
''Mengapa dia(Murongxu, Kaisar Awan) tidak memberitahuku?, atau sengaja menggunakan dirinya untuk mengulur waktu?.''
Kurang lebih, itulah yang kini ia pikirkan.
Melihat kejadian di depannya dalam hati ia terkejut, takut serta mengutuk Jing secara bersamaan.
''Apakah kau pikir saya akan membiarkan anda bertindak sembarangan.'' Jing.
Kaisar Jiang jing wei, seolah menjadi orang yang berbeda.
Tatapan matanya semakin tajam, serta suara yang penuh penekan mengalir datar dari bibir.
Bukan hanya itu saja, tubuhnya seolah memancarkan aura mengerikan yang bahkan jauh lebih besar dari Jing kecil di masa lalu.
Jendral Feng, yang menjadi saksi kekejamannya dimasa itu, kembali bergidik ketika melihat sosok putranya sekarang.
Ia tak dapat mengatakan apapun, hanya berdiri terpaku serta menyebut sebuah nama pelan, dengan penuh kecemasan. ''Jing.''
Sementara, kaisar Jiang jing wei justru tersenyum menyeringai kearah Jelmaan di hadapannya.
''Aku hanya penasaran, apakah senjata ini juga tak dapat menyentuh tubuhmu?.''
Jiang jing wei mengatakan sejujurnya apa yang tengah ia pikirkan.
Dengan kekuatan, serta kemampuan hebat sebagai dewa perang dimasa lalu memanglah tak dapat dianggap remeh.
Bahkan, dikekaisaran Zing mungkin belum di temukan seseorang yang dapat mengimbangi kekuatannya.
Akan tetapi, kejeniusan yang ia miliki, Jing mampu menafsirkan semua kekuatan itu tak akan berguna.
Jika musuh yang dihadapi tak dapat di sentuh, ataupun terluka oleh serangan. Dan senjata
sehebat apapun, segalanya adalah sia-sia.
''Ternyata diam sejak awal, bukan untuk berlindung dibalik tubuh mereka, baguuss...'' Ucap jelmaan dengan senyum menyeringai.
Dalam seringaian itu, ia merasa telah tertipu oleh keculasan dari Jing.
Dan hal tersebut semakin membuatnya geram, serta ingin segera mencabik-cabik tubuh Jing, meremas, serta memakan Jantung darah bangsawan miliknya.
''Meskipun senjata itu ditanganmu, apakah tubuh manusia kotor pantas untuk itu?, hahaha...baguuus...aku akan memiliknya setelah membunuhmu.'' Lanjutnya, sebelum melesat cepat kearah Jing.
Mendengar perkataan yang penuh ancaman, wajah datar Jing masih tetap terpasang. Bahkan, semakin dingin dan menyeramkan.
Seakan dewa kematian itu sendiri, yang datang hendak menjemput sang jelmaan.
Kilatan tatapan tajam semakin lekat kearah sosok di depannya.
Dan dengan beberapa dentuman keras, pertempuran mulai terjadi.
Beberapa orang yang berada pada jarak dekat, sedikit mundur.
Bahkan Rayyan yang sempat mengayunkan cambuk, untuk menyerang jelmaan, masih terpaku ditempat.
''Pantas saja, anda dapat bersanding dengannya, mungkin ini adalah takdir kalian yang belum terselesaikan.''
Rayyan menghela nafas dalam, dan mendongak keatas langit sejenak.
''Sungguh pembuat kisah yang tiada duanya, aku membenci kalian.'' Sambungnya lagi.
Sementara itu, di istana kekaisaran Zing.
__ADS_1
Melihat ketulusan hati permaisuri Yun untuk melindungi diri mereka, membuat keduanya terharu.
Hanrui dan Xiobai, keduanya segera berusaha bangkit, serta mengabaikan rasa sakit di tubuh mereka.
''Yang mulia, lepaskan pelindung ini, kami masih mampu untuk menghabisinya.'' Hanrui.
''Kami hanya tidak mengira bahwa pria Pan, akan menyerang tadi, mohon tarik kembali pelindung ini Yang mulia, kami baik-baik saja.'' Tambah Xiobai.
''Hahahaha...hahaha...hahaha.''
Mendengar perkataan kedua wanita di sana, Pan tertawa dengan keras.
Baginya kedua penjaga wanita tersebut, sungguh tidak dapat mengukur tingginya langit.
''Bagus...'' Ucapnya, dengan seringaian tipis di ujung bibir Pan.
Dengan cepat pria Pan menyerang kembali kearah keduanya, begitu ia selesai mengatakan apa yang ia pikirkan.
Meski keduanya masih di dalam pelindung, nyatanya pria Pan masih dapat menyentuh kedua apricot cantik disana.
Memperoleh serangan yang tidak dapat dianggap remeh, tubuh Hanrui dan Xiobai melesat menghindar dengan cepat.
''Bang..bang ..bang.''
Beberapa serangan di lucutkan oleh pria Pan, namun setiap kali usahanya hampir menyentuh tubuh sasaran, Ziaruo dengan cepat memberikan pertolongan.
Pria Pan merasa geram.
Akan tetapi, perintah yang ia terima, tidak memberikan izin untuk melakukan kekerasan, ataupun melukai Ziaruo.
Pria Pan semakin geram.
''Bang..bang..bang.'' Lagi-lagi pukulan di berikan, dan lagi-lagi Ziaruo melakukan hal yang sama.
Melihat kondisi yang demikian, wanita permaisuri masih dapat tersenyum kearah pria Pan.
Dalam hati ia merasa bahwa pria Pan disana, hanya sebagai pengalih perhatian saja, dan orang yang mengirim pria tersebut tidak benar-benar ingin melukainya
Mengingat, serta memahami akan hal itu, dalam sekejap saja hati Ziaruo di liputi kecemasan.
Terlebih lagi, ketika ia mengingat ucapan wanita Feng, bahwa pria Pan di perintahkan oleh seseorang untuk datang kesana sebagai pelindung.
Pikiran cemas Ziaruo semakin kuat.
''Jing...'' Panggilnya lirih.
''Yang mulia..'' Panggil Xiobai dengan gundah, ketika melihat permaisuri Yun, menyebut nama kaisar mereka.
Xiobai merasa bahwa permaisuri tengah memikirkan sesuatu. Dan itu sangat jelas bukan sebuah hal baik.
Xiobai masih menatap permaisuri Yun.
Bahkan dengan kemampuan sendiri, dan di tambah dengan Hanrui di sampingnya, ia masih belum bisa menjaga wanita itu.
Akan tetapi, ia bukanlah Ziaruo yang mampu mengerti pikiran orang lain, Xiobai tidak benar-benar mampu menebak pikiran tersebut.
Hanrui dan Xiobai, semakin merasa getir dan tak berdaya.
Bahkan, ia juga merasa menjadi beban bagi tuannya tersebut, dan di berikan perlindungan.
''Bodoh ..bodoh...'' Ucapnya dengan sesekali menyatukan kedua jari tangannya.
__ADS_1
Baik itu Xioba ataupun Hanrui, tak pernah berharap bahwa mereka akan memperoleh perlindungan dari Ziaruo.
Bahkan jika diri mereka harus kehilangan nyawa, demi menjaga sang permaisuri.
Meski Ziaruo memahami atas pikiran keduanya, namun ia mengetahui bahwa pria Pan bukanlah lawan bagi mereka.
Sosok itu tidak mungkin dapat dengan mudah di kalahkan oleh Hanrui, Xiobai ataupun dengan gabungan keduanya.
Di samping itu, dengan kecemasan serta pemikiran Ziaruo saat ini, ia ingin segera meninggalkan istana, untuk segera datang kepada sang suami.
Karena jika firasat hatinya benar, maka Jing sekarang sedang dalam masalah.
Wajah Ziaruo berubah menjadi tegas, tak ada jejak kecemasan, ataupun rasa takut di balik sorot mata itu.
Dengan tegas ia melangkah mundur, mengambil jarak dari Hanrui dan Xiobai.
Tangannya perlahan bergerak menengadah kedepan, dengan posisi setinggi dada.
''Aku rasa kau salah memilih sasaran.''
Tangan itu, dengan cepat di gerakkan pada kehampaan udara di depannya.
Dalam hitungkan kerlingan mata, di sana telah muncul tampilkan kecil sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Sebuah bentuk benda yang hadir entah dari mana, kini bertengger di atas telapak tangan Ziaruo.
Belum juga mereka sempat tersadar dari ketertegun.
Dari benda yang lebih menyerupai guci emas ditangan Ziaruo, dengan sendirinya membuka tutup.
Menyaksikan hal tersebut, pria Pan membulatkan mata.
Ia tidak menyangka bahwa wanita di sana, akan dapat dengan mudah mengeluarkan sesuatu yang sangat ia takuti.
''Ka..kau..''
Sebelum Pria pan menyelesaikan ucapan, sebuah kabut tebal menyelimuti tubuhnya.
Membuat tubuh pria Pan, kian mengecil dan mulai tertarik kedalam.
Namun, dengan kemampuan pria Pan yang tidak biasa, tidak dengan mudah ia langsung dapat ditarik kedalam.
Sehingga, wanita permaisuri Zing harus menambahkan sedikit tekanan, untuk memperkuat kabut dari guci emas.
''Aaahhkkk ...'' Pekik pria Pan sebelum akhirnya, tubuh itu menghilang masuk kedalam guci emas.
Menyaksikan kejadian di depannya, baik itu Fengjiu, Hanrui, Xiobai dan kelima penjaga di dekat Fengjiu menatap horror kearah Ziaruo.
''Bagaimana itu mungkin?, Ba..bagaiamana...?.'' Ucapan Fengjiu terbata-bata.
Sudah sangat jelas ada ketakutan, dibalik penggalan kalimat pendek yang ia ucapkan.
Akan tetapi, ia bukanlah sosok penting di sana.
Ziaruo mengabaikan ketakutan Fengjiu dan menatap kearah Hanrui serta Xiobai, ''Bisakah kalian membereskan mereka?.''
Dan tentu saja, kedua orang disana, Hanrui dan Xiobai memahami, bahwa itu untuk mereka.
Dengan jawaban tegas, serta keyakinan, segera menyanggupi dengan cepat.
''Hamba Yang mulia.''
__ADS_1
''Bagus....'' Ucap Ziaruo lagi, sebelum melesat keluar dengan cepat.
Melihat tubuh Ziaruo menghilang tanpa jejak di depannya, Fengjiu semakin gemetar, dan dengan histeris berteriak. ''Aaakkkhh...Jelmaan.''