
''Mengapa setelah aku menghabiskan begitu banyak minuman, pikiran dan hatiku masih saja sadar, banyak yang ingin kulupakan dan banyak yang ingin kuhilangkan.''
''Hari ini aku disini sendiri, bersama arak arak dan keindahan yang menggoda mata.
Tapi mengapa, pikiranku tetap padanya, hatiku selalu meneriakan namanya''.
''Kau...ya..kau...kemarilah, aku akan memberikanmu semuanya, memberikan apapun yang kau inginkan.'' pekik pria tersebut, kepada pejalan kaki yang lewat, dengan tangan yang menunjuk tak fokus.
''Bisakah kau kemari?....bisakah kau hanya disini menemaniku?, mengapa kau harus menikah dengannya?, mengapa?.''
ucapan serta teriakan teriakan, seorang pria di tepi jalan, kondisinya tampak memprihatinkan, pakainnya lusuh, rambut acak acakan, serta bau tidak sedap menyeruak dari tubuh pemuda itu.
Hampir setiap orang, yang melihat merasa iba, namun ada juga yang jijik kepadanya.
Tak jauh dari tempatnya bersandar, sepasang suami istri tua, duduk dengan raut wajah penuh kesedihan.
''Mengapa ia masih menungguinya?, biarkan saja ia mati, untuk apa anak tidak berguna seperti itu masih diurusi.'' ucap salah satu pejalan kaki( pjk1), yang hendak melewati jembatan.
''Jangan seperti itu, dia dulunya adalah pria yang berprestasi dan pekerja keras, namun karena calon istrinya menikah dengan orang lain, ia menjadi seperti itu.'' jawab pejalan kaki yang lainnya (pjk2)
''Tetapi lihatlah, kedua orang tuanya mereka sungguh kasihan, selalu ketakutan jika putranya akan melakukan b*nuh d*ri lagi, seperti yang sudah sudah.'' ucap pjk1 kembali.
''Sudahlah, ayo kita pergi jangan mengurusi sesuatu yang bukan masalah kita.'' ajak Pjk2 kepada orang yang disebelahnya, tanpa mereka sadari, sepasang mata terus mengikuti pembicaraannya mereka sedari tadi.
''Ruoer...jangan khawatir, aku tidak akan seperti dia, aku akan menjaga diriku dengan baik, makan teratur dan hidup bahagia, tak akan kubuat kau cemas, dan takut atas tindakan bodohku'' ucap pemilik sepasang mata itu, sembari memasukan roti kedalam mulutnya dengan paksa, ada bulir bening pada ujung mata pria tersebut.
''Lihatlah, bahkan aku sudah menghabiskan 3 roti isi dalam sekali makan, jadi tenanglah aku akan bahagia, meskipun kau membuangku.'' lanjut pria itu kembali, dengan lelehan air mata yang semakin deras, serta tangan yang terus menyuapkan potongan roti isi kedalam mulutnya.
''Menikahlah...sekali ini, atau kau juga boleh menikah sebanyak yang aku lakukan...menikahlah...ia menikahlah.'' ucapnya kembali, pria itu menghentikan memakan rotinya, bahkan ia memuntahkan makanan yang telah memenuhi mulutnya.
Pria yang tak lain, adalah Murongxu tersebut diam tak mengucapkan apapun.
Ia tetap menunduk serta membisu, tak ada kejanggalan, ataupun keadaan yang sepecial dari tindakannya.
Namun, bagi seorang pria tua, yang tak jauh dari keberadaannya, dengan jelas melihat getaran pelan pada pundak Murongxu.
Sebuah pengalih atau penekan suara tangisan yang ia tahan, hingga hanya bulir bening saja, yang tampak bergulur membasahi pipinya.
Ada rasa sakit didalam hati laki laki tua itu, saat mengawasi Murongxu.
__ADS_1
Dalam pikirannya, selalu membenarkan sang majikan, dan mulai menyalahkan tindakan Ziaruo.
Bahkan ia selalu berfikir, majikannya tak pernah ada kesalahan sama sekali, hanya ada orang lain yang patut dipersalahkan, dan yang pantas dihukum, atas kesedihan serta penderitaan Murong majikannya.
''Nyonya Yun, seberapa besar lagi anda akan menyakiti majikan saya?, apakah anda akan bahagia jika dia seperti sekarang?, dan apakah anda berfikir bahwa pria tua ini, akan berdiam diri saja?.'' ucap lirih pria tua itu, dengan ujung mata yang tampak berkaca kaca.
Kasim Di, berjalan meninggalkan Murong dengan kesedihan yang dialaminya, bagi kasim itu, selama ia telah mengetahui keberadaan sang majikan, itu sudah cukup baginya saat ini.
Karena ada hal lainnya yang harus ia lakukan, sesuatu yang jauh lebih penting.
Pria tua yang pernah menjandi petarung terhebat dimasanya tersebut, melesat pergi meninggalkan tempat pengintaiannya sejak tadi, menuju sebuah rumah makan di tengah keramaian kota.
Dan....disana, telah menunggu seorang pria muda tampan, dengan 3 orang penjaga di belakangnya.
''Anda sudah datang kasim Di, silahkan duduk.'' sambut pemuda tersebut, dengan keramahan pada ucapannya, namun terlihat jelas tanpa ekspresi, pada wajah tampan itu.
''Ikan sudah mulai memakan umpanya.'' pikir pemuda tampan dalam hatinya.
''Aku hanya akan melakukan yang ingin kulakukan(hanya ingin menggagalkan pernikahan Ziaruo dan Jiang jingwei), hal lainnya saya tidak perduli.'' ucap Kasim Di, tanpa ada basa basi.
Dan memperoleh sebuah senyuman sarat makna dari pria didepannya.
''Kau memang seperti yang kubayangkan.Tenang saja, lakukan urusan anda, dan sisanya biar saya yang akan membereskannya.'' jawab pria yang tak lain adalah kaisar Xili yang baru Murongyu.
Banyak alasan, ia melakukan perebutan tahta dari sang kakak, akan tetapi diantara alasan alasan tersebut. Terdapat satu hal, yang membuatnya semakin memantapkan keputusan memberontaknya, yaitu Murongyu ingin memantaskan diri bersanding dengan wanita pemilik takdir phonix.
Dengan kata lain, yang bersanding dengan permaisuri adalah seorang Kaisar, dan dia harus menjadikan dirinya seorang penguasa untuk bisa bersama Ziaruo. *
''Segalanya kulakukan untukmu, jadi jangan salahkan aku, jika harus bertindak nekat. Aku sudah sejauh ini. Ziaruo kau adalah milikku ...di kehidupan ini, hanya aku yang akan menikah denganmu.'' pikir Murongyu dalam hati.
Sementara itu di kediaman Ziaruo.
Seorang pria, dengan pakaian indah, berjalan mendekati seorang wanita yang tengah duduk didepan cermin.
''Tanpa berhiaspun kau akan menjadin wanita yang paling cantik di dunia ini'' ucapnya lembut, sambil menyentuh helaian ujung rambut Ziaruo.
'' Apakah kau bahagia hari ini Ruoer?.'' lanjutnya kembali, dengan gerakan tangan yang seakan akan, merapikan ujung rambut sang adik.
Nyonya Yun, atau Ziaruo tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Yongyu.
__ADS_1
''Kak...apakah kau begitu menyayangiku?, hingga kau berat melepaskan diriku?.'' tanya Ziaruo lirih, sembari membetulkan tiara, hiasan pernikahan dikepalanya.
Tak ada makna apapun dari pertanyaan itu, hanya sekedar ucapan sepontan, melihat tindakan sang kakak, yang tampak berbeda dari biasanya.
Namun, bagi Yongyu ucapan itu, membuatnya terhenyak sesaat, ia merasa seolah telah tertangkap, dan diketahui rahasianya selama ini.
Akan tetapi, segera ia kembali menenangkan hatinya, serta memahami maksud dari ucapan Ziaruo.
''Tentu saja, aku sebenarnya tidak rela melepaskanmu, semua pria didunia ini tidak ada yang pantas memilikimu.'' ucap Yongyu dengan wajah kesalnya, dan kembali menggulung rambut Ziaruo, seolah itu adalah mainan baginya.
Mendengar hal itu, Ziaruo menghentikan kegiatannya, ia berbalik menghadap pria yang telah ia anggap sebagai saudara tersebut.
Diraihnya tangan Yongyu yang sibuk memainkan rambutnya.
Dengan lembut dan tenang Ziaruo berkata.
''Aku masih adikmu kak, meskipun aku menikah ataupun tidak, dihatiku...akan selalu ada tempat untukmu, mungkin suami akan dapat berpisah dari istrinya, akan tetapi jalinan persaudaraan kita akan selalu ada.''
Yongyu terharu mendengar ucapan Ziaruo, ia meraih kepala sang adik, dan menekan kedada bidangnya, dengan posisi berdirinya dan Ziaruo yang tengah duduk pada sebuah kursi, tampak sebuah gambaran kasih sayang sepasang saudara yang saling berpelukan.
Ziaruo memeluk pingggang sang kakak, yang berdiri didepan wanita itu, dan Yongyu membelai kepala adik tercinta, yang menempel pada dada bidang kekar miliknya.
''Aku akan selalu menjaga dan melindungimu, dan akan kupastikan kau bahagia, gadis tercintaku'' pikir Yongyu dalam hatinya.
Tentu saja, Ziaruo mengetahui hal tersebut, dan wanita itu semakin mengeratkan pegangan tangannya pada pinggang Yongyu.
''Aku menyayangimu kak, dan aku tahu bahwa kaulah pria terbaik yang menyayangiku dengan tulus, aku akan selalu berharap dan berdoa kau juga akan bahagia.'' ucap Ziaruo pelan.
Yongyu mendengar semuanya, namun ia segera menenangkan hati dan mengontrol pikirannya.
Pria itu tak ingin, wanita yang kini memeluk dirinya tersebut, mengetahui apa yang ada didalam hatinya.
''Satu kalimat, sebaris ucapan, dengan dua pemahaman dan berbeda pengertian.
Itulah yang ia ketahui dan fahami saat ini, dan ada rasa syukur dalam hati kecilnya, saat kesalah pahaman ini, berhasil ia ciptakan serta pertahankan hingga sekarang.
''Baiklah...segera selesaikan dan turunlah, tandu pengantin sudah menungu diluar.'' ucap Yongyu sembari melepaskan pelukan sang adik, dan hanya dijawab anggukan kecil, serta kata ''Emm'' singkat, oleh wanita itu.
''Dewa haruskah aku bahagia?,.... ataukah aku harus meratap terluka?.
__ADS_1
Akulah pemeran yang kalah, didalam permainan yang kuciptakan sendiri, dan aku juga yang tersiksa dalam kisahku.
Bukankah, ini lucu dewa?, sesungguhnya akulah sebenar benar pecundang disini.'' gumaman dalam hati Yongyu, disela langkah kakinya, menjauh dari pintu kamar Ziaruo yang tertutup.