Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 38 Rindu dan benci


__ADS_3

''Aku belum pernah membenci siapapun, oleh karena itu hingga saat ini, aku belum tahu ini suatu kemarahan ataukah kebencian kepada anda yang mulia.'' Ucap Ziaruo dengan lembut serta tenang, tanpa mengalihkan pandangannya dari teko teh yang ia pegang.


Seorang pria dengan jubah besar, yang hampir menutupi seluruh tubuh dan kepalanya, berdiri tak jauh dari tubuh Ziaruo.


Gadis itu tengah menikmati secangkir teh, dengan pantulan sinar bulan sabit yang hampir kehilangan bentuknya. ( mendekati bulan mati )


"Anggap saja kau sedang sendirian, aku ...


(terhenti sejenak )


"Aku hanya ingin melihatmu, bisakah kau menganggap, aku tidak disini, dan jangan pedulikan apapun yang nanti kuucapkan.'' Pinta Pria tersebut dengan nada berat, namun juga terasa kelembutan dalam ucapannya.


"Jika itu keinginan anda baiklah, saya akan fokus untuk teh ini saja.'' Jawab Ziaruo pelan, serta kembali menyesap teh hangatnya.


Mendengar hal tersebut, pria itu tersenyum sesaat, namun senyumannya sangat sulit untuk diartikan.


Sejenak hening, halaman pondok ditengah hutan tersebut, kembali kekeadaan semula, hanya sesekali terdengar suara hewan hewan malam, diselingi pelan sebuah bibir, tengah menyeruput teh di atas bibir cangkir keramik.


''Aku sangat merindukanmu.'' Ucap pria tersebut lirih dan sendu.


Mendengar ucapan kaisar Murong, gadis itu ( ziaruo) tetap diam, dan menikmati tehnya, seolah tak mendengar apapun, dan tetap fokus pada cangkir ditangannya


"Sruuuppp ....teh ini sangat nikmat, sungguh cocok dengan udara yang dingin sekarang, layaknya kehangatan kasih sayang untuk sebuah kebekuan hati.'' Ucap Ziaruo tenang, dan seolah bergumam sendirian.


Ia menikmati tehnya lagi, sembari menerawang, menatap bulan sabit diatas langit, yang menaungi hutan malam itu.


"Seandainya ada teman bicara, pasti akan jauh lebih nikmat.'' Tambah wanita itu lagi, dengan kembali menuangkan teh, kedalam cangkirnya yang telah kosong.


Ziaruo mengabaikan pria yang sedari tadi ada disana, bahkan pria itu sekarang juga ikut duduk di kursi tepat di depannya, sehingga jarak mereka sangat dekat.


Dihalaman pondok tersebut, sepasang tubuh tengah duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas diantara mereka.


Namun, karena permintaan sang pria, gadis tersebut menganggap kehadirannya ( Murongxu ), seolah tak ada disana atau transparan.


Akan tetapi, tak jauh dari tempat mereka berada, hadir juga beberapa pasang mata yang lainnya, di balik persembunyian masing masing.


Sesekali pandangan mereka bertemu(Murong dan Ziaruo), saling tatap serta saling rindu.


Perlahan Ziaruo mengalihkan pandangannya, seolah ia tak melihat siapapun, hanya menatap ruangan kosong di depannya.


"Katakan semuanya, apa yang ingin Anda sampaikan, dan aku akan berpura pura tidak mendengarnya.'' Gumam Ziaruo lirih.


Mendengar hal itu Kaisar Murongxu menundukan wajahnya, sebelum akhirnya mulai membuka mulut dan berucap dengan lembut." Ruoer...aku merindukanmu.''


"Aku sungguh, tak ingin menunjukan wajahku kepadamu, tapi...( terhenti sejenak).'' Ucapnya lagi, masih dengan nada lirih.


Namun, tetap dapat didengar oleh gadis itu.


Meskipun, Ziaruo tetap diam serta hanya fokus dengan cangkir teh miliknya.

__ADS_1


"Tapi, aku bisa gila jika aku tak menemuimu.'' Lanjutnya lagi.


Pria itu diam sesaat, menghembuskan nafas panjang.


Seolah ia tengah berusaha menghempaskan, sebuah beban berat di dalam dadanya.


Dengan pandangan yang penuh kerinduan, ia kembali melanjutkan ucapan nya." Ia benar... mungkin aku akan menjadi gila sebentar lagi, apa kau tahu itu Ruoer?.''


Murongxu, menatap lekat gadis yang berada di depannya, seolah ia ingin memeluk tubuh ramping itu dengan erat, serta meluapkan semua perasaannya sekarang ini.


Akan tetapi, Ziaruo tetap diam. Wanita itu masih tetap fokus pada cangkir tehnya, dan hanya sesekali saja menatap kearah pria tersebut sekilas.


"Aku mengerti, jika sekarang kau marah bahkan membenciku, aku telah bersalah kepadamu...kepada janji kita, dan atas kasih sayangmu. Maafkan aku... maafkan aku Ruoer.'' Ucapannya lagi, dengan penuh ketulusan, serta gemuruh didalam dadanya.


Kaisar Murongxu, tampak serius dengan setiap kalimat yang terucap.


Namun, gadis tersebut tetap diam, dan hanya menyeruput kembali tehnya.


Dan itu sesuai permintaan Murongxu, untuk mengabaikannya.


''Sejak aku mengingatmu, mengingat siapa diriku, aku tak lagi bersama mereka, tidak pernah meny*nt*h wanita manapun.'' Ucapnya lagi.


''Jika saja, bukan demi rakyat dan kekaisaran Xili, sekarang sudah kutinggalkan semuanya untuk bersamamu.'' Lanjut Murongxu kembali.


Sesungguhnya, mendengar hal tersebut hati Ziaruo merasakan pilu, sakit, kecewa, serta merasa bersalah, dalam waktu bersamaan.


Bahkan, kini Ziaruo juga harus merasa bersalah, ditengah rasa sakit atas pengh**natan sang suami.


Akan tetapi, ia hanya bisa menahan semuanya dan masih tetap diam.


''Ruoer, ..aku melakukan kesalahan atas ketidak tahuanku, aku tidak sengaja melakukannya, bisakah kau memaafkanku?, aku ...aku sangat mencintaimu.'' Ucap Murongxu lagi.


Namun, kali ini dengan suara yang sedikit bergetar, serta ujung mata pekatnya, yang mulai tampak berkaca kaca.


Mendengar semuanya, Ziaruo menengadahkan wajahnya keatas, seolah menatap langit, dengan bulan sabit yang mulai menghilang tertutup awan.


Di dalam hati ia merasa banyak ketidak adilan atas setiap kejadian, namun dengan masih tetap tenang, ia mulai membuka mulutnya dan bergumam lirih untuk dirinya sendiri.'' Mengapa mataku mulai berat, padahal hari belum terlalu malam.''


Wanita itu menutup matanya, dengan posisi menengadah menghadap langit.


Membayangkan bahwa, ia sedang bergumam sendiri, tanpa ada siapapun disana adalah sebuah kesedihan tersendiri baginya.


Karena bagaimanapun, dirinya mengerti akan ketidak tahuan sang suami, serta penderitaan yang dialaminya sekarang.


"Aku tahu, kau terluka karena kesalahanku,'' Ucap Murongxu.


"Tapi, aku melakukannya karena aku tidak tahu, serta tidak mengingat apapun Ruoer,


dan jika saja, kau datang lebih cepat, mana mungkin aku akan menikahi mereka, dan tentunya sekarang kita pasti sudah bahagia bersama.'' Lanjut Pria itu lagi, dengan penuh kekecewaan serta penyesalan.

__ADS_1


Kecewa atas dirinya sendiri atas ketidak tahuannya, serta menyesal karena telah melukai hati orang yang sangat berharga untuk dirinya.


"Maaf...bisakah kau memaafkanku Ruoer?.'' Tambahnya lagi, kali ini Murongxu memberanikan dirinya, memegang tangan Ziaruo.


Akan tetapi, dengan ucapan tersebut, Ziaruo kembali kecewa, ia merasa seolah karena dirinya yang dianggap terlambat datang ke Era ini sekarang, sang suami Murongxu melakukan kesalahan itu.


"Aku sudah menanggung kesalahanmu dulu dan aku rela melakukannya, namun apakah kesalahan yang sekarangpun, akan kau berikan padaku yang mulia?" Gumam prihatin Ziaruo, untuk dirinya sendiri dalam hati.


''Wahai bulan sabit diatas langit..


Pernahkan malam menjadikanmu alasan, atas remang remang dalam gelap pekatnya.''


Ziaruo membaca bait bait guratan expresi hatinya, dengan suara pelan dengan mata yang masih tetap tertutup, wajahnya masih menengadah kearah langit.


Ia diam saja, serta tak memberi respon apapun, ketika tangannya diatas meja, diraih serta digenggam oleh Murongxu.


Sementara itu mendengar bait bait ucapan Ziaruo, Murongxu terkejut sesaat, ia tahu bahwa kini ucapannya disalah artian.


Dengan cepat ia berusaha menjelaskan." Tidak ...tidak Ruoer, aku tidak pernah menyalahkanmu, aku sangat mencintaimu, bagaimana mungkin aku menyalahkanmu, aku hanya menyesali pertemuan kita yang terlambat, mungkin takdir tengah mempermainkan kita.''


Murong dengan perkataan spontannya berusaha menjelaskan, ia tak ingin Ziaruo semakin salah paham dan membencinya.


Namun, belum selesai ia menjelaskan, kembali ia mendengar sang wanita mengucapkan bait baitnya.


''Wahai pujangga waktu, pahamilah sang bulan dan lihatlah sang malam.


Merengkuh bersama dalam masamu, merangkai kata merajut rindu.


Atas noda, akan rasa yang tak terjaga."


Dalam setiap kalimatnya, Ziaruo berekspresi seolah dirinya hanya sendirian disana.


Akan tetapi, sesungguhnya, ia tengah meluapkan kekesalannya, atas pengkh**natan sang suami Murongxu.


Mendengar hal itu, hati kaisar Murong seolah tengah terkoyak, dadanya sesak dan bergemuruh.


Ia menyadari setiap kesalahan yang telah dilakukannya.


Akan tetapi, sungguh ia tak mengira akan mendengar ucapan tersebut dari bibir Ziaruo.


Wanita yang ia ingat, sebagai sosok lembut, serta penuh kasih sayang.


Pikirannya semakin kalut hingga ia berucap dengan nada agak tinggi. "Hentikan Ruoer ..aku bilang hentikan, kau benar benar sengaja menyakitiku."


Murong tak lagi bisa mengontrol emosi kesedihan, serta perasaan bersalahnya.


Semenjak kenangan kembali kepadanya, ia merasa begitu lemah dan terpuruk akan penyesalannya, dan itu membuat ia beberapa kali mengalirkan bulir bening dari kedua sudut mata pekatnya.


Dengan emosi yang demikian, hingga tanpa sengaja ia menarik tangan Ziaruo dengan sedikit keras, ia tak bermaksud kasar, Murongxu hanya ingin menghentikan bait bait yang terdengar menyayat hatinya.

__ADS_1


__ADS_2