Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 114 Perompak dan Petapa


__ADS_3

''Yuun...apakah kau akan segera ninggalkanku?.'' Ucapnya lirih.


Sementara itu, Ziaruo yang berada di toko perhiasan miliknya, berada tak jauh dari penginapan Nancang.


Tiba tiba saja ia merasakan sakit di sekitar dada, seolah ada yang tengah menikamnya dengan benda tajam, tubuh Ziaruo berkeringat serta kesulitan bernafas.


Rayyan yang mengetahui hal itu merasa cemas, ia segera mendekat dan bertanya. ''Ada apa dengan anda Nona?, apakah anda terluka?.''


Tampak jelas kekhawatiran pada wajah pria tersebut.


Ia meraih tangan Ziaruo, memapahnya kearah kursi di tengah ruangan toko.


Beberapa pelayan yang melihat berhambur datang mendekat, mereka ikut merasa cemas dengan kondisi sang majikan.


''Jangan bergerombol, cepat ambilkan air minum!." Perintah Rayyan dengan tegas.


Mendengar perintah itu, dengan cepat seorang pekerja toko berlari, masuk kedalam.


Sementara yang lainnya, mundur dan memberi ruang udara yang nyaman untuk Ziaruo.


Selang beberapa saat, seorang pelayan dengan langkah setengah berlarinya, menyodorkan secangkir teh hangat kepadanya, sembari berkata. ''Ini airnya Yang Mulia.''


Melihat itu, dengan cepat Rayyan meraih cangkir dan hendak mebantu Ziaruo meminumnya.


Wajah wanita itu tampak enggan memeperoleh perlakuan yang demikian dari Rayyan, ia menerima cangkir dan berkata. ''Aku bisa sendiri Ray...''


Ziaruo hendak mengambil cangkir dan meminum teh hangat tersebut, akan tetapi tangannya di tepis pelan oleh pria tersebut, manik mata Rayyan menatap tepat kearah Ziaruo.


''Biarkan aku bantu anda kali ini saja.'' Ucap Rayyan dalam hatinya.


Wanita itu menatap lekat wajah penuh harap di depannya, sejenak ia terdiam dan ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh pria tersebut.


Selang beberapa saat kemudian, Ziaruo mengangguk perlahan, sembari berucap. '' Baiklah...''


Mendengar hal itu, dengan tenang Rayyan mendekatkan cangkir teh yang ia pegang kedepan bibir Ziaruo, membantunya minum dan meletakkan cangkir diatas meja.


Ada senyum sekilas diwajah sang pria.


Namun, seolah senyum itu sebuah rasa malu baginya, dalam sekejap wajah itu kembali menyimpannya.


''Apakah anda baik baik saja?.'' Tanya Rayyan lagi.

__ADS_1


''Aku tidak apa apa, kau jangan cemas.'' Jawab Ziaruo pelan.


''Dan kau...'' Ziaruo menatap sang pelayan, yang membawa ari minum untuknya.


''Panggil aku dengan sebutan biasanya, aku masih orang yang sama.'' Lanjut Ziaruo kembali, ia merasa kurang nyaman dengan panggilan Yang Mulia.


Pekerja toko itu mendongak, menatap sang majikan, ada kebingungan pada wajahnya.


Dengan suara yang ragu ia kembali menjawab. ''Taaapi..Yang Mulia....''


''Sudahlah, turuti saja perintahnya, atau kau sudah tidak ingin bekerja disini?.'' Sahut Rayyan datar.


''Tidak tuan...saya menyukai pekerjaan ini, mohon jangan berhentikan saya Yang Mul...Nyonya.'' Jawab sang pekerja dengan cepat.


''Baiklah kau boleh kembali berkerja, aku baik baik saja.'' Ucap Ziaruo kembali.


Sesungguhnya pekerja tersebut enggan beranjak dari sana, ia masih mencemaskan sang majikan, akan tetapi ia tak dapat menolak perintah tersebut. Terlebih lagi sekarang sedang banyak pengunjung di toko.


Wenxing, Pemuda yang bekerja ditoko milik Ziaruo, sejak ia memeperoleh bantuan obat obatan untuk sang ibu, secara cuma cuma.


Ia bertekad bekerja keras, demi membayar hutang yang tak pernah dianggap sebagai pinjaman, oleh sang majikan (Ziaruo).


Akan tetapi, Ziaruo Justru mengumpulkan upahnya, dan meminta Wangde untuk membelikan Wenxing, sebuah rumah dari upah tersebut.


Dan sejak saat itu, baik Wenxing, dan sang ibu yang telah sembuh, mengabdikan diri mereka kepada Ziaruo.


Pemuda tersebut sebagai pekerja toko, sementara sang ibu di perbantukan di dapur.


Sejak awal keduanya selalu menolak ketika di beri upah, karena bagi keduanya mungkin seumur hidup, tak akan dapat melunasi biaya pengobatan, ditambah lagi dengan rumah yang kini mereka tinggali.


Wenxing dan sang ibu hanya meminta, makanan 2x sehari saja untuk upah mereka.


Namun, lagi lagi orang utusan dari toko, datang dengan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan. Genap di bulan ke 14 mereka bekerja, keduanya menerima tambahan sebidang tanah di desa tempat kelahiran sang ibu.


Karena takut mendapat sesuatu yang tidak terduga kembali, akhirnya keduanya sekarang menerima gaji mereka seperti yang lain.


Back to story.


Melihat ucapan Rayyan agak kasar kepada Wenxing, Ziaruo mendengus pelan kearah Pria tersebut, sembari berucap. ''Jangan menakutinya, dia pemuda yang baik.''


''Jelas saja dia baik, siapa yang tidak akan baik didepan anda. Bahkan perompak saja dapat berubah menjadi seorang petapa.'' Jawab Rayyan, sembari mendudukan tubuhnya, pada kursi di depan Ziaruo.

__ADS_1


''Heeemmmzz...siapa yang kau sebut perompak?, dan siapa yang menjadi petapa?.'' Sahut seseorang dari luar ruangan.


Yongyu berjalan dengan wajah tegas kearah mereka, ada semburat kekesalan ketika ia menatap wajah Rayyan.


Sementara yang di tatap hanya diam dan mengacuhkan dirinya.


Rayyan memiringkan tubuh, menghindari tatapan dari Yongyu, serta menyembunyikan kekehan kecilnya.


''Yang dibicaran sudah datang, sungguh orang yang diberkati.'' Gumam lirih Rayyan.


''Siapa yang menjadi petapa Rayyan?.'' Tanya ulang Yongyu kepada pria yang kini membelakanginya.


''Seseorang yang ku kenal baru baru ini. karena seseorang juga, orang itu melajang hingga sekarang. Apa itu bukan petapa namanya?.'' Jawab Rayyan kembali, kali ini pria itu tak tanggung tanggung, menyindir Yongyu tepat di depan Ziaruo.


Mata Yongyu membulat, saat mendengar jawaban dari pria tersebut, ada gelisah serta kekhawatiran segalanya akan terbongkar di depan sang adik.


Dengan cepat ia mengalihkan perhatian Rayyan dan Ziaruo, Yongyu mendekat kepada Ziaruo dan berkata. '' Suamimu kelihatan aneh, dia mengurung diri sejak tadi.''


''Mengurung diri?, apakah telah terjadi sesuatu?.'' Tanya balik Ziaruo, dengan kening mengernyit.


''Entahlah, pelayan mengatakan bahwa tadi Wuhan memapahnya, saat kembali dari kamar Murong.'' Yongyu menjelaskan, sesuai dengan pernyataan pekerja penginapan.


''Baiklah ayo kita kembali, mungkin telah terjadi sesuatu diantara mereka?.'' Lanjut Ziaruo, sembari beranjak dari duduknya.


Melihat wanita itu berdiri, Rayyan ikut berdiri dan menatapnya lekat, dengan maksud menanyakan kondisinya.


Ziaruo mengerti makna tatapan itu dan menggeleng pelan, sembari berkata. ''Aku baik baik saja, jangan cemas.''


Rayyan diam sejenak, dan menjawab. ''Baiklah.....Aku menyusul nanti, masih ada yang akan kulakukan di sini.''


Mendengar ucapan pria tersebut, Yongyu menatapnya dan berkata. ''Aku tak mengajakmu, jika kau ingin pulang pakai kereta toko saja, atau kau bisa jalan kaki.''


Ranyyan mengernyitkan kening ketika mendengar ucapan dari Yongyu, dan sesaat kemudian tawa pecah dari bibirnya. '' Hahaha...hahaha..Nona ternyata saudara anda pendendam, hahaha...hahaha.''


Yongyu menatap pria itu dengan tatapan sinis, sebelum berlalu mengikuti sang adik keluar dari toko.


Sementara Ziaruo, hanya mengelengkan kepalanya pelan disela langkah kakinya.


Wanita itu juga sesekali akan ikut mengangukkan kepala pelan, ketika mendapat sapaan dari pera pekerjaan, dan pengunjung yang kebetulan mengenal atau mengetahui dirinya.


''Anda memang orang yang hebat Nona, bahkan dengan status yang tinggi, masih bersedia membalas sapaan seorang pelayan.'' Ucap dalam hati Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2