Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 33 Antara bulan dan malam


__ADS_3

Di sebuah jalan menuju hutan barat, lentera kecil menyala kelap kelip dan tampak remang.


Lentera itu bergerak seirama, dengan gerakan kereta kuda, kadang bergerak ke kiri, dan kadang ke kanan.


Lentera itu beberapa kali condong ke depan, dan juga terhenyak sedikit kearah atas, saat roda kereta terantuk benda keras di bawahnya.


Akan tetapi, cahayanya tetap setia menerangi sebuah perjalanan, sepasang kakak beradik di atas kereta tersebut.


Sementara, di atas sana pada langit malam, tampak bulan membulat penuh.


Menaburkan keindahan, dengan ribuan mutira berkelap-kelip mengelilinginya.


Seorang gadis cantik, menyembulkan kepala dari dalam kereta, mendongakkan wajah menatap bulan, yang seolah mengikuti jalanya kereta yang ia naiki.


Ada kelelahan dalam tubuh rampingnya, ada juga keresahan dalam hati.


Perlahan namun pasti, ia menyandarkan kepala miring, seolah mencari kenyamanan diantara semilir angin malam, dan indah rembulan.


Dengan lengan tanganya sebagai bantalan kepala, mata tetap lurus menatap bulan dilangit malam, mulut kecilnya bergumam lirih...


 Jika bulan tak hadir malam ini,


 apakah sang malam bahagia dengan kepekatan gelapnya ?


Jika bulan enggan datang lagi,


rindukah sang malam kepadanya?


Mengapa malam dan bulan harus dipertemukan, dalam satu ikatan masa dan waktu?.


Membelenggu rindu ...


Menorehkan pilu ...


Malam tetaplah malam meski tanpa bulan.


Namun, bulan akan menghilang tanpa sang malam.


Haruskah bulan menyapa sang malam?.


Memanggilnya dengan penuh kerinduan.


Dibalik elegi senja, dengan sinar temaramnya.


Bulan sendu beranjak pergi, meratap pilu tanpa arti .


Malam tetaplah malam. *M*eski tanpa bulan, ada bintang menemani.


''Hentikan, jangan mengatakan sesuatu yang menyedihkan seperti itu lagi.'' Ucap Yongyu lirih.


Entah mengapa, hatinya seolah terasa sesak mendengar barisan perkataan sang adik.


Apakah kau pernah terluka Ruoer?, Tanya Yongyu dalam hati.


Namun, pemuda itu tak ingin merealisasikannya melalui ucapan.


"Aku hanya mengingat beberapa bait tulisan yang pernah kubaca dulu kak.


Dan ketika melihat bulan, entah mengapa aku mengingatnya kembali."


Jawabnya lirih itu mengalir tenang, dengan sorot mata lembut.


Akan tetapi, dari nada yang terngiang di pendengaran Yongyu, seolah ucapan tersebut penuh kesenduan.


"Oh ya, apa kita akan langsung kepondok atau pulang kerumah terlebih dulu?.'' Tanya Ziaruo, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Kita akan langsung kepondok. Jadi tidurlah, perjalanan masih jauh.'' Jawab pemuda itu lembut, sembari mengontrol derap kereta kudanya.


"Ruoer ...'' Panggil sang pemuda pelan.


"Heeemmmzzz....?.''


jawab Ziaruo dengan nada malas.


Karena ia memang sudah bersiap-siap, untuk menuju pulau kapuk.


"Boleh aku menanyakan beberapa hal.'' Tanya Yongyu ragu-ragu.

__ADS_1


Memang benar hubungan keduanya sudah semakin dekat saat ini.


Akan tetapi, dengan waktu kebersamaan yang singkat di antara keduanya. Yongyu masih belum mengetahui apapun, tentang gadis yang ia panggil adik tersebut.


"Heeemmmmmzzz.'' Jawab Ziaruo, masih dengan nada malasnya.


Mendengar kata sakti itu dari dalam kereta, Yongyu mengerutkan kening.


Ia diam dan berfikir, haruskah bertanya atau tidak.


Justru setelah persetujuan itu di dengarnya, ia merasa bingung sendiri.


"Pak kusir kereta yang tampan sejagat raya, adakah yang hendak di tanyakan?, mohon di percepat, nona cantik ini ingin buru-buru menjemput pangeran mimpinya.'' Lanjut Ziaruo, dalam candaan moderennya.


*ingatkan bahwa ia memiliki ingatan diketiga kehidupannya.*


Mendengar ucapan Ziaruo, yang menyebut dirinya tampan wajah Yongyu memerah, hatinya berderap kencang. Bahkan, seolah lebih kencang dari derap langkah kereta kuda yang ia kemudikan.


"Apakah kau sudah menemukan seseorang?.'' Tanya Yonyu dengan sedikit ragu, setelah mengatur ritme degub jantung miliknya.


Pertanyaan itu, ia tujukan untuk hal pribadi Ziaruo, dengan maksud mengarah kesosok spesial di hatinya.


Sesungguhnya dibalik pertanyaan tersebut, hatinya terasa kaku.


Bahkan ia ingin mengigit bibir bodohnya, yang sudah lancang menanyakan sesuatu yang ia takuti jawabanya.


''Banyak yang sudah kutemukan.'' Jawab singkat dari dalam kereta.


"Banyak?, seberapa banyak?.''


Tanya pemuda itu lagi.


Namun kali ini, dengan nada yang lebih antusias, karena ia bingung dengan maksud perkataan sang adik.


''Banyak?.'' Gumamnya dalam hati.


"Banyak sekali kak.''


Ziaruo menjawabnya, dengan nada suara yang terdengar malas.


Ucapan dari dalam kereta, semakin lama semakin tidak terdengar. Bahkan perkataan yang terakhir, tidak sempat terselesaikan.


Dan Yongyu memahami, bahwa sang adik telah tertidur.


''Tidurlah, aku akan menjagamu dengan baik. Agar aku tidak menjadi salah satu dari mereka, yang tidak ingin kau temui.'' Gumam Yongyu lirih, sembari mengurangi kecepatan langkah kaki kuda keretanya.


Namun, tanpa di sadari oleh pemuda tersebut, ada senyum tersembul dibalik cadar yang terpasang diwajah cantik seseorang, sembari setengah terbawa alunan mimpi .


"Aku tahu ...Giodion Atmadja'' Ucap Ziaruo dalam diam. Hati wanita itu, semakin menghangat, ketika bersama pemuda tersebut.


Derap langkah kaki kuda yang melambat, membuat kereta berjalan lebih stabil, dan terasa seperti sebuah ayunan yang nyaman, untuk meninabobokan wanita itu.


Dengan terpaan angin malam yang menyusup, dari sela sela tirai jendela kereta, suasana di dalam kereta kuda sungguh telah menghantarkan seorang wanita cantik, melayang kedalam dunia mimpi.


Sebuah dunia dengan pembauran antara mimpi, ingatan, kenangan, harapan serta khayalan.


.....................................


Sementara itu, di sebuah kuil suci yang berada di pinggiran kota Wey.


Seorang pria dengan rambut putih keperakan, tengah duduk bersila di atas lempengan batu.


Sebuah lempengan batu besar berwarna putih cerah, menyerupai awan besar( giok salju).


Batu itu tampak unik, dengan dominasi ruangan yang beraura mistis sangat kental.


Bahkan bagi orang dengan kultivasi tinggipun, ruangan tersebut masih akan menampilkan sisi menakutkan.


Pria tersebut perlahan membuka mata.


Tampak jelas sebuah senyum tersungging, pada wajah dengan sisi ketampanan, kharisma, dan wibawa.


Dia adalah panatua suci,


orang yang sering dipuja-puja, sebagai orang yang dapat berbicara dengan dewa.


Wajah itu, ibarat bulan di belah dua dengan wajah sang kaisar Murongxu.

__ADS_1


Akan tetapi wajah sang panatua suci, jauh lebih indah, dan tampan. Bahkan dapat di katakan seolah memancarkan cahaya.


"Akhirnya kau datang Ruoer, aku menunggumu.'' Ucap sang panatua, dengan senyum yang mengembang indah, di wajah tampannya.


''Semoga kau tidak marah, dan menghukum helaian rambutku.'' Sambungnya lagi, dengan gumaman lirih.


Pria itu berdiri dari duduknya, dan berjalan pelan keluar dari ruangan tersebut.


Ia berjalan menuju sebuah bilik sederhana, namun memiliki nuansa yang tidak jauh berbeda, dengan ruangan yang sebelumnya.


Dengan tenang ia, mendudukan tubuh gagahnya, pada ranjang sederhana yang berada di ujung ruangan.


"Sudah saatnya untuk beristirahat, dan kita akan segera bertemu dan berkumpul kembali.'' Ucapnya lagi dengan penuh ketenangan, sebelum merebahkan tubuh pada ranjang sederhana di ruangan tersebut.


"Kau sudah boleh kembali kepadanya, dan tutup lembah ini.'' Ucapnya lagi.


Panatua suci mengatakannya dengan nada yang tak jauh berbeda.


Akan tetapi, ucapan itu ia tujukan kepada sosok siluet bayangan, yang berdiri disamping ranjang.


Siluet tersebut, adalah sosok lain dari ingatan milik Murongxu, kaisar Awan selama tiga kehidupan ini.


Bentuk lain yang ia ciptakan, atas perintah guru besar Xio.


Akan tetapi, apapun yang terjadi dengan siluet ini setelahnya, tidak ada hubungannya dengan kaisar murongxu, dari dunia awan.


Bengan bahasa lain, ia mengingat apapun yang sudah dilalui kaisar Murongxu sang kaisar awan selama 3 kehidupan.


Namun, tidak dengan kehidupan yang akan datang.


Setelah perkataan tersebut terlontar, tiba-tiba saja kabut tebal muncul menyelimuti ranjang sederhana, melingkupinya dengan kuat, beserta Panatua suci yang berbaring di atasnya.


Menutup sempurna, hingga yang terlihat disana, bukan lagi sebuah ranjang. Namun, sebuah bongkahan batu besar, dengan ukuran hampir sebesar rumah.


Tidak terlihat apapun selain batu, bahkan kuil yang berada di sanapun, menghilang tanpa jejak, berubah menjadi sebuah hutan liar, yang seolah tak pernah di datangi oleh manusia.


*¤* flash back on *¤*


Sepasang suami istri dengan khusyuk berdoa, selama kurang lebih 2 purnama, didalam sebuah kuil yang sudah tersohor, sebagai kuil tempat orang orang meminta keturunan.


Keduanya banyak, melakukan kebaikan kepada orang lain, serta melakukan puasa untuk tidak memakan daging, mereka berharap diberikan seorang putra penerus keluarganya.


Sudah hampir 2 purnama lamanya keduanya melakukan ritual tersebut.


Hingga suatu malam, ketika mereka tengah terlelap dalam peraduan hangatnya, sang istri mendengar ketukan pada pintu ruangan mereka.


"Yang mulia... ada seseorang mengetuk pintu, mungkin itu prajurit dari istana?.'' Ucap sang istri, berusaha membangunkan suaminya, yang masih tampak malas dan kelelahan.


Melihat suaminya enggan membuka mata, sang istri berinisiatif untuk melakukan sesuatu.


''Suamiku...Tuan Murong yang paling hebat, dan tampan, bangunlah sebentar, ada kiriman makanan, yang aku inginkan didepan pintu. Bisakah andan bangun sebentar?.'' Ucap sang istri dengan lembut, serta gaya manja yang di segel sedemikian rupa.


Wanita itu, tidak hanya berkata-kata, namun ia juga melakukan sebuah tindakan menc**m lembut b*bir sang suami, yang masih malas bangun.


"Heemmzz..kau mengg*d*ku lagi?.'' Tanya reflek sang suami, dan langsung meraih pinggang wanita itu, yang duduk di atas ranjang, dengan gerakan manja dan sakti miliknya.


"Baik ..ia ..aku merayumu lagi, tapi sebelumnya buka dulu pintunya, ada yang datang."


Bujuk sang istri, dengan lembut.


Sesungguhnya wanita itu, bisa saja membuka pintu ruangan tersebut sendiri.


Namun, ia takut bahwa yang datang adalah seorang laki-laki, dan tak ingin membuat suaminya salah faham.


Mendengar hal tersebut, suaminya melirik sang istri sesaat, sebelum berjalan kearah pintu.


''Kriieeet...''


Suara pintu di buka.


"Maaf tuan, mengganggu istirahat anda, panatua suci mengatakan bahwa anda besok sudah di izinkan untuk pulang.'' Ucap seorang pria, dengan pakaian sederhana di depan pintu.


''Dan selamat panatua juga berkata, bahwa istri anda sedang mengandung, panatua suci juga menitipkan sebuah nama, untuk calon putra anda.'' Sambung pria itu lagi.


Mendengar hal tersebut Murong merasa sangat senang.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia membuka gulungan dan ....

__ADS_1


__ADS_2