Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 90 Kebencian Janda permaisuri 1.


__ADS_3

Waktu berlalu musim berganti,


menapak hari dengan tangan terbelenggu.


Berjalan nafsi bergelayut mimpi,


atas harapan yang semakin meragu.


Bilakah masa beradu dengan waktu?,


akan liku liku kisah yang tak tertulis.


Merambat bersama menggapai hari,


untuk sepenggal kasih yang kian terkikis.


Seorang wanita tengah duduk di sebuah Gazebo di tengah taman, dengan dua pelayan berada tak jauh darinya.


Wanita yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, tengah menikmati keindahan taman didekat danau buatan, yang terletak disamping Pavilliun miliknya, serta sejajar dengan tempat tinggal para selir kekaisaran di istana dalam.


Wajahnya yang tak lagi tertutup cadar, banyak menarik perhatian para prajurit yang kebetulan berjaga hari itu, di sepanjang jalanan menuju taman.


Bagi Ziaruo, Ini adalah kali keduanya ia pergi ketaman istana.


Akan tetapi, baru kali ini ia tak mengenakan cadar penutup wajah.


Dengan mencuri curi lihat, hampir semua pelayan serta para prajurit yang penasaran dengan kecantikan sang Permaisuri, merasa takjub bahkan ada yang tercengeng serta membulatkan matanya, ketika melihat wanita yang telah resmi menjadi Permaisuri di Zing itu.


Bagi mereka, ini adalah kali pertama melihat kecantikan yang sedemikian memukau mata, serta mengambil perhatian semua orang disana.


Seolah Permaisuri adalah seorang dewi, yang sengaja di turunkan untuk bersama Kaisar mereka dari istana langit.


"Ia dia adalah dewi...untuk memberkati kekaisaran kita." Bisik penjaga 1, kepada penjaga didekatnya.


Mendengar ucapan penjaga disampingnya, penjaga yang lainnya menjawab dengan suara yang juga lirih, serta agak gemetar." Turunkan pandangamu, jika kau masih sayang dengan matamu."


Ziaruo semakin mempercepat langkah kaki, ketika ia mendengar percakapan kedua penjaga tersebut.


Karena ia tahu, sejak kedatangannya ketaman beberapa waktu yang lalu, Kaisar telah membuat larangan, untuk tidak menatap sang Permaisuri, terlebih lagi tepat kearah wajahnya.


Bahkan bagi selir, atau anggota kekaisaran yang lain, tidak di izinkan memasuki taman, di waktu yang bersamaan.


Atau akan ada hukuman tegas bagi semua orang yang melanggarnya.


Ziaruo hanya menghela nafas, saat mengetahui larangan tersebut untuk pertama kalinya.


Namun, sekarang ia hanya tersenyum saat mengetahui ada yang membicarakan hal itu, karena ia telah terbiasa, dengan peraturan aneh serta keputusan tidak logis sang suami demi keamanan serta kenyamanannya.


Yang tentu saja, itu adalah versi sang kaisarJing, tanpa pertimbangan ataupun pendapat dari Ziaruo sendiri.


Sesungguhnya ia merasa tidak nyaman (bersalah) atas peraturan tersebut, terhadap anggota keluarga kerajaan yang lain.

__ADS_1


Akan tetapi, jika hal itu tidak dituruti, maka ia tak akan diizinkan untuk keluar dari pavilliun Phonix miliknya.


Bukan hanya itu saja, ia juga menyadari didekatnya, ada beberapa orang dengan kemampuan tinggi, yang sengaja ditempatkan untuk melindungi dirinya.


Dan masih banyak kekonyolan yang dilakukan oleh sang Suami didalam pikiran Ziaruo. Sunguh Pria tersebut, tidak benar benar mengenal siapa sosok Permaisuri yang dinikahinya dengan baik.


Seorang wanita, yang bahkan hanya dengan beberapa gerakan tangan bisa meluluh lantakan istana tempat tinggalnya.


Akan tetapi, entah mengapa jauj di lubuk hati, Ziaruo merasakan sebuah kehangatan dari Kaisar Jing terhadap dirinya, atas setiap tindakan yang dianggap berlebihan.


Sebuah perasaan diperdulikan dan dianggap penting serta paling berharga, ditengah kecanggungan serta tidak nyaman terhadap selir selir Jing yang lain.


Sementara itu, Janda permaisuri Lexue yang mendengar hal tersebut, menjadi kurang suka, Perasaan penasarannya berubah menjadi ketertarikan dengan niatan tidak baik.


Wanita yang pernah menjadi pemegang kekuasaan di Zing itu, melangkah menuju taman istana, justru ketika ia memeperoleh laporan dari Kasim, bahwa Permaisuri Yun, sedang berada disana.


''Kita lihat secantik apakah Permaisuri putraku itu?, hingga membuatnya melupakan semua selir selirnya.'' Ucap Janda Lexue sebelum berjalan menuju taman istana.


Sementara itu ditempat lainnya lagi.....


Seorang Kasim membungkuk, didepan seorang Pria dengan jubah kebesaranya, sebelum mengucapkan salam.'' Pelayan ini memberi hormat kepada Yang Mulia Kaisar, semoga panjang umur dan selalu sejahtera.''


Melihat kasim tersebut, Kaisar Jing menghentikan gerak tangan, serta meletakkan kuas pada penyanggahnya.''Ada apa kasim?, mengapa kau begitu gelisah?.'' Tanyanya dengan wajah tenang, serta bersiap mendengar kabar, yang disampaikan.


Kasim merasa ragu, meskipun telah mendapat persetujuan dari Kaisar.


Dengan suara yang agak bergetar, ia menjawab pertanyaan sang tuan.'' Ampuni hamba yang mulia, pelayan ini....sempat melihat Janda permaisuri, dengan beberapa dayang, hendak menuju taman.''


Mendengar ucapan dari pelayannya tersebut, Jing merasa heran, ia mengerutkan kening sebelum kembali bertanya singkat.'' Lalu...?''


Namun, belum sempat ia memperoleh jawaban, Jing kembali bertanya dengan nada cemas.'' Apakah Permaisuri Yun, juga sedang berada ditaman?.''


Pria itu menatap sang Kasim, dengan tatapan setengah terkejut, ketika orang didepannya itu mengangguk, sebagai bukti mengiyakan pertanyaannya.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Pria yang berkuasa di kekaisaran Zing itu meninggalkan ruangan. Dan tanpa dipanggil ataupun diperintahkan pula, dua bayangan melesat, mengikuti langkahnya dari belakang.


Kembali ketaman istana...


Permaisuri Lexue memasuki taman, dengan beberapa dayang serta kasim Pavilliun miliknya.


Wajahnya tampak kurang bersahabat, seolah dari awal, bahkan hingga sekarang, ia tidak menyukai Nyonya Yun, menantunya.


''Ternyata taman istana sekarang menjadi tempat pribadi anda Permaisuri?.'' Suara khas berwibawanya, mengejutkan 2 pelayan yang menemani Ziaruo, begitu ia sudah di dekat Gazebo taman.


Dengan tubuh gemeter serta ketakutan, kedua pelayan yang menemani Permaisuri Yun, bersujud dan meminta pengampunan.'' Mohon ampun yang mulia Janda permaisuri, ampuni kesalahan dan ke*od*han kami.''


Sebuah kesalahan, karena gagal menghormati serta mengetahui kehadiran Lexue, sebagai ibu negara Zing.


Terlebih lebih 2 pelayan itu, tidak memberikan hormat begitu mereka melihat Janda permaisuri.


Keduanya terkejut dan reflek membulatkan matanya, serta tidak langsung memberi hormat sebagai sapaan seorang pelayan terhadap Tuannya.

__ADS_1


Melihat kedua pelayannya bertindak dengan ketakutan, Ziaruo merasa kasihan.


Wanita itu berdiri dari duduknya, membungkuk sesaat sembari berucap dengan tenang.'' Hormat hamba ibunda Ratu, maafkan atas ketidak sopanan pelayan Permaisuri ini.''


Mendengar perkataan Ziaruo, Janda Lexue menjadi jengah, dan menapilkan tatapan mata sinis serta tajam ke arah Ziaruo.


''Ternyata memang sangat cantik, seolah dia bukanlah wanita dari kalangan biasa, pantas putraku melakukan banyak hal untuknya.'' Gumam dalam hati Lexue.


" Apakah kau menyukai taman ini Permaisuri?.'' Tanyanya kepada wanita yang kini mengikutinya dari belakang, saat Janda tersebut menuju tempat duduk, sebelum mendudukan tubuhnya juga disana.


Melihat serta mendengar apa yang dilakukan oleh ibu dari suaminya itu, Ziaruo tersenyum sekilas, sebelum akhirnya ia membuka suara." Ananda menyukainya Ibunda Ratu."


''Siapkan satu cangkir lagi untuk Yang Mulia, ibunda Ratu '' Ucap Ziaruo kembali, sembari menoleh kearah sang pelayan, serta memperoleh anggukan persetujuan.


Salah satu pelayan pribadi Ziaruo, hendak bergerak menyiapkan cangkir teh untuk Lexue, akan tetapi sebuah suara menghentikan langkahnya.


''Tidak perlu, aku hanya kebetulan lewat dan ingin melihat lihat bunga saja, mungkin kebodohan pelayanku, yang tidak menyadari bahwa Permaisuri juga disini." Penolakan tegas, dengan nada ketidak sukaan, keluar dari bibir Janda Lexue.


''Bukankah, aku seharusnya pergi dari sini, ketika kau tengah menikmati bunga ditaman Permaisuri?.'' Lanjut Lexue dengan senyum sinisnya.


Ziaruo tentu saja mengetahui makna, serta tujuan dari ucapan sang Janda Lexue, akan tetapi ia tetap tersenyum.


''Mengapa Anda harus pergi Ibunda ratu?, bukankah seharusnya wanita ini yang harus Pergi ibunda.'' Ucap Ziaruo dengan ketenangan hati serta pikiran.


Wanita itu (lexue) tiba tiba menjadi kesal dan geram.


Baru kali ini, ia merasa di remehakan, oleh wanita dari sang Putra.


Tangannya mengepal diatas pangkuan dibalik meja taman, dengan sorot mata tajam ia kembali berkata.''Jika kau mengerti, mengapa kau masih disini.''


Mendengar ucapan kasar tersebut, Ziaruo kembali tersenyum sekilas sebelum beranjak dari duduknya, sembari berkata.'' Mohon undur diri dulu ibunda Ratu.''


Ziaruo mengatakan hal tersebut dengan lembut serta penuh ketenangan, tak terlihat setitikpun kemarahan didalam raut wajah cantiknya.


Namun belum sempat ia berjalan jauh dari Gazebo, sebuah ucapan kasar lainnya kembali terdengar.


''Hingga berapa tahun lagi, bisa menjaga kecantikan?, pasti akan ada bunga baru yang akan menggantikannya sebagai kesayangan, biarkan dia bertindak sombong hingga saat itu tiba, dan aku akan melihat tangisan di matamu.'' Ucapan Janda Lexue menghentikan langkah Ziaruo.


Wanita tersebut kembali berbalik dan menatap wanita yang telah melahirkan suaminya tersebut.


Masih dengan penuh kelembutan, ia kembali tersenyum sembari berucap.'' Terimakasih atas perhatian serta kekhawatiran ibunda Ratu, akan tetapi bagi ananda, bukanlah tampilan fisik yang menarik Ibunda.....dan saya berdoa Yang Mulia Kaisarpun, memiliki pemikiran yang sama dengan ananda.''


''Semoga hari ini ibunda memeperoleh kebahagiaan.'' Lanjut Ziaruo sebelum, melangkah meninggalkan taman.


''Apakah ibunda puas dengan semuanya?.'' Suara khas Kaisar Jing terdengar, setelah beberapa saat kemudian, ketika tubuh Ziaruo sudah tak terlihat, menghilang dibalik pintu pagar taman.


Pria tersebut sampai di taman, hampir bersamaan dengan sang ibu.


Akan tetapi, ia mengurungkan niatnya untuk bergabung, saat mendengar ucapan Janda permaisuri yang seolah kurang mengenakan.


Kaisar Jing, berdiam diri tak jauh dari tempat mereka (Permaisuri Yun dan Janda Permaisuri Lexue). Dan kebetulan keberadaannya, terhalangi oleh sebuah pohon perdu taman, yang kurang lebih setinggi tubuhnya.

__ADS_1


Oleh karena itu, Kaisar Jing mendengar setiap pembicaraan yang mereka berdua lakukan.


''Hentikan ibunda, saya tengah berusaha memaafkan, serta menahan kemarahan saya, jadi jangan memperburuk dengan menyakiti Permaisuri.'' Lanjut Jing kembali, tampak kemarahan serta kekecewaan pada setiap kalimatnya.


__ADS_2