sama sekali tak mengambil perkataan itu.


Bahkan wanita berbaju bunga lily, juga sempat mengerlingkan mata dengan jengah untuknya.


''Master....sepertinya Adik telah melupakan kita, mungkinkah perlu membuatnya untuk mengingat sedikit.'' Ucap wanita dengan bunga Lily.


Mendengar perbincangan diantara mereka dengan nada sarkas yang mengancam, Ziaruo tersenyum dan mulai membuka suara. ''Mungkin di sini ada kesalahfahaman, siapa yang anda cari?, dan siapa Adik?, wanita ini benar-benar bukan orang yang Anda maksudkan.''


''Oh benarkah?.'' Suara itu terdengar lagi.


Tatapan mata itu, sejak awal tak pernah jauh dari tubuh di atas kuda tersebut.


''Lalu bisakah pria ini melihat wajah di balik cadar Anda?.'' Lanjutnya lagi.


Ziaruo kembali diam, ia melirik ke sisi beberapa pohon yang di tempati oleh beberapa pemanah.


Gerakannya itu, tak luput dari penglihatan pria disana.


Bahkan, ia juga tersenyum ketika Ziaruo menyadari beberapa pemanah yang ia tempatkan.


''Ternyata kau masih memiliki ketajaman yang hebat seperti dulu. Sungguh tak dapat dianggap enteng.'' Ucap pria di depan Ziaruo lagi.


''Master... bagaimana jika kita sedikit memberinya pelajaran, agar adik tidak lagi berani keluar seperti ini lagi.''


Wanita bergaun motif Lily mengutarakan sebuah usulan atas diri sosok Ziaruo, namun lekuk bahasa tubuhnya seakan tengah merayu, dan berusaha bermanja-manja kepada sang pria.


''Rulan....jangan membuatnya takut, atau dia akan membenci kita.''


Perkataan itu terdengar santai, namun dari reaksi yang di tampilkan sang wanita, tampak jelas bahwa itu bukan sekedar perkataan kosong saja.

__ADS_1


''Maafkan pelayan ini tuan..'' Jawab wanita yang di panggil Rulan tersebut, sembari memundurkan tubuhnya perlahan.


''Ruiyin jangan takut, ia hanya bercanda cepat turun dan kembali ke mansion bersama, aku akan melupakan kejadian hari ini.'' Ucap sang pria lagi, berusaha membujuk Ziaruo.


Ziaruo masih tersenyum tenang, ketika menerima panggilan salah dari orang-orang di depannya.


''Sungguh kelembutan dan kebesaran hati yang tiada bandingannya. Namun sayangnya, saya bukan Ruiyin yang anda maksudkan.'' Ziaruo menyangkal secara langsung, panggilan nama orang lain yang di berikan untuknya.


''Jadi bisakah Anda sedikit memberi jalan untuk wanita ini dan lewat dengan mudah?, karena ada kepentingan mendesak yang harus di selesaikan?.'' Lanjutnya lagi.


Mendengar perkataan itu, pria disana sedikit mengernyitkan kening, dalam hati ia mulai sangsi atas praduga yang ia pikirkan.


''Benarkah dia salah orang?, tapi baju itu, tinggi badannya? dan juga kuda itu adalah milik Ruiyin.'' Pikirnya dalam diam.


Melihat sang tuan sedikit merenung, wanita di samping Rulan menjadi gelisah dan buru-buru berkata. ''Tuan...jangan terkecoh dengan perkataannya, dia Ruiyin...Jika bukan, mengapa ia tak bersedia membuka cadarnya untuk kita memastikan.''


Mendengar perkataan itu, pria yang di panggil sebagai master tersebut kembali optimis. ''Ruxin memang cerdas...aku hampir tertipu lagi.''


Menyaksikan interaksi di antara ketiganya, serta kesalahpahaman yang konyol disana, Ziaruo mulai merasa jengkel di dalam hati.


Jelas pria di sana memuji sang wanita, akan tetapi dalam penglihatan Ziaruo itu bukanlah keberkahan sanjungan dari hati.


Melainkan sebuah provokasi untuk dirinya, dan berusaha memberikan kemutlakan atas anggapan yang ia lekatkan.


''Baiklah...seperti ucapan Ruxing, jika memang Anda bukan Ruiyin kami, maka buktikan dengan membuka cadar anda sejenak.'' Sang pria.


Mendengar perkataan tersebut, dalam hati Ziaruo bertambah sedikit lagi rasa kesalnya.


Ia memang bukan apa yang di sebutkan oleh mereka, namun dengan keengganan untuk mendengarkan penjelasannya, ketiga sosok di depannya semakin menyebalkan.


Jadi ia telah memahami, bersedia atau tidak bersedia Ziaruo harus berurusan dengan mereka, dan itu cukup menyita waktu.


Hatinya menjadi semakin kesal dalam sekejap. Sejak awal ia ingin segera menyelesaikan urusannya, dan kembali untuk melihat Weiyun.


Namun, ternyata beberapa orang bodoh di sana, berusaha menunjukan gigi mereka kepadanya.


''Bagaimana jika wanita ini menolak?.'' Sahut Ziaruo lirih, sembari berusaha menekan kekesalan di hati.


Mendengar jawaban tersebut, baik Rulan, Ruxing dan pria di sana tersenyum secara bersamaan.


Sebuah senyum yang bahkan tak tersentuh hingga ke ujung mata. Karena di balik senyuman itu, telah tersembunyi suatu rencana dan kearogansian yang kental.


''Jika demikian, maka pria ini juga akan sedikit memaksa, mohon di maklumi.''

__ADS_1


__ADS_2