
Beberapa saat kemudian, dan masih di ruangan yang sama.
Ruangan tampak hening, seorang pria dengan raut wajah yang menampilkan sebuah kemarahan serta sorot mata tajamnya, tengah duduk pada salah satu kursi didalam ruangan itu, dengan sebuah meja di depannya, telah terhidang beberapa menu makanan yang disiapkan oleh juru masak balai pengobatan.
Sementara itu, tak jauh dari sang pria, berdiri seorang wanita cantik dengan wajah menunduk serta tampak ketakutan.
Wanita itu adalah Selir Feng, primadona kecantikan no 1di kekaisaran Jing, pemilik aura wajah yang memikat, serta elegan dengan rona wajah pinkynya tersebut, kini terlihat pucat seolah tak memiliki darah yang mengalir didalam tubuhnya.
Rasa takutnya kali ini, benar benar telah mengisi hati dan seolah menghentikan laju darah mengalir keseluruh bagian tubuh, benar saja , Ini kali pertamanya ia melihat kaisar itu, bertindak kasar secara langsung kepadanya.
Bahkan Kaisar Jing tersebut seolah hendak menusuk jantungnya dengan tatapan dingin serta tajam.
Kaisar Jing hanya memainkan cangkir tehnya beberapa kali, diputarnya cangkir tersebut pelan pelan, hinga tercipta sebuah ritme nada benturan lirih bagian bawah cangkir dan meja.
''Klethuk..klethuk..thuk..thuk''.suara benturan terdengar berulang ulang.
Bagi wanita itu, waktu berjalan sangat lambat, seolah ia disana telah bertahun tahun lamanya.
Hingga akhirnya, seorang wanita keluar dari balik tirai pembatas ruangan, yang terbuat dari anyaman rotan, dengan hiasan simpel dan tampilan apa adanya, berjalan menuju kearah mereka.
Melihat hal itu, sang pria yang tak lain adalah Kaisar Jing tersebut berdiri dari duduknya.
''Kau sudah selesai?, ayo kita sarapan dulu, aku tidak tahu apa yang kau sukai, jadi kuperintahkan mereka menyiapkan makanan yang menurutku lezat.'' ucap kaisar Jing dengan lembut, sembari menuntun wanita yang tak lain adalah nyonya Yun atau Ziaruo, menuju meja yang penuh dengan hidangan.
Sementara itu, bagi Ziaruo perlakuan tersebut terasa canggung, dan ia merasa kurang nyaman, terlebih lagi disana ada orang lain berdiri tak jauh dan mencuri curi pandang kearah mereka.
'' Yang Mulia, mohon izinkanlah selir Feng sarapan bersama kita, hamba merasa sebagai pihak yang mengambil tempat orang lain.'' ucap Ziaruo dengan suara lembut, namun jelas terlihat bahwa, ada ketidak nyamanan didalam setiap penggalan kalimatnya.
Jiang jingwei sangat tahu itu, ia mengenal dengan benar intonasi, dari suara wanita yang telah lebih dari 9 tahun mengisi hatinya.
Ia menghela nafas perlahan, dan menoleh kearah wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk sekarang.
''Apa kau lapar?.'' tanyanya dengan nada datar, dengan menatap sekilas kearah selir Feng.
''Ti..tidak yang mulia, ham..ba tidak lapar, silahkan anda menikmati makanan anda.'' jawab wanita itu, dengan reflek terduduk serta suara yang terbata bata.
''Kau dengarkan, dia sendiri yang bilang, jangan suka memaksakan keinginanmu kepada orang lain, ayo cepat makan.'' ucap kaisar Jing dengan nada acuh.
Acuh terhadap selir Feng dan kembali lembut dan penuh perhatian untuk Ziaruo.
__ADS_1
Mendengar hal itu, nyonya Yun hanya bisa tersenyum masam, ia tidak dapat berbuat apapun saat ini.
Ia juga mendengar dengan jelas, ucapan kasar, serta kutukan yang terucap dari pikiran wanita disana untuk dirinya, kebencian disela sela ketakutannya saat ini.
''Kapan kau akan masuk istana?.'' tanya kaisar itu dengan singkat, padat, dan jelas ditengah tengah acara makan mereka.
Mendengar hal itu, Ziaruo menghentikan makannya, ia menatap kearah pria didepannya dengan expresi tak dapat di terka oleh orang lain.
''Haruskah aku masuk keistana?.'' tanya Nyonya Yun, dengan suara pelan serta tatapan yang tenang kearah Kaisar Jing.
Ziaruo tersenyum, saat melihat pria tersebut membulatkan matanya, seakan wanita itu, telah menduga sejak awal reaksi dari kaisar Jing, ketika mendengar ucapannya.
''Apa?, apa maksudmu?, tentu saja kau harus masuk kedalam istana, kau tahukan apa yang kita lakukan semalam?.'' ucap kaisar Jing dengan nada agak keras.
Ia ingin mengatakan, bahwa tidak ada pilihan lain bagi wanita itu, selain masuk kedalam istana dan menjadi permaisurinya.
''Anda membuat selera makan saya menghilang Yang mulia.'' jawab nyonya Yun lirih, ia membersihkan tangannya dan berdiri.
''Apa kau tahu, hal hal buruk dimasyarakat kita, untuk seorang wanita yang diabaikan setelah berhubungan dengan seorang pria?.'' ucap kaisar Jing kembali dengan suara yang agak tinggi.
Ia berusaha meyakinkan wanita tersebut, bahwa tidak akan ada hal baik baginya, ketika semua orang tahu bahwa, ia bukan lagi seseorang dengan martabat yang masih terjaga.
''Anda salah yang mulia, bukankah saya memang adalah wanita anda sejak lama,
(didalam pandangan masyarakat) jikapun, mereka mendengar terjadi sesuatu diantara kita, mereka akan diam saja.'' ucap Ziaruo masih dengan ketenangan yang ia miliki.
''Dan anda lihat ini, bagi klan kami tanda ini adalah pembuktian bahwa saya masih bersih dan murni, terimakasih Kaisar Jing, anda masih menghormati saya.'' ucap lagi Ziaruo, sambil mendekat kearah pria tersebut, serta menunjukan tanda merah pada pergelangan tangan kirinya.
Sebuah bulatan merah kecil, diantara helaian bulu diatas kepala rajah phonix emas, dipergelangan tangan wanita itu.
Mendengar hal itu, kaisar Jing kembali mendudukan tubuh gagahnya diatas kursi.
''Maafkan saya....dan saya harus segera melihat keadaan Yunsang Yang mulia.'' ucap Ziaruo kembali, sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut.
''Apakah sedikitpun, kau tak memikirkan perhatian dan kasih sayangku Yun?.'' tanya kaisar pelan, dengan nada yang tampak kecewa, ia duduk lesu dan menunduk.
Namun, wanita itu hanya berhenti sejenak didepan pintu ruangan dan kembali melangkah keluar dari ruangan tersebut tanpa sepatah katapun.
Beberapa saat setelah kepergian Nyonya Yun dari ruangan, samar terdengar benda benda jatuh.
__ADS_1
Ziaruo hanya mampu menghela nafas pelan dan kembali melangkah kearah ruangan sang putra.
''Mengapa perasaan anda begitu mendominasi yang mulia?.'' ucap Ziaruo dalam hatinya, disela sela langkah kakinya.
''Kau wanita kejam dan tidak berperasaan, aku tidak akan memperdulikanmu lagi.'' pekik keras pria tersebut dari dalam ruangan.
Namun, hanya wanita itu saja, yang dapat mendengar setiap ucapannya saat ini, wanita yang masih setia berdiri disana meskipun diabaikan keberadaannya.
''Apa kau akan memaafkanku, jika aku benar benar menyentuhmu semalam?, aku tahu kau pasti akan membenciku, bukankah begitu Ziaruo?.'' ucapnya lagi dengan penuh kekesalan dan kecewa.
''Bagaimana aku akan membenci dan mengabaikanmu, bahkan membayangkan kau bersedih dan membenciku, sudah membuatku hampir gila.'' gumamnya dalam hati dengan kekecewaan yang ia rasakan.
Ruangan kembali hening, bahkan para pelayananpun tak berani memasuki ruangan tersebut, meskipun untuk sekedar membersihkan pecahan pecahan perabot yang hancur, mereka hanya berdiri diluar pintu, menunggu perintah berikutnya.
Dua hari berlalu di kediaman keluarga Yun.
''Apakah keputusanmu itu, benar benar akan kau lakukan, aku memang ingin kau bersamanya, tapi keputusan dan keinginamu jauh lebih penting bagiku.'' ucap Yongyu dengan wajah seriusnya.
''Aku sudah memutuskannya kak, dia menghormatiku dan tidak berlaku buruk terhadap diriku, bukankah itu yang terpenting?, untuk hati dan perasaanku sepertinya semuanya telah berlalu.''jawab Ziaruo dengan tatapan menerawang kearah luar kediaman.
''Apakah ini karena takdir yang kau katakan Ruor?.'' tanya pria itu kembali.
''Kau benar kak, Guru mengatakan harus menjalani apa yang harus aku jalani, tanpa mengingat hal yang telah berlalu.'' jawab gadis itu lagi, dengan helaan nafas panjang dan dalam.
''Apakah maksud Guru bahwa kami tidak akan kembali lagi, apakah Ribuan tahun kami, harus terbuang sia sia untuk beberapa hari saja didunia ini, kepercayaan dan kekukuhan hati diantara orang lain, apa maksud dari itu sumuanya?.'' pikir Ziaruo dalam diamnya.
''Apakah kau juga harus menemuinya, dia sudah menghianatimu, untuk apa lagi kau meminta izinnya?,'' tanya Yongyu kembali dengan nada pelan sebelum menyeruput teh hangat di depannya.
''Aku hanya ingin memberitahunya saja, bukan meminta Izin, akan lebih menyakitkan baginya jika ia mengetahui hal ini dari orang lain.'' jawab Ziaruo pelan, dengan tatapan lembut kearah sang kakak.
Ziaruo tahu bahwa pria tersebut, sering kebingungan menghadapi, serta mengartikan setiap ucapan ucapnnya.
Namum, ia tahu pasti bahwa apapun itu, Yongyu akan selalu mempercayainya serta mendukung keputusannya.
''Heeehhhhh...lakukan saja apapun yang kau inginkan, jikapun ada yang harus dibereskan katakan saja kepadaku.'' ucap Yongyu dengan helaan nafas beberapa kali dari bibirnya.
''Karena bagiku apapun itu, kau harus memperoleh yang terbaik, meskipun bukan aku yang memberikannya untukmu. Setidaknya, akan kupastikan hal tersebut, berjalan sesuai dengan apa yang kau inginkan.'' ucap dalam hati Yongyu.
''Lalu kapan kau akan menemuinya?, sekarang ia berada di penginapan kita.''ucap Yongyu kembali, mengacu pada keberadaan kaisar Murongxu, yang memang sudah beberapa hari ini, menginap dipenginapan milik keluarga Yun, di ibukota kekaisaran Jing bersama sang kasim.
__ADS_1
''Mungkin nanti, setelah aku membersihkan diri.'' jawab wanita itu kembali, sebelum mengikuti gerakan sang kakak menyeruput tehnya.