
''Baidu...'' Panggilnya tajam.
Dan dalam sekejap saja, sesosok bayangan muncul di depannya.
''Pelayan di sini tuan.'' Ucap sosok yang baru saja hadir di sana.
''Apa yang kau temukan?.'' Master.
Mendengar pertanyaan itu, Baidu tertegun sejenak, dan segera membungkuk di tanah.
''Maafkan pelayan tuan, pelayan gagal.'' Baidu.
Mendengar jawaban itu, sang master mengernyit sejenak sebelum akhirnya kembali tertawa keras.
''Hahaha...hahaha...''
''Bahkan penjaga yang berhati batu ini, juga terkesiap untukmu, bagus...bagus..hahaha.''
..........................
''Kakak...apakah mereka orang jahat?.'' Tanya Cangge lirih, ketika telah membuka mata.
Ziaruo yang tengah memegang tali kekang kuda, tidak menghiraukan pertanyaan itu.
Ia terus memacu tunggangannya hingga batas kota Nan terlihat.
Dengan langkah kuda yang semakin di percepat, keduanya akhirnya telah memasuki pusat kota, tepat tengah hari.
Secara perlahan wanita itu memperlambat langkah kaki kudanya, dan menyapa Cangge yang diam di balik punggung.
''Apakah Ge'er merasa lapar?.'' Ziaruo.
''Tidak kak...Aku masih kenyang.'' Jawabnya pelan.
''Apakah rumah kakak masih jauh?.'' Tanya balik sang bocah.
Jujur, bocah tersebut memang tidak merasakan lapar.
Dengan sarapan banyak yang ia makan di kedai beberapa saat yang lalu, mana mungkin hanya hitungan beberapa saat saja telah lapar kembali.
Namun, justru ia kini tengah merasakan rasa kurang nyaman, serta sedikit sakit pada punggung bawah tubuhnya.
Oleh sebab itu, ia mempertanyakan tujuan mereka apakah masih jauh.
Cangge merasa malu untuk berbicara dengan Ziaruo, mengenai rasa sakit di tubuhnya.
Ia berpikir untuk bertahan sedikit lebih lama lagi, dan sebagai seorang pria dirinya tidak akan mengeluh untuk hal-hal yang ia anggap ringan tersebut.
Cangge juga menyadari, bahwa perjalanan mereka sudah sedikit terganggu, di tengah hutan kecil beberapa saat yang lalu.
Cangge tak ingin lebih membuang waktu, untuk ketidak nyamanan di punggungnya.
''Bersabarlah sebentar lagi kita akan sampai.'' Ziaruo.
Dan benar saja tak membutuhkan waktu yang lama, kuda itu akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan, dengan gapura yang terpahat sedikit berbeda dari penginapan lain.
__ADS_1
Mata coklat Ziaruo menatap lekat, kearah bangunan dengan warna pintu utama mencolok kuning pekat keemasan.
Ada sedikit lengkungan pada sorot mata itu.
Namun, ketika tatapannya menangkap sesosok tubuh di sana, senyum itu perlahan memudar.
Ziaruo menarik setiap ekspresi di wajah, dan kembali menyibak ketenangan yang dalam.
Meskipun, ia menyadari tak akan ada yang mampu melihat apapun pada tampilan wajahnya, ia masih enggan memberi gambaran ekspresi disana.
''Kau sudah datang.'' Sapa sosok yang tak lain, adalah Jiang Jing wei tersebut.
Wajah itu merona bahagia, dengan senyum lembut tersembul jelas disana.
Ia Jing telah menunggu wanita itu disana, bahkan sejak kemarin.
Mendengar sapaan yang tersampaikan dengan penuh perasaan, sejenak hati Ziaruo terhenyak.
Namun sedetik kemudian ia kembali tenang, sebelum bergerak turun dari kuda.
Wanita itu juga membantu Cangge turun dari atas kuda, sebelum berjalan mendekat kearah Jing.
Jiang Jing wei menyaksikan, setiap tindakan yang dilakukan oleh permaisurinya tersebut. Bahkan, disaat ia membantu seorang bocah pria disan.
''Weiyun...'' Pekik dalam hati Jing, dengan kebahagiaan.
Ia tengah membayangkan sosok sang putra, yang kini tengah berjalan bersama Ziaruo di depannya.
Namun, ketika melihat jelas bahwa itu bukan sosok yang ia harapkan, Jing sedikit kecewa.
Ziaruo yang mendengar gumaman tersebut, mengerti arah pikiran Jiang Jing wei, ia masih tenang dan perlahan membawa Cangge lebih mendekat.
''Salam yang mul....''
Perkataan itu belum sempat terselesaikan, namun tubuhnya telah melayang di udara dalam dekapan Jing.
''Wuhan urus bocah ini.'' Jiang Jing wei.
Setelah perkataan itu meluncur keluar, Jing tak membutuhkan jawaban dari sosok yang namanya ia sebut.
Dengan gerakan cepat, ia membawa tubuh Ziaruo menaiki tangga penginapan, dan masuk kedalam salah satu ruangan bilik kamar di lantai atas.
Wuhan yang menerima perintah tersebut, hanya bisa menatap punggung itu menghilang di balik pintu, dan berbalik melihat kearah seorang bocah, yang juga memiliki titik pandang ke lantai atas.
''Siapa namamu?.'' Wuhan.
''Cang..Cangge tuan.'' Jawab bocah tersebut, yang baru saja pulih dari keterkejutan, atas tindakan dari Jing.
''Itu..ka...Kakak..'' Lanjut Cangge lagi, sambil menunjuk dengan jarinya, kearah lantai atas.
Wuhan yang telah memahami kekhawatiran sang bocah, menatap kearah pintu kamar kembali sejenak, dan berkata. ''Ikutlah denganku.''
Cangge yang masih diliputi kecemasan, dengan perlahan mengikuti langkah kaki Wuhan menuju sebuah meja di tengah ruangan.
''Duduklah, sebentar lagi pelayan akan membawakan makanan untukmu.'' Wuhan.
__ADS_1
''Jangan khawatir, dia adalah kais...suami dari kakakmu.'' Tambah Wuhan lagi, ketika melihat ekspresi cemas dari bocah kecil di depannya.
''Apa kau selalu bersama Yang mulia, maksudku kakak?.'' Wuhan.
Mendengar pertanyaan itu, Cangge mengangguk sejenak. Namun sedetik kemudian menggeleng.
Melihat gerakan tersebut, Wuhan mengernyitkan dahi dan menatap bocah itu lagi.
''Apa maksudmu, sebentar mengangguk dan sebentar menggeleng. ia atau tidak?.'' Lanjut Wuhan dengan wajah yang sedikit di tekuk.
''Kakak menjemputku tadi pagi, jadi kami bersama sejak tadi pagi.'' Cangge.
Wuhan melihat wajah itu sejenak, dan hendak menanyakan sesuatu lagi.
Akan tetapi, dua pelayan penginapan datang dengan beberapa nampan makanan, yang telah ia pesan ketika membawa Cangge kearah meja.
''Makanlah, dan kau boleh memilih salah satu diantara kamar-kamar itu untuk beristirahat. Jangan naik keatas sebelum mereka keluar.''
Wuhan mengatakan itu semua dengan nada datar, ia menunjuk beberapa ruangan yang berjajar di balik punggung mereka.
''Ingat jangan naik keatas, aku akan berada di sana. Jika kau ingin sesuatu mintalah kepada mereka, atau datang kepadaku.'' Wuhan.
''Baik..'' Sahut Cangge patuh.
Wuhan berjalan menuju sebuah kursi, dengan meja kecil di ujung koridor penginapan.
Sebuah meja dengan beberapa guci kecil minuman, dan camilan kecil biji-bijian terhidang disana.
Pria itu mendudukkan tubuhnya dengan santai.
Menatap sejenak kearah lantai atas, dan kembali menikmati guci minuman yang sempat diteguknya, sebelum kedatangan wanita itu.
''Akhirnya anda kembali nyonya.'' Ucapnya lirih.
Ada perasaan bahagia berbaur sedikit masam cuka, dalam hati Wuhan.
Namun, dengan kehadiran wanita itu di sana, rasa puas jauh lebih dominan saat ini.
Biarlah dia bersama yang lebih baik darinya, baginya melihat ia bahagia jauh melebihi dari apa yang ia inginkan.
Wuhan kembali meneguk minuman dalam Guci kecil di atas meja, ia ingin menulikan telinga praktisi kultivasi, dan olah Kanuragan yang ia miliki.
Agar suara kebahagian di atas sana, tidak sampai pada kedua cuping pendengarannya yang tajam.
Ia juga ingin menjauh dari tempat itu sementara waktu.
Namun, dengan beban tanggung jawab atas keselamatan kaisar Jing di pundak pria tersebut, sosok itu masih duduk tegap, dengan guci di tangan menemani.
Bukankah itu sudah sering di lihat dan dengarnya beberapa bulan yang lalu, ketika ia berjaga di depan dan di atas atap bilik kaisar Jing.
Namun, mengapa setelah waktu berlalu beberapa saat, dan dengan kerinduan mata itu untuk melihat sosoknya kembali, kisah di atas sana justru terasa semakin berat di tanggung.
Bahkan, seolah guci arak yang ia nikmati sekarang, juga berubah menjadi sedikit masam, di lidah dan tenggorokannya.
Apakah dirinya sekarang tengah menelan kecemburuan?
__ADS_1