Surai Kasih Tiga Kehidupan

Surai Kasih Tiga Kehidupan
Episode 125. Dua tubuh satu jantung.2.


__ADS_3

Masih di dalam hamparan taman, dunia legenda.


Dengan penuh tatapan penyesalan, ia kembali mendekati Ziayun, dengan duduk diatas kedua kaki yang di tekuk kebelang sebagai bantalan tubuhnya, di depan wanita itu ia kembali berkata. ''Aku tidak sengaja Yun, aku tidak tahu apa yang kulakukan.''


Ziayun hanya diam mendengar ucapan pria tersebut, bahkan ketika Zhanglei menangkup kedua pipinya dengan sorot mata penyesalan, wanita itu tetap diam.


Hingga beberapa saat kemudian, ia membuka mulut dan berkata. ''Anda pasti berpikir bahwa saya akan berkhianat.''


Helaian nafas panjang kembali terdengar, ketika wanita itu menundukkan wajahnya lagi. Ada gelisah, serta kekecewaan di dalam hati Ziayun.


Dengan kemampuan membaca pikiran orang lain yang dimilikinya. Wanita itu merasa kecewa atas tanggapan, serta pemikiran sang tunangan di depannya.


''Ini bukan salah anda, dan sepertinya saya memang patut di persalahkan.'' Lanjut Ziayun kembali.


Mendengar ucapan sang kekasih, Zhanglei semakin kebingungan, dalam benak ia berpikir. ''Jika Ziayun tidak menghianatinya, lalu mengapa kekasihnya itu, harus merasa patut di persalahkan.''


Akan tetapi, sebelum ia bertanya kembali, suara dari wanita di depannya kembali terdengar.


''Sepertinya orang tersebut berkaitan dengan ayahanda, dan aku adalah putrinya.''


Ziayun berhenti sejenak, kelembutan suaranya, nyatanya ibarat sebuah benda keras, yang tengah menghantam dada zhanglei.


Akan tetapi, apapun itu wanita tersebut seakan tak merasakan ketakutan, serta tak ingin menutupi apapun.


Dengan raut wajah sama masih dengan kesenduan, ia kembali melanjutkan ucapannya. ''Jadi.... bukankah aku juga patut di persalahkan.''


Sebuah sorot mata, yang tengah mengexpresikan kekecewaan, atas sikap pemuda di depannya(keraguan atas kesetiaannya).


Serta sebuah expresi kekhawatiran, atas hari esok dengan awan hitam yang menunggunya.


Ziayun memendam kegelisahan atas dirinya, keluarga, klan bahkan kekaisaran yang nanti akan menjadi tanggung jawabnya, di masa mendatang.


Mendapati sikap dan ucapan yang demikian, Zhanglei mengangkat tubuhnya, namun masih bertopang pada kaki, yang di tekuk ke belakang sebagai tumpuan tubuhnya yang setengah berdiri, Ia memeluk Ziayun dengan penuh perasaan.


''Oh...aku kira apa?, kau mencemaskan sesuatu yang tidak berdasar Yun.'' Ucapnya lirih.


Ada kelegaan tersirat dari sikap, serta ucapan pemuda tersebut.


''Mana mungkin Yang Mulai kaisar, melakukan hal itu kepada kita?, bahkan beliau sendirilah yang mengusulkan perjodohan ini.'' Lanjut Zhanglei, dengan suara yang menampilkan ketenangan.


Dan benar saja bagi sang pemuda, siapapun bisa dianggapnya sebagai ancaman,


terkecuali ayah dari Ziayun.


Karena klan bulanlah(ayah Ziayun), yang memang mengajukan perjodohan diantara mereka, terlebih dahulu.


Dan seperti yang Ia ingat dan ketahui, Pria no-1 penguasa klan bulan tersebut, sejak ia kecil telah menganggapnya sebagai putra sendiri.


Bahkan, sebelum adanya perjodohan diantara mereka. Zhanglei dan penguasa klan Bulan, memang telah berhubungan baik layaknya ayah dan anak.


Dimana Zhanglei yang tidak memperoleh kasih sayang dari sang ayah.

__ADS_1


Dan ayah Ziayun yang tidak memiliki putra, menjadikan hubungan keduanya menjadi sangat dekat.


Mendengar jawaban, serta memperoleh pelukan dari sang kekasih, Ziayun hanya bisa diam dan menurut.


Dengan suara lembut serta hati yang masih bimbang ia menjawab. ''Semoga segalanya seperti yang anda katakan.''


''Tentu saja benar, sudah jangan berpikir berlebihan lagi, mungkin firasatmu kali ini salah Yun.'' Sahut Zhanglei cepat.


''Dan semoga segalanya tidak seperti apa yang kau pikiran Yun, atau aku akan.....'' Lanjut dalam hati pemuda itu.


.......................skip......................


Sementara itu di dalam kereta.


Kaisar Jing mulai membuka mata. Tepat di depannya wajah cantik yang sangat ia kenal, menampilkan sebuah senyum lembut, dan menatap kearahnya.


''Anda sudah bangun Yang Mulia?, apakah anda memimpikanku tadi?.'' Tanya wanita, yang tak lain adalah Ziaruo tersebut, penuh kasih sayang.


Kaisar Jing bangun dari posisi tidurnya, dengan perasaan yang tidak dapat ia jelaskan, tanpa basa basi, ataupun jawaban atas pertanyaan sang istri, ia memeluk erat tubuh permaisuri Yun.


Ia meletakan dagu diatas pundak Ziaruo, dan berkata. ''Aku tak ingin berpisah denganmu lagi Yun...tidak sekarang, atupun dimasa mendatang, cukup dimasa lalu saja. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Yun....''


''Ternyata jantung kami adalah sama, dua tubuh, dua kehidupan dengan satu hati yang sama, jing adalah Lei.'' Gumam dalam hati Jiang jing wei.


Mendengar pemikiran dari sang Kaisar, Ziaruo mengeryitkan kening sesaat, ia merasa aneh dan ingin tahu apa maksud dari ucapan dalam kebisuan sang suami.


''Jing adalah Lei?, dua tubuh satu jantung?, apa maksudnya?.'' Gumam Permaisuri di dalam pikirannya.


''Lapor yang mulia, segerombolan serigala liar tengah mengepung rombongan kita.'' Ucap seorang pria dari balik kereta.


Mendengar hal itu, kaisar Jing melepas pelukannya, dan berkata. ''Bukankah itu hanya serigala, mengapa kau harus melaporkan hal ini kepadaku.''


Tampak kekesalan dari ucapan Jiang jing wei, namun pria tersebut masih berusaha menahannya.


Ia hanya merasa heran, mengapa para penjaga elitnya, akan merepotkannya dengan hanya sekumpulan serigala saja.


''Wuhan.....'' Panggilnya kepada sang penjaga setia.


Namun, tidak seperti biasanya sang empunya nama, tidak datang mendekat kepadanya.


Dengan suara yang mulai meninggi, Jing kembali bertanya. ''Dimana Wuhan?, katakan untuk datang kepadaku.''


''Ampun Yang Mulia, tuan besar Wuhan tengah terkepung kawanan Serigala, dan ia sepertinya tengah terpojok.'' Jawab sang penjaga.


Mendengar jawaban tersebut, Jing segera keluar dari kereta, ia mulai merasa ada yang salah dengan segalanya.


Seperti apa yang ia bayangkan, begitu langkah kakinya mulai menapak keluar, matanya membulat.


Di depan sana, tak jauh dari kereta kudanya, tampak puluhan bahkan mungkin ratusan serigala tengah bertarung dengan para penjaga.


Di sisi barat kereta, sorang yang sangat ia kenal, tengah bertarung dengan seekor serigala, dengan bulu berwarna abu abu menyala, seolah dari bulu itu memancarkan sebuah aura yang sangat kuat.

__ADS_1


Kaisar Jing tak habis pikir, bagaimana ada banyak serigala, dan berkumpul untuk melakukan penyerangan secara teratur.


Bahkan tampak jelas di penglihatannya, setiap kali serigala tersebut memperoleh sabetan pedang ataupun pukulan, tubuh mereka akan pulih kembali dalam waktu beberapa saat saja.


Di sekeliling kereta, banyak tubuh para penjaga kekaisaran Zing, yang tergelatak tak berdaya.


Mereka terluka cakaran, gigitan, bahkan ada yang hampir meninggal, dengan luka pada kepalanya.


''Mengapa hingga separah ini, kami (Kaisar Jing dan Ziaruo) tidak mendengar apapun dari dalam kereta?.'' Ucapnya penuh kebingungan.


''Dan mahkluk apa mereka?.'' Lanjutnya lagi.


Jing merasa ada yang berbeda dari kawanan serigala.


Dari setiap kebangkitan mereka, setelah menerima pukulan dan sabetan, jelas binatang binatang itu bukanlah serigala biasa.


"Apakah yang mulia benar benar tidak mendengan peringatan dari tuan Wuhan, serta kegaduhan yang kami timbulkan? ( suara pertempuran).'' Gumam dalam hati sang prajurit, yang beberapa saat lalu mendekati kereta sang kaisar.


Prajurit penjaga itu merasakan keanehan.


Meskipun, kereta memang sedang di amankan oleh para perajurit elit kekaisaran, dengan berbaris rapat mengelilingi kereta.


Namun, apakah suara keributan dari sebuah pertempuran, mampu di halau dengan barisan mereka?.


Sesungguhnya hampir semua penjaga elit kekaisaran, merasa kebingungan sejak awal.


Pasalnya sang kaisar junjungan mereka, tidak menampakan diri sejak awal mereka memperoleh serangan, dari kawanan serigala.


Padahal biasanya, sekecil apapun kejadian yang ada di dalam kurun waktu perjalanan, kaisar Jing akan selalu cermat, serta teliti melakukan observasi.


Dengan kata lain, meskipun dirinya tidak langsung turun tangan, namun pria tersebut akan mengamati, serta melakukan penyelidikan yang menyeluruh, terkait apapun yang terjadi.


Baik itu hal kecil, ataupun hal besar. Karena baginya(Jing), setiap kejadian tak pernah ada yang namanya kebetulan.


Namun, kali ini bahkan Tuan mereka itu, tidak memberikan respon. Ketika sang tangan kanan(Wuhan), memberikan perintah pengamanan, dengan suara yang terbilang cukup lantang.


Dan bagi Wuhan sendiri, sebuah serangan dari binatang hutan, adalah hal yang biasa di dalam sebuah perjalanan yang menempuh hutan sebagai jalur.


Dengan pemikiran tersebutlah, ia merasa tidak perlu melapor, dan mengganggu kebersamaan sang Kaisar bersama Permaisuri.


Ia hanya memerintahkan para prajurit untuk memperketat penjagaan pada kereta kaisar, para bangsawan, serta cendekiawan saja.


Wuhan berpikir, binatang itu hanyalah segerombolan serigala biasa, dan terlebih lagi, sekarang mereka tidaklah sendiri, bersama rombongan kekaisaran Zing, masih ada rombongan lain dari kekaisaran Xili.


Akan tetapi, tanpa ia sadari sebuah seringaian tipis tercetak dari bibir sebuah bayangan, dibalik pepohonan hutan.


Bayangan tersebut merasa, segala sesuatu akan mudah baginya, ketika melihat sikap serta keputusan dari Wuhan.


Dengan wajah yang tersamar di balik gelapnya malam, dan pepohonan hutan, ia bergumam lirih. ''Kau menganggap remeh mereka. Maka.... jangan salahkan takdir jika segerombolan semut, mampu memakan habis seekor gajah.''


Terimakasih, sudah berkenan mampir dan membaca.

__ADS_1


Mohon tinggalkan like dan komentar ya...agar AUTHOR lebih SEMANGAT.


__ADS_2