
Sosok yang tak lain adalah Canzuo tersebut, dengan cepat meraih tangan Biyi dan reflek menghempaskannya dengan keras.
''Apa anda baik-baik saja?.'' Tanya Canzuo, dengan suara serta wajah, yang di liputi kecemasan.
Sebesar apapun penghormatannya untuk Biyi, ia tetap tak akan mengabaikan kekasaran untuk wanita itu.
Sementara Biyi yang memperoleh perlakuan demikian, menatap tajam kearah Canzuo.
Ada rasa kemarahan yang besar, di balik tatapannya.
Namun, ketika ia mendengar suara dari wanita, yang kini berada di dalam perlindungan Canzuo, Biyi menjadi leng sejenak.
''Saya baik-baik saja Yang mulia.''
Tangan kecil itu, seakan ingin menepis uluran kokoh tangan Canzuo.
Akan tetapi dengan rencana yang ia miliki, tindakan tersebut ia urungkan.
Justru ia bersikap sebaliknya.
Wanita Gu, berubah 180º layaknya anak ayam yang kehilangan induk, serta membutuhkan perlindungan.
Menyaksikan hal demikian, Biyi tersenyum konyol, seraya berucap. ''Sungguh manis, jika permasuri dari Zing, dapat bersikap demikian.''
Dalam artian, Biyi mengatakan secara tak langsung, bahwa tidak akan mungkin Ziaruo melakukan sikap itu, meskipun dalam keadaan tertekan oleh musuh.
''Raja...Percaya atau tidak, dia bukan Ziaruo permaisuri dari Zing.'' Ucap Biyi lagi.
Biyi mengatakan pendapatnya dengan jelas, sebelum melangkah keluar dari ruangan.
Ia tidak membutuhkan tanggapan dari Canzuo ataupun pengelakkan dari Ziaruo di sana.
Biyi telah memenuhi tugasnya, sebagai pembuktian untuk identitas wanita itu.
Baik Canzuo percaya, ataupun tidak ia tidak peduli.
Mendengar ucapan dari orang yang sangat ia percayai, Canzuo mengernyitkan kening sejenak.
Tangannya masih memegang erat wanita Gu, dengan paras Ziaruo di depannya.
Hati Canzuo mulai terbesit sedikit penyangsian, atas identitas Ziaruo yang kini juga tengah menatap kearahnya sendu.
''Apakah akan terbongkar?.'' Pikir cemas wanita Gu, dalam hati.
Detak jantung itu berdetak seolah hendak melompat keluar, wajahnya kian memucat seiring berjalannya waktu yang seolah melambat.
Dan dalam keheniang ruangan, tiba-tiba saja Canzuo bertindak di luar logika.
Pria tersebut, meraih pakaian wanita Gu pada pundak kirinya dan menariknya sedikit paksa.
''Beraninya kau..'' Ucap Wanita Gu secara reflek.
Sesungguhnya ia telah terbiasa berdiri, ataupun berdampingan dengan Canzuo mengenakan sedikit pakaian, atau bahkan tanpa busana.
Bagaimanapun, ia dulu adalah wanita dari Canzuo.
Akan tetapi, dengan kecemasan skarang, serta kebencian yang tertanam dihati, perkataan tersebut meluncur tajam.
Bahkan, dalam pengucapan kalimat itu, di sertai dengan manik mata yang membulat penuh.
Meski, ia telah memegang tangan Canzuo yang berusaha membuka bagian atas pakaian, nyatanya dengan kekuatan yang dimiliki wanita Gu, tiada pernah sebanding dengan kekuatan Canzuo.
__ADS_1
Sebuah tampilan pundak putih bak Giok, telah terpapar dengan mudah.
Canzuo seolah di rasuki pikiran buruk, yang entah dari mana. Pria itu masih tidak berhenti hingga disana saja.
Ia masih terus melanjutkan tindakan tersebut, hingga sebuah guratan terpampang jelas dimatanya.
Pada pundak wanita Gu, sebuah tanda dengan beberapa baris luka, yang belum sembuh sepenuhnya melekat.
Canzuo terdiam sejenak, menatap tatto tersebut.
Kemarahan serta rasa ragu, yang beberapa waktu lalu mulai tumbuh di hatinya, kini berangsur menghilang.
''Ruoer....maafkan aku, aku harus melakukannya.'' Ucap Canzuo, dengan suara yang mulai melembut.
Pria itu memeluknya sejenak, sebelum membawa wanita Gu, berjalan menuju kursi yang berada di dalam ruangan.
Mendudukan wanita itu disana, dengan penuh perasaan.
Seolah, sebuah boneka keramik berharga yang rapuh, dan akan rusak hanya dengan satu hentakan kecil.
''Apa kau takut?, tidak...tidak, pasti kau terkejut.'' Gumam-Gumam lirih Canzuo, sembari mengabsen setia detil tubuh dari wanita di depannya.
''Maafkan aku...seharusnya aku sudah tahu bahwa itu kamu, dan tidak memperdulikan perkataan bodoh Biyi.'' Lanjut Canzuo lagi.
Dan kali ini, pria itu telah yakin bahwa wanita Gu disana, adalah Ziaruo.
Permaisuri Zing, yang kini akan menjadi permaisurinya di masa mendatang.
Canzuo merasa bahagia, atas kedatangan Ziaruo di kekaisaran Tang.
Dan ia merendahkan kearoganan, serta kebodohan Jing, yang merelakan wanita itu untuk dirinya, demi kekuasaan serta keamanan negri Zing.
Dan disisi lain, yang berbeda dari pemikiran Canzuo, sebuah otak lain yang juga berada disana, menampilkan kepuasan serta kelegaan besar, dengan balutan paras cantik berbisa.
...........................
Sementara itu, di sisi dimensi lain dengan perhitungan antara hari banding bulan (1:30).
Malam itu, meski bulan membulat menggantung diatas awan Yincang, tetap tak dapat menyibak pekatnya malam, dan hanya menampilkan remang-remang saja.
Dengan bantuan cahaya lentera gantung kecil, sesosok tubuh tengah mondar-mandir penuh kecemasan.
''Hentikan kau membuat pusing!." Ucap sosok lainnya yang berada tak jauh, tengah bersandar pada pohon besar di halaman.
Sosok itu tampak lebih rendah dari sosok yang kini tengah mondar-mandir.
Dan itu bukan tanpa alasan, dengan tubuhnya yang kurang sempurna(bongkok), secara otomatis tubuhnya terlihat memang jauh lebih rendah dari sosok Yaksa.
Akan tetapi, meski dengan kondisi yang demikian, dapat terlihat dengan jelas dari sorot mata, atas keengganan Yaksa untuk berurusan dengan pria tersebut.
Dan sejujurnya pria itu, juga tengah mengkwatirkan sessorang yang kini berada di dalam kediaman.
Namun, mengingat pesan dari dua tabib wanita yang tadi masuk, mereka tidak di izinkan untuk ikut kedalam ruangan, dan hanya bisa menunggu di halaman depan saja.
''Jinting apakah akan terjadi sesuatu kepada wanita Yun?.'' Tanya sosok pertama, yang menyerupai ular tersebut.
''Tutup mulutmu!." Sahut pria bongkok yang di panggil sebagai Jingting.
Mendengar jawaban kasar, sosok yang tak lain adalah Yaksa tersebut, terkesiap sejenak.
Namun, detik berikutnya ia kembali di liputi kecemasan.
__ADS_1
''Dia harus baik-baik saja.'' Lanjut Yaksa untuk diri-sendiri.
''Ia...itu harus. Jika tidak, akan kuhancurkan Zing hingga tak bersisa.'' Sahut Jingting dalam hati.
Baginya rintihan kesakitan Ziaruo saat ini, adalah akibat campur tangan dari Jing.
Lalu siapakah Jinting dengan tubuh tak sempurna tersebut?.
Ia adalah perubahan wujud dari Myrongxu, yang ingin berada di dekat Ziaruo tanpa mengekspos jati dirinya.
Bahkan, dengan bantuan Yaksa ia juga mendirikan kediaman tepat di samping kediaman Ziaruo.
Hal ini bukan tanpa alasan dilakukan olehnya.
*Flash Back on*
Setelah kepergian Ziaruo di hari itu, Jiang jing wei mengurung diri di dalam kamarnya hingga 1hari satu malam.
Dan tepat di hari kedua pada pagi harinya, Jing mendengar seseorang memanggil namanya dengan lembut.
''Jing....Jing...''
Sebuah suara yang sangat ia kenal, memanggil dari dalam dekapannya.
Suara lembut Ziaruo, Yun-nya memanggil dari dalam Cermin air bulan.
Dengan cepat, Jiang jing wei mengangkat, serta membawa cermin itu di depan pandangannya.
Dan ketika wajah Ziaruo terlihat di sana, Jing reflek mendudukan tubuh seraya memanggil nama sang isteri. ''Yuun...''
Melihat wajah cantik itu tersenyum lembut keapadanya, Jing justru kembali berkaca-kaca.
''Kau..Yun kau...'' Hanya itu yang dapat keluar dari bibirnya.
Entah apa yang ingin di ucapkan oleh Jing kepada Ziaruo, yang jelas saat itu pikirannya menjadi kosong, dan hanya diam menatap kearah cermin air bulan dengan air mata yang tak dapat ia bendung.
Jing kembali terisak.
Namun, wajah cantik di balik cermin masih tetap menampilkan senyuman lembut.
''Jing, lihatlah putra kita sudah mulai besar, dan aku semakin malas bergerak.''
Wanita di balik cermin, selain berbicara dengan tenang, ia juga secara khusus memperlihatkan perutnya yang kian berisi.
Ada raut wajah kebahagiaan dari sorot mata disana.
Seolah ia enggan menunjukan, ataupun tak inginkan meresapi kepedihan dari Jing di seberang sana.
Namun, sebesar apapun ia berusaha menutupi kepedulian di hati, Jing masih mampu memahami makna dari setiap perkataan Yun-nya.
Ia wanita itu ingin dirinya berbahagia dengan apapun yang tengah keduanya hadapi.
Ziaruo ingin, Jiang Jing wei tetap mampu bersyukur, di tengah perpisahan mereka sekarang.
Bukankah, ia masih dapat melihat sang istri serta pertumbuhan bayi mereka.
Meskipun, dengan kegetiran hati tanpa mampu merengkuh keduanya.
Jiang jing wei hanya dapat menerima, dan pasrah untuk ketidak berdayaannya sekarang.
''Anda lihat...Dia sudah mulai melakukan gerakan-gerakan lembut, aku sangat bahagia.'' Ziaruo.
__ADS_1
Wanita itu menggerakan tangan perlahan, dan mengusap perut miliknya yang mulai membulat.
''Apakah anda tidak bahagia untuk putra kita Yang mulia?.'' Lanjutnya lagi....