
Mendengar nama sang ayah di sebut, Qianxue kembali mengangkat kepalanya, dan menatap pria itu tajam.
''Bukankah demikian Yang Mulia?.'' Jawabnya tegas.
Wanita Gu seolah kehilangan akal sehatnya. Tanpa rasa takut ia menatap kearah sang suami dengan tatapan miris, serta menyedihkan.
''Bagaimanapun, disini yang bersalah tetaplah wanita ini. Jendral Gu tidaklah pernah ada kesalahan.'' Lanjut Gu qianxue lagi.
Wanita dengan paras cantik itu, kini mulai menegaskan hatinya.
Ia ingin mengatakan apapun yang ia rasakan sekarang.
Baginya diam ataupun melawan, tidaklah memiliki perbedaan sama sekali.
Kaisar Canzuo suaminya telah menentukan, bahwa dirinya bersalah, keluarganya bersalah dan bahkan ia juga akan membawa 7 keturunan keluarganya, dalam jurang gelap sekarang.
''Tapi...mengapa pria dengan kesetiaan, serta loyalitas tinggi seperti dirinya(Jendral Gu), harus berakhir karena wanita seperti saya.'' Ucapnya lagi, dengan suara serta aura penuh kebencian.
Ia membenci dirinya sendiri, membenci ketidak beruntungannya, bahkan ia mulai membenci karena dilahirkan sebagai seorang wanita.
Wanita Gu, mengusap perutnya lembut, namun dengan cepat ia mencengkram, serta beberapa kali memukul keras tepat disana.
Ada sebuah kebencian yang mulai mengakar didalam hati wanita tersebut, dengan kebencian itu, bahkan ia tak ingin melihat buah cinta, dengan darah dari sang suami dirahimnya terlahir kedunia.
Semua yang di sana menjadi terkejut, tak terkecuali Canzuo.
Namun, karena sejak awal Kaisar telah membenci kehadiran bayi itu, ia kembali menampilkan wajah datar dan berkata. ''Apakah kau mengancamku dengannya (bayi).''
Canzuo tersenyum menyeringai. wajahnya seolah menampilkan cemoohan yang besar, untuk selir Gu.
''Asal kau tahu, sejak awal aku tak menginginkan kehadiran bayi itu, jadi kau bebas membunuhnya.''
Ucapan dengan tingkat racun yang tinggi, meluncur datar dari bibir Kaisar Canzuo.
Bahkan, ia mengatakan segalanya seolah itu hal biasa, dan tak memiliki arti sama sekali untuk dirinya.
Mendengar ucapan yang demikian, hati pangeran Bai bergejolak hebat.
Ia adalah pria dengan keinginan besar, atas seorang keturunan. Hampir 10 tahun ia menikah dengan puluhan selir, belum ada satupun dari mereka, yang menunjukan tanda-tanda kehamilan.
Namun pria didepannya juga tak jauh berbeda, meskipun Canzuo telah memiliki beberapa seorang putri, akan tetapi ia belum mempunyai penerus tahtahnya kelak.
Bagaimana mungkin ia mengabaikan putra yang akan terlahir dari selir Gu?, bahkan ia sendirilah yang ingin melenyapkannya.
__ADS_1
''Apa yang telah anda lalui selir Gu?.'' Pikir pria Bai kembali.
Sementara, bagi selir Gu seorang putra yang sangat ia harapkan, kini menjadi duri di dalam tubuhnya.
''Jangan lakukan kebodohan itu Quer...Tidak ada yang akan menyalahkan mu,.'' Ucap seorang pria dengan wajah tegas, dari balik ruangan.
Pria dengan usia yang tak lagi muda tersebut, berjalan memasuki ruangan.
Tampak kecemasan serta kesedihan pada wajah tuanya, yang telah banyak menapaki naik turun, serta pasang surut kehidupan.
''Bangunlah, jangan lagi menunduk kepadanya, bahkan jika kau membasuh kakinya dengan darah di jangtungmu, tak akan ada warna merah pada ujung kuku dikakinya.'' Ucap pria yang tak lain adalah Jendral Gu tua.
''Ayah....''
Gu qianxue mendongak menatap sang ayah dengan air mata, yang tak dapat ia bandung lagi.
''Maafkan aku, semua ini karena putrimu yang tidak berbakti.'' Lanjut wanita itu, ketika Gu tua membantunya berdiri.
Jendral Gu membawa sang putri kedalam pelukannya, ia tak dapat menyembunyikan lagi kesedihan, Yang kini memenuhi seluruh relung hati.
Pria itu, mengusap lembut kepala sang putri, seraya berkata. ''Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, bukankah aku masih hidup.''
Sebuah ucapan, dengan upaya yang tampak jelas, bermaksud memenangkan Gu qianxue.
Akan tetapi, selir Gu tahu dengan pasti, akan situasi yang tengah dihadapi saat ini.
Mendapat persetujuan dari putrinya. Jendral Gu perlahan melepas pelukan, dan berjalan mendekat kearah Canzuo.
''Apa yang kau lakukan, pengawal..!'' Pekik Canzuo dengan cepat dan keras.
Tampak jelas rasa cemas, dan terkejut pada wajah Kaisar Muda itu.
Dengan cepat, ruangan dipenuhi oleh penjaga bayangan.
Bahkan, dari tangan mereka telah siap sebilah pedang terhunus, kearah Jendral Gu.
Menyaksikan hal itu, selir Gu ketakutan. Ia mencemaskan nasib sang ayah.
Akan tetapi, ketika wanita Gu ingin melangkah mendekati sang ayah. Dia tidak lagi dapat menggerakan, ataupun mengontrol tubuhnya.
''Ayahanda...'' Sebutnya dalam tatapan mata dengan bulir bening mengucur deras.
Gu qianxue menyadari, bahwa akan ada kejadian buruk yang akan terjadi kepada sang ayah.
__ADS_1
Atau pria tua yang sangat ia hormati tersebut, akan melakukan sesuatu yang mengancam keselamatannya.
Oleh karena itu, pria tua tersebut menothok sang putri, agar tidak menghalangi segala rencananya.
''Ayah...ayah..jangan lakukan, atau aku akan mengutuk kelahiranku sendiri di keluarga Gu.'' Ucap dalam diam wanita tersebut.
Sementara itu, mendapat perlindungan yang ketat, Kaisar Canzuo berdiri dari duduknya dan berkata. ''Apa kau ingin memberontak jendral Gu?, apa kau ingin tujuh generasi di keluargamu, di kubur hidup-hidup.''
Sebuah ucapan dengan nada mengancam, seolah menampar keras diwajah jendral Gu.
Namun pria itu hanya diam. Ia tidak melakukan tindakan yang tampak mencolok.
Menatap tajam kepada Kaisar muda di depannyalah, yang saat ini ia lakukan.
Ada perasaan berkecamuk didalam dada bidang tua yang mulai terlihat kerutan.
Pria itu menengadah kearah langit-langit ruangan, dan mendesah perlahan.
Pria tua Gu kembali menunduk, dan menatap kedua tangannya yang sedikit terangkat.
''Dengan tangan ini, kami bersama membangun kekaisaran Tang yang Agung, dengan tangan ini juga, aku memperkuat pertahanan kekaisaran, namun dengan tangan ini pula aku membunuh ratusan, bahkan puluhan ribu nyawa Pria hebat, musuh-musuh kekaisaran.'' Ucap jendral Gu, dengan tatapan nanar kearah tangannya.
Ia tak lagi memperdulikan rasa hormatnya kepada pria dengan jubah warna keemasan, yang di panggil sebagai Kaisar Tang.
Jendral Gu juga tak lagi mendengarkan, seruan beberapa penjaga bayangan, yang memiliki simpati kepadanya.
Pria Gu semakin mendekat kearah sang Kaisar. Ia mengeluarkan sebuah lencana berbentuk harimau kuning, menggenggamnya kokoh.
''Jendral mohon berhenti, atau kami tidak akan mengindahkan kedudukan anda.'' Ucap salah satu penjaga bayangan.
''Jika kalian merasa mampu menghalangi pria tua ini, maka lakukanlah!." Jawab jendral Gu, dengan suara tenang, serta tatapan tajam kepada pria di balik para penjaga bayangan di depannya.
Pria itu semakin cepat, ia melesat kearah penjaga bayangan, yang membentuk barisan perlindungan di depan Canzuo.
''Crash...crash...clang...''
Sabetan pedang berbenturan, serta memotong sesuatu yang tercapai mata tajamnya.
Dalan hitungan beberapa saat saja, 5 orang tertelungkup di dalam ruangan tersebut.
Dan salah satunya adalah tubuh pangeran Bai.
Jendral Gu sengaja melukai pria tersebut, baginya pria Bai tak ubahnya seekor binatang, dengan mulut serta taring pengoyak bangkai (tidak memiliki keagungan dan tidak pantas untuk dihormati).
__ADS_1
Oleh karena itu, ia menjadikan pria Bai sebagai salah satu, dari sekian orang yang ingin ia lenyapkan.
''Aaaakkkhhh....'' Pekik keras Bai Tangyi, sembari memegang lengan kanannya, yang hampir putus.