
Seorang wanita dengan tenang, berjalan diantara deretan bunga, yang berjajar sepanjang jalan setapak, menuju sebuah pavilliun.
Ia menyadari bahwa selain dua penjaga bayangan, yang sengaja di tempatkan oleh sang suami, serta 3 pelayan wanita miliknya, ada beberapa orang lagi yang tengah mengikuti.
Wanita yang tak lain adalah permaisuri dari negri Zing tersebut, tampak masih tetap menampilkan ketenangan.
Dengan suara pelan ia meminta kedua penjaganya, untuk tetap tenang dan tidak mengambil tindakan apapun.
''Jangan lakukan apapun, aku ingin mengetahui apa yang tuan mereka inginkan.'' Ucap wanita itu, dengan raut wajah tampak biasa.
Sementara bagi kedua penjaga tersebut, perkataan sang Permaisuri, ibarat sebuah maklumat yang wajib mereka patuhi.
Dengan hampir bersamaan, kedua penjaga menjawab. ''Baik Yang mulia.''
Mendengar jawaban dari keduanya, para pelayan wanita juga menunduk sejenak, dan berkata. ''Pelayan mengerti Yang Mulia.''
Tanpa menunggu waktu yang lebih lama lagi, kedua penjaga itu menunduk, dan bergerak cepat, setelah menyelesaikan ucapan mereka.
Kedua orang kepercayaan, yang sengaja di pilih oleh kaisar Jing itu, mundur beberapa langkah dari keberadaan Ziaruo.
Wanita yang kini tengah hamil muda tersebut, hanya diam.
Sesungguhnya, ia menginginkan mereka menjauh, lebih dari yang mereka lakukan saat ini.
Namun, Ziaruo juga tahu dengan pasti, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
Bahkan, dengan jarak mereka yang beberapa langkah dari keberadaannya sekarang, adalah sebuah bentuk perlawanan atau ketidak patuhan, dari perintah sang suami, tuan mereka.
Dan hal itu benar adanya, kedua penjaga yang berada di samping Ziaruo, diperintahkan untuk menjaga, serta melindungi dirinya dengan baik.
Keduanya tidak di izinkan melakukan kesalahan apapun, atau lalai barang sedikit saja.
Menyadari akan hal tersebut, Ziaruo menghela nafas dalam sejenak, ia berusaha mengalihkan perhatiannya kepada sang buah hati, yang mungkin sekarang masih berupa, setitik gumpalan saja di perutnya.
''Lihatlah, bahkan ayahandamu sudah sangat keterlaluan.'' Ucapnya pelan.
Sebuah perkataan dengan makna penuh keluhan meluncur polos dari bibirnya.
Akan tetapi, dengan penyampaian yang disertai sebuah senyuman kecil.
Wanita itu merasa, bahwa sang suami terlalu protektif kepadanya, namun ia juga merasakan kebahagian atas tindakan tersebut.
Bahkan, pria itu masih menempatkan kedua penjaga bayangan, setelah 3 pelayan wanita dengan kemampuan beladiri tinggi, untuk menjaganya.
''Heeeeh...''
Wanita itu menghela nafas panjang kembali, sembari menghentikan langkah kakinya.
Ia menyadari, beberapa tamu tak diundangnya, masih terus mengikuti langkah mereka.
''Keluarlah!, katakan apa yang ingin disampaikan oleh tuanmu." Ucap wanita itu dengan suara yang jelas.
Mendengar perkataan sang permasuri, baik kedua penjaga bayangan, dan ketiga pelayan wanita, mulai menajamkan pendengaran, serta penglihatannya.
Mereka tak ingin ada kesalahan apapun dalam tugas yang di emban kali ini.
__ADS_1
Terlebih lagi, disaat seperti sekarang.
Kelima orang tersebut, dalam mode kesiagaan penuh, namun dengan ketenangan yang tetap pada posisi masih sama.
Selang sesaat kemudian, tampak beberapa bayangan mulai menunjukan diri mereka.
Tiga tubuh tegap, dengan balutan pakaian sederhana, serta wajah mengenakan penutup, membungkukan tubuh sejenak, dan berkata. ''Salam yang mulia.''
Sebuah ucapan yang tenang, meluncur dari salah satu pria bayangan tersebut.
Disana tampak jelas, bahwa sosok itulah yang paling dominan di antara ketiganya.
''Aku tidak akan berpikir, bahwa kalian mengikutiku hanya untuk memberi salam saja.'' Jawab Ziaruo, dengan ekspresi yang masih sama.
Mendengar jawaban dari wanita di depannya, pria bayangan tersenyum dan kembali berucap. ''Anda benar, nyatanya pelayan ini sengaja dikirim, untuk menyampaikan undangan dari tuan kami.''
Mendengar hal itu, ketiga pelayan wanita tersebut, bergerak dengan cepat kearah Permaisuri Yun.
Mereka seolah menjadi dinding pelindung, didepan sang wanita no1di Zing tersebut.
Dan tentu saja, kedua penjaga bayangan, yang tak jauh darinya juga telah mempersiapkan diri.
Melihat hal itu Ziaruo mendekat, serta menepuk pundak salah satu pelayan di depannya.
''Jangan khawatir..'' Ucapnya lirih.
Mendapat tepukan di pundaknya, pelayan itu terkejut sejenak. Ia menundukkan kepala, sebelum akhirnya melangkah kembali keposisi semula.
Dan tanpa aba-aba apapun kedua pelayan yang lain, mengikuti langkah sang rekan.
Ada sebuah senyum tipis pada wajah cantik itu. Akan tetapi, entah mengapa bagi ketiga orang di sana, senyuman yang tertutup cadar tersebut, bukanlah sebuah keindahan.
Hal itu benar adanya, dalam beberapa detik saja, di sekitar jalanan setapak disana, tengah dipenuhi aura yang mencekam, serta penuh penekanan.
Ketiga sosok bayangan itu, tiba tiba saja bersimpuh di tanah.
Sementara, kedua penjaga bayangan serta 3 wanita pelayan Ziaruo, tidak merasakan apapun sama sekali, mereka tampak kebingungan.
Belum sempat kebingungan itu terjawab, sebuah suara lembut terdengar. ''Apakah kalian terlalu meninggikan diri, ataukah tengah meremehkan wanita ini?.''
Ziaruo melangkah kearah ketiganya, dengan pelan dan pasti. Tidak terlihat sebuah ketakutan serta ragu sama sekali pada ekspresinya.
Namun, tidak untuk pelayan dan para penjaga disamping Ziaruo.
Mereka mencemaskan keselamatan sang Permaisuri dan juga nyawanya.
Karena bagaimanapun, jika terjadi sesuatu kepada wanita itu, maka nyawa mereka tidak akan pernah cukup untuk menebusnya.
Akan tetapi, mereka juga tidak berani menentang perintah wanita itu, sekalinya ia merasa kurang puas atas tindakan mereka, hukuman sang tuan juga sudah siap menunggu.
Yang dapat dilakukan kali ini, hanya bersiap, bersiaga dan waspada.
''Ataukah Dia memang sengaja ingin mempermalukanku, dengan mengirim kalian sebagai pembawa pesan?.'' Lanjut Ziaruo kembali.
Mendengar setiap perkataan dari wanita di depannya, ketiga sosok disana hanya diam membisu, tidak ada suara apapun, sebagai jaaban atas pertanyaan Ziaruo.
__ADS_1
Yang terlihat disana hanya tubuh ketiganya bergetar.
Khususnya satu sosok yang paling di depan.
Tubuh sosok bayangan itu, tampak jelas tengah berusaha membebaskan diri, dari sesuatu yang seolah sangat berat, tengah mendidih kuat-kuat.
''Sial...sial...'' Pikiknya dalam diam.
Ziaruo mengetahui akan pemikiran tersebut.
Wanita itu kembali tersenyum, serta melangkah kembali kearah mereka, sembari berucap lagi. ''Ternyata kearoganan sang majikan menurun kepada pelayannya. Bahkan, pertanyaan wanita ini juga tak pantas, mendapatkan jawaban dari orang-orang seperti kalian.''
Wanita itu jelas mengetahui, bahwa ketiga sosok di depannya, kini tengah merasakan penekanan yang kaut, akibat tindakannya.
Dan ia juga tahu betul, jangankan untuk menjawab pernyataan dan menatapnya, bahkan untuk bernafas saja mereka kesulitan.
Meskipun, mereka bukan tidak bernafas sama sekali.
Ziaruo sengaja memberikan mereka pelajaran, sebagai pesan atas ketidak sukaan, serta kemarahan, yang ia tahan didalam aula perjamuan beberapa saat yang lalu, kepada sang tuan dari sosok ketiga bayangan.
Dimana tuan mereka yang tak lain, dan tak bukan, adalah Kaisar Muda Canzuo.
Ziaruo ingin menyampaikan, bahwa saat ini dirinya tengah berusaha meredakan kekesalan kepadanya, dengan tindakan tersebut.
*Flash back on*
Beberapa saat sebelumnya, di aula pesta perjamuan.
''Sebentar lagi, perjamuan akan usai, wanita ini berharap anda tidak memakan, ataupun meminum, sesuatu dengan aroma bunga, yang akan di sajikan.'' Sambung Ziaruo lagi. Namun kali ini, hanya ia bisikan di dekat sang suami.
Seakan, ia tengah menghindari pendengaran orang lain, dari pembicaraan yang tengah mereka lakukan.
''Mengapa?.'' Tanya Jing keheranan dngan dengan nada antusias.
''Anda akan tahu nanti.'' Jawab wanita itu lagi, dengan penuh percaya diri.
''Akan ada kejadian apalagi sekarang?.'' Gumam Jing dalam diamnya.
Tak berselang waktu yang lama, setelah peringatan Ziaruo untuk Jiang jing wei, barisan pelayan wanita beriringan masuk kedalam ruangan.
Pelayan pelayan dengan pakaian indah, serta wajah cantik itu dibagi menjadi dua barisan kelompok.
Satu baris pelayan melayani, serta menyiapkan jamuan, pada meja baris kanan tamu undangan.
Dan satu baris lagi, bertugas menjamu pada baris sisi kanan, tempat Ziaruo dan sang suami berada.
Menyaksikan hal tersebut, mata Jing membulat beberapa saat. Bahkan, ketika sepasang pelayan cantik dengan wewangian bunga lembut pada tubuhnya, telah tepat berada di depan meja mereka berdua.
''Yang Mulia, apakah anda tengah memohon untuk menambah selir lagi?.'' Tanya Ziaruo tiba-tiba, ketika melihat ekspresi milik Jing.
Mendengar ucapan Permaisuri Yun yang demikian frontal, Jing semakin membulatkan mata, dan dengan suara yang setengah terbata, pria itu menjawab. ''Bagaimana itu mungkin?, Yun kau....''
Sementara itu, di tengah perbincangan mereka, ada dua pasang mata tampak bersinar cerah.
Bahkan, sempat terlihat jelas sebuah senyum kecil di bibir tersebut.
__ADS_1
''Yang Mulia paduka Kaisar dan Permaisuri, silahkan anda menikmati hidangannya.'' Ucap salah satu pelayan cantik, mulai membuka mulut, dan meletakkan hidangan, kue kue kecil serta teko dan cangkir minuman.